Bos Cantik Pujaan Hati

Bos Cantik Pujaan Hati
BIAR KU SENDIRI


__ADS_3

🌷


🌷


🌷


🌷


🌷


Zidan terpaku tidak bisa berkata apa-apa lagi melihat Kinan menangis dan tatapan kemarahan terpancar di dalam mata Kinan.


Tanpa mereka sadari ternyata Billy pun melihat adegan itu,dan dia memilih pergi tanpa harus menghampiri Zidan.


Waktu sudah menunjukkan tengah malam,pestapun sudah usai semuanya masuk ke dalam kamar masing-masing untuk beristirahat.


Zidan masih terdiam di balkon kamarnya,hembusan angin malam yang sangat menusuk tubuhnya sampai masuk ke tulang rusuknya tak ia hiraukan.Hatinya saat ini sangat dingin,sedingin malam ini.


Begitu pun dengan Kinan,dia menutup seluruh tubuhnya dengan selimut supaya Mawar tidak melihat kalau Kinan sedang menangis.


Keesokan harinya....


Semuanya sedang menikmati sarapan paginya di meja yang mereka tata sengaja di taman supaya mendapatkan sinar matahari karena suasana pagi di Puncak sangat dingin.


Semuanya tampak senang dan bercanda seperti biasanya,kecuali Zidan yang tampak murung dan sama sekali tidak bersemangat sarapan.


"Oh iya,tadi malam Dr.Billy pamit pulang kembali ke Jakarta," seru Satria.


"Apa?kok bisa,kenapa?" tanya Ayah Dirga.


"Ga tahu,katanya sih ada urusan mendadak," jawab Satria.


Zidan terlihat mengerutkan keningnya merasa ada yang aneh dengan Billy yang tiba-tiba kembali ke Jakarta tanpa memberitahukan semuanya.


"Oh iya Mawar,Kinan kemana kok belum turun?" tanya Mamih Echa.


"Tadi sih Kinan bilang mau siap-siap dulu," jawab Mawar.


Zidan tetap tidak bicara sama sekali,dia benar-benar tidak tahu apa yang harus dia katakan kalau bertemu dengan Kinan.


Tiba-tiba Kinan keluar dengan menjinjing tas pakaiannya,matanya terlihat sembab karena semalaman menangis.


Zidan melihat Kinan dengan tatapan tak tega,ada kesedihan dan kamarahan dimata Kinan,sementara Kinan menatap Zidan dengan tatapan tajamnya.


"Lho,Sayang kenapa kamu bawa tas itu?" tanya Papih Adam.


"Maaf semuanya,sepertinya Kinan mau kembali ke Jakarta."


Semua orang yang ada disana tampak terkejut dengan keputusan Kinan,sementara Zidan melotot dan menatap Kinan dengan tatapan tidak percaya.


"Lho kamu kenapa Kinan?" tanya Daddy Angga.


"Kinan gapapa Daddy,cuma Kinan ga enak badan aja Kinan pengen pulang," dusta Kinan.


"Ya sudah,biar Abang anterin kamu pulang," seru Daffin.


"Ga usah Fin,biar aku aja yang anterin Kinan pulang kasihan Mawar dan Pak Angga kalau kamu pulang,lagipula aku juga memang mau pulang soalnya nanti sore aku berangkat ke Surabaya ada urusan pekerjaan," sahut Fabian.


"Oh,ok kalau gitu hati-hati ya tolong jagain Kinan," seru Daffin.


"Siap,kalau begitu semuanya kita pulang dulu."


Mamih Echa menghampiri Puteri kesayangannya dan mengelus pipi anaknya itu.


"Kamu tidak apa-apa Sayang?" tanya Mamih Echa.


"Kinan tidak apa-apa Mamih,kalian senang-senang disini ya jangan mengkhawatirkan Kinan,kalau begitu Kinan pulang dulu..semuanya Kinan pulang dulu ya!!" seru Kinan dengan melambaikan tangannya.


Zidan terus saja menatap Kinan,tapi Kinan tidak menantap Zidan sekalipun.


"Hati-hati Sayang!!" teriak Papih Adam.


Kinan pun memasuki mobil Fabian dan Fabian mulai melajukan mobilnya meninggalkan Villa.


Setelah Kinan dan Fabian pergi,Zidan pun meninggalkan meja makan memasuki Villa dan masuk ke dalam kamarnya.


Disaat semuanya selesai sarapan,Milka hendak pergi tapi Devano menarik tangannya dan membawa Milka jauh dari semua orang.


"Apaan sih Dev?" tanya Milka dengan ketusnya.


"Puas kamu sekarang Milka,semuanya jadi kacau gara-gara kamu," bentak Devano.


"Maksud kamu apa sih Dev?"


"Kamu pikir aku tidak tahu,apa yang sudah kamu lakukan tadi malam?jangan bertindak bodoh,Kinan dan Bang Zidan itu saling mencintai jangan memaksakan kehendak tidak semua yang kamu inginkan itu harus selalu dituruti," bentak Devano.


"Jangan ikut campur dengan urusan aku Dev," Milka balik membentak Devano.


"Milka,kamu harus sadar cinta itu tidak bisa dipaksakan meskipun kamu bisa mendapatkan Bang zidan tapi kamu tidak akan bahagia karena hati Bang Zidan milik Kinan,kamu hanya akan membuat banyak hati terluka," seru Devano.


"Stop,aku ga butuh ceramah dari kamu Dev," Milka pergi meninggalkan Devano.


Disaat Milka hendak pergi ke kamarnya,Milka berpapasan dengan Zidan yang sudah membawa barang-barangnya.


Sesaat Milka dan Zidan saling pandang..

__ADS_1


"Dokter mau kemana?" Milka menyentuh tangan Zidan tapi Zidan menghempaskan tangan Milka dengan kasarnya.


"Jangan pernah sentuh aku lagi,kalau sampai terjadi sesuatu sama Kinan,kamu orang pertama yang aku datangi," ucap Zidan dingin dengan tatapannya yang tajam.


Zidan pun pergi meninggalkan Villa tersebut tanpa memperdulikan semua orang yang bertanya kepada dirinya,sementara Milka kembali harus menelan pil pahit dengan ucapan dan perlakuan Zidan terhadap dirinya.


Air mata Milka pun kembali menetes,sesakit itu ternyata mencintai seseorang yang tidak mencintai kita.


Mamih Echa tahu penyebab kekacauan semua ini,dan sengaja membiarkan Kinan pulang supaya dia bisa menenangkan dirinya.


Sementara itu di dalam perjalanan,Kinan tampak melamun dia terus saja memandangi keluar jendela dan tak terasa air matanya menetes juga,Kinan segera menghapus air matanya takut Fabian mengetahuinya.


Tapi Sayang,Fabian sudah mengetahui kalau Kinan meneteskan air mata.


"Menangislah,kalau itu bisa membuatmu merasa lega," seru Fabian.


Dengan mendengar ucapan Fabian,akhirnya luruh juga air mata Kinan dengan masih menghadap ke luar jendela Kinan menangis sejadi-jadinya.


Fabian merasa tidak tega melihat Kinan seperti itu,akhirnya Fabian menepikan mobilnya.


Fabian menarik tubuh Kinan kedalam pelukkannya.


"Menangislah,keluarkan semua rasa sakit yang kamu rasakan," ucap Fabian.


Cukup lama Kinan menangis di dalam pelukkan Fabian hingga Kinan tersadar dan melepaskan pelukkannya.


"Maaf,baju kamu jadi basah."


"Tidak masalah,apa sekarang kamu sudah merasa lega?" tanya Fabian.


"Sudah,terima kasih." Kinan kembali mengarahkan pandangannya ke luar jendela.


Dan Fabian pun segera melajukan mobilnya untuk kembalibke Jakarta.


Disisi lain kali ini emosi Zidan sudah tidak bisa di bendung lagi,Zidan melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi dia tidak menghiraukan bunyi klakson dari kendaraan lain.


Berkali-kali Zidan memukul stir mobilnya,hatinya sakit,emosinya memuncak,semua jadi satu.


Waktu menjelang siang,Kinan dan Fabian baru sampai ke kediaman Kinan.


"Terima kasih Mas,sudah mau mengantarkan aku pulang."


"Sama-sama,kalau kamu butuh sesuatu hubungi saja aku sebagai teman aku akan segera datang untuk kamu," seru Fabian.


Kinan menganggukkan kepalanya dan terlihat sedikit tersenyum.


"Ya sudah,aku pulang dulu kamu istirahat ya jangan banyak pikiran."


Fabian pun melambaikan tangannya dan meninggalkan pekarangan rumah Kinan.Dengan langkah gontai Kinan memasuki rumahnya.


"Tidak Bi,Mamih sama Papih masih ada di Puncak kalau Kinan harus pulang karena ada kerjaan yang harus Kinan selesaikan," dusta Kinan.


"Oh begitu ya!!"


"Ya sudah,Kinan ke kamar dulu ya Bi mau istirahat."


"Iya Non."


Kinan melangkahkan kakinya menuju kamarnya dengan tidak semangat,sesampainya di kamar Kinan menjatuhkan tubuhnya ke atas kasur,Kinan menatap langit-langit kamarnya.


Air matanya kembali jatuh,ingatannya saat Milka mencium Zidan terus terngiang-ngiang di benaknya.


"Keterlaluan," gumam Kinan.


Karena kelelahan dan terlalu sering menangis,Kinan pun tertidur.


Malam pun tiba,sehabis mandi dan makan seperti biasa Kinan menonton Drakor kesukaannya untuk menghilangkan beban pikirannya.


Tok..tok..tok..


"Non,ada Mas Zidan di luar," seru Bi Sum.


"Suruh pulang aja Bi,Kinan lagi ga mau ketemu sama siapapun."


"Baik Non."


Bi Sum menemui Zidan yang saat ini terlihat sangat kacau.


"Maaf Mas Zidan,katanya Non Kinan lagi tidak mau ketemu siapa pun."


"Tolong bilang sama Kinan,aku akan terus menunggunya disini sampai Kinan mau menemui aku."


"Baik Mas."


Bi Sum kembali menuju kamar Kinan..


"Non Kinan kata Mas Zidan,dia akan terus menunggu Non Kinan sampai Non Kinan mau menemuinya," seru Bi Sum.


"Ya sudah biarin aja Bi,tutup saja pintunya paling juga kalau aku ga keluar-keluar dia juga bakalan pulang sendiri."


"Baik Non."


***


"Ya Alloh,Bibi sudah tua disuruh naik turun kaya gini kalau sekali lagi Bibi di suruh naik ke kamar Non Kinan,di jamin gempor nih kaki," gumam Bi Sum.

__ADS_1


Bi Sum kembali menghampiri Zidan...


"Maaf Mas,Non Kinan tetap tidak mau ketemu sama Mas Zidan dan Bibi di suruh kunci pintunya."


"Ya sudah,Bibi kunci aja pintunya tapi aku minta izin untuk tetap berada disini ya Bi?"


"Terserah Mas Zidan saja,maaf ya Mas Bibi harus menutup pintunya."


"Iya Bi,tidak apa-apa."


Bi Sum pun menutup pintunya,Zidan masih setia berada di depan rumah Kinan berharap Kinan berubah pikiran dan mau menemuinya.


Sementara itu di kamar,Kinan mencoba beranjak dari kasurnya dan melihat ke bawah dari jendela kamarnya.Dan benar saja,terlihat Zidan berdiri di depan teras rumah Kinan.


Tidak lama kemudian,terdengar suara petir dan turunlah hujan dengan derasnya membasahi bumi di malam hari ini.


Kinan cepat-cepat berlari ke kasurnya dan menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut karena Kinan takut dengan petir,sementara itu Zidan masih setia berdiri di depan teras rumah Kinan.


Mata Kinan sudah mulai sayu,perlahan matanya tertutup dan akhirnya terlelap masuk ke alam mimpinya.Zidan sudah basah kuyup,badannya bergetar karena sudah mulai kedinginan tapi tidak ada tanda-tanda Kinan akan keluar untuk menemuinya.


2 jam kemudian...


Hujan pun sudah mulai reda,tapi Zidan masih berdiri tegap dengan wajah yang mulai pucat karena terpaan hujan.


Kinan tersadar karena tenggorokannya merasa kering,dia ingin mengambil minum Kinan beranjak dan mengambil minum di atas nakas kamarnya.


"Syukurlah,hujannya sudah reda," gumam Kinan.


Kinan teringat sesuatu...


"Oh iya,apa Kak Zidan masih berada di bawah?ah,kayanya dia sudah pulang pas hujan tadi lagipula ini sudah tengah malam juga mana mungkin dia masih ada di bawah."


Tapi Kinan merasa penasaran dan Kinan pun melangkah menuju jendela untuk melihat apa Zidan masih ada apa sudah pulang.


Disaat Kinan membuka tirai jendela kamarnya,betapa terkejutnya Kinan ternyata Zidan masih berdiri di depan teras rumahnya dengan keadaan yang basah kuyup.


"Astaga Kak Zidan,kenapa dia ga pulang aja sih?" Kinan menutup mulutnya karena tidak percaya kalau Zidan sangat keras kepala.


Kinan cepat-cepat turun dari kamarnya dan membuka pintu,Zidan langsung menoleh ke arah Kinan dan tersenyum.


"Aku tahu,kamu pasti akan turun menemui aku," seru Zidan.


"Kenapa Kakak keras kepala sekali sih?sudah tahu aku ga mau ketemu sama Kakak,masih saja dipaksakan,kalau Kakak sampai sakit gimana?" tanpa sadar Kinan mengucapkan kekhawatirannya terhadap Zidan.


Zidan tersenyum dan mendekat ke arah Kinan,Zidan langsung memeluk Kinan dan menangis di pelukkan Kinan.


Kinan sungguh tidak percaya kalau Zidan bisa menangis seperti itu,orang yang begitu dingin dan terbilang pemarah juga dengan mudahnya mengeluarkan air mata di hadapannya.


"Tolong dengarkan penjelasanku,Milka yang secara tiba-tiba mencium aku,aku saja sangat terkejut dengan apa yang dilakukan Milka,tolong jangan seperti ini kamu adalah separuh nafasku aku ga tahu apa yang akan terjadi kalau kamu tinggalkan aku," keluh Zidan yang membuat Kinan menjatuhkan air mata juga.


Kinan melepaskan pelukkan Zidan dan dengan cepat menghapus air matanya.


"Sudahlah Kak,aku juga bingung aku harus bagaimana?sekarang-----,lebih baik kita jalani hidup kita masing-masing dulu,kita sama-sama tata hati kita,dan biarkan aku sendiri dulu," ucap Kinan datar.


"Enggak Kinan,aku ga mau pisah sama kamu please jangan lakukan itu sama aku itu akan membuat aku tersiksa."


"Maaf Kak,mungkin untuk saat ini cuma ini satu-satunya cara supaya kita tidak saling menyakiti satu sama lain,kalau kita terus melanjutkan hubungan kita itu hanya akan membuat kita sama-sama terluka karena di antara hubungan kita ada tembok besar yang menghalanginya," seru Kinan.


"Aku akan membicarakannya dengan Pak Dirga dan Bu Keysa kalau aku itu sangat mencintai kamu Kinan bukan Milka," sahut Zidan.


"Itu tidak semudah yang kamu pikirkan Kak,hubungan kita sangat rumit kalau yang aku hadapi cuma Milka mungkin aku akan siap tapi saat ini yang harus aku hadapi Ayah Dirga dan Bunda Keysa,dua orang yang sangat aku sayangi dan aku hormati,mereka adalah orang yang ikut andil membesarkan aku dan aku tidak bisa menyakiti hati mereka Kak,tolong Kakak ngertiin posisi aku," seru Kinan dengan deraian air mata.


Dengan tidak bersemangat,Zidan balik badan dan perlahan melangkah menuju mobilnya dengan langkah gontai,tidak ada kata-kata lagi yang keluar dari mulut Zidan.Zidan memasuki mobilnya dan mulai melajukan mobilnya meninggalkan rumah Kinan.


Kinan ambruk di lantai,tangisannya pecah sungguh Kinan sangat mencintai Zidan dia juga tidak mau berpisah dengan Zidan.


"Maaf Kak,maafkan aku," gumam Kinan dengan tangisannya.


Zidan melajukan mobilnya dengan tetesan air mata yang membasahi pipinya.


"Kenapa nasib percintaan aku harus selalu berakhir dengan rasa sakit?" batin Zidan.


Kinan dan Zidan sama-sama sedang terluka,hati mereka sama-sama sakit tapi yakinlah suatu saat nanti cinta yang tulus dan pengorbanan cinta mereka akan berakhir dengan bahagia.


🌷


🌷


🌷


🌷


🌷


Hallo semuanya,mana nih dukungannya kok kendor sih ayo dong like dan vote sebanyak-banyaknya biar Authornya semakin semangat lagi untuk melanjutkannyaπŸ™πŸ™πŸ˜˜πŸ˜˜


Jangan lupa


like


vote n


komen


TERIMA KASIH

__ADS_1


LOVE YOUπŸ’˜πŸ’˜πŸ’˜


__ADS_2