
Selamat membaca πΈ
Maaf banyak typo π
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
πΈ
Hari pertama Yudha menjabat posisi eksekutif person dan khusus menghandle pihak Kawai Enterprise sebenarnya cukup membuat Yudha bertanya tanya.
Kenapa dirinya,,,
Kenapa bukan staff lain yang lebih lama dan senior,,
Apa tidak salah posisi ini diberikan padanya,,,
Apa tidak berlebihan perusahaan mempercayakan Kawai Enterprise menjadi tanggung jawabnya,,,
Terlebih lagi saat pak Yohannes hanya menyerahkan berkas yang menyangkut Kawai Enterprise saja. Setau Yudha bagian ini mengharuskan dirinya tau banyak tentang klien lagi juga karena jika sewaktu waktu staff yang menangani berhalangan hadir,,, dia bisa menggantikan sementara.
"Tidak Yudha,,, kamu khusus mengurus dan menangani Kawai Enterprise saja. Urusan yang lain serahkan saja pada staff lain yang sudah ada. Mereka tak akan berani mengusikmu dengan pekerjaan mereka." kata pak Yohannes saat Yudha menyampaikan keheranannya.
Saat itu Yudha hanya bisa mengangguk mengiyakan perkataan bosnya itu.
"Aku tidak boleh mengecewakan perusahaan yang sudah begitu percaya padaku. Aku tidak boleh berbuat kesalahan." gumam Yudha.
Dia tengah berada dalam ruangan eksklusif yang sudah disiapkan pak Yohannes untuknya sesuai mandat dari Dave. Ruangan yang sebenarnya bagi Yudha terkesan berlebihan untuk staff sepertinya.
Ruangan itu didesain hampir serupa dengan ruangan pak Yohannes. Dilengkapi dengan segala macam perlengkapan kerja yang lengkap. Yudha bahkan juga sudah disiapi seorang sekretaris pribadi yang sudah menempati mejanya yang berada tepat di depan ruangan Yudha.
Aneh memang semua fasilitas yang disediakan tapi itu membuat Yudha makin terpacu dan semakin tidak enak hati jika sampai melakukan kesalahan.
Tak ingin membuang waktu percuma,,, Yudha mulai mempelajari semua hal tentang Kawai Enterprise.
Hampir setengah hari mempelajari semuanya dan dari sekian banyaknya berkas di mejanya,,,Yudha tak bisa menemukan berkas tentang siapa pemilik dan pimpinan Kawai Enterprise itu sendiri.
"Dewi,, bisa masuk ke ruanganku??" Yudha memanggul sekretarisnya.
"Baik pak,," Dewi pun segera masuk ke dalam.
"Ada yang bisa saya bantu pak??" tanyanya sopan.
"Apa semua berkas Kawai Enterprise sudah kamu letakkan di sini??" tanya Yudha.
"Sudah pak,,, sudah semuanya." jawab Dewi.
__ADS_1
"Kamu yakin??" tanya Yudha sekali lagi.
"Yakin pak,,, hanya itu berkas yang diberikan oleh pak Yohannes langsung pada saya tadi." kata Dewi yakin.
Yudha tampak berpikir.
"Kalau boleh saya tau,,, kenapa memangnya pak,,,??" tanya Dewi.
"Aku hanya tidak menemukan berkas tentang kepemilikan Kawai Enterprise. Padahal itu penting bagiku." kata Yudha.
"Apa bapak ingin saya meminta sekretaris pak Yohannes menanyakannya pak??" tanya Dewi.
Yudha menggeleng dan melarang Dewi melakukannya. Yudha pikir mungkin pak Yohannes sengaja belum memberikannya karena pak Yohannes ingin dia mempelajari yang lain dulu.
"Tunggu beberapa hari lagi saja Dewi,,, baru kita tanyakan. Aku masih bisa pelajari yang lain dulu. Kamu boleh keluar sekarang." kata Yudha.
"Baik pak. Saya permisi." sahut Dewi.
Yudha hanya mengangguk. Matanya kembali ke berkas berkas itu. Yudha pun kembali disibukkan dengan semua materi tentang Kawai Enterprise.
πΈπΈπΈ
"Bagaimana dengan Yudha pak Yohannes?? Apa sia sudah mulai bekerja??" tanya Dave melalui sambungan telpon.
"Sudah pak,,,hari ini hari pertamanya kerja." jawab Pak Yohannes.
"Sudah pak Dave,, semua sudah sesuai mandat dari pak Dave." sahut pak Yohannes mantap.
"Bagus. Ingat jangan berikan dulu profil saya. Katakan saja padanya untuk mempelajari yang lain dulu. Saya tidak akan menemuinya dulu untuk sementara waktu. Lagipula proyek terakhir kita kemarin juga lancar tak ada kendala. Jadi saya belum perlu datang ke sana." Kata Dave mengingatkan.
"Baik pak,, saya mengerti." ucap pak Yohannes.
"Terima kasih pak Yohannes." ucap Dave.
"Sama sama pak Dave." jawab pak Yohannes singkat tanpa mempermasalahkan apa pun mandat dari pemilik Kawai Enterprise itu mengingat besaran uang tutup mulut yang diterimanya.
Dave menyandarkan kepalanya dan tangannya bergerak mengarahkan kursor itu tepat di layar cctv Mira.
"Maaf Mira,, diam diam aku mencampuri urusan pribadimu. Aku hanya tidak ingin mantan suamimu mengusik hidupmu lagi apalagi sampai merugikanmu secara finansial. Kamu sudah cukup banyak mengalah Mira,, Kali ini biar aku yang mengalah demi membuatmu bahagia. Aku rela bayar mahal dan memberikan apa saja demi kebahagiaanmu."
Dave terus mengusap usap layar cctv itu. Begitu saja sudah membuatnya bahagia. Lagipula Dave juga sudah lumayan senang bisa diam diam mengusap kepala Mira tadi.
Dave melihat sesosok tamu yang dikenalnya menghampiri Mira lewat layar cctv itu. Itu Reno sahabatnya.
Terlihat Reno tengah bicara pada Mira dengan terus memandangi Mira dengan pandangan menyelidik. Dave tak suka melihatnya. Segera diambilnya telpon kantor lalu ditelponnya Mira.
__ADS_1
"Suruh Reno langsung masuk Mira. Aku tidak perlu buat janji temu dengannya." kata Dave.
"Baik pak Dave,,," Suara Mira lembut terdengar.
Tak lama kemudian Mira pun mengantar Reno hingga di depan pintu Dave. Reno pun masuk.
"Itu Mira yang lo ceritain ke gue?? Lo gak salah pilih dia?? Tuh cewek?? Yakin lo?? Lo liat apanya Dave Hananta?? Belum tentu seksi,, belum tentu cantik,,," Reno langsung banyak protes.
"Gue udah bosen ma yang seksi, puas lihat yang cantik,,,Dan satu hal lagi yang lo harus inget,,, Yang jelas dia bukan istri orang,,,!!!" ketus Dave.
"Hahahhaa maaf bucin,, gue gak maksud menghina Mira lo itu. Gue cuma heran aja sama lo,,, Lo yakin beneran Dave??" tanya Reno lagi.
"Seratus persen" sahut Dave.
"Nyokap ma bokap lo?? Kepercayaan nyokap lo??" tanya Reno.
"Mereka belum tau,," lirih Dave.
Reno sama sekali tidak heran jika orang tua Dave belum tau karena sahabatnya ini cenderung tertutup urusan hati. Jangankan mereka yang tinggal di luar negeri,,,Reno yang hampir tiap hari berkomunikasi saja juga baru tau setahun terakhir ini.
Reno memang jarang menemui Dave di kantornya dan sekalinya datang karena Dave melarangnya dan hari ini dia baru melihat langsung Mira yang digilai sahabatnya itu karena dirinya datang tanpa permisi.
"Lo mau ngapain kesini?? Baru juga tadi ketemu gue,,," tanya Dave.
"Sengaja mau lihat Mira lo aja,,," sahut Reno terkekeh.
"Gue hajar lo berani berani ganggu dia" wajah Dave langsung serius.
"Widiiihhh galak banget lo,,," Reno masih menggoda Dave yang memang selalu menganggap musuh siapa pun yang mengusik Mira.
"Nih bucin,,gue kesini tadi cuma mau mampir dan bawain barang lo doang. Tadi ketinggalan di meja gue,,, Lagian lo mau kemana sih kok booking tiket segala?? Liburan?? Sama Mira??" tanya Reno sembari membaca amplop pemesanan tiket online Dave yang ketinggalan tadi di kantornya.
Dave menyambar tiket itu.
"Gue mau pulang ke Jepang,,, sendiri,,," jawab Dave.
"Lah Mira,, lo tega tinggalin dia sendiri??" tanya Reno.
"Gue rasa dia perlu sendiri dulu,,," lirih Dave.
Wajah Reno berubah serius.
"Ada apa Dave??" tanyanya.
\=\=\=\=\=\=\=
__ADS_1
Jangan lupa vote,like dan komen yaa
Terima kasih πΈ