Bocil Menggemaskan

Bocil Menggemaskan
Anak sahabat papah nya


__ADS_3

"Akhhhh pelan! pelan!" Ringis gadis itu ketika merasakan ada yang sakit di bawah sana.


"Hemmm," hembusan nafas kasar nya, keringat mulai bercucuran ia sudah tidak kuat lagi menahan nya," Anjrit pelan-pelan bego!" Sentak nya kesakitan.


"Tahan dikit napa, gue juga belum berpengalaman dalam hal beginian." pria itu meruntuki nasib yang sudah beberapa kali mendapatkan omelan dari gadis itu.


"Awww!" Teriak nya ketika kaki nya merasa tambah sakit.


"Lo kalo nggak bisa ngurut nggak usah sok-sokan mau tanggung jawab! Minggir lo," marah Veve langsung menurunkan kaki nya dari atas sofa. Namun ketika ia hendak berjalan, kaki nya mulai terasa seperti kesetrum, nyeri nya bertambah mejalar hingga ia kesulitan ketika ingin berjalan. Hal itu membuat Veve tiba-tiba saja ingin terjatuh, dengan cepat Zaka langsung menarik pinggang Veve, alhasil kini Veve ambruk di atas tubuh Zaka yang terperosok di pojokan sofa itu.


Tatapan mereka saling bertukar pandang, peraduan antara api dengan air yang membuat kobaran itu perlahan redup dan menjadi kehangatan. Wajah itu begitu berdekatan, sampai Veve bisa merasakan hembusan nafas Zaka yang menyapa wajah nya dengan hangat.


"Stttttt," ringis Veve ketika rasa nyeri di kaki nya mulai terasa kembali.

__ADS_1


Sontak Zaka pun langsung melihat ke arah kaki Veve yang bertambah membiru, ia dudukan kembali tubuh gadis itu di sofa panjang itu. "Sudahlah tetap di sini, gue akan panggil tukang urut buat lo." Pintah Zaka dengan rasa bersalah nya.


"Ogah!" Marah Veve namun ketika gadis itu ingin kembali menurunkan kaki nya dari sofa, dengan cepat Zaka menggenggam lengan tangan Veve kuat. Ia mendekatkan wajah nya dengan wajah gadis itu, membuat Veve seolah-olah kini tengah terpojokkan. "Tetap di sini!" Titah Zaka dengan kata-kata penuh perintah yang tak ingin di bantah, membuat Veve merinding melihat sisi Zaka yang satu ini.


Melihat kepergian Zaka yang entah ingin kemana, kini Veve hanya bisa menurut karena tak ingin dapat masalah dari pria playboy itu. Jikalau tadi dia tidak di takdirkan untuk bertemu dengan Zaka di pesta ulang tahun teman bisnisnya papah nya, mungkin saja kejadian ini tidak mungkin terjadi. Namun apa daya nya lah Veve jika harus bertentangan dengan takdir, toh ujungnya pasti takdir lah yang akan menang.


Apa lagi dia harus di kejutkan dengan satu kenyataan, jika Zaka adalah anak dari teman bisnisnya papah nya, yang bukan lain adalah Bagus Baganskara. Bukan hanya sekedar teman bisnis, hubungan papah nya dengan pak Bagus malah lebih dari sekedar itu, kedua nya mempunyai hubungan khusus sejak SMP, yaitu sebuah hubungan persahabatan.


Sedangkan di tempat lain, tepat nya di kamar Zero yang terang itu. Terlihat pria itu tengah memandangi wajah imut gadis nya, ia terus mengelus lembut pipi dan rambut cantik gadis itu. Sesekali menciumi pipi Mikey penuh sayang, karena ia tak bosan-bosan melakukan nya, kini hal itu sudah menjadi candu baginya.


Dengan jail nya Zero memainka hidung mancung milik Mikey, ia merasa gemas dengan pacar nya itu. Merasa tak puas-puas terus menjaili Mikey. Rengekan suara serak mulai terdengar di Indra pendengaran Zero, "eeee..." Lengguh Mikey bertambah meringkuk menyembunyikan wajah nya di ketiak milik Zero.


Namun tak sampai di situ saja, Zero kembali usil menggelitik telinga mikey. Meniup-niup telinga itu berkali-kali membuat pemilik nya menggeplak wajah Zero tanpa sadar, Zero yang merasakan hidung nya berdenyut akibat ulah tangan gadis itu. Langsung mengelus-elus hidung nya dan terbaring di samping Mikey dengan wajah meringis nya.

__ADS_1


"Kau jahat sayang," ucap nya sesekali menatap Mikey yang masih terlelap dalam tidurnya.


Mikey tiba-tiba terbangun ketika mendengar suara itu samar-samar. Mengerjapkan mata nya perlahan, mengusap-usap wajah nya sendiri dengan lembut berharap tidak ada basahan yang keluar dari sudut bibir nya, seketika Mikey menatap ke arah Zero yang tengah meringis dengan wajah yang menatap atap kamar. Hidung pria itu di pegang kuat oleh pria itu sendiri, Mikey sedikit keheranan. Lalu tangan nya tanpa di minta menarik tangan Zero yang memegangi hidung pria itu sendiri.


"Hidungmu kenapa?" Tanya Mikey.


"Kau sudah bangun?" Tanya Zero terkejut,


"Emmm iya, ini sudah jam berapa?" Kata nya mengusel wajah nya di bantal itu, ia merasa masih mengantuk. Tapi jika ingin tidur lagi pun, kemungkinan akan susah karena dia sudah terlanjur membuka mata.


"Jam 13.08," kata Zero mendudukkan tubuh nya ketika gadis itu tak lagi memeluk nya.


Ia senderkan tubuh itu, lalu tangan kanan nya terangkat mengelus kepala Mikey yang masih setia tengkurep menyembunyikan wajah nya di bantal. "Jika masih mengantuk tidur lagi saja," ujar Zero masih setia membelai rambut itu lembut.

__ADS_1


Mendengar hal itu dengan cepat Mikey pun mendudukkan dirinya, dengan kedua kaki yang tertekuk ke belakang. dirinya menghadap ke arah Zero yang terus memandangi nya dengan senyuman kecil yang tak pernah lepas dari wajah itu, jika tengah menatap gadis kecil nya.


__ADS_2