Bocil Menggemaskan

Bocil Menggemaskan
Menginap


__ADS_3

Sampailah kini mobil sport itu di depan sebuah gerbang berwarna putih yang menjulang tinggi. Mikey menatap ke arah Zero ingin berpamitan kepada kekasihnya.


"Bubu aku turun dulu ya." Ujar Mikey.


"Hemm aku masih kangen sama kamu, apa boleh aku juga menginap saja di sini?" Tutur Zero.


"Mana boleh, papa nya Veve pasti akan marah dia orang nya galak sekali." Mikey menangkup gemas kedua sisi pipi nya Zero, dengan wajah mereka yang saling berdekatan.


"Udah ahh aku turun dulu," kata Mikey namun baru saja pintu mobil nya akan di buka, dengan cepat tangan Zero menarik leher Mikey.


Terjadilah cium mencium di antara kedua nya, Mikey hanya mematung karena kekasih nya selalu saja seperti ini. Zero memegang kedua pinggang Mikey ketika melepaskan bibir nya dari bibir gadis itu.


"Dasar nakal!" Pekik Mikey.


Cup!

__ADS_1


Mikey mencium pipi Zero sekilas, setelah nya turun dari mobil. Yang di dalam mobil hanya senyum-senyum tidak jelas, malam ini dia mendapatkan dabel kill.


Setelah memastikan Mikey telah masuk ke dalam gerbang putih itu, kini Zero pun melajukan mobilnya menuju pulang.


Ketika memasuki rumah, Mikey yang tadi di jemput Veve di depan pintu rumah. Langsung di sambut di ruang TV oleh semua anggota keluarga Veve.


"Ehhh ada Princess." Sapa Aiden kakak kedua nya Veve.


"Mikey jadi somboh nggak suka main ke sini, nggak kangen apa sama Kakak?" Centil Anton Kakak pertamanya Veve.


"Idih nggak ada kaca ya bang? Dah berkepala empat masih aja keranjang." Ledek Veve.


Mikey pun kini bergabung duduk di samping Veve dan di kursi sebelah nya lagi duduk lah si Aiden. Mikey memang sudah sangat akrab dengan kakaknya Veve. Makanya tak jarang kedua pria itu selalu menggoda mikey, karena hanya kepada Mikey mereka berani seperti itu.


"Tante Mora, apa boleh aku nginap di sini?" Tanya Mikey menatap Mora yang berada di seberang tempat duduk nya.

__ADS_1


"Ya tentu boleh sayang, kamu seperti orang asing saja." Kekeh Mora.


"Menginap lah sesuka mu Key, Om dan Tante malah sangat senang rumah jadi semakin ramai." Firman angkat bicara.


"Aku juga tak akan sungkan jika ingin menginap." Suara lantang seseorang membuat semua yang tengah fokus nonton langsung menoleh ke sumber suara.


Veve memutar bola mata nya jengah, Firman terlihat geleng-geleng melihat tingkah dari anak sahabat nya itu, sedangkan Mora hanya tersenyum manis. Lalu yang lain nya hanya terbengong, Zaka! Si curut itu kenapa bisa ada di sini malam-malam fikir Mikey.


"Boleh kan Om," Senyum Zaka langsung duduk di samping Firman tanpa permisi.


"Pede amat sih lo," cibir Veve kesal.


"Nikahin anak Om dulu baru boleh menginap." Ujar Firman.


"Yah itumah bukan menginap Om, itu nama nya singgah." Zaka membenarkan.

__ADS_1


"Ah dahla yuk Key ke kamar saja." Ajak Veve langsung menarik Mikey pergi dari ruangan tersebut.


Jika sudah membahas pasal nikah! Veve merasa tak mood. Dia memang tak menolak di jodohkan dengan Zaka, namun jika harus menikah cepat dia masih belum bisa menerima. Masih banyak yang ingin Veve lakukan di masa remaja nya, banyak sekali angan-angan yang belum Veve capai. Walau ia tau Firman ingin segera melihat Veve menikah itu karena Veve adalah anak gadis satu-satunya yang Firman miliki. Firman tidak ingin sampai kelak saat Veve ingin menikah diri nya sudah tidak ada di dunia ini lagi. Firman sangat ingin menjadi wali dari Putri nya itu.


__ADS_2