
Selamat membaca πΈ
Maaf banyak typo π
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
π»π»
Yudha berjalan tak tentu arah seperti orang linglung. Kesadarannya seperti hilang setelah menyaksikan pernikahan Mira tadi. Hatinya masih diserbu oleh ribuan rasa sesal dan juga sakit hati.
"Mira,,,Abi masih sangat mencintai Mira,,,Masih cinta Mira. Kenapa Mira tega menikah dengan yang lain??Kenapa Mira menolak ajakan rujuk abi?? Abi kan sudah berubah Mira,,,Lihat abi sudah berubah kan?? Abi sudah tidak pernah selingkuh lagi,,,Abi hanya mencintai Mira,,,Lihat kan Mira???" Yudha bicara sendiri.
Tangisnya pun pecah menyadari bahwa semua pertanyaannya itu tak akan pernah dijawab oleh Mira.
"Apa kurangnya abi Mira?? Apa cinta abi ini masih kurang??? Mira jawab abi,,," Yudha makin kacau.
"Miraaa,,,Miraaaa,,, Miraaaaaa,,,," airmatanya makin mengaburkan pandangannya.
Yudha menarik narik rambutnya sendiri dan mengacaknya sembarangan. Yudha berjongkok dan menangis sejadi jadinya sembari memeluk lututnya. Hingga lelah rasanya menangis Yudha pun mengangkat wajahnya.
Yudha terkejut melihat siapa yang sudah berdiri di depannya. Yudha pun berdiri.
"Mira,,,Abi tau Mira akan datang. Abi tau Mira masih cinta abi,,,Miraaaaa terima kasih." Yudha memeluk wanita yang berdiri itu.
"Ehhh lepasiiiinnn,,,Apa apaan sih kamu?? Dasar gila,,, Mira Mira,,, Saya bukan Mira!!!" ketus wanita itu mengibaskan tangan Yudha.
"Tidak Miraaa Jangan tinggalkan abi lagiii,,, Miraaaaa,,,," Yudha kalut lagi ketika wanita itu berlari menjauhinya.
Lalu saat ada wanita lain lagi dirinya pun kembali memeluk wanita itu sambil terus menyebut nama Mira. Setiap ada wanita dirinya akan melihat wajah Mira dan mengira wanita itu memanglah Mira.
Yaa,,,
Obsesinya pada Mira telah membuat Yudha kehilangan kendali atas dirinya sendiri. Yudha menjadi tidak waras dan gila akibat penyesalannya dan ketidakmampuannya berdamai dengan perasaannya dan kenyataan yang ada.
πΈπΈπΈ
__ADS_1
Di kamar pengantin yang sudah disiapkan oleh nyonya Azumi di rumah mewah milik Dave ini,,,Kedua pengantin baru itu meredakan gejolak gejolak dalam hati mereka.
"Mira,,, Boleh aku memanggilmu dengan panggilan "Sayang" mulai hari ini??" tanya Dave meminta ijin.
"Boleh sayang,,, Aku juga akan memanggilmu demikian." sahut Mira lembut.
"Alhamdulillah,,, Jadi apa juga sudah boleh aku melihat wajahmu sayang??" tanya Dave pelan.
Mira mengangguk. Tangannya kemudian meraih tangan Dave dan membimbing tangan itu ke belakang kepalanya dimana pengait cadar itu berada. Dengan gemetar Dave yang melihat Mira sudah memejamkan matanya dan memasrahkan jiwa raganya pada dirinya itu,,, membuka tali pengait itu.
"Subhanallah,,, Ya Rabb,,, Terima kasih telah memberiku hadiah secantik ini. Sungguh teramat bodoh dan lalai jika aku sampai menyianyiakan bidadari secantik ini." Dave mengucap dalam hati saat matanya dibuai oleh keindahan di depannya ini.
Sebuah mahakarya terindah yang pernah dilihatnya selama ini dan kini makhluk indah itu halal baginya. Dave memberanikan diri mulai menyentuh wajah cantik dan mata yang masih tertutup rapat menahan malu itu.
Jemari Dave pun bisa merasakan halusnya kulit itu. Dave sadar ini bukan mimpi. Diberanikannya mencium kedua kelopak mata yang terpejam itu.
"Buka mata indahmu sayang." bisiknya.
Dan perlahan kedua kelopak mata itu pun terbuka lalu seulas senyum di bibir tipis itu pun tergambar jelas menambah keayuan dan keindahan ciptaan Tuhan yang satu ini.
"Kamu cantik sekali sayang. Aku sungguh beruntung menjadi pria yang dianugerahi bidadari sepertimu,,," ucap Dave lembut dan mengecup kening Mira.
Dave tersenyum lalu memberi isyarat pada Mira untuk duduk menunggunya di sisi ranjang itu. Mira tak mengerti dan hanya mengangguk saja. Dave lalu mengeluarkan sebuah buku kecil lalu membuka lembarannya dan membaca isinya setelah dirinya kembali duduk di depan Mira.
"Bismillah,,," ucap Dave mengawali.
Mira tersenyum dan masih menunggu dengan sabar apa yang akan dilakukan suaminya itu. Sebagai yang lebih dulu memeluk islam tak berarti dirinya akan langsung menyalahkan jika Dave melakukan kesalahan baik itu dalam bacaan maupun perbuatan.
Seperti kesepakatan keduanya bahwa mereka akan belajar bersama.
"Allahumma jannibnas-syaithaan wa jannibis-syaithaana maa razaq-tanaa."
Mira terpana. Dave menyelesaikan bacaan itu dengan benar meski bukan dalam bentuk huruf huruf arab melainkan masih dalam bentuk abjad.
"Maafkan aku sayang,,, Aku belum bisa mengeja bacaan Quran jadi aku hanya menyalinnya dalam tulisan biasa. Apa ada yang salah??" tanya Dave takut takut.
__ADS_1
"Tidak apa apa sayang. Nanti kita mulai belajar mengaji ya. Aku yang ajari. Bacaanmu tadi sudah benar semuanya. Sudah tau artinya belum??" tanya Mira sabar.
"Kalau tidak salah artinya,,,Dengan menyebut nama Allah, ya Allah jauhkanlah kami dari gangguan setan dan jauhkanlah setan dari rezeki yang Engkau anugerahkan kepada kami. Betul begitu tidak sayang??" tanya Dave.
Mira kembali tersenyum mendengarnya. Mira pun mengangguk mengiyakan dan mengucap syukur dalam hatinya karena suaminya menunjukkan keinginan yang besar dalam belajar agama.
"Kalau begitu apa hadiahnya buat murid bu guru ini??" tanya Dave manja.
"Baru bisa itu sudah langsung minta hadiah. Nakal sekali muridku ini,,,"Mira dengan gemas mencubit hidung mancung itu untuk pertama kalinya.
"Harus dooongg,,, Ayo dong apa hadiahnya??" tanya Dave lagi.
Mira menggeleng gelengkan kepalanya lalu berdiri dan membuka hijabnya perlahan. Mira juga menarik tali pengikat rambutnya hingga rambut hitam panjangnya pun kini terurai hampir menutup setengah tinggi tubuhnya.
Dave membulatkan matanya karena pertama kalinya tau bahwa rambut Mira sepanjang dan seindah itu. Dave berdiri lalu membelai rambut panjang itu.
"Bahkan rambutmu pun seindah ini sayang,,," ucapnya lalu mencium kening Mira.
Tangan Mira kembali membimbing tangan Dave untuk menuju ke bagian depan tubuhnya dimana di sana terletak sebuah zipper yang akan membuka gaun Mira. Tangan Dave pun kembali bergetar sesaat terutama saat gaun itu lolos ke bawah.
Pemandangan yang lagi lagi sangat indah pun membentang di depan matanya. Tangan Dave kembali tergerak untuk melepas dua benda kecil penutup terakhir tubuh Mira hingga kini Mira pun polos di depannya.
"Ini hadiah bagi yang sudah belajar dan menghafal doa. Bacalah lagi doa itu sebelum kita benar benar melakukannya" ucap Mira.
Dave mengangguk dan tersenyum karena jemarinya mulai sibuk di tubuh polos istrinya. Dave membawa Mira ke ranjang mereka dan dengan lembut menidurkan tubuh indah itu.
Dave pun membaca kembali doa itu lalu mulai melaksanakan kewajiban pertamanya sebagai suami di ranjang dengan sebaik baiknya begitu juga Mira yang sudah menyerah jiwa raganya seutuhnya hanya pada suaminya.
Keduanya pun berlomba mencapai kebahagiaan dunia dan menutup semua kenikmatan itu dengan sebuah kecupan manis di kening Mira yang masih basah dengan keringatnya.
"Terima kasih sayang atas hadiah terindahmu,,,Dan terima kasih ya Rabb atas kado terbaikMU ini,, hamba sungguh beruntung." ucap Dave.
"Kita sayang,,,Kita yang beruntung." ucap Mira menambahkan.
Dave pun tersenyum mengiyakan dan membawa Mira dalam pelukannya hingga pagi datang menjelang.
__ADS_1
\=\=\=\=\=\=
Terima kasih atas vote, like dan komennya yaa πΈ