
π·
π·
π·
π·
π·
Di sebuah Bandara,Fabian sudah menunggu dengan Sekertaris sekaligus Asistennya yang bernama Hana.
Kinan datang bersama Devano,hari ini Kinan berpenampilan sederhana hanya memakai kemeja kotak-kotak dan padu padankan dengan jeans hitam dan sepatu cate warna putih.
Dengan rambut yang diikat kuncir kuda memperlihatkan leher jenjangnya yang putih dan mulus,serta kaca mata hitam yang bertengger di wajahnya.Kecantikan Kinan memang tidak ada duanya.
Fabian sampai menganga melihat Kinan.
"Maaf,sudah lama menunggu," ucap Kinan.
"Tidak apa-apa."
Didalam Pesawat,ternyata Kinan duduk bersebelahan bersama Fabian sementara Devano bersebelahan dengan Hana.
"Ih si Devano itu kenapa sih,kok aku sampai duduk bersebelahan sama Pak Fabian," batin Kinan.
Setelah menempuh perjalanan,mereka pun sampai di Bandara Ngurah Rai Bali.Mereka berempat di sambut oleh Rekan Bisnis mereka yang sudah sampai duluan di Bali.
"Wah,Bu Kinan dan Pak Fabian tampak serasi sekali," puji salah satu Rekan Bisnis Kinan dan Fabian.
"Ah,Bapak bisa saja," ucap Fabian dengan melirik ke arah Kinan.
"Mari sekarang kita ke Hotel dulu untuk istirahat,pekerjaan kita baru besok di mulai."
Semuanya pun pergi menuju Hotel untuk beristirahat sejenak,Hotel tempat mereka menginap pas sekali menghadap dengan Pantai.
Kinan mendapat kamar yang persis menghadap pantai,sungguh pemandangan yang sangat luar biasa.
Sementara Devano dan Fabian dapat kamar sendiri-sendiri karena memang Devano tidak suka kalau harus sekamar dengan orang lain.
"Wah,indah sekali pemandangannya," Kinan berdiri di balkon kamar Hotelnya yang langsung menampilkan View Pantai.
Sementara itu di rumah Zidan tampak uring-uringan,dia terus saja mondar-mandir dikamarnya.Membayangkan Kinan berduaan bersama Fabian membuat Zidan frustasi.
"Aaaarrrggghh...Kinan..Kinan,kenapa kamu membuat aku kaya gini?kamu itu seperti hantu yang terus menghantui pikiran aku,lama-lama aku bisa gila," gumam Zidan.
Malam pun tiba,Fabian mengajak Kinan untuk makan malam.Fabian sengaja tidak mengajak Hana dan Devano karena Fabian ingin mengatakan sesuatu kepada Kinan.
Fabian membawa Kinan makan di Restoran di pinggir pantai suasananya sangat romantis,mungkin kalau Zidan yang membawanya Kinan akan merasa bahagia.
"Kenapa Hana dan Devano tidak di ajak Pak?" tanya Kinan.
"Karena aku ingin berdua saja denganmu,biar ga ada yang ganggu," jawab Fabian.
Kinan mengerutkan keningnya...
"Maksud biar ga ada yang ganggu,apa ya Pak?" tanya Kinan.
Tiba-tiba Fabian menggenggam tangan Kinan,Kinan terkejut.
"Aku tahu kamu belum jadian kan sama Zidan,dan aku juga tahu kalau Zidan pura-pura," seru Fabian.
Kinan melepaskan genggaman tangan Fabian.
"Maaf Pak,maksud Bapak apa?" Kinan benar-benar ga ngerti sama arah jalan pikiran Fabian.
"Aku ga mau basa-basi lagi,sejak pertama aku bertemu dengan kamu aku jatuh cinta sama kamu Kinan,jadi maukah kamu menjadi pasanganku?" ucap Fabian.
Kinan sungguh terkejut,dia tidak menyangka kalau Fabian akan ngomong seperti itu.
"Maaf Pak,kalau tujuan Bapak ngajak aku makan malam karena ini lebih baik aku kembali ke Hotel," Kinan mulai beranjak dari duduknya dan mulai melangkahkan kakinya.
"Apa kelebihan Zidan di banding aku Kinan?" teriak Fabian.
Kinan menghentikan langkahnya...
"Aku bahkan bisa memberikan apa saja yang kamu mau,aku akan membahagiakan kamu melebihi Zidan," ucap Fabian kembali.
Kinan mengangkat sebelah bibirnya,tanpa menoleh ke Fabian dan menjawab pertanyaan Fabian,Kinan langsung meninggalkan Fabian.
Fabian tampak menjambak rambutnya,dan menendang meja makannya.
Kinan kembali ke Hotelnya dengan perasaan kesal,bisa-bisanya Fabian ngomong seperti itu.
Kinan memasuki kamarnya,Kinan langsung pergi ke kamar mandi dan segera mengganti pakaiannya.
Kinan langsung merebahkan dirinya di atas kasur,sungguh tidak bisa dipercaya kalau Fabian akan melakukan semua ini.
"Kenapa tiba-tiba aku ingat Kak Zidan ya," batin Kinan.
Sementara itu,Zidan tidak bisa tidur sama sekali dia berguling-guling di atas kasur king sizenya,dari tadi mikirin Kinan membuat kepalanya pusing.
Kemudian Zidan bangun dan melangkah menuju balkon kamarnya,angin malam itu sungguh dingin menusuk hingga tulang.
"Sedang apa kamu Kinan?" gumam Zidan.
Keesokan harinya...
Devano,Hana,dan Fabian sudah menunggu Kinan di Restoran Hotel untuk sarapan.Kinan datang dengan keadaan yang sangat lemas,karena tadi malam Kinan tidak bisa tidur.
Kinan menundukkan kepalanya,dia tidak berani melihat wajah Fabian,dia pasti sangat marah dengan kejadian tadi malam.
"Kamu kenapa Kinan,sakit?" tanya Devano dengan memegang kening Kinan.
"Ga Dev,aku gapapa," Kinan menepis tangan Devano pelan.
"Ibu Kinan tadi malam ga bisa tidur ya,makannya lemas kaya gitu," celetuk Hana.
"Beneran yang di katakan Hana?apa kamu sedang ada masalah sampai tidak bisa tidur kaya gitu?" Devano memberondong Kinan dengan pertanyaannya.
"Aku gapapa Dev,mungkin karena aku tidur di tempat asing aja jadi belum bisa adaptasi," jawab Kinan.
Fabian tidak ngomong sama sekali,dia fokus dengan sarapannya.Kinan melirik sebentar ke arah Fabian.
Setelah sarapan,mereka berempat langsung pergi menuju proyek pembuatan Hotel.
__ADS_1
Kinan terlihat serius mendengarkan penjelasan Arsitek,begitu pun dengan Fabian hari ini dia sedikit cuek kepada Kinan.
"Dev,aku mau lihat dulu ke sana ya!!" tunjuk Kinan.
"Ok..hati-hati ya jangan terlalu dekat lihatnya bahaya," seru Devano.
Kinan mengacungkan jempolnya dan masuk agak ke dalam untuk melihat lebih dekat proses pembangunan Hotel.
Disaat Kinan sedang melihat proses pembangunan,seorang pekerja yang berada di atas tidak sengaja menjatuhkan batu bata ke bawah tepat di atas kepala Kinan.
Fabian yang saat itu posisinya tidak jauh dari Kinan,melihat kalau batu bata itu akan jatuh dengan sigap Fabian berlari dan menarik tubuh Kinan.
"Kinan awaaaaassss," teriak Fabian yang membuat semua orang menoleh ke arahnya.
Sungguh tepat waktu,Kinan jatuh di atas tubuh Fabian.Semua orang tampak panik dan terkejut.
"Kamu tidak apa-apa?" tanya Fabian.
Kinan hanya menggelengkan kepalanya,dia masih agak sedikit kaget.
"Astaga Kinan,kamu gapapa?" tanya Devano panik.
"Ini Pak minumnya."
Devano pun memberi minum kepada Kinan.
"Terima kasih Pak Fabian," ucap Kinan lirih.
"Ya sama-sama,lain kali kamu harus hati-hati," Fabian berdiri dan menepuk-nepuk bajunya yang kotor.
"Lebih baik kita keluar dari sini,bahaya!!" ucap Devano.
Devano pun membawa Kinan keluar,ternyata lutut Kinan sedikit lecet dan berdarah.
"Hana,bawa kotak P3K di dalam mobil," ucap Fabian.
"Baik Pak."
Fabian pun tiba-tiba jongkok di hadapan Kinan yang sedang duduk di kursi.
"Lutut kamu luka,kalau ga segera di obati takutnya infeksi," seru Fabian.
"Tidak apa-apa Pak,biar saya saja yang obati sendiri," ucap Kinan.
Tapi Fabian tidak mendengarkannya dan terus mengobati lutut Kinan dengan sekali-sekali meniup lukanya.
"Omongan aku tadi malam ga usah dipikirin,masih banyak waktu kok kamu tidak perlu menjawabnya sekarang-sekarang aku akan tunggu sampai kamu siap," Fabian berdiri dan pergi meninggalkan Kinan begitu saja.
"Maaf,sampai kapanpun kayanya aku ga bisa nerima Bapak karena sejak awal hati aku memang untuk orang lain," batin Kinan.
******
"Kamu mau kemana Zidan,bawa koper segala?" tanya Mamah Zidan.
"Ke Bali."
"Memangnya kamu ga kerja?" tanya Papah Zidan.
"Cuti dulu,ya sudah Zidan berangkat dulu," Zidan pun berpamitan dan pergi meninggalkan rumah.
"Tunggu aku Kinan," gumam Zidan dengan senyumannya.
Sementara itu di Rumah Sakit...
"Maaf,Milka untuk pertemuan sekarang dan berikutnya saya yang akan menangani kamu," ujar Dr.Billy.
"Lho,memangnya Dr.Zidan kemana Dok?" tanya Milka.
"Dr.Zidan sedang cuti,katanya sih mau liburan dulu," jawab Dr.Billy.
"Kalau boleh tahu,Dr.Zidan liburan kemana ya?" tanya Milka.
"Dengar-dengar sih katanya ke Bali."
"Berapa lama ya Dok?" Milka terus saja bertanya.
"Maaf Milka,saya kurang tahu," jawab Dr.Billy.
Milka terlihat tidak bersemangat karena Dokter pujaan hatinya tidak ada.
"Tumben Dr.Zidan cuti,biasanya juga dia tidak pernah cuti," batin Milka.
Tidak lama kemudian,Zidan sampai di Bandara Ngurah Rai Bali.Zidan segera menuju Hotel tempat dimana Kinan menginap dan memesan kamar yang berdekatan dengan Kinan.
Zidan sebelumnya memang sudah mencari tahu tentang keberadaan Kinan dimana.Sesampainya di Hotel,Zidan segera merebahkan tubuhnya karena dia merasa lelah,dan semalaman dia tidak tidur sama sekali.
Sore harinya Kinan baru kembali ke Hotelnya,Kinan segera memasuki kamarnya dan menjatuhkan dirinya di atas sofa,tidak terasa Kinan dengan mudahnya langsung terlelap karena memang semalaman Kinan tidak bisa tidur.
Zidan yang baru selesai mandi,kemudian dia memutuskan untuk jalan-jalan sore sebentar menikmati indahnya Pantai.
Disaat Zidan keluar dari kamarnya,Fabian pun tidak di sangka keluar dari kamarnya.
"Zidan..ngapain kamu disini?" tanya Fabian tidak percaya.
"Liburanlah,emangnya kenapa?" tanya Zidan ketus dan melangkah meninggalkan Fabian.
Tapi dengan cepat Fabian menahan pundak Zidan.
"Apa kamu kesini,menyusul Kinan?" tanya Fabian.
"Kalau iya,emangnya kenapa?" Zidan menepis tangan Fabian,tatapan Zidan begitu tajam menusuk mata Fabian.
"Buat apa,kamu sudah terlambat karena tadi malam aku dan Kinan sudah resmi pacaran," ucap Fabian dengan senyumannya.
"Ga mungkin,aku ga percaya," ucap Zidan.
"Ya sudah kalau ga percaya,ini aku sudah janjian dengan Kinan mau makan malam,ya sudah aku duluan karena Kinanku sudah menunggu," Fabian meninggalkan Zidan yang sedang terdiam mematung.
"Ga mungkin..ga mungkin Kinan menerima si Brengsek itu," gumam Zidan.
Zidan kembali lagi masuk ke kamarnya,moodnya sudah hilang.Zidan memukul dinding di kamarnya sampai tangannya berdarah.
"Kenapa aku selalu kalah,kenapa?" teriak Zidan.
Sementara itu Fabian tampak tersenyum puas penuh kemenangan karena sudah membuat Zidan marah karena sudah termakan omongannya.
__ADS_1
Padahal kenyataannya saat ini Fabian mau bertemu dengan Clien bersama Hana,dan Kinan sedang berada di alam mimpinya.
Malampun tiba,Kinan merentangkan tangannya ternyata dia baru bangun...
"Astaga,aku ketiduran.." gumam Kinan.
Kinan segera ke kamar mandi membersihkan dirinya,perutnya sudah keroncongan rencananya dia akan mencari makanan sembari jalan-jalan menikmati malamnya di kota Bali.
Sementara itu,Zidan masih duduk di samping ranjangnya dengan tangannya yang terluka,dia terlihat melamun.Dengan amarah yang memuncak,Zidan kembali siap-siap dia akan kembali lagi ke Jakarta.
Disaat Kinan keluar dari kamarnya,bersamaan dengan Zidan yang juga keluar dengan membawa koper.Mereka menoleh satu sama lain,sesaat Kinan dan Zidan saling tatap.
Hingga tatapan mereka terputus saat Kinan tersenyum ke arah Zidan tapi Zidan malah membuang pandangannya,Zidan melangkah pergi meninggalkan Kinan yang nampak bingung.
Kinan berlari mengejar Zidan dan menarik tangan Zidan.
"Tunggu Kak.."
Zidan tampak meringis kesakitan karena Kinan memegang tangan yang terluka.
Kinan terkejut melihat tangan Zidan yang terluka bahkan darahnya pun sudah mulai mengering.
"Tangan Kakak kenapa?" tanya Kinan.
"Tidak apa-apa," jawab Zidan dingin dengan menghempaskan tangan Kinan.
Zidan kembali melangkahkan kakinya menuju lift,Kinan ambruk di lantai dengan memegang perutnya.
"Aww...." lirih Kinan.
Zidan berbalik dan langsung berlari ke arah Kinan.
"Kamu kenapa?Maag kamu kambuh lagi,kenapa bisa sampai kambuh sih?" tanya Zidan khawatir.
"Aku lupa dari tadi siang belum makan," jawab Kinan.
Zidan terlihat berpikir kaya ada yang aneh,Kinan semakin meringis kesakitan dengan sigap Zidan mengangkat tubuh Kinan dan membawanya ke kamar Kinan.
Devano yang baru saja datang,segera berlari menyusul ke kamar Kinan.
Zidan membaringkan Kinan di sofa,Zidan segera berlari ke luar dan mengambil obat Maag yang sengaja dia bawa,karena dia takut Kinan akan kambuh dan ternyata dugaannya benar.
"Kamu kenapa Kinan?" tanya Devano panik.
"Sakit Dev," ucap Kinan lirih.
"Pasti Maag kamu kambuh lagi kan?" tanya Devano.
Kinan hanya menganggukkan kepalanya,Devano tahu karena memang tadi siang Kinan tidak makan siang,makannya Devano keluar ingin membawakan makanan buat Kinan.
Tidak lama kemudian Zidan pun masuk lagi ke kamar Kinan dengan membawa obat Maag,Zidan dengan sigap mendudukan Kinan.
"Kamu minum dulu obat ini," Zidan memasukan obat ke dalam mulut Kinan.
"Maaf,anda Dr.Zidan kan?" tanya Devano.
"Iya."
"Kenalkan aku Devano,sahabat sekaligus Assisten Pribadinya Kinan," Devano mengulurkan tangannya.
Zidan pun menjabat tangan Devano...
"Terima kasih Dokter sudah menolong Kinan,oh iya ngomong-ngomong Dokter sedang apa disini?" tanya Devano.
"Aku hanya sedang liburan saja," jawab Zidan.
"Nan,aku bawain kamu makanan tuh karena aku tahu kamu dari tadi siang belum makan makannya barusan aku keluar cari makan,tadinya aku mau ngajak kamu tapi aku lihat kamu sedang tidur," jelas Devano.
Zidan terlihat kaget...
"Tunggu..Kinan dari tadi tidur,berarti si Fabian tadi ngebohongin aku," batin Zidan.
Tiba-tiba Ponsel Devano berbunyi..
"Aku angkat telpon dulu ya!!" Devano pun pergi keluar.
Zidan perlahan duduk di samping Kinan,ada rasa bersalah di benaknya kemarin dia sudah membentak Kinan dan barusan dia bersikap kasar kepada Kinan.
"Mau makan,biar aku suapin kamu," ucap Zidan.
"Tidak usah Kak,aku bisa sendiri."
Kinan berdiri hendak mengambil piring tapi kembali terjatuh karena perutnya masih terasa sakit.
"Tuh kan aku bilang juga apa,sudah ga usah membantah lagi kamu diam biar aku yang siapkan semuanya.
Zidan menuju dapur mengambil peralatan untuk makan,Kinan yang melihat itu ada perasaan senang di hatinya.
π·
π·
π·
π·
π·
Hallo...apakabar semuanya,masih pada setiakah menunggu kelanjutan Kinan dan Zidanππππ
Jangan lupa dukungannya dengan memberikan like di setiap Babnya dan memberikan vote sebanyak-banyaknya biar Author semakin semangat lagi.
Semoga kalian ga bosen dan selalu sabar menantikan kisah Kinan dan Babang Zidanππ
Jangan lupa
like
vote n
komen
TERIMA KASIH
LOVE YOUπππ
__ADS_1