
Beberapa pengumuman terdengar di sebutkan, seluruh anak-anak kini telah berkumpul dan duduk berbaring di lapangan. Sang guru mengumumkan beberapa penghargaan yang berhasil di raih oleh siswa-siswi nya dalam beberapa bidang perlombaan, dari mulai lomba karate, atletik, bulu tangkis dan masih banyak lagi beberapa lomba yang berhasil di juarai oleh murid sekolah ini.
Kepala sekolah dan guru-guru sangat bangga karena di setiap taun nya, sekolah ini tidak pernah melewatkan kejuaraan apapun. Selalu bisa membawa pulang penghargaan, dari mulai juara satu hingga tiga besar. Zero sendiri kini di sebut nama nya, untuk maju menerima hadiah karena telah memenangkan lomba bulu tangkis tingkat kota, ia meraih juara satu.
Banyak sorak penyorak terdengar meriah ketika Zero bangkit dari duduknya. Seluruh mata tertuju pada pria tampan dengan wajah dingin nya itu, namun sayang sekali kini pria itu sudah memiliki pengikat hati jadi tidak ada siapapun yang berani mendekati nya, apa lagi mereka semua tau jika pacar Zero bukan lain adalah Mikey.
Sambutan demi sambutan telah Zero ucapkan, hingga pengumuman perlombaan pun berakhir.
"Wihh keren lo Ro, memang si paling tidak pernah mengecewakan." Puji Yuven menepuk bangga pundak sahabat nya itu.
__ADS_1
"Hemmm," Zero hanya tersenyum kecil sembari asik menikmati bakso milik nya.
"Hallo guys," seru Veve yang tiba-tiba datang mengejutkan Zero dan Yuven yang tengah asik makan.
"Kampret lo," pekik Yuven karena hampir saja ia keselek bakso nya.
"Santai aja dong Om," Marah Zaka tak terima cewek nya di gituin, padahal sudah biasa Veve dan Yuven memang selalu seperti itu.
Zero terlihat abai dan masih asik makan, tidak mendengarkan apa yang tengah di ributin ketiga makhluk di sekitar nya. Yang terlihat masih setia berdebat,
__ADS_1
"Ehh gimana keadaan Mikey? Gue belum sempat menjenguk." Tanya Veve setelah keadaan kini sudah kembali normal.
"Tadi pagi sih gue lihat dia masih kesakitan perut nya, lo tau sendirilah bagaimana Mikey. Setiap datang bulan gadis itu persis sekali seperti ibu-ibu yang ingin melahirkan." Cibir Yuven.
"Kasian juga sih, untung gue kalau datang bulan sakit nya cuma sebentar. Nggak kayak Mikey bertahan sampai berhari-hari." Cetus Veve lalu meraih mangkuk somay nya, ketika pesanan nya datang.
Keempat anak itu kini kembali fokus melahap makanan nya masing-masing, beberapa saat kemudian Zero terlihat melenggang pergi meninggalkan kantin seusai menghabiskan makanan nya. Yang lain hanya mengangkat bahu nya melihat kepergian Zero.
Terlihat Zero duduk di kursi yang ada di bawah pohon taman itu. Menatap layar handphone nya dengan serius, berkali-kali ia mengetikkan sesuatu di ponselnya. Namun saat beberapa pesan itu terkirim, hanya terlihat ceklis satu. Tadi pagi Zero tidak sempat mampir ke rumah kekasih nya itu karena dia sendiri pun telat bangun nya.
__ADS_1
Di tatap nya lagi pesan yang ia kirim itu, pesan yang tadi pagi ia kirim pun masih ceklis satu. Lagi-lagi Zero harus di buat cemas oleh kekasihnya yang tak kunjung mengaktifkan ponsel nya.
Karena sudah di ujung kegelisahan, akhir nya Zero pun memilih pergi. Tanpa ke kelas terlebih dahulu, Zero langsung mengendarai motor nya dengan bahu kosong. Di lihat pagar itu terkunci, namun itu tidak membuat Zero gagal untuk bisa keluar dari sekolah ini. Karena sang satpam sudah faham dan malah sering memberikan pria itu izin untuk bisa keluar masuk seenak nya, entahlah apa alasan nya. Namun itu hanya berlaku untuk sosok Arzero saja.