
π·
π·
π·
π·
π·
5 bulan kemudian....
Hari-hari dilalui Kinan dan Zidan dengan kebahagiaan,meskipun Mamih Echa belum juga menampakan tanda-tanda akan sadar.
Tujuh bulan sudah Mamih Echa mengalami koma,tubuh Mamih Echa terlihat kurus begitu pun dengan Papih Adam yang terlihat kurus juga.
Saat ini Ayah Dirga dan Bunda Keysa berangkat ke Singapura karena Billy menghubungi mereka kalau Milka jatuh di kamar mandi dan saat ini Milka harus melahirkan.
Usia kandungan Milka baru saja menginjak tujuh bulan,Milka harus melahirkan dan bayinya prematur karena melahirkan belum pada waktunya.
Billy,Ayah Dirga,dan Bunda Keysa saat ini sedang harap-harap cemas karena kondisi Milka sangat kritis Milka mengalami pendarahan hebat akibat terjatuh dikamar mandi.
"Maaf dengan keluarga pasien," ucap seorang Suster.
"Iya Sus,saya suaminya dan ini Orang tuanya," jawab Billy.
"Kondisi Pasien makin kritis,saat ini Pasien ingin bertemu dengan Suami dan Orang tuanya,mari silahkan masuk."
Billy,Ayah Dirga dan Bunda Keysa pun cepat-cepat memasuki ruangan dimana Milka dirawat.
Terlihat Milka terbaring lemah diatas ranjang Pasien wajahnya terlihat sangat pucat.Milka merentangkan tangannya kearah suaminya Billy.
"Ada apa Sayang?kamu adalah wanita yang paling kuat,kamu tahu anak kita perempuan dan sangat cantik seperti Mamahnya," ucap Billy dengan terus menggenggam tangan Milka.
"Iya Sayang,kamu pasti kuat," ucap Bunda Keysa dengan deraian air matanya.
"Milka sudah tidak kuat lagi Bunda,maafkan Milka karena selama ini Milka sudah banyak menyusahkan Bunda sama Ayah," seru Milka lirih.
"Tidak Sayang,kamu tidak pernah menyusahkan kami,justru kamu yang sudah membuat hari-hari Bunda sama Ayah berwarna,kamu adalah malaikat kecilku," sahut Ayah Dirga dan tanpa terasa dia pun meneteskan air matanya.
"Milka sayang banget sama Ayah dan Bunda,tolong jaga anak Milka anggap saja dia sebagai pengganti Milka," ucap Milka.
"Kamu ngomong apa sih Sayang,kamu kuat kamu pasti sembuh dan kita rawat anak kita bersama-sama," sahut Billy dengan air mata yang terus mengalir.
Milka tampak menggelengkan kepalanya lemah dan mengembangkan senyumannya..
"Kamu harus berjanji Kak sama aku,tolong jaga anak kita sayangi dia,beri nama anak kita dengan nama Milly itu singkatan dari Milka dan Billy," Milka tampak meneteskan air matanya dan tangannya mengusap pipi Billy.
Billy,Ayah Dirga,dan Bunsa Keysa sudah tidak bisa berkata apa-apa lagi hanya air mata yang mereka keluarkan.
"Kak,aku sudah tidak kuat lagi saat aku tidak ada disampingmu menikahlah cari kebahagiaanmu," ucap Milka.
"Tidak Sayang,aku tidak mau menikah lagi karena istri aku cuma kamu dan kamu yang akan menemaniku selamanya," sahut Billy.
"Maafkan aku Kak,aku sangat mencintai--mu," tangan Milka terjatuh dari pipi Billy.
"Milka bangun Sayang,kamu jangan bercanda," teriak Billy.
Dokter segera memeriksa keadaan Milka,tidak lama kemudian Dokter tampak menggelengkan kepalanya dan menundukkan kepalanya.
"Maaf,pasien sudah meninggal dunia," seru Dokter itu.
Semuanya tampak sangat terkejut apalagi buat Billy bagaikan tersambar petir disiang bolong.
"Ga mungkin,ga mungkin pasti Dokter salah," bentak Billy.
"Tenang Nak,tenang mungkin ini jalan yang terbaik buat Milka," seru Ayah Dirga menenangkan Menantunya itu.
Sementara itu Bunda Keysa menangis histeris dia terus saja memeluk Milka dengan tangisannya yang membuat siapa saja yang melihatnya merasa terenyuh.
"Sayang bangun,kamu jangan ninggalin Bunda secepat ini kamu adalah anak Bunda satu-satunya,Sayang bangun," ucap Bunda dengan mengguncangkan tubuh Milka.
"Sudah Sayang,anak kita sudah tenang mungkin Alloh lebih menyayangi Milka biarkan Milka pergi dengan tenang kita harus merelakannya," sahut Ayah Dirga yang terus mendekap tubuh istrinya itu.
Billy terlihat menjambak rambutnya sendiri dan jatuh dilantai dengan air mata yang terus mengalir diwajah tampannya.
Dokter dan Suster segera mengurus jasad Milka karena Orang tuanya akan membawa jenazah Milka ke Tanah Air.
Dirga tampak menghubungi Kinan untuk meminjam Jet Pribadi milik keluarga Gunawan.
Disisi lain saat ini Kinan sedang berada di Rumah Sakit,kebetulan saat ini adalah hari minggu bahkan Kenzo,Satria,dan Devano pun sedang berada disana menjenguk Mamih Echa.
Saat ini usia kandungan Kinan sudah menginjak lima bulan,perutnya pun sudah kelihatan besar.Zidan sudah tidak merasakan ngidam lagi sehingga mereka sudah bisa beraktivitas seperti biasa.
Zidan sedang menyuapi Kinan buah-buahan,untuk saat ini gantian sekarang Kinan yang lebih manja kepada Zidan.
Tiba-tiba Ponsel Kinan berbunyi dan tertera nama Ayah Dirga disana dengan cepat Kinan mengangkatnya.
"Hallo Ayah,bagaimana dengan keadaan Milka?dia dan anaknya sehat kan Ayah?" cerocos Kinan dengan antusiasnya.
Sejenak Ayah Dirga terdiam,air matanya kembali menetes,Ayah Dirga membuah nafasnya pelan untuk menenangkan hatinya.
"Ayah kom diam?" tanya Kinan.
Semua orang yang ada disana melihat kearah Kinan.
"Milka,Milka sudah meninggal Nak," seru Ayah Dirga.
Kinan membelalakan matanya,dia menutup mulutnya dan seketika air matanya menetes.Zidan segera menangkap tubuh Kinan,karena kaki Kinan terasa lemas dan hampir saja jatuh kelantai.
"Ada apa Sayang?" tanya Zidan panik.
Dengan cepat Devano mengambil Ponsel Kinan dan mengambil alihnya.
__ADS_1
"Hallo Uncle,ada apa sebenarnya?bagaimana keadaan Milka?" tanya Devano.
"Milka sudah meninggal."
"Inalillahi,terus sekarang bagaimana?" tanya Devano.
"Tolong kamu bilang sama Adam untuk mengirim Jet pribadinya kesini,kita akan membawa jenazah Milka pulang," seru Ayah Dirga.
"Baik Uncle."
Devano menutup telponnya dan terduduk lemas sementara Kinan sudah menangis sesegukan dipelukan Zidan.
"Ada apa Dev?" tanya Papih Adam.
"Milka meninggal Uncle."
"Inalillahi," ucap semuanya bersamaan.
"Ya Alloh,kenapa musibah demi musibah menghampiri keluarga kita,baru saja kita kehilangan Daddy,Mamih masih koma,dan sekarang kita harus kehilangan Milka juga,ini ga adil benar-benar ga adil," sahut Kinan tangisannya yang histeris.
"Sssttt,sudah kamu tenang Sayang jangan banyak pikiran kamu harus ingat kalau kamu saat ini sedang mengandung," seru Zidan yang terus mendekap istrinya itu.
"Iya,Kak Prinses tenang ya jangan banyak pikiran," sambung Satria.
Setelah semuanya beres,Billy,Ayah Dirga dan Bunda Keysa segera membawa Milka pulang ke Tanah Air untuk dimakamkan.
Di kediaman Ayah Dirga,semua orang sudah menunggu kedatangan Milka,saat jenazah Milka sampai di rumah duka tangisanpun tak terhindarkan semuanya larut dalam kesedihan yang mendalam.
Billy tampak melamun tatapannya kosong,sementara air matanyan terus saja mengalir.
Semuanya pergi melihat pemakaman Milka untuk yang terakhir kalinya,Billy tampak histeris saat Jenazah Milka diturunkan keliang lahat sehingga harus ditenangkan oleh Zidan dan Devano,sedangkan Bunda Keysa entah untuk yang keberapa kalinya tidak sadarkan diri.
Setelah selesai pemakaman,satu persatu orang pun mulai meninggalkan lokasi pemakaman,tingga tersisa Kinan,Zidan,Devano,EL,Kenzo,Kimi,Satria dan Billy.
Kinan tidak henti-hentinya menangis dipelukan EL dan Kimi,sedangkan Zidan tampak menenangkan Billy yang terus saja menangis.
"Bill,sudahlah Alloh lebih menyayangi Milka biarkan Milka pergi dengan tenang,kamu relakan Milka," seru Zidan.
"Aku belum siap Dan,harus kehilangan Milka secepat ini apalagi sekarang ada Milly dihidup aku bagaimana kalau nanti dia mencari Mamahnya," sahut Billy.
"Kalau Milly sudah besar nanti,dia akan mengerti kok dengan keadaan ini," ucap Zidan.
"Kakak jangan khawatir,kita rawat Milly sama-sama dan aku jamin kalau Milly tidak akan sampai kekurangan kasih sayang," sambung Kinan dengan mengusap pundak Billy.
***
1 minggu berlalu,saat ini Milly puteri dari Milka dan Billy sudah bisa dibawa pulang dari Rumah Sakit,semenjak kepulangannya ke Tanah Air Milly harus dirawat di Rumah Sakit karena lahir prematur.
Semuanya menyambut dengan gembira kepulangan Milly,walaupun segurat kesedihan masih terpencar diwajah Bunda Keysa dan Billy tapi semua itu terobati lantaran Milly wajahnya mirip sekali dengan Milka.
Billy sungguh sangat beruntung karena dia masih bisa melihat wajah sang Istri versi kecilnya di wajah Milly anak semata wayangnya buah cintanya dengan Milka.
Billy memutuskan untuk kembali lagi ke Indonesia dan menetap disini,Billy juga sudah meminta izin kepada Zidan untuk bisa kembali bekerja lagi di Rumah Sakit yang dulu.
Tentu saja Zidan sangat bahagia,untuk saat ini Billy tinggal dulu dirumah Mertuanya karena Milly masih sangat kecil Billy tidak bisa mengurusnya sendirian.
Mengingat Billy sudah tidak mempunyai Orang tua bahkan Neneknya yang berada di Singapura sudah meningga saat usia kandungan Milka menginjak tiga bulan.
Disisi lain,Papih Adam dengan setia selalu berada disamping Mamih Echa berharap istri tercintanya itu akan segera sadar.
Pada saat Papih Adam sedang melamun,tiba-tiba ada pergerakan dari tangan Mamih Echa yang sedang digenggam Papih Adam.
Otomatis membuat Papih Adam langsung menoleh kearah tangan Mamih Echa.
"Ha--us," ucap Mamih Echa lirih tapi masih terdengar oleh Papih Adam.
"Alhamdulillah,akhirnya kamu sadar juga," sahut Papih Adam.
Papih Adam langung berlari untuk mencari Dokter,Zidan yang melihat mertuanya berlari langsung mengejarnya.
"Papih,ada apa Pih?" tanya Zidan panik.
"Mamih kamu sudah sadar Dan,sekarang Papih sedang mencari Dokter."
"Alhamdulillah,ya sudah sekarang Papih kembali saja ke kamar biar Zidan yang panggilkan Dokter," seru Zidan.
"Ya sudah,cepetan ya panggil Dokter."
Zidan pun segera memanggil Dokter,dengan cepat Dokter dan Zidan pergi menuju ruangan rawat Mamih Echa.
Dokter segera memeriksa keadaan Mamih Echa dengan teliti.
"Bagaimana Dokter dengan keadaan istri saya?" tanya Papih Adam.
"Alhamdulillah Pak,istri anda sudah sehat tidak ada masalah apapun ini suatu keajaiban untuk istri Bapak setelah mengalami koma yang cukup panjang,selamat ya Pak kalau begitu saya permisi dulu," seru Dokter.
"Terima kasih Dokter," jawab Papih Adam dan Zidan bersamaan.
Papih Adam langsung memeluk dan mencium istri tercintanya itu dan tidak terasa Papih Adam meneteskan air matanya.
"Jangan menangis," ucap Mamih Echa lirih.
"Ini adalah air mata kebahagiaan karena kamu sudah kembali lagi,aku sungguh takut kehilangan kamu Sayang terima kasih sudah mau bertahan," ucap Papih Adam.
Mamih Echa tetsenyum dan menganggukan kepalanya.
"Kinan sama Kenzo mana Mas?" tanya Mamih Echa.
"Mereka sedang dalam perjalanan menuju kesini,Mamih," sahut Zidan.
"Terima kasih Nak sudah menjaga Kinan."
"Sama-sama Mamih,itu sudah menjadi kewajiban Zidan."
__ADS_1
"Apa kamu mau makan Sayang?pasti kamu lapar kan?" tanya Papih Adam.
Mamih Echa kembali menganggukan kepalanya,dengan cekatan Papih Adam segera menyuapi Mamih Echa.
Sementara itu Kinan,Kenzo,dan Oma Nadia sangat bahagia mendengar berita itu,dengan cepat-cepat mereka langsung meluncur ke Rumah Sakit.
Sesampainya di Rumah Sakit,Kinan segera berlari menuju ruangan Mamih Echa.
"Astaga Kinan,jangan lari-lari ingat kamu sedang hamil," teriak Oma Nadia.
"Sudah Oma biarin saja,Kak Kinan memang keras kepala tidak bisa dikasih tahu," aahut Kenzo yang sedang mapah Oma Nadia.
Tidak lama kemudian,Kinan sampai diruangan rawat Mamih Echa dengan nafas yang masih ngos-ngosan Kinan masuk dalam.
Zidan,Papih Adam dan Mamih Echa yang baru saja menghabiskan makannya menoleh kearah Kinan bersamaan.
"Sayang..."
Kinan tidak menghiraukan panggilan suaminya itu,Kinan dengan perlahan menghampiri Mamih Echa dan tanpa terasa air matanya jatuh juga.
Kinan langsung memeluk Mamih yang selama ini dia rindukan.
"Mamih.." luruh sudah air mata Kinan.
Mamih Echa mengusap punggung anaknya itu dengan pelan.
"Apa kamu baik-baik saja Sayang?" tanya Mamih Echa.
Kinan melepaskan pelukannya...
"Kinan baik-baik saja Mih."
"Hai,ini apa?" seru Mamih Echa mengelus perut Kinan yang sudah mulai membesar.
"Ini hadiah buat Mamih,karena Mamih sudah berjuang untuk kembali lagi berkumpul bersama kami disini," ucap Kinan.
Mamih Echa kembali memeluk Kinan dengan deraian air matanya.
"Sudahlah Kak,aku juga pengen peluk Mamih," seru Kenzo.
Kinan melepaskan pelukannya,Kenzo langsung memeluk Mamihnya dan Kinan pun ikut memeluknya,Papih Adam yang melihat kedua anaknya berpelukan ikut memeluk juga.
"Kami Sayang Mamih," seru ketiganya bersamaan dan mereka tertawa bersama.
"Sayang,terima kasih sudah kembali lagi," seru Oma Nadia.
"Iya Mommy," Oma memeluk menantu kesayangannya itu.
"Bang,tadi Kak Kinan lari-lari lho," adu Kenzo.
"Sayang..." Zidan melototkan matanya kearah Kinan dengan bertolak pinggang.
Kinan yang mendapatkan pelototan dari suaminya itu hanya cengengesan dan langsung memeluknya berharap Zidan tidak marah lagi.
Semua orang yang ada disana hanya menggeleng-gelengkan kepalanya dan tersenyum melihat kelakuan Kinan.
Setelah saling meleas rindu,semuanya pun berbincang-bincang bahkan Mamih Echa sampai menangis karena saking lucunya mendengar cerita Kinan mengenai Zidan yang mengalami ngidam.
"Oh iya,bagaimana keadaan Bang Angga Mas,aku kan mengalami kecelakaan bareng dia," tanya Mamih Echa.
Semua orang yang tadinya tertawa-tawa seketika diam dengan pertanyaan Mamih Echa mereka tidak tahu apa yang harus dikatakan.
"Kok malah pada diam?" tanya Mamih Echa kembali.
"Sayang,Bang Angga---" ucapan Papih Adam terhenti karena tidak sanggup untuk melanjutkannya.
Seketika air mata Mamih Echa menetes,dia mengerti kemana arah pembicaraan suaminya itu.
"Jangan bilang kalau Bang Angga----" seru Mamih Echa.
"Iya Sayang,Bang Angga sudah pergi meninggalkan kita semua," sahut Papih Adam.
"Enggak..ga mungkin,kalian bercanda kan?" teriak Mamih Echa.
"Kamu tenang dulu Sayang,kamu baru saja sembuh," Papih Adam langsung mendekap tubuh istrinya itu yang sedang menangis histeris.
"Bahkan kemarin Milka juga meninggal Mih," sambung Kinan.
Luruh sudah air mata Mamih Echa,dia tidak menyangka selama dia mengalami koma,dia harus kehilangan dua anggota keluarganya.
π·
π·
π·
π·
π·
Mana suaranya yang masih setia dengan Kinan dan Zidan,,maaf ya Milka harus pergi karena kejutan-kejutan yang lainnya akan segera menantiπ€π€π€
Jangan lupa selalu tinggalkan jejak like,komen,dan vote sebanyak-banyaknyaππππ
Ditunggu juga kehadirannya di Novel terbaru Author "ABC (AMARAH,BENCI,CINTA)" ππ
Jangan lupa
like
vote n
komen
__ADS_1
TERIMA KASIH
LOVE YOUπππ