
Seperti biasa, di sekolah kedua nya akan bertemu di parkiran seperti yang sering mereka lakukan. Mikey berlarian kecil menghampiri Zero yang tengah duduk di atas motor nya, terlihat pria itu belum menyadari jika Mikey sudah berada di parkiran. Tadi gadis itu berangkat bersama Yuven, embel-embel nya karena irit bensin gitu katanya.
"Bubu." Mikey memeluk Zero membuat pria itu hampir saja jatuh karena terkejut dan tidak siap.
Ia kalungkan lengan tangan nya di leher Mikey dan tangan satu nya mencubit hidung Mikey gemas. "Kenapa mengejutkan," ujar Zero langsung mengajak jalan Mikey untuk pergi ke kelas.
"Kamu nya saja terlalu asik main ponsel," pekik Mikey dengan tangan yang sudah berhasil bersemayam merangkul pinggang Zero.
"Mana ada, tadi aku baru saja buka ponsel ingin menelfon kamu." Tutur nya menoleh ke samping di mana sang gadis nya tengah mendongak menatapnya.
Di tengah perjalanan menuju kelas, Mikey dan Zero yang awalnya tengah asik mengobrol. Malah mendapatkan sambaran mendadak dari guru BK. Terlihat Mikey dan Zero langsung merenggangkan posisi nya yang awal saling rangkul kini menjadi berjauhan.
"Sini kalian berdua." Tunjuk guru BK tersebut ke arah Mikey dan Zero.
Kedua nya pun mendekat, terlihat ada Veve dan Zaka juga yang tengah berdiri di hadapan guru BK tersebut.
"Kalian bantu ambilkan alat kebersihan di gudang untuk mereka berdua ini, masih pagi udah bikin ulah." Marah guru BK menatap Zaka dan Veve geram.
__ADS_1
"Kok jadi kita Pak?" Bingung Zero kenapa mereka berdua jadi ikutan terkena cipratan nya.
"Bapak minta tolong, kenapa? Kamu tidak mau?" Ujar guru BK tersebut.
Tadi Zaka dan Veve tengah asik bercanda sembari jalan menuju kantin. Hingga mereka tak menyadari jika di depan mereka saat itu berdirilah guru tergalak yang tengah berjongkok untuk mengambil bolpoin yang jatuh ke lantai. Alhasil karena mereka tidak tau membuat kedua anak itu menumbuk bokong sang guru BK tersebut, mengakibatkan sang guru terjungkal ke lantai. Yah begitulah awal insiden nya.
"Haha minta tolong ya," terkekeh Zaka ketika mendengar Zero malah ikut terkena amarah guru BK tersebut.
Zero menatap Zaka dengan raut wajah mengancam, seolah-olah tengah mengibarkan bendera peperangan lewat tatapan nya. Membuat yang di tatap langsung membuang pandangannya ke arah lain
"Cepat kalian ambilkan peralatan nya di gudang, ibu masih ingin menghukum mereka berdua." Titah guru BK yang langsung mendapat anggukan dari Mikey dan Zero.
Mau tak mau mereka pun pergi menuju gudang, ingin membantah pun tak bisa. Ia tau bagaimana ganas nya guru yang satu ini, padahal Zero juga bisa melawan. Namun ia masih harus menjaga image di depan kekasih nya itu. Ia tidak mau kekasih nya merasa tidak nyaman melihat sikap Zero yang jika membangkang kepada guru.
"Sayang kamu ke kelas saja dulu, biar aku saja yang ke gudang." Ucap Zero.
"Kan kita berdua yang di suruh bukan kamu sendirian." Jawab Mikey.
__ADS_1
"Sudah aku bilang ke kelas ya kelas, sudah sana ke kelas." Lembut Zero mengelus kepala Mikey namun wajah nya terlihat dingin dan datar.
"Hemm okey, tapi kamu jangan emosi gitu dong." Kata Mikey mengelus dada Zero, dia tau Zero sekarang tengah emosi.
"Nggak sayang, yasudah aku ke gudang dulu. Ingat kamu langsung ke kelas." Tutur Zero langsung mendapat anggukan dari Mikey.
Zero pun melenggang pergi menuju gudang sedangkan Mikey menuju kelas nya. Betapa terkejutnya Mikey ketika di persimpangan tangga ia berpapasan dengan seseorang.
"Kamu sudah sembuh?" Tanya pria itu.
Mikey menoleh ke belakang memastikan tidak ada siapapun yang melihatnya terutama Zero.
"Iya Kak," datar Mikey lalu ingin melenggang pergi. Namun pria itu langsung menghalangi jalan nya.
"Kamu sudah sarapan?" Tanya Han lagi.
"Sudah Kak, permisi gue ke kelas dulu." Ujar nya meninggal Handoko.
__ADS_1