
"Ya sekarang Veve dan Gina bertengkar hebat, gue tau lo nggak bersalah. Tapi gue nggak bisa bantu lo keluar dari penjara, jika pun bisa itu pasti akan berimbas kepada diri gue sendiri. Gue nggak mau hubungan gue dan Gina jadi taruhan nya." Mikey sendari tadi mendengarkan percakapan kedua pria itu, setelah mengetahui semua nya Mikey pun ikut bergabung duduk di sisi Zaka dengan sedikit jarak.
"Gue nggak tau harus marah atau bagaimana, yang pasti gue hanya ingin sedikit penjelasan apa yang sebenarnya terjadi antara Veve dan Gina." Kata Mikey dingin
Zaka gelagapan karena ternyata Mikey sendari tadi menguping pembicaraannya dengan Roy. Namun mendengar penuturan Mikey ia sedikit agak lega karena Mikey tidak mempermasalahkan pasal Zaka yang ternyata sudah tau dari awal jika Roy adalah tersangka. Pria itulah yang menghapus semua video cctv di balkon, walau nyatanya masih ada sepenggal video lagi yang tertinggal dan sialnya membuat Roy akhirnya harus di tahan.
Sejenak semua nya diam, lalu beberapa menit nya Zaka langsung buka suara dan menjelaskan sedetail mungkin. Entahlah respon apa yang harus Mikey suguhkan saat ini, ingin marah? Protes? Namun itu percuma.
"Gue yang akan bantu lo, tapi setelah masalah Veve dan Gina selesai." Ucap Mikey sebelum melenggang pergi.
Dengan lelah nya Mikey memasuki sebuah kamar, ia langsung berdiri di hadapan seseorang dan mendorong kursi itu ke belakang. Untuk membantu nya memudahkan agar diri nya bisa dengan mudah duduk di pangkuan Zero.
"Hiksss capekkk," rengek Mikey sudah terisak dalam dekapan Zero.
Mendapati hal itu, Zero langsung menyudahi permainan nya. Tak apalah ia kalah dalam game, kini yang terpenting adalah menenangkan kekasihnya.
"Sayang kenapa?" Tanya Zero menyurai rambut yang menutupi wajah Mikey.
__ADS_1
Ia angkat tubuh ramping Mikey, merubah posisi sang gadis duduk berhadapan dengan nya dalam pangkuan nya. Di peluk nya tubuh itu, Zero sudah seperti mengemban bayi besar sekarang.
"Hikss capek Bubu," rengek nya lagi.
"Sudah... Sudah... Istirahatlah, aku sudah pernah katakan padamu jangan terlalu di fikirkan sayang, kamu selesaikan masalahnya perlahan dan jangan di jadikan beban." Oceh Zero.
"Huaaa tetap saja, semua nya bakal sama." Rengek Mikey lagi.
"Yasudah sekarang kamu tenang, lalu istirahat." Kata Zero mengeratkan pelukan nya terhadap Mikey.
Oh sangat tidak sanggup Zero mendapatkan tatapan itu, ini sangat menggemaskan. Rasanya Zero ingin menelan habis wajah cabi gadis nya itu.
Zero menggendong Mikey turun ke bawah, kebetulan rumah sepi dan hanya diri nya saja yang ada di rumah. Jadi Zero bisa dengan bebas memanjangkan Mikey sesuka hati nya di rumah itu.
Di letakkan nya Mikey di atas meja dapur, sedangkan ia asik mengambil sesuatu di dalam lemari bumbu.
"Aku masakkan nasi goreng, kamu duduk manis di situ." Titah Zero setelah nya mencium pipi Mikey.
__ADS_1
Mikey hanya tersenyum dan melihat Zero yang tengah sibuk di depan kompor. Menyendokkan beberapa sendok nasi ke dalam wajan yang sudah berisi telur yang sudah di tumis. Setelah nya pria itu memberikan beberapa bumbu dan suwiran ayam ke dalam wajan. Lalu ia aduk hingga merata.
"Bubu menurutmu apa Veve dan Gina akan terus seperti itu?" Tanya Mikey.
"Jika salah satu dari mereka ada yang bisa mengimbangi, semua nya akan baik-baik saja." Ujar Zero.
"Siapa yang akan mengimbangi? Aku saja sulit menjadi penengah nya. Apa lagi mereka sendiri." Cibir Mikey.
"Coba kamu bicara baik-baik dengan Gina, aku yakin Gina punya fikiran lebih dewasa dari Veve, dia pasti mau mengalah." Saran Zero mendekat ke arah Mikey dan meraih kedua pinggang Mikey.
"Heemm nanti akan ku coba," gumam Mikey.
Dengan jail Zero mendekatkan wajah nya dengan wajah Mikey. Membuat sang gadis mencondongkan tubuh nya ke belakang, hingga!
Duk!
"Awww!" Ringis Mikey.
__ADS_1