
Happy reading ya 🤓
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
"Hai Mira. Kamu cantik sekali." Puji Yudha tanpa malu malu lagi dan membuang waktu untuk segera melancarkan aksinya.
"Kalau tidak cantik ya bukan perempuan." Jawab Mira enteng.
Jawaban enteng itu malah membuat Yudha merasa semakin tertantang dan tertarik ingin terus dan terus menggodanya. Mira rupanya sangat pandai membuat Yudha penasaran.
Mira yang ternyata sudah menikah itu sudah bisa membedakan mana pria dan mana buaya. Namun Mira tetap meladeni obrolan Yudha karena lumayan membuatnya terhibur dan lupa akan permasalahan rumah tangganya.
Obrolan pun berlanjut hingga tengah hari.
"Yudha,,,, aku off dulu ya. Aku harus berangkat kerja." Tukas Mira.
" Oh baiklah cantik. Semangat ya kerjanya dan hati hati berangkatnya. Kamu naik apa??" Tanya Yudha.
"Mobil suamiku." Jawab Mira yang sengaja membuat buaya itu kaget.
Deeeggg,,,,
"Mobil suamiku??? Apa itu artinya Mira sudah menikah??? Kenapa dirinya sama sekali tak mengunggah foto kebersamaanya dengan suaminya??? Atau mungkin Mira hanya mengerjaiku???"
Yudha tertawa memikirkan kemungkinan terakhir itu.
Yaaa,,, Mira pasti hanya mengerjaiku. Mana mungkin dirinya memiliki suami jika cara berpakaiannya saja terkesan vulgar begitu. Bukankah suaminya pasti akan melarang atau setidaknya menegurnya???
Tapi walau Mira memang benar istri orang,,,, itu juga tak akan menyurutkan niatku menggodanya. Ini bukan pertama kalinya aku bermain dengan istri orang.
Batin Yudha terus menerka nerka dan tanpa sadar tak bisa begitu saja melupakan Mira. Dan saking penasarannya,,, Yudha pun memasukkan Mira kedalam daftar wanita incarannya.
Sementara itu,,,,,
"Aku antar ya Mira." Ucap Ronald.
Mira menghela napasnya dan membuangnya kasar. Dirinya yang merasa sangat terganggu dengan kehadiran Ronald itu tak ingin memberi kesempatan pada pria itu lagi untuk mendekati dirinya.
__ADS_1
"Ku mohon Mira." Ronald memohon agar Mira tak menolaknya.
"Aku bisa berangkat sendiri Ronald. Kamu tidak perlu repot repot mengantarku begini. Apalagi jika itu hanya kamu lakukan bukan karena kamu tulus tapi karena kamu hanya ingin membuatku luluh dan menerimamu kembali. Tidak Ronald!!! Keputusanku tetap sama." Ucap Mira tegas.
Ronald tertunduk mendengar penuturan Mira. Lehernya merasa tercekat oleh penyesalan penyesalan yang datang begitu terlambat. Mira sama sekali tak lagi mau memberinya kesempatan.
Ronald adalah suami Mira. Pernikahan yang berlandasan pondasi cinta itu rupanya tak mampu menahan kencangnya angin yang menerpa rumah tangga mereka yang telah berjalan hampir empat tahun itu.
Berawal dari vonis dokter yang mengatakan bahwa Ronald memiliki kelainan dan gangguan kesuburan. Hingga akhirnya awal dari keretakan rumah tangga mereka mulai mengintai.
Setahun menikah namun belum juga ada tanda tanda Mira berbadan dua.
"Bagaimana kalau kita periksa saja ke dokter??? Aku khawatir jangan jangan benar kata orang kalau wanita yang pernah menggugurkan kandungannya itu akan susah untuk bisa hamil lagi." Ujar Mira pada Ronald yang sudah tidak terkejut dengan pernyataan itu.
Mira adalah wanita yang tidak suka memulai hubungan serius dengan suatu kebohongan itu mengakui bahwa dirinya sudah pernah terjebak dalam pergaulan bebas yang menyebabkan Mira hamil dengan mantan kekasihnya yang dulu.
"Iya memang sebaiknya kita periksakan kondisi kita berdua." Jawab Ronald menyetujui.
Mereka pun pergi mendatangi sebuah klinik yang ada praktek dokter kandungannya. Setelah menjalani beberapa rangkaian tes akhirnya dokter menyampaikan berita buruk itu.
"Sebelumnya saya mohon maaf jika apa yang saya sampaikan nantinya akan mengecewakan anda berdua." Dokter membuka pembicaraan.
Mira menggenggam tangan Ronald yang tertunduk lesu mendengar penjelasan dokter. Mira berharap genggaman tangannya mampu mengalirkan kekuatan bagi suaminya.
"Apa ada terapi khusus untuk itu dok?" Tanya Mira.
Dokter menggeleng pelan dan menarik napas sebelum berkata kata lagi.
"99,9% hasil dari semua terapi akan gagal ibu. Tapi ada satu cara yang bisa bapak ibu coba saat ini yaitu program bayi tabung. Namun perlu bapak dan ibu pikirkan lagi karena walau biayanya besar tetap saja tingkat keberhasilannya pun 50 banding 50%." Terang dokter.
Keduanya menghela napas berat hampir bersamaan. Bagaimanapun juga bayi tabung bukanlah opsi terbaik yang bisa mereka pilih saat itu. Mereka masih terkendala biaya.
Akhirnya mereka putuskan untuk pamit pulang dan beralasan mereka butuh waktu untuk membicarakannya dirumah.
"Silahkan bapak dan ibu. Akan lebih baik juga jika hal ini didiskusikan saja terlebih dahulu dengan keluarga." Pesan dokter.
Sejak divonis dokter tidak bisa memiliki keturunan Ronald lebih sering melamun. Dirinya juga jadi gampang marah. Ronald bahkan mulai sering pulang malam dalam kondisi mabuk berat.
__ADS_1
Mira pada awalnya sangat bisa memahami perasaan dan hati suaminya yang tentu hancur dan rapuh mendapat ujian seperti itu. Mira bahkan tak pernah menyalahkan atau pun protes walau hampir tiap malam dirinya harus memapah Ronald ke kamar mandi untuk memuntahkan isi perutnya.
Mira justru merasa sangat iba pada Ronald.
"Bagaimana pendapatmu jika kita adopsi anak saja Ronald?" Tanya Mira pagi itu sambil membawakan secangkir kopi untuk Ronald.
"Apa kamu sengaja ingin membuatku malu pada keluargaku??? Kamu sengaja menunjukkan pada semua orang bahwa aku tidak mampu memberimu anak,,,, Begitu maumu???" Ronald bicara dengan nada tinggi.
Mira menghela napasnya dan berusaha tak terpancing emosi. Pelan pelan dijelaskannya apa maksud dan rencananya pada Ronald.
"Tentu saja aku tak bermaksud begitu. Kita bisa pindah keluar negeri dulu setahun agar tidak ada yang tau bahwa kita memiliki anak dari cara adopsi." Kata Mira dengan sabar.
"Aku tidak mau adopsi anak orang yang tidak jelas asal usulnya. Kalaupun harus adopsi maka aku hanya mau jika anak itu berasal dari darah keluargaku." Tukas Ronald.
"Tapi bukankah itu mengharuskanmu untuk mengakui keadaanmu pada keluarga kita. Kan kamu sendiri yang bilang bahwa kamu tidak mau kalau sampai keluargamu tau." Mira mengingatkan Ronald yang hingga saat ini masih tak ingin mengakui keadaannya pada semua keluarga.
"Lagipula justru aku menginginkan jika anak yang kita adopsi nantinya bukan dari keluarga kita agar tidak terlalu banyak masalah nanti ke depannya." ucap Mira.
"Aku pun tidak mau jika nantinya orang tua kandungnya tiba tiba datang dan ingin mengambilnya kembali. Walau aku tentunya kita akan melibatkan hukum disini nantinya tapi aku tetap tidak mau jika akhirnya anak itu mengetahui status aslinya." Pungkasnya.
Bbrruuaakkk!!!
Ronald memukul meja yang ada di depannya dengan kasar hingga kopi yang disuguhkan Mira tumpah.
"Lalu kau mau aku bagaimana Haaahh???" Bentak Ronald.
"Seharusnya aku yang bertanya begitu!!!" suara Mira pun meninggi.
Mira tak bisa menahan lagi. Dirinya merasa marah dan kesal sekali dengan ulah Ronald akhir akhir ini. Ronald yang lembut dan sabar itu sudah tidak ada lagi.
"Kalau kamu tidak bisa diajak bicara baik baik seperti ini,,, Terserah apa maumu sekarang. Aku tidak akan lagi mau bicara apa apa." Tegas Mira sebelum menghilang di balik pintu kamarnya.
Mendengar perkataan itu bukannya membuat Ronald menyadari kesalahannya dan malah semakin kesal lalu beranjak pergi. Entah kemana perginya, Mira pun tak peduli.
\=\=\=\=\=\=\=
Jangan lupa vote, like dan komen yaa
__ADS_1
Terima kasih 💞