
Di kantin hanya ada keheningan di antara mereka, Veve tidak ikut gabung makan bersama Mikey, karena dia sedang ada susulan ulangan kemarin. Sedangkan Yuven tengah latihan musik di ruang musik, jadi menyisakan Zero dan Mikey saja yang kini duduk bersebelahan di kantin.
"Bubu nggak mau ngobrol gitu sama aku?" Tanya Mikey lembut sembari dengan tangan mengaduk-aduk minuman nya menggunakan sedotan.
"Aku minta maaf deh, kemarin aku nggak ada niatan bikin kamu kesel gini. Suwerr deh aku kemarin di suruh kepala sekolah nganterin kakak kelas itu ke kelas baru nya, mau nolak pun ak-" Zero langsung mencekat perkataan Mikey.
"Mubazir kalo nggak di anterin, kan dia cakep." Zero melanjutkan perkataan Mikey.
"Bubu apa sih, aku di paksa sama kepala sekolah. Kalau Bubu mau marah seharusnya marah sama kepala sekolah nya dong!" Cibir Mikey.
__ADS_1
"Sudahlah aku mau ke toilet, habiskan makan mu," kata Zero setelahnya melenggang pergi meninggalkan Mikey duduk seorang diri.
******
Di ruangan tersebut, Mikey terlihat mengelus perlahan tangan itu. Ia tersenyum menatap sahabat nya masih tak kunjung membuka mata nya. Sesekali bercerita tentang hal yang lucu dan mengingat kembali masa ketika mereka saling bertukar senyuman.
"Dia cemburu gue dekat-dekat dengan Kak Han. Gimana sih Gin caranya agar Kak Zero baikan lagi sama gue?" Tanya Mikey, namun orang yang menjadi tempat curhat nya masih diam dengan mata yang setia terpejamkan.
"Tadi aja gue ditinggalin, apa sesalah itu ya gue di mata dia? " Tanya Mikey lagi.
__ADS_1
Terlihat Mikey menyeka sudut mata nya yang hampir saja meleleh kan sebuah butiran kecil yang akan jatuh. Hidung nya sudah memerah, rasa nya ia butuh sekali tempat yang damai untuk saat ini. Kenapa hati nya sakit ya ketika Zero terus cuek kepada nya. Namun Mikey tetap berusaha tak menangis, walau kini wajah nya sudah memerah panas.
"Gin gue balik dulu ya, besok gue bakal datang lagi kesini. Lo mau apa? Biar ntar gue beliin." Ucap nya dengan suara serak, Mikey menyurai poni panjang nya dengan kasar, menutup wajah nya dengan kedua telapak tangan nya. Sejenak terisak kecil, lalu setelah itu mengusap wajah nya perlahan dan tersenyum kepada Gina sebelum ia benar-benar pergi.
Mikey berjalan menelusuri koridor rumah sakit, menatap layar handphone nya. Mendial nomer seseorang yang tak kunjung membalas pesan nya.
Akhir nya Mikey pasrah dan tak lagi menunggu jawaban dari kekasih nya itu. Ia memilih menunggu taksi online yang di pesan nya beberapa menit yang lalu. Di tatap nya langit yang gelap itu, wajah nya yang masih tampak merah. Membuat beberapa orang yang melihatnya merasa bingung. Ia harap esok Zero akan berbaikan dengan nya, karena jika terus seperti ini. Mikey tidak tahan kalau harus berlama-lamaan di cuekin.
Mikey pun melangkahkan kaki nya keluar dari area rumah sakit, mulai memasuki taksi yang tadi di pesan oleh nya. Terduduk dengan hati yang berkecamuk tak menentu. Ia sama sekali tak mengerti, apa serumit ini hubungan dalam percintaan? Bahkan dia pun tak mau Zero marah hanya karena hal sesepele itu, walau nyatanya Mikey juga akan marah jika melihat Zero sedang berbincang dengan gadis lain. Ya egois! Memang sangat egois.
__ADS_1