
Happy reading ya π€
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
πΊπΊ ALUR MASA LALU πΊπΊ
"Mira sudah memaafkan abi kan??" tanya Yudha malam itu.
Mira terdiam,,, bukan karena dirinya tidak memaafkan Yudha namun sebagai manusia biasa dirinya tidak bisa dengan gampang melupakan begitu saja.
Malam takbir itu merupakan malam yang terasa berat bagi Mira. Dirinya tiba tiba diliputi perasaan sakit mengingat semua penghianatan Yudha yang bukan sekali ini saja.
Seberapa kerasnya dirinya mencoba melupakan semua dan memaafkan Yudha tanpa mengingat lagi,,, namun semakin luka itu terasa menganga.
Serpihan hati itu tidak bisa lagi dikumpulkannya kembali agar utuh seperti sedia kala,,, Kepercayaannya pada Yudha pun berkurang walau dia juga berusaha untuk tetap mempercayainya.
"Sudahlah Mira,,, jangan itu terus diingat ingat,,, apa sih lagi yang Mira mau,,, abi sudah minta maaf lho,,, abi juga sudah janji tidak mengulangi lagi,,, Ingat Mira,,, abi dirumah cuma sebulan. Sehari bertemu kita sudah marahan,,, abi tidak mau liburan abi terganggu karena hal ini ya,,," ucap Yudha.
Mira protes dalam hati,,,
Kenapa seolah semua kesalahan itu pada diri Mira abi,,,
Bukankah semua ini ulah abi,,,
Kenapa abi tak berpikir semua akan jadi begini sebel abi melakukannya,,,
"Sudah bisa maafkan abi kan??" ulang Yudha.
"Mira sudah memaafkan abi,,, tapi sejujurnya masih belum. bisa melupakan semua begitu saja abi. Mira masih sakit ingat perkataan abi pada wanita itu,,, Mira masih,,," ucapan Mira terpotong.
"Sudah ya Mira,,, kalau Mira membahasnya terus,,, lagi dan lagi,,, kapan Mira bisa lupa??" potong Yudha.
"Tapi abi,, Mira,,,"
"Mira tau kan kalau bantah suami itu hukumnya apa???" sela Yudha lagi.
Airmata Mira menetes.
__ADS_1
"Mira,,, jangan ada airmata lagi. Jangan buat abi seolah olah sangat mendzalimi Mira begini. Abi sudah minta maaf Mira,,, berapa kali abi bilang begitu." Yudha mulai bosan dengan tangisan sedih Mira.
Dirinya yang berada di posisi itu sama sekali tidak bisa memahami sakitnya berada di posisi Mira yang disakiti dan tak mendapat pengertian atau pun kesempatan mengobati lukanya.
Yudha hanya terus memaksa Mira menerima dan memaafkannya.
"Pokoknya abi tidak mau,,, hari kemenangan besok malah jadi hari yang tidak membahagiakan bagi abi ya,,, setahun sekali abi pulang bukan untuk hal hal seperti ini Mira. Mengertilah,,, besok kita juga akan bertemu dengan semua keluarga abi,, Mira jangan tampakkan kalau ada masalah dengan rumah tangga kita. Mira ngerti kan??" kata Yudha memaksa.
"Mira mengerti abi." lirih Mira.
"Bagus,, kita tidur sekarang biar besok pagi tidak kesiangan. Pagi pagi sekali ibu dan keluarga sudah menunggu kita setelah sholat Ied." kata Yudha sembari mulai memakai selimutnya.
"Iya abi." jawab Mira.
Mira tak langsung tidur. Dirinya menyiapkan semua baju dan keperluan Yudha untuk besok. Hampir semua pekerjaan,,, Mira lah yang mengerjakan sendiri. Dirinya memang sudah berniat melayani suaminya yang hanya bisa dilayaninya setahun sekali.
Yudha hanya bangun,,, menonton tv,, merokok,,, ngopi,,, makan dan minum semua Mira yang siapkan dan menyuapi dirinya.
Mira memperlakukannya bagai raja,,,
Mira menyusul ke tempat tidur setelah dirinya selesai dengan semua pekerjaannya. Esok paginya dia bangun terlebih dulu untuk menyiapkan air hangat bagi Yudha yang tidak suka mandi dengan air biasa.
Allahu akbar Allahu akbar Allahu akbar la ilaha illallahu wallahu akbar, Allahu akbar wa lillahi-l-hamd,,,,
Suara takbir pun menggema memberikan semangat dan rasa kemenangan di hati para umat islam yang sudah melewati tiga puluh hari puasa.
Kemenangan itu juga dirasakan Mira yang telah berhasil melaksanakan perintah Rabb nya untuk berpuasa selama ramadhan kemarin,,, Mira berhasil melewati puasanya tanpa ada halangan kecuali hanya saat dirinya haid dan sehari saja saat hari pertama Yudha di rumah.
Selebihnya semuanya lancar.
Mereka berdua menuju rumah bu Ambar usai sholat Ied. Ini adalah hari pertama Yudha mengunjungi bu Ambar setelah kepulangannya dua hari lalu. Mira membawa sebuah parcel lebaran untuk ibu mertuanya itu.
"Assalamualaikum ibu,,," ucap Yudha dengan semangatnya.
"Heemm,,, kenapa baru hari ini datang?? Kamu tidak tau kalau ibu juga butuh bantuanmu disini,,, mengecat dan lain lain,,, jangan pilih kasih,,," jawab bu Ambar tanpa menjawab salam Yudha.
"Astaghfirullah bu,,, pilih kasih bagaimana?? Yudha tidak merasa seperti itu bu,,," jawab Yudha.
__ADS_1
"Sejak kamu punya bantal dan guling hidup ini kamu lipa pada ibu. Pulang bukannya ke rumah ibu tapi ke rumah bantal gulingmu,,, Kamu bilang kamu kangen sama ibu,, tapi nyatanya kamu malah menemui istrimu,,, bukan ibu!!" protes bu Ambar.
"Loh bu,,, kan Mira memang istri Yudha,,, sudah sepantasnya kan kalau Yudha pulang menemuinya dulu." sahut Yudha tak mengerti mengapa ibunya protes begitu.
Bu Ambar merengut dan beranjak meninggalkan mereka berdua yang masih berada di ambang pintu.
"Sudah bi,,, jangan diambil hati. Suasana lebaran beginu jangan dibuat tambah panas. sebaiknya kita minta maaf pada ibu sekarang." tukas Mira lembut walau hatinya merasa terusik dengan bahasa bu Ambar tadi.
Ungkapan bantal guling hidup itu bukannya tidak sepantasnya diucapkan oleh mertuanya itu,,,??
"Iya Mira" sahut Yudha menurut dan meredakan emosi serta kekecewaannya pada bu Ambar.
Yudha bersimpuh di depan bu Ambar yang duduk di kursinya. Yudha pun mencium tangan beliau dan meminta maaf jika ada banyak kesalahan darinya. Disusul juga Mira yang melakukan hal yang sama.
"Ini ada bingkisan lebaran untuk ibu,,, dan ada juga oleh oleh dari mas Yudha untuk ibu." kata Mira menyerahkan parcel yang dibawanya dan juga sebuah tas berisi oleh oleh dari Dubai.
"Apa Yudha juga membelikan semua barang ini untukmu juga??" tanya bu Ambar.
"Iya bu,,, mas Yudha membelikan barang yang sama untuk kita dan untuk ibu Mira juga." sahut Mira.
Bu Ambar hanya diam saja tak menjawab namun dalam hatinya ada perasaan kesal terhadap Yudha yang malah membelikan Mira dan ibunya barang yang sama. Bu Ambar takut Mira mendapatkan lebih banyak dari itu.
"Mira,,, kamu turun,,, ibu ingin dibonceng Yudha dengan motornya." ucap bu Ambar pada Mira yang sudah naik motor Yudha ketika mereka hendak mengunjungi rumah keluarga yang lebih tua.
"Terus Mira sama siapa bu??" tanya Mira.
"Kamu pesan ojek saja kan bisa,,, bonceng sama sepupu Yudha itu juga boleh. terserah kamu lah,,," kata bu Ambar menunjuk pada sepupu Yudha yang memang tidak membonceng siapa siapa.
"Mira sama dia saja ya,,," tukas Yudha.
"Baik abi,,," jawab Mira menurut walau dalam hatinya dia merasa semua ini tidak sepatutnya.
"Kenapa aku merasa ibu berlaku seperti bukan mertuaku namun berasa seperti maduku yang selalu ingin berebut perhatian suami kami,,," batin mira.
"Astagfirullah,,, Mira,,, buang pikiran burukmu itu,,, tidak seharusnya kamu berpikir begitu" bisik hati nurani Mira lagi.
\=\=\=\=\=\=\=\=
__ADS_1
Jangan lupa vote, like dan komen yaa
Terima kasih π