Bocil Menggemaskan

Bocil Menggemaskan
Tak mau mendekat


__ADS_3

Mikey terlihat memukuli dada dan lengan tangan Zero yang mengungkung tubuh nya. Dia mendengus kesal, menatap wajah Zero membuat nya mendongak.


"Apa liat-liat?" Tanya Zero ketika menyadari Mikey tengah menatap nya, hanya sekilas menatap ke bawah di mana wajah itu tengah menatapnya, setelah itu Zero kembali fokus kepada mie yang tengah di masak nya.


"Pede banget," marah Mikey.


"Dari pada marah-marah, mending bantuin buka bumbu nya, ni mangkuk nya." Zero memberikan dua mangkuk kepada Mikey.


Mendapatkan hal itu, Mikey langsung membalik tubuh nya menghadap meja. Mengikuti perintah Zero tadi, dengan sedikit agak kesal juga karena kini pria itu masih setia mengungkung nya di belakang tubuhnya.


Setelah mie nya masak, Zero melepaskan kungkungan itu. Namun Mikey kini sudah kembali bersikap biasa saja, malah dia menjinjitkan kaki nya ingin melihat ke arah kompor. Zero yang melihat kelakuan Mikey seperti itu, tangan nya langsung terangkat mengelus kepala Mikey perlahan.


"Apa sudah masak?" Tanya Mikey masih setia berjinjit.


"Sudah, lapar ya?" Zero melirik mikey, di lihatnya Mikey hanya mengangguk dengan mata yang masih melihat ke arah kompor.


"Lho bumbu yang satu lagi nya mana sayang?" Tanya Zero ketika hanya ada satu mangkuk yang berisi bumbu, sedangkan mangkuk yang di samping nya masih kosong dan bersih.

__ADS_1


"Aku tuangin ke sini semua," ujar Mikey.


"Kamu ini," Zero mengacak-acak rambut Mikey, lalu ia pun menuangkan semua mie nya ke mangkuk itu. "Jadi mau makan satu mangkuk saja," seru Zero mengaduk-aduk mie tersebut.


" Jadi dua," tak mau Mikey .


"Sudah satu saja, ayok kita makan." Zero berjalan menuju meja makan, di ikuti oleh Mikey yang mengikuti nya di belakang.


Mereka pun kini makan bersama, duduk berdampingan. Sesekali Zero menyuapi Mikey dan begitu juga sebaliknya nya. Kedua nya terlihat asik menikmati mie tersebut, padahal hanya sebatas mie instan sederhana, namun mampu membuat yang menikmati nya hanyut terbawa rasa yang luar biasa.


Zero mengusap bercak air yang ada di sekitar area bibir mikey dengan tisu, sedangkan Mikey masih terlihat asik mengoceh sembari mengaduk mie nya.


"Nggak bakal ada yang berani dekati kamu selain aku," ujar Zero tak ikut makan membiarkan Mikey menghabiskan mie nya sendiri.


"Kan kamu pacar aku, nggak boleh juga ada yang deketi kamu selain aku." Ujar Mikey.


...***...

__ADS_1


Keesokan hari nya, Veve sudah rapih memakai seragam sekolah nya. Baru saja ia keluar dari kamar nya, di depan kamar nya menampakkan sosok yang akhir-akhir ini membuat nya kelimpungan tujuh keliling.


"Aisss lo ngagetin aja sih," cibir Veve.


"Good morning baby." Ceriah Zaka.


"Morning juga, nyet!" Veve memutar bola mata nya malas, setelah itu langsung melenggang pergi meninggalkan Zaka.


Di lihat meja makan kini sudah ramai dengan anggota keluarga yang tengah melakukan kegiatan sarapan nya. Veve ikut serta gabung bersama mereka, begitu juga dengan Zaka yang di suruh ikut gabung.


Papa dan mamah Veve terlihat tersenyum melihat putri nya yang berjalan berdampingan dengan Zaka. Alangkah sangat bahagia nya hati Firman saat ini melihat putri bungsu nya itu sudah dewasa.


"Ekhem.. Kayak nya bentar lagi bakal cetak undangan ni ya kan pah," ledek Anton kakak tertua nya Veve. Padahal pria itu sudah menikah dan memiliki dua anak, tapi masih saja suka meledek adik nya itu.


"Anton," Mora mengedipkan mata nya ke anak nya itu, karena tidak ingin membuat mood Veve berantakan pagi ini.


"Emang mau cetak undangan apa pah?" Tanya putri kecil Anton yang masih berumur 7 tahunan itu.

__ADS_1


"Kamu anak kecil ikut-ikutan saja," cibir Veve sebal.


Tidak ayah nya tidak anak nya sama saja selalu membuat mood nya berantakan. Veve pun memilih melahap makanan nya dengan segera, karena dia tidak berani meninggalkan meja makan. Hal tersebut adalah satu ketidak bolehan yang di catat oleh Firman. Siapapun anggota keluarga Firman yang berani menghilang dari area meja makan ketika jam makan tiba, orang tersebut akan di coret dari KK nya.


__ADS_2