
Sekolaph sore ini terlihat sepi, hanya ada beberapa anak-anak yang akan melakukan kegiaatan eskul basket nya. Yang di pandu oleh Yuven dan Zero, namun sang pelatih yang satu ini terlihat tak bersemangat. Karena sejak pagi dia belum berjumpa dengan Mikey, gadis itu masih harus istirahat di rumah walau dia sudah keluar dari rumah sakit.
"Ro ayok udah mo sore ni, masa gue sendiri yang ngelatih mereka." Oceh Yuven.
"Hari ini lo sendiri saja yang ngelatih, gue udah nggak tahan." Kata Zero langsung memungut ransel nya lalu berjalan cepat meninggalkan lapangan basket.
"Woyyy lah anjritt! Sialan lo!" Umpat Yuven kesal.
Ia menatap ke arah adik kelas nya yang tengah menunggu pelatihan nya di mulai. Mungkin jika yang di latih nya itu anak-anak cowok, Yuven masih bisa menangani nya sendiri. Namun yang ini beda cerita, hampir semua yang ia latih itu para kaum betina, mana tatapan mereka itu persis seperti buaya kelaparan. Kan Yuven jadi merinding sendiri ngeliatnya, melatih para betina tak segampang mematahkan sebatang lidi cuy begitu yang di katakan Yuven dalam hati.
Sedangkan kini motor Zero sudah melaju kencang membelah jalanan sore yang sangat runyam ini. Rasanya kepala Zero ingin meledak jika harus berlama-lamaan memikirkan Mikey, ditambah lagi dia paling tidak bisa tidak di beri kabar selama ini oleh kekasih nya. Sejak tadi pagi ponsel kekasih nya tidak aktif, membuatnya sulit untuk menghubungi gadis itu.
Begitu sampai rumah Mikey, ia langsung pergi ke kamar nya Mikey tanpa permisi. Pintu kamar itu terlihat tak di tutup, Zero bisa mendengar dari luar kamar suara tayangan TV yang terdengar lantang.
"Enak ya kamu seharian santai di dalam kamar, sedangkan aku sibuk bolak balik buka handphone berusaha hubungin kamu tapi ponsel mu nggak aktif." Kesal Zero langsung melempar tas nya di sofa abu yang ada di kamar itu.
__ADS_1
Mikey hanya menoleh sekilas, setelah nya kembali fokus menatap layar TV. Dia mengabaikan perkataan Zero, karena ia tengah asik nonton film favorit nya.
"Sayang kamu denger aku nggak sih," rengek Zero memeluk Mikey dari belakang yang tengah duduk santai di atas kasur.
"Iyah aku denger, ponselku kan rusak mau kamu telfon seribu kalipun tetep nggak bakal aktif." Oceh Mikey.
"Kangen tau." Ujar Zero
Cup!
Cup!
Cup!
"Ihh Bubuu udah ihhh gelii," omel Mikey kegelian.
__ADS_1
Namun Zero tak mau menghentikan aksi nya, terus mencium pipi Mikey. Karena tak tahan lagi Mikey menonjok perut Zero dengan siku tangan nya.
"Ughhhh!" Keluh Zero saat mendapatkan hantaman maut yang mematikan.
"Ha enak? Mau lagi kah?" Tanya Mikey.
"Kamu jahat banget sih sayang," racau Zero. "Dahlah aku pulang saja,"
Zero terlihat turun dari kasur itu, baru saja selangkah pria itu ingin pergi. Mikey lebih dulu menarik tangan Zero dengan cepat. Membuat Zero kembali terduduk di kasur tersebut, Mikey pun langsung memeluk Zero erat.
"Ehh Bubu jangan ngambek dok, I'm sorry." Kata Mikey. "Aku juga kangen sama kamu,"
"Udah yah jangan ngambek," bujuk Mikey saat melihat Zero hanya diam.
Dia paling tau jika Zero marah kepada nya pasti pria itu hanya diam dengan wajah di balut es yang begitu tebal. Yah sama seperti sekarang ini, wajah nya itu seperti mayat hidup, dingin!
__ADS_1