Bocil Menggemaskan

Bocil Menggemaskan
Veve yang kesal


__ADS_3

Mikey merangsut mendekati Zero lalu menyenderkan kepalanya nya di dada kekar pria itu. Mikey memang seperti ini, hanya akan manja jika tengah di dekat Zero. Tidak ada lagi filter apapun yang Mikey pakai jika sudah berhadapan dengan pria itu, apa lagi kini mereka sudah resmi menjadi sepasang kekasih, membuat Mikey bertambah tidak ada alasan untuk diri nya bermanja-manja dengan kekasihnya sendiri.


"Bubu aku lapar," kata nya dengan tangan yang memegangi perut nya.


"Hemmm kita makan di luar, tadi ayah dan bunda izin pergi ke rumah nenek, bibi juga ikut karena nenek ingin di buatkan sup kelinci. Jadi tidak ada makan siang di rumah ini." Kata Zero.


"Aku belum makan dari pagi, rasanya sangat laparrr." Rengekan Mikey


Sontak Zero langsung menegakkan tubuh nya mendengar penuturan itu, "kamu belum makan dari pagi?" Ujar nya seperti sebuah pertanyaan namun nada nya sangat terkejut.


Mikey mengangguk pelan, bagaimana ia mau makan. Toh rencana awal dirinya datang pagi-pagi ke rumah ini kan, untuk mengajak Zero sarapan di luar. Ia tidak tau jika pagi itu ia malah mendapatkan serangan tak terduga dari pacar nya itu, saat Zero malah merebahkan tubuh nya di kasur dan memintanya menemani pria itu tidur.


...******...

__ADS_1


Setelah acara urut mengurut usai, Zaka langsung mengantarkan Veve pulang. Terlihat kini pria itu lebih banyak diam dari pada ketika di sekolah. Bahkan sikap nya sangat dingin dan arogan, sampai-sampai Veve mengira bahwa Zaka memiliki kepribadian ganda.


"Lo kok nggak pernah bilang kalau lo itu anak nya Om Bagus." Ujar Veve memecahkan keheningan, karena seorang Veve itu sangat suka kebisingan dan tidak bisa jika terus berdiam diri seperti itu.


"Lo aja nggak pernah nanya," kata Zaka dengan nada seperti biasa nya, sok cool dan sok paling tampan.


"Aisss menyebalkan!" Cibir Veve memutar bola mata nya malas.


PLAK!


"Bercandanya nggak lucu!" Marah nya membuang wajah cepat ke luar jendela.


Pria itu masih setia terkekeh geli, "galak amat tuan putri," rayu nya membuat telinga Veve yang mendengar nya merasa geli dan jijik.

__ADS_1


"Ihhhh, lo niat mau nganterin gue nggak ha! Kalau nggak niat gue bisa pulang sendiri kok makasih!" Sebal Veve langsung membuka pintu mobil dan keluar dari mobil tersebut.


Zaka yang melihatnya ikut mengikuti langkah Veve yang terlihat pincang. "Iya-iya gue minta maaf, jangan ngambek gini dong tambah bikin gue jatuh cinta kan." Ucap Zaka santai tanpa dosa.


"Lepasin!" Galak Veve menepis genggaman tangan Zaka dengan kasar.


"Ve sorry, balik ke mobil lagi ya gue langsung anter lo pulang janji." Zaka terlihat memohon sembari menunjukkan dua jari tengah dan telunjuk nya secara bersamaan, dengan gigi yang di perlihatkan tertata rapih di tempat nya.


Namun bukan nya mendengar kan perkataan Zaka, Veve malah berjalan menyeberangi jalan ketika melihat sesuatu yang menurutnya lebih menarik. Sedangkan Zaka terlihat masih asik membuntuti gadis itu dengan mulut yang tak habis-habis nya mendumel.


"Keyyyy," Rengek Veve tiba-tiba, duduk di sebelah Mikey yang tengah terduduk berdampingan di sofa berwarna merah itu dengan Zero. Membuat Zero yang ingin menyuapi Mikey langsung mengurungkan niatnya melihat kedatangan sahabat dari pacar nya itu.


Veve kini tengah mencari cara agar terlepas dari pria yang terus mengekorinya itu dan kebetulan sekali, ia tadi melihat Mikey yang sedang makan bersama Zero di sebuah kafe pinggiran jalan. Membuat Veve tanpa berfikir panjang langsung menghampiri Mikey, berharap bisa mendapatkan tebengan agar ia tak repot jika harus pulang bersama playboy itu.

__ADS_1


__ADS_2