
Hari masih terlihat gelap, seperti biasa Arzero akan berolahraga dulu keliling komplek sebelum kesekolah. Ketika tengah berlarian kecil menelusuri setiap perumahan yang ada, ia tak sengaja melihat Veve yang tengah mengobrol dengan seseorang di telfon. Memang Veve dan Zero tinggal di komplek yang sama namun rumah nya sangat berjauhan.
"Iya lho Mikey hari ini nggak masuk sekolah, tiba-tiba dia sakit mungkin karena kejadian semalam." Ujar Veve yang tengah berbelanja sayur di depan rumah nya, karena sudah biasa tukang sayur itu akan mampir kerumah nya setiap pagi.
Zero yang mendengar hal tersebut sedikit mengulum lari nya, untuk mendengarkan percakapan itu lebih jelas. Apa benar Mikey sakit? fikir nya lalu kembali melanjutkan larian nya dengan tempo seperti semula.
Di sekolah hari ini terasa berbeda, tidak ada yang mengusik kegiatan Zero di pagi hari maupun saat jam istirahat. Ada baik nya juga Mikey sakit, setidaknya bisa membuat Zero menikmati hari nya tanpa harus di ganggu oleh bocil tengil itu.
"Kayaknya beda banget ya suasana nya, lebih asik ketika Mikey and the geng itu ngerecokin kita setiap duduk di kantin ini." Gumam Yuven menyadari ada yang kurang di meja itu, menatap kursi kosong yang biasa di tempati oleh Mikey, Gina dan Veve.
Perkataan itu membuat Zero menoleh ke bangku kosong di samping nya, bayangan tentang Mikey yang selalu menatap nya jika dirinya sedang makan muncul. Mengingat kemarin ketika ia melirik sekilas ke arah Mikey, tatapan gadis itu memang penuh puja dan damba menatap dirinya. Tanpa sadar bibir nya sedikit mengulum manis, saat bayang-bayang wajah Mikey yang merona merah karena malu ketika di tatap oleh nya melintas tanpa permisi di benaknya.
BRAK!!!
Beberapa tumpukan buku itu berhamburan di lantai, alat mek up yang awal nya tertata rapi di meja rias kini berserakan tak karuan. Pecahan kaca mengotori lantai itu, terlihat gadis itu menarik rambut nya kuat. Ia kembali teringat akan kejadian 10 tahun silam, di mana seseorang yang sangat ia sayangi di rengut nyawanya di hari yang sama. Ayah, ibu dan kakak nya meninggal dalam kecelakaan mobil beruntun, saat itu dirinya juga tengah berada di dalam mobil tersebut.
__ADS_1
DERR!!!
PYAR!!!
Terdengar suara mobil yang terjebur ke dalam dasar danau, Mikey yang masih setengah sadar melihat ketiga orang yang di sayang nya sudah mengambang di dalam air. Secercah air mata mengalir menyatu dengan air danau. Setelah nya ia mulai tak sadarkan diri karena ada sesuatu menghantam keras bagian kepalanya.
NGGAK!!
AYAH!
KAKAK!
AKU KENAPA!
KENAPA GELAP!!
__ADS_1
SIAPAPUN TOLONG AKU!
AYAH.. IBU.. HIKSS...
AYAH... KAKAK... IBU... HIKSS BANTU AKU!
Racau Mikey terlihat sangat menyedihkan sekali, seorang wanita paruh baya mendekat dan memeluk erat tubuh gadis itu. "Ada Tante di sini sayang." Ucap wanita itu bernama Serlin yaitu adik dari ibu nya Mikey.
"Tante...di mana ayah, ibu dan kakak. Dan tolong nyalakan lampu nya Tante, ini sangat gelap Keyla tidak suka seperti ini."
AAAA!!!!
Teriak Mikey mengacak-acak rambutnya frustasi. Emosi nya meninggi, dirinya sudah tidak bisa di kendalikan lagi, ketika mendengar suara tangisan nya di masa lalu itu. Tiba-tiba dengan santai nya Mikey menggoreskan sebuah bongkahan kaca yang ia ambil itu ke lengan tangan nya. Sobekan itu cukup dalam dan banyak mengeluarkan darah segar.
Beberapa saat Mikey sudah berada di rumah sakit tengah di tangani oleh beberapa Suster dan satu Dokter. Terlihat Serlin yang baru saja pulang dari rumah ibu nya sangat cemas sekali. Ketika mendapat kabar dari asisten nya Mikey, jika di nyatakan ada sesuatu yang memicu kambuh nya trauma nya Mikey, setelah bertahun-tahun lama nya ini kali kedua nya Mikey mengalami hal yang sama seperti ini.
__ADS_1