
"Gue tau lo nggak suka sama Mikey! Tapi nggak gini cara nya biar lo bisa menjauh dari Mikey! PLAK!" Satu tamparan mendarat di pipi mulus Arzero. Tangan pria itu sudah siap terkepal jengkel, tidak ada angin tidak ada badai. Tiba-tiba cewek itu menamparnya seenak jidat.
Zero mendorong kasar Veve, gadis yang telah menamparnya tadi. "Apa? Lo nggak terima? Tamparan gue itu nggak sebanding dengan apa yang udah lo lakuin ke Mikey. Gara-gara lo dia hampir MOKAD!!!" Veve menekan kata MOKAD tepat di hadapan wajah Zero.
Gina yang tak ingin Veve bertambah marah, ia langsung menyeret sahabatnya itu untuk pergi dari area kantin. Banyak pasang mata melihat kejadian tadi, namun Arzero yang menjadi bahan tontonan kini malah tidak mengerti dengan inti permasalahan yang Veve bicarakan barusan.
MOKAD?
Hah! Apa maksudnya, kapan dirinya mencoba untuk membuat Mikey mati? bahkan menyentuhnya saja ia tidak pernah fikir Zero seperti itu. HELLOW!! Lo amesia? Beberapa hari yang lalu ketika Mikey kejebak di UKS, lo sendiri yang nolongin gadis itu, menggendong, mengusap pipinya, meremas jemari nya, apa itu bukan bagian dari menyentuh?
Arzero menatap ke arah Yuven yang tak jauh dari nya, sejak pagi tadi sikap sahabat nya itu sangat tidak seperti biasanya. Berbeda, bahkan enggan untuk mengobrol dengan nya. Karena jengkel di perlakukan seperti ini oleh Yuven, Zero pun mendekati pria itu untuk meminta penjelasan.
__ADS_1
"Ven lo kenapa tinggalin gue, nggak ngajak-ngajak lagi ke kantin." Cetus Zero duduk di hadapan Yuven, namun yang di ajak bicara masih asik menyantap bakso nya tanpa menoleh sedikitpun ke arah Zero padahal pria itu berada tepat di hadapan nya.
"Ven," sekali lagi Zero memanggil dengan suara yang masih agak kalem.
Namun masih sama tak menatap nya, bahkan kini Yuven beranjak dari duduk nya ingin pergi. Melihat hal tersebut rahang Zero seketika mengeras. "Kalo ada masalah bilang! Nggak usah pura-pura budeg kayak gini." Cicir Zero dengan lantang
Namun Yuven yang tau tempat, dia tidak menimpali perkataan Zero malah pergi tanpa menghiraukan Zero yang bertambah emosi.
Menjelang sore hari nya
Hanya bisa dari luar jendela tempat menjenguk mereka bisa melihat Mikey. Karena untuk saat ini dokter masih belum membolehkan siapapun menengoknya langsung. Veve terlihat berlarian keluar, menangis tak kuat melihat kondisi sahabat nya seperti ini. Sedangkan Gina yang masih setia menatap Mikey juga masih menangis sendu. Tiba-tiba satu nama yang keluar dari mulut Mikey membuat Gina berfikir.
__ADS_1
"Kak Zero tolong aku!" Teriak Mikey sangat terdengar jelas oleh Gina.
...******...
Walau sebenarnya Gina enggan untuk bertemu dengan orang yang satu ini, namun jika mengingat dengan kondisi sahabat nya di rumah sakit, Gina berani mencoba karena berharap orang yang di temui nya sekarang bisa memulihkan kondisi Mikey seperti semula.
"To the poin aja ya, gue ngajak lo ketemuan di sini karena mau minta tolong sama lo. Tapi lebih tepat nya! Minta pertanggung jawaban agar lo mau datang kerumah sakit jengukin Mikey." Gina berkata serius.
Sontak Zero langsung bangkit dari duduk nya, "kalo lo ngajak gue ketemuan cuma buat bahas tentang cewek itu, gue nggak punya waktu."
"Cowok brengsek lo! Apa lo lupa siapa yang ninggalin Mikey sendirian di UKS hingga tengah malam? Hingga Mikey kejebak di dalam UKS tanpa penerangan apapun di dalam nya. Lo orang nya! Lo kan yang ninggalin Mikey! Dan lo yang udah buat Mikey jadi seperti sekarang! Gara-gara lo trauma Mikey kambuh dan dia nggak bisa ngendaliin fikiran nya dengan baik." Panjang lebar Gina mengeluarkan semua unek-unek nya.
__ADS_1
Zero yang awal nya ingin pergi langsung memutar tubuh nya, menghadap ke arah Gina yang masih setia terduduk di tempatnya. "Trauma? Dia punya trauma?" Tanya zero terkejut.
Setelah beberapa saat kondisi nya sudah mulai redup, kedua anak remaja itu saling mengobrol. Gina yang tengah menceritakan pasal trauma yang di alami Mikey, sedangkan Zero terlihat setia mendengarkan dengan sangat serius.