
๐ท
๐ท
๐ท
๐ท
๐ท
Tiba-tiba pintu ruangan terbuka,dan Zidan segera melepaskan pelukkannya.
Daffin yang melihat Kinan menangis langsung menarik kerah baju Zidan.
"Apa yang sudah kamu lakukan sama Kinan?" ucap Daffin dengan mengeraskan rahangnya.
"Abang,jangan lakukan itu," teriak Kinan.
Kenzo yang mendengar kegaduhan langsung bangun dan memegang Daffin.
"Aduh,Abang apa-apaan sih?" seru Kenzo.
"Kamu juga Ken,bukannya jagain Kakak kamu malah tidur," bentak Daffin.
"Astaga Bang,kok jadi Ken sih yang kena marah."
"Kamu ga lihat Kakak kamu nangis kaya gitu," bentak Daffin.
"Ckckck..tahu Bang tahu,tapi Kak Kinan nangis bukan karena disakitin Bang Zidan melainkan karena terharu,mereka berdua lagi Bucin-bucinan Bang," celetuk Kenzo.
"Kenzoooo..." teriak Kinan dengan melototkan matanya ke arah Kenzo.
"Tuh kan gara-gara Abang nih."
Daffin menatap tajam ke arah Kinan dan Zidan,sementara Kinan sudah menundukkan kepalanya karena merasa takut dengan tatapan Daffin.
"Maaf,Daffin aku ga ngelakuin apa-apa kok sama Kinan," ucap Zidan memecah keheningan.
"Abang,Kinan gapapa kok," ucap Kinan lirih.
Daffin pun menghampiri Kinan dan mengusap kepala Kinan.
"Maaf,aku kira tadi kamu nyakitin Kinan," ucap Daffin dingin.
"Tidak apa-apa,tadi kamu salah paham," jawab Zidan.
"Kapan kamu boleh pulang Kinan?" tanya Daffin.
"Besok Bang."
"Mau pulang ke rumah Abang?" tanya Daffin.
"Engga Bang,kan ada Kenzo yang nemenin Kinan ada Bibi juga sama Mang.Udin," jawab Kinan.
Daffin mengela nafas kasar...
"Ya sudah,Abang tidak akan memaksa tapi kalau sampai ada apa-apa kamu hubungi Abang ya!!" ucap Daffin.
"Siap Bang."
Zidan pergi keluar untuk membeli kopi,tidak lama kemudian Zidan pun kembali dengan 3 cup kopi.
"Daffin,Ken ayo kita ngopi dulu."
"Ah,Bang Zidan tahu saja kalau aku sedang pengen kopi," sahut Kenzo.
Ketiga pria tampan itu pun ngopi-ngopi bersama.
"Bang,Kinan mau kenalin seseorang sama Abang," seru Kinan.
"Siapa?"
"Pokoknya Abang bakalan suka,orangnya cantik,baik,ramah,dan penyayang."
"Kamu mau ngenalin Abang sama perempuan?"
"Iya,Abang itu sudah tua harus cepat-cepat menikah," ledek Kinan.
"Apa kamu bilang,Abang sudah tua?"
Kinan menganggukkan kepalanya dengan cengirannya yang khas.
"Abang terlalu kaku sama cewek,mau Ken ajari cara mendekati cewek?" ucap Kenzo dengan menaik turunkan alisnya.
"Kamu itu,tanpa didekati juga semua cewek pada nempel sama Abang," ucap Daffin bangga.
"Ckckck...Narsis," ucap Kinan dan Kenzo bersamaan.
Membuat Zidan tertawa melihat tingkah laku Adik Kakak yang sangat menggemaskan itu.
"Banyak sih cewek yang ngedeketin Abang,tapi Abangnya yang selalu menutup diri buat cewek-cewek itu," ucap Kenzo.
"Mau ya Bang,Kinan kenalin sama seseorang," sahut Kinan.
"Wanita mana sih yang akan kamu kenalkan sama Abang?" tanya Daffin.
"Tunggu Bang,sebentar lagi dia kesini nganterin makanan buat Kinan."
"Maksud kamu wanita itu seorang Suster?" tanya Zidan.
"Iya..."
Dan benar saja pintu ruangan Kinan terbuka menapilkan sosok wanita cantik yang terlihat keibuan itu.
Sontak saja semua mata tertujunke arah Suster Mawar.
"Permisi,maaf mengganggu saya cuma mau mengantarkan makanan buat Kinan," seru Suster Mawar dengan ramahnya.
"Masuk Suster," ucap Kinan.
Tanpa sadar Daffin menatap Suster Mawar dengan tatapan yang tidak bisa diartikan,membuat Kinan dan Kenzo tersenyum.
"Bagaimana Bang,cantik kan?" Kenzo berbisik ke arah Daffin.
Seketika Daffin tersadar dan berdehem membenarkan posisi duduknya biar terlihat cool.
__ADS_1
"Suster ada yang mau kenalan sama Suster," celetuk Kinan.
"Siapa?" tanya Suster Kinan.
"Tuh,cowok ganteng yang sedang duduk itu."
Suster Mawar menoleh ke arah Daffin yang cuek tidak memandang sama sekali ke arah Suster Mawar.
"Laki-laki yang jutek itu Kinan?" bisik Suster Mawar.
"Iya,dia Abang aku orangnya emang cuek dan dingin tapi hatinya baik kok," Kinan membalas dengan bisikan.
"Ga mau ah Kinan aku takut," bisik Suster Mawar yang masih terdengar oleh semuanya.
Seketika tawa Kenzo pecah mendengar ucapan Suster Mawar,begitu juga dengan Zidan yang mencoba menahan tawanya sementara Kinan sudah menutup mulutnya dengan tangan supaya tawanya tidak pecah.
"Astaga Bang,Suster Mawar takut sama Abang," Kenzo sampai terpingkal-pingkal sampai memegang perutnya.
Daffin yang kesal karena merasa semua orang sedang menertawakannya,langsung memiting leher Kenzo yang terlihat puas dari tadi menertawakan Daffin.
"Puas ya,kamu menertawakan Abang kamu sendiri," ucap Daffin denga gemasnya.
"Aduh du..du ampun Bang,sakit ampun" rengek Kenzo.
Membuat semuanya tambah tertawa tak terkecuali dengan Suster Mawar yang tampak ikut tertawa.
"Kinan,aku pulang dulu ya karena sekarang waktunya aku pulang," ucap Suster Mawar.
"Iya Suster terima kasih."
"Mari semuany."
Suster Mawar memanggutkan kepalanya dan seketika mata Daffin bertemu dengan mata Suster Mawar hingga keduanya dengan cepat membuang arah pandang mereka masing-masing.
"Cie..cie..Abang lirik-lirikan," goda Kinan.
"Apaan sih."
Suster Mawarpun pergi meninggalkan ruangan Kinan dengan menundukkan kepalanya.
"Abang mah ga asyik ah,,ga peka sama perasaan perempuan," ucap Kinan.
"Terus Abang harus bagaimana?Abang harus minta nomor telponnya,terus nganterin dia pulang gitu?" tanya Daffin.
"Ya iyalah..." lagi-lagi Kinan dan Kenzo menjawab bersamaan.
"Kompak amat jawabannya," sahut Daffin.
Zidan benar-benar baru tahu kalau keluarga Kinan kocak juga sampai dia merasa sakit perut dibuatnya.
Tidak terasa malam pun tiba,Daffin dan Kenzo pamit pulang Kinan malam ini dijaga oleh Zidan.
Sejenak suasana menjadi hening,setelah kepulangan Daffin dan Kenzo.Kinan merasa canggung begitu pun dengan Zidan.
"Kak,aku mau tanya boleh?" tanya Kinan dengan ragu-ragu.
"Mau tanya apa?" Zidan duduk disamping Kinan.
"Sebenarnya aku penasaran,kenapa Kakak kayanya benci banget sama Pak.Fabian?" seru Kinan.
"Mau tahu apa mau tahu banget?" goda Zidan.
"Yang menjadi istri dia itu kekasih aku," ucap Zidan singkat.
"Kok bisa?" Kinan mengerutkan keningnya.
"Bisalah,dua-duanya sama-sama pengkhianat," seru Zidan.
Dari jawaban Zidan,Kinan sudah tahu awal konflik permusuhan Adik Kakak itu dan Kinan memutuskan untuk tidak melanjutkan pertanyaannya,jawaban Zidan sudah cukup membuat rasa penasarannya hilang.
Zidan menatap Kinan begitu juga dengan Kinan,mereka saling memandang dalam diam hingga Zidan menyelipkan rambut Kinan ke telinga Kinan.
"Kamu tahu,sejak pertama aku bertemu kamu waktu kamu nganter Milka aku sudah suka sama kamu cuma aku gengsi,setelah 5 tahun berlalu baru kamu wanita yang bisa menggetarkan hati aku," jelas Zidan.
"Masa..."
Zidan mencubit hidung mungil Kinan karena gemas melihat wanita cantik yang ada di hadapannya ini.
Keesokan harinya,pagi-pagi Suster Mawar sudah berada di ruangan Kinan untuk mencabut infus.
"Maaf Dr.Zidan pacaran ya sama Kinan?" tanya Suster Mawar.
"Menurut Suster,emang kelihatannya kita bagaimana?" ucap Zidan.
"Pacaran deh kayanya,soalnya daribkemarin Dr.Zidan nungguin Kinan terus."
"Nah itu sudah tahu jawabannya," sahut Zidan.
"Wah selamat ya,aku senang deh ngelihatnya couple goal banget si prianya tampan dan si wanitanya cantik banget benar-benar serasi," ucap Suster Mawar antusias.
Kinan dan Zidan saling pandang dan akhirnya tertawa bersama.
"Suster Mawar,boleh aku minta nomor Ponselnya?" tanya Kinan.
"Oh boleh dong."
Pintu ruangan pun terbuka...
"Pagiii semuanya..." sapa Kenzo.
"Gimana sudah siap pulang?" tanya Devano.
"Siap dong!!"
"Aku anterin kamu sampai parkiran ya,maaf ga bisa nganterin kamu pulang soalnya hari ini aku ada pasien dan ada jadwal operasi juga," seru Zidan dengan merapikan rambut Kinan.
"Gapapa,kan sudah ada Ken sama Dev."
"Mulai deh,tolonglah hargai kita-kita yang pada ngejomblo ini," ucap Kenzo dengan wajah yang memelas.
Kinan tersenyum dan mencubit pipi adik kesayangannya itu dengan gemasnya.
Tiba-tiba pintu kamar ruang rawat Kinan terbuka dengan kerasnya membuat semua orang menoleh ke arah pintu.
"Maaf aku terlambat," ucap Daffin terlihat ngos-ngosan.
__ADS_1
"Astaga Bang,biasa aja kali emang mau kemana buru-buru amat?" tanya Devano.
"Aku tahu,biar bisa ketemu Suster Mawar kan?" ledek Kenzo.
Daffin memukul kepala Kenzo dengan tangannya membuat Kenzo meringis kesakitan sementara Suster Mawar menundukkan kepalanya karena merasa malu.
"Gimana sudah siap semuanya?" tanya Daffin yang tiba-tiba menjadi salah tingkah.
"Sudah Bang,ayo kita pulang."
Disaat semuanya keluar dari ruang rawat Kinan,Milka dan Bunda Keysa baru datang mau melakukan jadwal cuci darah.
Milka melihat Kinan bergandengan tangan dengan Zidan,Kinan sadar kalau Milka memperhatikan ke arahnya,Kinan berusaha melepaskan genggaman tangan Zidan tapi Zidan bukannya melepaskan malah semakin erat membuat Milka memalingkan wajahnya ke arah lain.
"Kinan,kamu kenapa Sayang?" tanya Bunda Keysa.
Tapi sebelum Kinan menjawab,Milka dengan cepat menarik tangan Bunda Keysa untuk segera pergi dari sana.
"Dasar anak manja," cibir Kenzo.
"Ga boleh kaya gitu Ken,ga baik," seru Kinan.
Sesampainya di parkiran...
"Nanti kalau aku selesai Operasi,aku mampir ke rumah kamu," ucap Zidan.
Kinan menganggukkan kepala dan tersenyum,tanpa di sangka Zidan mencium keninh Kinan cukup lama sehingga semua orang yang ada disana melihat ke arah Dokter tampan yang selama ini jadi idola di Rumah Sakit itu.
Wajah Kinan berubah menjadi merah,Kinan cepat-cepat masuk ke dalam mobil Kenzo dan mulai meninggalkan Zidan yang terus melambaikan tangannya.
Sementara itu,Milka meneteskan air matanya tapi dengan cepat dia menghapusnya karena takut Bundanya melihatnya.
"Bunda,Milka mau pulang."
"Lho kenapa?ini kan jadwal kamu cuci darah Nak."
"Milka ga mau,Milka mau pulang."
Disaat Milka baru beranjak dari duduknya,Zidan pun datang dengan senyuman bahagianya.
"Maaf Milka sudah lama menunggu,ayo silahkan masuk," Zidan menawarkan Milka dan Bunda Keysa untuk masuk.
"Ayo Sayang," ajak Bunda Keysa.
Milka menatap tajam ke arah Zidan,ada tatapan benci di matanya tanpa bicara sepatah kata pun Milka pergi meninggalkan Bunda Keysa dan Zidan.
"Milka Sayang tunggu," teriak Bunda Keysa dan segera berlari menyusul anaknya.
Tidak ada yang bisa Zidan lakukan,Zidan hanya membuang nafasnya kasar dan mengusap wajahnya.
"Milka Sayang tunggu,sebenarnya kamu kenapa sih?" tanya Bunda Keysa dengan menarik tangan Milka.
"Milka ga mau cuci darah lagi,Milka benci sama Dr.Zidan biar saja Milka mati sekalian," seru Milka.
"Milka apa-apaan kamu,kamu ngomong apa sih?" bentak Bunda Keysa.
Luruh sudah air mata Milka,Bunda Keysa dengan sigap langsung memeluk anak satu-satunya itu.
Setelah cukup lama mereka berpelukkan,Bunda Keysa mengajak Milka untuk duduk di kursi Taman Rumah Sakit.
"Jangan pernah kamu ngomong seperti itu Nak,kamu tahu seberapa besar dulu Ayah sama Bunda menginginkan seorang anak?hingga akhirnya dengan penantian yang sangat panjang,Alloh mempercayakan anak kepada kami seorang Puteri cantik yang sangat kami tunggu-tunggu,dan omongan kamu barusan sangat melukai hati Bunda Sayang," jelas Bunda Keysa yang sekarang sudah menitikkan air mata.
"Bunda tahu kan kalau dari dulu Milka sangat mencintai Dr.Zidan dan sekarang cinta itu semakin tumbuh subur di hati Milka,hanya Dr.Zidan yang menjadi penyemangat Milka disaat Milka menjalani pengobatan selama ini,tapi kenapa Kak Kinan harus merebut Dr.Zidan dari aku?" ucap Milka dengan tangisan yang semakin memilukan.
"Sayang,tidak ada yang merebut siapapun disini mungkin Dr.Zidan memang mencintai Kinan,sudahlah Sayang kamu pasti menemukan orang yang akan tulus mencintai kamu," ucap Bunda Keysa dengan mengusap kepala Milka.
"Tapi Milka sangat mencintai Dr.Zidan Bunda,kenapa keberuntungan selalu berpihak kepada Kak Kinan Bunda?Milka benci sama Kak Kinan,Milka benci..." sahut Milka yang terus menangis di pelukan Bunda Keysa.
Bunda Keysa tidak bisa berkata apa-apa lagi,harus bagaimana lagi dia menjelaskan kalau Dr.Zidan tidak mencintainya.
Bunda Keysa akhirnya memutuskan untuk pulang,karena Milka keukeuh dengan keputusannya kalau dia tidak mau melakukan cuci darah lagi.
Sementara itu Kinan sudah sampai di rumahnya.
"Kak,gapapa kan kalau aku tinggal Dinas dulu?" tanya Kenzo.
"Gapapa,kan ada Bi.Sum kamu pergi saja jangan khawatir sama Kakak," jawab Kinan.
"Ya sudah,aku berangkat dulu ya Kak kalau ada apa-apa cepat hubungi aku."
"Iya,adikku yang ganteng."
Kenzo memasuki mobilnya dan mulai melajukan mobilnya meninggalkan Kinan sendirian.
Kinan langsung pergi ke kamarnya,Kinan merebahkan tubuhnya diatas kasur king size kepunyaannya,pandangannya lurus ke langit-langit kamarnya.
Terbayang wajah Milka,tatapannya menyiratkan kebencian yang mendalam.
"Ya Alloh,apa yang harus aku lakukan?di satu sisi aku ga mau hubungan persaudaraan aku dan Milka hancur tapi di sisi lain aku juga ga bisa membohongi diri aku sendiri kalau aku mencintai Kak Zidan," gumam Kinan.
Tanpa terasa Kinan meneteskan air matanya,sungguh Kinan merasa bimbang dengan keadaan yang sekarang dia alami.
"Maaf Milka..maafkan aku," gumam Kinan.
Kinan terus saja bergumam menyerukan kata maaf dan penyesalan,seandainya waktu bisa diputar Kinan lebih memilih tidak pernah bertemu dengan Zidan,tapi sekarang sudah terlambat Kinan sudah tidak bisa lepas lagi Kinan sudah terlalu dalam mencintai seorang Zidan.
๐ท
๐ท
๐ท
๐ท
๐ท
Hallo apakabar,maaf baru bisa Update๐๐jangan bosen-bosen ya terus tunggu kelanjutannya๐๐
Jangan lupa
like
vote n
komen
__ADS_1
TERIMA KASIH
LOVE YOU๐๐๐