
Perlahan Mikey berjalan mengintip dari sela-sela kaca jendela, sedangkan Zero tadi sudah naik ke lantai empat untuk pergi ke kelas nya. Sudah berusaha untuk berhati-hati masuk ke dalam kelas ingin loncat dari jendela, namun tiba-tiba ada yang menyenggol kaki nya yang hampir saja loncat. Hal itu membuat Mikey terbentur jendela dan jatuh ke lantai.
Mikey terus mengelus-elus kepala bagian belakang nya, menatap siapa orang yang telah menggagalkan rencana nya. Ternyata Veve orang nya,
"Sorry-sorry gue nggak sengaja, suerr ni di dorong sama si Udin pea soal nya buru-buru jadi tadi gue nggak liat ada lo di mari." Bisik Veve dengan tangan yang di tangkup jadi satu di depan dada.
"Tai lo! Ssttt aduhh," pekik Mikey lalu mengelus kembali kepala nya yang nyut-nyutan.
"Sedang apa di sana?" Suara sang guru mengejutkan ketiga anak itu.
Gara-gara Veve diri nya jadi gagal masuk kelas lewat jendela dan karena sahabat nya juga kini Mikey harus menanggung sakit di kepala belakang nya.
Ketiga nya di introgasi oleh gurunya yang kini tengah mengajar di kelas nya, mereka di marahin habis-habisan dan harus di beri hukuman berupa berdiri di hadapan tiang bendera sampai jam istirahat tiba.
__ADS_1
"Gara-gara lo ni." Cebik Mikey kesal menatap Veve tajam.
"Lo sih Din," Veve malah menyenggol lengan Udin.
"Lah kok gue?" Bingung Udin.
Saat baru saja Zero ingin masuk ke kelas nya, dari atas dia bisa melihat kini sang kekasih nya tengah berdiri di lapangan di hadapan tiang bendera. Ada niat hati untuk kembali turun dan ikut menemani kekasih yang tengah di hukum. Namun langkah nya keburu terkejar oleh sang guru yang melihat nya ingin kembali keluar kelas.
"Zero mau kemana kamu?" Tanya guru bahasa tersebut.
"Mana ada Bu, mending Ibu hukum saya berdiri di tiang bendera saya mau kok Bu mau banget malah." Ujar Zero menatap sang guru nya berharap dia benar-benar di hukum di tiang bendera.
"Ro apaan sih lo, panas tau." Senggol Yuven yang memang saat itu ikut kepergok terlambat.
__ADS_1
"Kenapa jadi kamu yang minta di hukum? Berdiri di tiang bendera itu sudah tidak berlaku lagi bagi anak kelas 12, sekarang ibu beri kalian hukuman gosek wc kelas 12 sampai bersih." Ujar Ibu guru dengan raut wajah khas guru BK.
"Kok gosek wc Bu?" Tanya Yuven tak mau melakukan nya.
"Kenapa? Mau protes? Atau mau ibu tambahin gosek seluruh wc yang ada di sekolah." Ujar lagi sang guru.
"Nggak Bu." Serempak kedua nya langsung ngacir pergi ke gudang mengambil peralatan pembersih wc, niat nya ingin di hukum dan bisa romantis-romantisan dengan sang cinta kini gagal. Malah dia harus membersihkan wc seperti ini, nasib yang tidak beruntung.
Terlihat di lapangan ketiga anak itu masih setia berdiri dengan panas yang bertambah menyeruak masuk ke dalam seragam mereka. Perlahan pandangan nya mulai redup, sinar matahari pun seakan-akan mempermainkan nya, mulai tidak terlihat dari pandangan nya hingga,
BRUK!
Tubuh itu berhasil ambruk, Mikey yang melihat nya terkejut. Ia langsung menutupi Veve dengan tubuh nya agar tak terkena sinar matahari.
__ADS_1
"Ve.. Bangun," ucap Mikey masih terdengar oleh Veve namun samar-samar setelah nya gadis itu benar-benar pingsan tak sadar.
Udin pun membawa Veve ke UKS seperti yang di perintahkan oleh Mikey, berkali-kali Mikey menepuk pipi Veve kecil. Namun gadis itu tak kunjung membuka mata nya. Wajah Veve terlihat pucat, gadis itu memang selemah ini, sedikit saja dia kelelahan pingsan adalah kawan nya.