
Mikey hanya terdiam melihat Roy yang tengah membantu nya untuk mengganti ban. Ia tak tau jika pria berhati keras itu ternyata punya sisi baik juga. Atau hanya sebatas modus belakang? Entahlah Mikey tak mengerti, yang pasti kini ia benar-benar tengah butuh bantuan dan terpaksa harus menerima bantuan pria batu itu.
"Thanks ya," ujar Mikey.
"Hemm, lain kali jangan lewat jalan ini mending lewat jalan yang jauh tapi aman. Tempat ini rawan apa lagi buat cewek secantik lo." Mikey mendengus, ini anak mencoba memberi tahu apa gimana? Tapi ya sudahlah ada benar nya juga apa yang di katakan pria itu.
"Gue cabut dulu, sekali lagi thanks ya." Ujar Mikey, setelah mendapatkan anggukan kecil dari Roy. Mikey pun naik ke dalam mobil dan kembali melanjutkan perjalanan nya yang tadi tertunda.
Aneh! Memang sangat aneh, terkadang dia suka bingung dengan pria yang satu ini. Awal bertemu dia langsung cari masalah dengan nya, namun setelah itu malah menghilang dan menghindari nya entah kenapa dan kini tiba-tiba saja dengan senang hati malah menolongnya. Sebenarnya Roy itu orang nya seperti apa? Jahat tidak, kasar iya, baik tidak tapi pedulian orang nya. Ahhhh kenapa Mikey jadi memikirkan pria aneh itu, sangat tidak bermanfaat. Masa bodo ah itu bukan urusan nya, selagi Roy tidak cari masalah lagi dengan nya.
...***...
Tiga hari berselang, Mikey tengah asik nonton bersama Bi Idah di ruang TV. Di hari libur Mikey selalu saja bingung harus melakukan apa, berhubung karena ada film kesukaan nya yang akan tayang pagi ini. Mikey pun memilih bersemedi di depan TV di temani beberapa cemilan ringan dan jus buah.
__ADS_1
Sesekali kedua nya tertawa, Bibi yang akan paling keras heboh karena ini juga salah satu film favorit nya. Jangan salah walau sudah tua, Bi Idah juga masih suka film-film remaja seperti ini.
"Hahaha sakit perut Bibi," gelak tawa menguasai ruangan luas itu, terus saling bersahut-sahutan.
Hingga akhir nya film pun selesai dan Mikey berakhir terlelap tidur di sofa, Bibi mengelus kepala Mikey lembut karena kini kepala gadis itu berada di paha nya. Secercah linangan bening itu luruh, selalu saja sesak jika menatap wajah cantik malang ini. Tidak bisa membayangkan dulu saat Mikey masih berusia 6 tahun, ketika gadis itu harus di takdirkan kehilangan keluarga tercinta nya.
Bibi aku mau ayah dan ibu
Suara rengekan itu terus terdengar memilukan di telinga Bi Idah.
Suara imut gadis kecil itu, Bibi hanya bisa membelai lembut kepala sang gadis kecil saat itu sembari menahan tangis nya.
Dulu Mikey sempat buta, akibat benturan keras di bagian kepala nya. Lalu ketika kakak nya sadar dari masa kritis nya, kakak nya Mikey berpesan ingin mendonorkan mata nya kepada sang adik, karena dia merasa hidup nya sudah tidak lama lagi, adik nya lebih membutuhkan mata ini di bandingkan diri nya.
__ADS_1
Bi aku ingin memberikan mata ku untuk Keyla, hidupku sudah tidak lama lagi dan akan segera menyusul ayah dan ibu.
Suara lemas itu kembali teringat di benak Bi Idah, air mata kembali menetes dengan deras nya. Terisak tak habis habis jika mengingat masa-masa menyedihkan itu.
Tante aku sangat menyayangi Keyla, aku titip dia ya
Bibi jagain Keyla ya
Setelah suara lemas itu tak lagi terdengar, kini hanya bunyi monitor yang nyaring dan tak terdengar melengking, hanya terdengar lurus dan datar tanpa gelombang.
Teriakan Serlin melihat keponakan nya saat ini membuat beberapa suster dan dokter berdatangan.
Keyla?
__ADS_1
Ya nama itu adalah sebutan hangat gadis bernama Mikeyla. Dulu Mikey sering di panggil dengan sebutan Keyla, namun setelah kejadian itu gadis itu tidak ingin lagi diri di sebut dengan panggilan Keyla.