
π·
π·
π·
π·
π·
Liburan keluarga kali ini menjadi kacau karena banyak yang memilih untuk pulang duluan.Disaat semuanya sedang berbincang-bincang,Ponsel Ayah Dirga berbunyi tertera nomor Rumah Sakit yang menghubunginya.
"Hallo."
"Maaf,apa benar ini dengan Bapak Dirga selaku Orang tua dari Milka Puteri Dirgantara?" tanya Suster.
"Iya benar dengan saya sendiri,ada apa ya?"
"Begini Bapak,kemarin kami sudah mendapatkan Donor Ginjal untuk Puteri Bapak jadi Puteri Bapak sudah mulai bisa di operasi dalam waktu dekat ini untuk informasi lengkapnya diharapkan Bapak segera konfirmasi kepada pihak Rumah Sakit," jelas Suster itu.
"Alhamdulillah,terima kasih Suster saya akan segera datang ke Rumah Sakit."
Dirga pun menutup panggilannya..
"Ada apa Bang?" tanya Bunda Keysa.
"Rumah Sakit sudah mendapatkan Donor Ginjal buat Milka."
"Alhamdulillah," ucap semuanya serempak.
"Kalau begitu sekarang kita siap-siap kita harus pulang sekarang karena saya harus segera konfirmasi ke pihak Rumah Sakit," seru Dirga.
"Ya sudah,ayo semuanya kita beres-beres," ucap Papih Adam.
Semuanya pun beres-beres dan bersiap untuk kembali ke Jakarta,selama dalam perjalanan Milka tidak bicara sedikit pun dia hanya melamun.
Ayah Dirga dan Bunda Keysa yang sangat mengerti dengan perasaan anaknya memilih diam dan tidak mau bertanya apapun kepada Milka.
Sementara itu di kediaman Atmanegara,Zidan tidak bisa bangun karena kepalanya terasa pusing dan badannya pun sangat panas.Bi Ijah sangat khawatir karena Zidan tidak mau di bawa ke Rumah Sakit,dan akhirnya Bi ijah menghubungi Mamah Zidan yang saat ini sedang berada dalam perjalanan pulang.
"Kenapa Mah?" tanya Papah Zidan.
"Kata Bi Ijah,Zidan demam badannya panas banget tapi dia tidak mau dibawa ke Rumah Sakit," jawab Mamah Zidan dengan khawatir.
"Anak itu,selalu seperti ini pasti ada sesuatu yang membuat Zidan demam soalnya Zidan itu jarang banget sakit," seru Papah Zidan.
"Mamah yakin pasti masalah Kinan Pah,kasihan Zidan."
Dan akhirnya setelah menempuh perjalanan yang agak lumayan panjang di tambah dengan kemacetan yang luar biasa,semua rombongan tiba tiba kediaman masing-masing siang menjelang sore.
Mamah Zidan yang memang sudah khawatir dari tadi segera menuju kamar Zidan,dan benar saja Zidan terlihat lemah badannya menggigil dan suhu tubuhnya pun sangat panas.
"Ya Alloh Zidan,kamu kenapa sampai seperti ini?kita ke Rumah Sakit ayo," seru Mamah Zidan.
"Tidak Mah,panggil saja Dokter keluarga kita kesini," jawab Zidan lirih dengan matanya yang terpejam.
"Ya sudah biar Papah saja yang hubungi Dokter keluarga kita."
Papah Zidan pun segera menghubungi Dokter keluarga,dan tidak membutuhkan waktu lama Dokterpun sudah datang dan segera memeriksa keadaan Zidan.
"Bagaimana Dok,keadaan Zidan?" tanya Mamah Zidan.
"Zidan mengalami demam biasa,saya sudah menyuntikan obat penurun panas dan sekarang dia sudah mulai istirahat,dan ini obat yang nanti harus diminum oleh Zidan," jelas Dokter.
"Baiklah,terima kasih Dokter.Mah,Papah antar Dokter ke bawah dulu," seru Papah Zidan.
Tidak lama kemudian,Bi Ijah datang dengan membawa bubur untuk Zidan.
"Bi,sebenarnya ada apa?kok Zidan sampai Demam kaya gini sih?" tanya Mamah Zidan.
"Bibi juga tidak tahu Nyonya,tapi yang jelas Den Zidan pulang tengah malam dalam keadaan basah kuyup,wajahnya pun sangat pucat," jelas Bi Ijah.
"Ya Alloh,Zidan-Zidan..ya sudah,terima kasihbya Bi."
"Sama-sama Nyonya."
"Kamu kenapa Zidan?kayanya aku harus omongin ini kepada Echa dan Adam," gumam Mamah Zidan.
Sementara itu di Kediaman Gunawan..
"Selamat datang Nyonya,Tuan,Nyonya Besar,dan Den Kenzo."
"Kok rumah sepi,Kinan kemana Bi?" tanya Mamih Echa.
"Non Kinan dari tadi pagi belum keluar dari kamarnya Nyonya,Bibi sudah mencoba memanggil-manggil Non Kinan tapi tidak ada jawaban," jelas Bi Sum.
"Apa!!" Papih Adam dan Kenzo segera berlari ke arah kamar Kinan.
"Kinan Sayang,ini Papih buka pintunya," Papih Adam menggedor pintu kamar Kinan tapi tidak ada jawaban.
"Kak,Kakak buka pintunya," teriak Kenzo.
Masih sama tidak ada jawaban dari dalam kamar Kinan.
Sementara Mamih Echa dan Oma Nadia sudah berpelukan dan meneteskan air mata karena takut terjadi sesuatu kepada anaknya itu.
"Pih,kayanya kita dobrak aja deh pintunya," seru Kenzo.
"Ya sudah,ayo."
"Satu,dua,tiga.." Papih Adam dan Kenzo mulai mendobrak pintu kamar Kinan.
Pada dobrakan ketiga,baru pintu kamar Kinan terbuka,mereka segera masuk ke dalam dan dilihatnya Kinan masih terbaring di atas ranjangnya.
Wajah Kinan pucat dan penuh dengan keringat ternyata Kinan juga sama seperti Zidan mengalami Demam.
"Ya Alloh,Kinan Demam," ucap Papih Adam.
Tanpa menunggu lagi,Papih Adam segera mengangkat tubuh Kinan dan membawanya ke Rumah Sakit.
"Ken,siapkan mobil," seru Papih Adam.
"Baik Pih."
Dan semuanya pun ikut ke Rumah Sakit,setelah diperiksa dan mendapat penanganan Kinan tertidur.
"Kak Zidan maafin aku,maaf," ucap Kinan lirih tapi masih terdengar oleh semua orang,ternyata Kinan sedang mengigau.
Mamih Echa menutup mulutnya dan meneteskan air matanya kemudian menangis dipelukan Papih Adam.
Tidak lama kemudian,Ponsel Mamih Echa berdering..
"Hallo,Assalamualaikum Jeng!"
"..........."
"Kinan di bawa ke Rumah Sakit,dia demam,"
".........."
"Apa,,kok bisa?ya sudah nanti saya hubungi lagi."
"Ada apa Mih?" tanya Papih Adam.
__ADS_1
"Ternyata Zidan juga sedang dirawat Pih,Zidan juga mengalami demam."
"Kok bisa,mereka berdua samaan?apa yang sebenarnya terjadi?" tanya Papih Adam.
Ternyata Ayah Dirga sedang berada di Rumah Sakit yang sama dengan Kinan di rawat karena memang Rumah Sakit itu tempat Zidan bekerja.
"Lho Dam,kok kamu ada disini?" tanya Dirga.
"Kinan di rawat,dia demam."
"Sekarang bagaimana keadaannya?"
"Sedang istirahat dan demamnya juga sudah mulai turun."
"Aku mau nemuin Kinan dulu."
Ayah Dirga pun masuk ke dalam ruang rawat Kinan,disana Mamih Echa dengan setia menunggu Kinan.
"Abang."
"Bagaimana keadaan Kinan?"
"Sudah mendingan Bang."
"Sebentara ya Bang,Echa ke toilet dulu."
Dirga mendekat dan duduk di samping Kinan,perlahan Ayah Dirga mengelus kepala Kinan.
"Maafin Ayah Kinan,Ayah tahu kamu sakit gara-gara apa?maaf,karena Ayah sama Bunda sudah terlalu egois memisahkan kamu dengan Zidan,Ayah berdo'a semoga Milka mau berlapang dada melepaskan Zidan untuk kamu," gumam Ayah Dirga.
"Bang,bagaimana dengan Donor Ginjalnya?" tanya Mamih Echa yang membuat Dirga sedikit kaget.
"Sudah beres Cha,dua hari lagi Milka menjalani operasi tapi-----?" ucapan Ayah Dirga terpotong.
"Tapi kenapa Bang?"
"Orang yang mendonorkan Ginjalnya di rahasiakan,Abang sudah meminta identitas orang yang mau mendonorkan ginjalnya tapi pihak Rumah Sakit merahasiakannya katanya itu privasi Pasien jadi Rumah Sakit harus menghargai orang itu," jelas Ayah Dirga.
"Ya sudahlah Bang,kita do'akan saja orang yang mendonorkan Ginjalnya bahagia dan sehat selalu."
"Amin,ya sudah kalau begitu Abang pulang dulu."
Ayah Dirga menghampiri Kinan dan mencium kening Kinan sebelum dia pergi.
"Ayah sayang kamu Kinan."
***
"Kinan jangan tinggalkan aku Kinan,aku mohon aku mencintai kamu."
Zidan mengigau dan membuat Mamahnya kaget.
"Zidan ini Mamah sayang."
"Mah,Zidan ga mau pisah sama Kinan Zidan sangat mencintai Kinan Mah," ucap Zidan lirih.
"Mamah tahu,dan Mamah yakin kalau Kinan juga mencintai kamu Zidan."
"Enggak Mah,Kinan ga memcintai Zidan buktinya Kinan memilih berpisah dari Zidan dibandingkan mau mempertahankan hubungan kita," seru Zidan.
"Sudah kamu jangan banyak pikiran dulu,lebih baik sekarang kamu makan ya soalnya kata Bi Ijah kamu belum makan dari kemarin."
***
Daffin terlihat sedang mengantarkan Mawar pulang ke rumahnya.
"Mas makasih ya sudah mau mengajak Mawar liburan,Mawar senang sekali."
"Iya sama-sama."
"Kita makan dulu ya,aku lapar."
Mawar tampak ragu-ragu,karena Daffin mengajak Mawar makan di Restoran mahal.
"Ayo kenapa diam," ajak Daffin.
"Ah iya."
Daffin dan Mawar pun memasuki Restoran itu,Daffin menyerahkan buku menu ke Mawar.
Disaat Mawar membuka buku menunya,mata Mawar tampak melotot betapa terkejutnya Mawar melihat harga dalam menu itu sungguh sangat fantastis.
"Gila,ini makanan harganya mahal banget kalau dibandingkan dengan warung makan Ibu,satu menu ini bisa membeli semur jengkol satu baskom," gumam Mawar tapi masih dapat di dengar oleh Daffin.
Daffin tampak tersenyum melihat tingkah lucu Mawar.
"Kamu mau pesan apa?" tanya Daffin.
"Aku jus mangga saja deh."
"Kok jus mangga sih,emangnya kamu ga lapar?" tanya Daffin.
"Hmmm...enggak."
Tiba-tiba suara perut Mawar tidak bisa di ajak kompromi,mulutnya berkata tidak lapar tapi perutnya berkata lain lagi.
Daffin terlihat menahan tawanya melihat wajah Mawar yang tiba-tiba merah kaya kepiting rebus.
"Katanya ga lapar,tapi kok perutnya bunyi?" ledek Daffin.
Mawar hanya bisa nyengir menahan malunya.
"Tapi ini makanannya mahal banget," ucap Mawar dengan menundukkan kepalanya.
"Ya terus kenapa?kamu tinggal pilih aja mau makan apa,nanti aku yang bayar."
"Ya udah,terserah Mas Daffin aja deh makanannya samain aja," ucap Mawar pelan.
"Ya sudah Mbak,saya pesan pasta dua sama lemon tea dua ya."
"Baik Mas,mohon ditunggu sebentar."
"Mas,nanti kalau aku sudah gajian aku ganti ya uangnya," celetuk Mawar.
"Pokoknya gantinya,cukup kamu setiap hari bawa makanan untuk makan siang aku."
"Kenapa Mas pengen makanan sederhana dari warung makan aku kan Mas bisa pesan makanan yang lebih enak dari Restoran-restoran mahal?" tanya Mawar.
"Karena masakan kamu mengingatkan aku kepada masakannya Mommy aku." jawab Daffin.
"Oh,,maaf memang Mommy nya Mas Daffin kemana?" tanya Mawar.
"Mommy aku sudah meninggal akibat penyakit Leukeumia yang dideritanya."
"Maaf Mas,aku ga tahu."
"Ya gapapa."
Makanan pun sudah sampai,dan mereka berdua pun mulai melahap makanannya.
Setelah selesai mengisi perut,Daffin pun mengantarkan Mawar pulang.Sesampainya di depan rumah Mawar.
"Mas,mau mampir dulu?"
__ADS_1
"Tidak usah,lain kali saja aku capek pengen cepat-cepat sampai rumah."
"Oh ya sudah,Mas hati-hati ya dan terima kasih."
Daffin hanya tersenyum dan mulai melajukan mobilnya untuk pulang menuju rumahnya.
2 hari kemudian...
Hari ini adalah hari dimana Milka akan menjalani operasinya,Milka tampak melamun di ruangan rawatnya,kemudian seorang Suster datang untuk mengecek kondisi Milka.
"Bagaimana Mbak Milka,apa Mbak Milka sudah siap?" tanya Suster dengan ramahnya.
"Sudah..oh iya Suster,aku mau nanya Dr.Zidan dan Dr.Billy kemana ya kok ga kelihatan?" tanya Milka.
"Oh,Dr.Zidan sudah mengundurkan diri karena katanya Dr.Zidan mau melanjutkan sekolahnya untuk mendapat gelar Profesor,kalau Dr.Billy beliau sedang cuti tapi tidak tahu berapa lama beliau masuk lagi," jelas Suster itu.
Jedaaaarrrr....
Bagai tersambar petir di siang bolong,Milka sangat terkejut dengan penjelasan Suster,dia sama sekali tidak tahu kalau Zidan akan melanjutkan sekolahnya lagi.
"Maaf,apa Mbak Milka baik-baik saja?" tanya Suster.
"Iya Sus,apa Dr.Zidan sudah pergi?" tanya Milka.
"Saya dengar,Dr.Zidan berangkat ke German pagi ini jam sembilan,kalau begitu saya keluar dulu ya sebentar lagi Mbak Milka masuk ruang operasi jadi Mbak Milka harus tenang jangan banyak pikiran."
Milka melihat jam dinding,saat ini menunjukan pukul delapan berarti tinggal satu jam lagi Dr.Zidan akan pergi meninggalkan tanah air.
Seketika luruh sudah air mata Milka,sungguh perbuatannya tempo hari mengakibatkan efek yang sangat luar biasa.
Milka tidak menyangka kalau akhirnya Dr.Zidan akan pergi meninggalkannya,sungguh Milka menyesal niat ingin menjauhkan Dr.Zidan dari Kinan malah sekarang Dr.Zidan pergi meninggalkannya.
Sementara itu,Kinan sedang berdiri di depan Balkon kamarnya melamun sendirian entah apa yang sedang dipikirkan oleh Kinan.
"Sayang,kamu sedang apa?" tanya Mamih Echa.
"Sedang menikmati udara pagi saja Mih," jawab Kinan.
"Sayang,apa kamu tahu kabarnya Zidan?"
"Tidak Mih,kan Kinan sudah putus sama Kak Zidan mana Kinan tahu bagaimana kabarnya?"
"Tadi malam,Mamahnya Zidan ngehubungi Mamih katanya Zidan mengundurkan diri dari Rumah Sakit dan pagi jam sembilan Zidan akan pergi ke German melanjutkan sekolahnya untuk mendapat gelar Profesor," jelas Mamih Echa.
Kinan melototkan matanya,dia mundur satu langkah kemudian dia melihat jam dinding dan tanpa menunggu waktu lagi Kinan berlari dan mengambil kunci mobilnya.
"Kinan kamu mau kemana?" teriak Mamih Echa.
Kinan tidak mendengarkan teriakan Mamihnya,dia segera mengendarai mobilnya menuju Bandara.
Air matanya sudah jatuh membasahi pipinya,Kinan melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi.
"Please,Kak jangan pergi aku mohon," gumam Kinan dengan deraian air matanya.
***
"Zidan,apa kamu yakin mau melanjutkan sekolah kamu?" tanya Mamah Zidan.
"Zidan sudah memikirkannya dengan matang-matang Mah,mungkin ini yang terbaik untuk Zidan buat apa Zidan berada disini itu hanya membuat Zidan terluka dan tersiksa," ucap Zidan.
"Berapa lama kamu berada di German?" tanya Papah Zidan.
"Ga tahu Pah,bisa jadi selamanya Zidan berada disana," seru Zidan.
"Kamu jangan ngomong seperti itu,kamu harus kembali karena ada Kinan yang akan menunggu kamu," sahut Mamah Zidan.
"Mana mungkin Kinan akan menunggu Zidan,Kinan sudah memutuskan Zidan dulu aja Bunga yang statusnya pacar Zidan tega mengkhianati Zidan apalagi Kinan yang sama sekali sudah tidak ada hubungan apa-apa lagi sama Zidan,sudahlah Mah kalau memang nanti Zidan berjodoh dengan Kinan pasti akan bertemu kembali.Kalau begitu Zidan pergi dulu jaga diri kalian baik-baik,kalau Zidan ada waktu luang Zidan akan menghubungi kalian," jelas Zidan.
Kemudian Zidan memeluk Papahnya dan di lanjut dengan memeluk Mamahnya yang sudah menangis.
"Mamah jangan menangis,Zidan baik-baik aja kok selamat tinggal," Zidan mencium kening Mamahnya dan perlahan pergi meninggalkan Orang tuanya.
Mamahnya Zidan menangis di pelukkan suaminya.
Sementara itu Kinan baru saja sampai di Bandara,Kinan cepat-cepat turun dari mobilnya dan berlari memasuki Bandara.
Kinan terus saja berlari dengan deraian air matanya dengan mata yang terus menyusuri setiap sudut Bandara.
Setelah sekian lama berlari mencari keberadaan Zidan,mata Kinan menangkap sesosok orang dia kenal cepat-cepat Kinan berlari dan menghampirinya.
"Tante..Om."
"Kinan,sedang apa kamu disini?" tanya Mamah Zidan.
"Kak Zidan mana Tante?" tanya Kinan dengan deraian air matanya.
"Zidan sudah pergi Kinan,baru saja."
Hancur sudah hati dan perasaan Kinan,kakinya terasa lemas hingga Kinan hingga Kinan menjatuhkan dirinya.
"Ya Alloh Kinan,bangun Nak kamu jangan seperti ini," ucap Papah Zidan.
"Kenapa Kak Zidan pergi Tante," Kinan menangis sejadi-jadinya di pelukan Mamahnya Zidan.
"Zidan bilang,buat apa dia berada disini kalau wanita yang dia cintai sudah meninggalkannya."
"Tapi bukan begini caranya Tante,Kinan memang mengakhiri hubungan ini tapi Kinan tidak menyangka kalau Kak Zidan akan meninggalkan Kinan seperti ini," seru Kinan.
"Sudah,jangan menangis lagi kalau kalian nanti berjodoh Om yakin suatu saat nanti kalian pasti di pertemukan kembali," seru Papah Zidan.
Mamah Zidan mengangkat tubuh Kinan dan memapahnya untuk pulang.
Kinan mengendarai mobilnya dengan deraian air mata..
"Aku memang mengakhiri hubungan kita,tapi bukan ini yang aku inginkan Kak," Kinan menghentikan mobilnya dan menangis sejadi-jadinya.
Begitu juga dengan Zidan,di dalam Pesawat dia tidak henti-hentinya melihat foto dirinya dan Kinan tak terasa air matanya pun menetes.
"I love you Kinan,I love you so much."
Zidan mencium layar Ponselnya dengan deraian air mata.
π·
π·
π·
π·
π·
Selamat malam minggu semuanya,,mana nih suaranya pendukung Kinan dan Zidanββ
Ayo dong,dukungannya Author nangis lho buat bab ini sampai sakit banget hati iniππππ
Jangan lupa
like
vote n
komen
__ADS_1
TERIMA KASIH
LOVE YOUπππ