
Selamat membaca ya π€
Semoga suka πΊ
Maaf banyak typo π
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
πΊπΊ
Mira hendak masuk ke dalam rumahnya ketika sebuah mobil berhenti tepat di depan pagar rumahnya. Mira pun membalikkan badan untuk melihat siapa yang datang.
"Assalamualaikum Mira,,," ucap Yudha.
"Waalaikumsalam abi,,," lirih Mira.
Yudha senang panggilan itu tak juga berubah. Mira masih tetap memanggilnya seperti itu. Yudha merasa harapannya untuk tetap di terima kembali oleh Mira sangatlah besar.
"Apa abi boleh duduk??" tanya Yudha kemudian.
"Silahkan,,, ada apa abi datang malam malam begini?" tanya Mira.
"Abi datang bukan untuk meminta jawaban dari Mira atas permintaan abi kemarin. Tapi abi datang karena abi ingin meminta bantuan dari Mira." jawab Yudha tenang.
Yudha yakin Mira pasti akan membantunya.
"Bantuan apa yang abi butuhkan??" tanya Mira dengan alis mengkerut.
"Mira,,, abi tau abi ini sudah banyak menyakiti Mira dan abi sungguh minta maaf untuk itu semua. Tapi kali ini abi benar benar perlu uang,,, Vera sedang sakit dan abi tidak punya biaya untuk pengobatannya." Yudha berbohong.
Sejak masih di jalan Yudha memang tak ingin Mira tau bahwa Vera melahirkan. Untuk itu Yudha hanya bilang bahwa Vera sakit.
"Apa besar sekali dana yang abi butuhkan??" tanya Mira.
Yudha menghela napas. Dirinya sebenarnya gengsi mengakui pada siapa pun bahwa kini biaya operasi secar yang hanya berkisar di angka tiga puluh juta itu terasa berat baginya.
Dulu jumlah itu barulah setengah dari gajinya sejak masih bekerja di Dubai. Yudha ingat betul bahwa Mira lah yang membawa rejeki baginya.
Sejak menikahi Mira,,, Tuhan telah melipatgandakan rejekinya berupa perpindahan kerja dan kenaikan gaju yang berlipat lipat. Namun Yudha malah tenggelam dab lupa diri hingga tuhan pun kembali mencabut nikmat itu.
__ADS_1
Terutama sejak Yudha menceraikan Mira,,, Kafe tempatnya bekerja mengalami kebangkrutan hingga dia dan banyak pekerja lainnya pun diberhentikan.
Meski akhirnya Yudha kembali mendapat pekerjaan,,, tapi gaji yang diterimanya tidaklah sebanyak itu. Mungkin hanya di kisaran lima belas juta saja.
"Abi sudah tidak punya tabungan sama sekali Mira,,, Abi hanya punya mobil butut itu dan rumah kita. Tapi abi tidak bisa juga menjualnya sendiri karena itu atas nama Mira. Meskipun bisa dijual juga tetap saja tak akan secepatnya laku. Oleh karena itu abi ingin meminjam uang pada Mira,,, nanti abi akan berusaha kembalikan secepatnya." kata Yudha.
"Abi juga mohon Mira mau membantu proses jual rumah itu,,, nanti inshaallah akan abi beri perhitungan dan uang yang pantas." lanjutnya.
Hati Mira sebenarnya teramat sedih dengan keadaan yang menimpa Yudha saat itu. Terlebih lagi Mira tau betul bahwa tuntutan bu Ambar padanya sangatlah tinggi urusan uang.
Mira paham betul dengan kesusahan yang dialami Yudha. Oleh karena itu,,, untuk alasan kemanusiaan dan sikap saling tolong menolong,,, Mira pun menyanggupi untuk memberikan pinjaman pada Yudha.
"Terima kasih Mira,,, terima kasih banyak." Ucap Yudha.
"Sama sama abi,,, dan untuk urusan rumah,,, buatkan saja surat pernyataan bahwa Mira menyetujui jika rumah itu dijual. Tidak perlu abi perhitungkan segala sesuatunya karena pada dasarnya rumah itu memang hasil kerja keras abi sendiri. Mira tidak menginginkan bagian apa pun dari rumah itu." ucap Mira.
"Mira,,, maafkan abi jika abi pernah begitu egois ingin menguasai rumah itu sendiri. Tapi sekarang abi sudah sadar meski memang abi yang bekerja sendiri waktu itu untuk membayar rumah itu,,, tapi Mira lah yang bekerja keras juga menyisihkan uang itu." ucap Yudha.
"Oleh karena itu,,, abi pun sadar bahwa Mira juga ounya bagian dalam rumah itu. Abi mohon nanti Mira terima bagian rumah itu jika sudah terjual ya,,," lanjut Yudha kemudian.
Mira hanya mengangguk meski hatinya tak menginginkan uang tersebut.
"Berikan nomer rekening abi,, Biar Mira transfer uangnya." kata Mira.
Yudha pun mulai membuka tas yang disandangnya dan mencari cari di sana. Dirinya pun tampak sibuk mengutak atik ponselnya. Dan sejurus kemudian,,, Yudha menepuk dahinya saat menyadari bahwa dirinya tidak membawa atau mencatat nomer rekeningnya.
"Abi tidak membawanya Mira. Apa bisa besok saja abi kirimkan pada Mira nomernya??" tanya Yudha.
Mira mengangguk lagi.
Yudha galau mengingat bahwa hari ini memang hari terakhir harus dibayarkan tapi Yudha pikir administrasi di klinik juga pasti sudah tutup malam begini.
"Baiklah kalau begitu abi ucapkan banyak terima kasih pada Mira yang sudah mau membantu abi. Kalau begitu abi permisi dulu ya Mira. Sudah malam,,, Assalamualaikum" pamit Yudha.
"Waalaikumsalam" sahut Mira mengantarkan kepergian Yudha.
Yudha pun berlalu.
πΊ
__ADS_1
Dari mobilnya Dave mengingat ingat siapa pria yang batu mengunjungi Mira itu. Cukup lama mengingat akhirnya Dave ingat dia adalah pria dalam lift yang tak memberinya jalan saat lift sudah berhenti.
Dave yakin betul ingatannya tidak salah namun Dave hanya heran kenapa Mira seakan tak mengenalnya waktu mereka di lift. Jika tidak saling kenal tidak mungkin pria itu mendatangi rumah Mira malam malam begini.
Dave tau betul kebiasaan Mira yang tak sembarangan menerima tamu jika bukan orang yang dikenalnya. Belum lagi melihat Mira yang langsung seperti mendapat tekanan selama pria itu berada di sana.
"Aku harus tau siapa dia" batin Dave yang langsung turun dari mobilnya.
Dave tadinya ingin kembali ke rumah Mira karena ponselnya tertinggal di kursi yang diduduki oleh Yudha tadi. Yudha tadi tau ada ponsel di sana tapi mengira itu ponsel Mira.
Dan karena tak ingin ponsel itu mengalihkan perhatian Mira maka Yudha tetap membiarkan ponsel itu di kursinya.
"Mira,,," panggil Dave saat Mira masih duduk termenung.
"Dave??" Mira terkejut melihat Dave sudah berdiri di halamannya dan melangkah mendekatinya.
"Aku hanya ingin mengambil ponselku yang ketinggalan" jawab Dave langsung mengambil ponsel yang dia tau di mana letaknya.
"Oh,, maaf aku tidak tau ada ponselmu disitu." jawab Mira.
"Tidak apa apa,,, mungkin pria yang baru saja pergi itu mendudukinya." kata Dave dengan santai meski dirinya berharap Mira langsung tau maksudnya.
"Dave,,, itu Yudha."
Mira memang sangat mengerti maksud bicara Dave tadi dengan langsung mengatakan siapa tamunya tadi.
"Yudha mantan suamimu??" tanya Dave meyakinkan.
Mira mengangguk.
"Sejak kapan kalian kembali berkomunikasi Mira,,, setauku kalian sudah tidak ada komunikasi sejak tujuh tahun lalu bukan??" tanya Dave lagi.
"Benar Dave,,, dia datang ingin meminta bantuanku." Mira pun kemudian mengatakan maksud kedatangan Yudha tadi.
Dalam hatinya Dave geram ada lelaki tidak tau malu datang meminjam uang pada mantan istri yang sudah begitu disakitinya demi keselamatan istri barunya.
Dave sebenarnya tidak masalah meski Mira membantunya namun Dave tetap ingin mencari tau apa sebenarnya sakitnya istri Yudha. Dave hanya ingin memastikan Mira tidak tertipu oleh pria brengsek itu.
\=\=\=\=\=\=
__ADS_1
Jangan lupa vote, like dan komen ya
Terima kasih πΊ