
Terdengar bel masuk berbunyi, tadi kedua sahabat Mikey telah pergi lebih dulu ke kelas nya. Sedangkan kini Mikey masih ingin mengikuti Zero yang akan pergi ke UKS, tempat Zero ketika pria itu tengah malas dengan pelajaran yang paling ia tidak sukai.
Arzero yang tidak menyadari jika sendari tadi ada yang mengikuti nya, langsung terbaring dengan santai di salah satu kasur di ruangan itu. Lalu menutup tirai penghalang dari setiap kasur yang ada.
Beberapa jam berlalu mulus, hari nampak sudah sangat sore. Matahari juga hampir tenggelam, Zero yang merasa kantuk nya menghilang mulai terbangun dari tidur nya. Perlahan mengerjapkan mata nya, menatap arloji di pergelangan tangan nya dengan mata menyipit khas orang baru bangun tidur. "Sudah hampir malam." Ujar nya sembari mendudukkan tubuhnya, seketika itu ia terkejut ketika menyadari ada seorang gadis tengah duduk di kursi dengan kepala yang di topangkan di kasur tempat nya terbaring tadi. Ya gadis itu masih terlelap dalam mimpinya.
Perlahan Zero menyurai rambut yang menutupi wajah gadis itu, oh menyebalkan sekali! Gadis itu lagi. Zero memijit pelipisnya nya yang tidak sakit, lalu memejamkan matanya perlahan dan membuka nya lagi. Mungkin lebih baik dia meninggalkan Mikey sendiri di sana, lagian bukan urusan nya juga. Dan benar saja! Zero meninggalkan Mikey begitu saja, pria itu berlalu tanpa dosa keluar dari ruang UKS.
Hingga tengah malah tepat pukul 21.22 malam. Mikey baru terbangun dari tidur nya masih berada di dalam UKS. Berkali-kali mata nya mengerjapkan tanpa henti, dada nya mulai merasa sesak, keringat mengalir deras di sekujur tubuh nya, menatap sekeliling yang tidak ada cahaya sedikitpun, tangan nya meraba sesuatu, ia berharap ini hanya mimpi. Namun ketika ia jatuh, Mikey sadar ini bukanlah mimpi. "Kak Zero...Kakkkk...Kak kenapa gelap, Kak Zero..." Teriak Mikey terlihat mundur-mundur dengan gerakan ketakutan nya.
__ADS_1
Satu hal yang paling ia takuti adalah kegelapan, hitam adalah warna yang sangat di bencinya. Gelap menyimpan sebuah trauma besar yang melukai Mikey .
Tangan nya memegangi ponsel nya yang memancarkan cahaya terang, perlahan berusaha untuk mengatur nafas nya yang memburu. Ia nyalakan senter di handphonenya, lalu berjalan ke arah pintu UKS dan sial nya pintu itu terkunci. Berulang kali Mikey menggedor pintu itu namun tak ada siapapun di luar sana yang mendengar nya. Ketakutan kembali menyelimuti dirinya.
Berulang kali Mikey mencoba menghubungi seseorang dan orang pertama yang ia hubungi adalah Zero. Namun naas, tidak ada satu panggilan dari nya yang di balas oleh pria itu. "Kak ha..ha..ha..ha.." Pelan nya dengan nafas yang bertambah sesak.
Mikey mencoba menelfon kedua sahabat nya namun tidak ada yang aktif, lalu ia mendial nomer terakhir yaitu nomer milik Yuven.
"Sial," umpat Yuven saat baru saja ia memegang ponsel nya, layar itu sudah kembali berwarna hitam. "Hemm kira-kira ngapain tu bocil telfon gue." Pekik Yuven penasaran, kembali meletakkan ponsel nya di meja karena handphonenya yang tidak lagi berdering.
__ADS_1
Ketika beberapa saat baru saja Yuven memulai kembali game selanjutnya, ponsel nya kembali berdering. Namun panggilan itu dari orang yang berbeda. Dengan cepat pria itu mengangkat nya, "ha ada apa, ngapain telfon malam gulita gini ganggu kesantaian orang aja." Cerocos Yuven kayak kereta.
"Ven tolongin Mikey Ven! Tadi dia telfon gue cuma gue baru aktifin data. Dia kejebak di UKS sekolah, gue minta tolong susulin Mikey takut dia kenapa-napa." Ujar Veve.
"Pelan-pelan bisa kagak ngomong nya? Lo ngomong kayak geledeg." Cibir Yuven
"Dasar monyet! Gue lagi kagak bercanda ya nyet, kalo gue kagak lagi di rumah nenek gue! Gue kagak bakal minta tolong lo!" Marah Veve
Tiba-tiba sambungan telfon Veve terputus begitu saja, Yuven yang merasa aneh ingin menelfon balik Veve namun belum sempat ia menelfon. Pesan suara masuk dari nomer nya Mikey.
__ADS_1
"Tolong gue." suara yang terdengar begitu lemas dan di akhiri dengan suara seperti ponsel yang jatuh ke lantai.
Tiba-tiba Yuven langsung beranjak dari duduk nya, ia mengambil kunci motor. Sembari berjalan menuruni anak tangga Yuven tak lupa untuk mengabari kepada sahabat nya yaitu Arzero untuk menyusul nya ke sekolah.