
π·
π·
π·
π·
π·
Milka mulai dibawa ke ruangan operasi,di Rumah Sakit semuanya sudah berkumpul untuk memberikan semangat kepada Milka.
Kecuali Kinan yang tidak bisa hadir karena Kinnan saat ini sedang sibuk menangisi dirinya sendiri.
Operasi pun berjalan dengan sangat lama,menbuat semua orang yang ada disana merasa khawatir apalagi Ayah Dirga dan Bunda Keysa yang sudah mondar-mandir didepan pintu ruangan operasi.
Tidak lama kemudian,operasi pun selesai dan Dokter pun segera keluar semua orang tampak menghampiri Dokter.
"Bagaimana Dok?" tanya Ayah Dirga.
"Alhamdulillah operasinya berjalan lancar,sekarang kondisi Milka masih lemah dan masih butuh penangan khusus jadi kalian yang sabar ya,kalau begitu saya permisi dulu," ucap Dokter.
Sekarang semuanya dapat bernafas lega,Bunda Keysa menangis dan memeluk Ayah Dirga.
"Anak kita akan sembuh Bang," ucap Bunda Keysa.
"Iya Sayang anak kita sembuh,tapi sayangnya kita ga tahu siapa yang sudah mendonorkan Ginjalnya untuk Milka,aku ingin sekali berterima kasih kepada orang itu," sahut Ayah Dirga.
"Iya Bang,aku juga ingin sekali berterima kasih kepada dia karena berkat Ginjalnya Milka bisa sembuh," ucap Bunda Keysa.
Setelah beberapa waktu,akhirnya kondisi Milka dinyatakan stabil dan Milka di pindahkan ke ruangan rawat inap tapi saat ini Milka masih belum sadarkan diri.
Satu per satu orang-orang mulai pamit pulang,Mamih Echa cepat-cepat ingin pulang dia takut Kinan kenapa-napa.
Sesampainya di rumah,Mamih Echa bergegas untuk ke kamar Kinan,Mamih Echa perlahan membuka pintu kamar Echa dan dilihatnya Kinan sedang meringkuk di bawah ranjangnya dengan memeluk kedua lututnya dan menangis.
"Ya Alloh Sayang,kamu tidak apa-apa kan?" Mamih Echa langsung memeluk Puterinya itu.
"Kak Zidan Mih,Kak Zidan sudah pergi ninggalin Kinan."
"Kamu yang sabar Sayang,Mamih yakin kalau kalian berjodoh kalian pasti bakalan bertemu kembali," Mamih Kinan ikut menitikan air mata melihat Puterinya rapuh seperti ini.
Tidak ada jawaban dari Kinan,hanya tangisan yang tetdengar dari bibir Kinan.
Keesokan harinya...
Kinan sudah bersiap-siap untuk pergi ke Kantornya,Kinan menuruni tangga dan menghampiri semuanya ke meja makan.
"Lho Sayang,kamu mau ke Kantor?" tanya Papih Adam.
"Iya Pih,di Kantor banyak kerjaan," jawab Kinan dengan datarnya.
"Sayang,Milka kemarin di operasi karena sudah mendapatkan donor ginjalnya dan operasinya berhasil,apa kamu mau menengoknya?" tanya Mamih Echa dengan ragu-ragu.
"Lain kali aja Mih,maaf Kinan sedang banyak kerjaan Kinan berangkat dulu," ucap Kinan dengan mencium tangan Mamih,Papih,dab Omanya.
Semua orang saling pandang satu sama lain merasa aneh dengan sikap Kinan yang tidak seperti biasanya.
"Kinan kenapa Echa?" tanya Oma Nadia.
"Ga tau Mom,mungkin sedang ga enak badan," dusta Mamih Echa.
Sesampainya di Kantor,Kinan berjalan dengan lurusnya tanpa memperdulikan semua Karyawannya yang menyapanya,padahal Kinan biasanya selalu menebar senyum kepada semua Karyawannya.
Sesampainya di depan ruangannya,Kinan langsung masuk ke dalam ruangannya,lagi-lagi Kinan tidak memperdulikan Devano yang sudah menunggunya.
"Tuh anak kenapa lagi?" gumam Devano.
Devano segera menyusul Kinan ke ruangannya.
"Pagi Kinan."
"Pagi."
"Apa kamu mau kopi dulu sebelum memulai pekerjaannya?" tawar Devano.
"Tidak,sebutkan saja apa jadwal aku hari ini?" seru Kinan dingin tanpa menoleh ke arah Devano.
Devano tampak mengerutkan keningnya,merasa aneh dengan sikap Kinan yang berubah menjadi datar dan dingin.
"Kenapa bengong?sekarang jadwal aku apa aja?" tanya Kinan.
"Ah iya,maaf."
Devano pun mulai membacakan jadwal Kinan untuk hari ini.
"Ok terima kasih,sekarang kamu boleh kembali bekerja," seru Kinan.
Devano pun meninggalkan ruangan Kinan.
"Pasti ada sesuatu yang sudah terjadi nih," gumam Devano.
3 bulan kemudian....
Sikap Kinan tidak berubah,malah saat ini Kinan makin dingin kepada siapa pun termasuk kepada keluarganya.
Tidak ada lagi senyum yang menghiasi wajah cantiknya,Kinan seperti orang yang gila kerja dia tidak pernah melewatkan harinya tanpa lembur.
Mamih Echa dan Papih Adam pun merasa sangat khawatir dengan keadaan Puterinya itu,Kinan seperti orang lain bagi keluarganya.
Milka sekarang sudah berangsur membaik dan dia pun sudah mulai melakukan aktivitasnya seperti biasa mengurus Restoran bersama Satria.
Dan sampai detik ini pun,Kinan belum pernah menjenguk Milka bahkan untuk sekedar menanyakan kabar Milka pun Kinan enggan.
Saat ini Kinan merasa kecewa dan marah terhadap Milka dan dia tidak mau mengambil pusing dengan keadaan Milka sekarang,hati Kinan sudah tidak resfek lagi kepada Milka.
__ADS_1
Kinan sudah tidak mau lagi berurusan dengan Milka,bahkan disaat syukuran Milka sembuh pun Kinan tidak menampakan batang hidungnya di rumah Ayah dan Bunda yang selama ini Kinan akui sangat menyayanginya.
Tok..tok..tok..
"Masuk."
"Kinan,ini ada undangan dari German,Perusahaan milik Mr.Hilton merayakan ulang tahun Perusahaannya dan Mr.Hilton secara pribadi mengundang kita untuk datang kesana," Devano menyerahkan undangan itu.
Kinan menghentikan pekerjaannya,Kinan terlihat terkejut bukan karena undangannya melainkan tempat yang tertera di undangan tersebut.
"Kapan?" tanya Kinan datar.
"Minggu depan,apa kamu mau datang kesana?" tanya Devano.
"Aku pikir-pikir dulu."
"Ya sudah,kamu pikirkan baik-baik jangan sampai menyesal karena kesempatan itu cuma datang satu kali," Devano pun pergi meninggalkan Kinan.
Kinan mengerutkan keningnya,Kinan bingung dengan maksud dari ucapan Devano.
Kinan melirik undangan warna putih tulang yang ada di atas mejanya,perlahan Kinan membukan undangan itu.
"German," gumam Kinan.
Hati Kinan merasa sakit menyebut kata German,luka lama yang saat ini berusaha Kinan obati malah seakan terbuka kembali.
Kinan menyimpan undangan itu dan Kinan kembali meneruskan pekerjaannya.Hingga tak terasa waktu sudah menunjukan pukul 7 malam.
Kinan menyandarkan kepalanya dan sedikit memijat keningnya yang terasa sedikit pusing.Kinan mulai membereskan meja kerjanya dan bersiap untuk pulang.
Kinan berjalan dengan gontai,disaat sampai lobby rasa pusing di kepalanya makin terasa Kinan hampir saja jatuh ke lantai tapi ada seseorang yang menangkap tubuhnya.
"Kinan kamu kenapa?" tanya Fabian.
"Mas Fabian,kepala aku pusing Mas."
"Ya sudah,biar aku yang antar kamu pulang."
Fabian memapah Kinan masuk ke dalam mobilnya dan mengantarkan Kinan pulang.Selama dalam perjalanan,Kinan memejamkan matanya karena rasa pusing di kepalanya semakin menjadi-jadi.
Fabian menoleh ke arah Kinan...
"Kenapa kamu menjadi seperti ini?apa kamu sangat mencintai Zidan?" batin Fabian.
Tidak lama kemudian,Fabian menghentikan mobilnya di depan rumah Kinann,dilihatnya Kinan masih setia memejamkan matanya.
Perlahan Fabian mulai membangunkan Kinan dengan menepuk pelan pundaknya,Kinan langsung terbangun.
"Aduh maaf Mas aku ketiduran."
"Gapapa,aku cuma ingin memberitahukan kalau kita sudah sampai."
"Oh iya,terima kasih ya Mas kalau begitu aku masuk dulu."
Kinan pun masuk ke dalam rumahnya,setelah membersihkan diri Kinan meminum obat sakit kepala dan mulai membaringkan tubuhnya dan tak terasa Kinan pun sudah masuk ke dalam alam mimpinya.
Keesokan harinya...
Seperti saat ini,seperti biasa Mawar mengantar makan siang setelah satu minggu tidak mengantar makan siang karena mendapat shif pagi.
Ada rasa rindu yang Mawar rasakan di hatinya,selama melangkah menuju ruangan Daffin senyum di wajah Mawar tidak pernah luntur dengan terus memperhatikan rantang makanannya.
Tok..tok..tok..
"Masuk."
"Selamat siang Mas."
Daffin yang merasa pusing dengan kerjaan yang menumpuk,tiba-tiba menoleh ke arah suara yang sudah satu minggu ini dia rindukan.
"Mawar."
"Siang Mas,aku bawakan makan siang buat Mas Daffin."
"Oh iya,silahkan duduk," Daffin merebahkan tubuhnya di sofa dan tampak memijit keningnya yang terasa sedikit pusing.
"Mas Daffin kenapa?sakit?" tanya Mawar.
"Iya Mawar,kepalaku agak sedikit pusing."
"Sini,Mawar bantu pijitin kepalanya."
Tanpa ragu-ragu lagi,Daffi merebahkan kepalanya ke atas pangkuan Mawar dan dengan telaten Mawar memijit kepala Daffin.Daffin tampak memejamkan matanya,merasa nyaman dengan pijatan Mawar.
Jantung Mawar kembali berdetak tak beraturan apalagi wajah Daffin begitu dekat yang tertidur dalam pangkuan Mawar.
Mawar memperhatikan wajah Daffin yang sangat sempurna menurut Mawar,alis yang tebal,hidung mancung,dan rahang yang tegas begitu sangat tampan.
Disaat Mawar sedang memperhatikan wajah Daffin,Daffin membuka matanya dan otomatis membuat Mawar menjadi salah tingkah dan langsung mengalihkan pandangannya ke sembarang arah.
Daffin memegang tangan Mawar yang sedang memijat kepalanya,membuat Mawar terkejut dan menghentikan pijatannya.Sesaat mereka saling pandang,hingga Daffin mulai bangkit dan duduk di hadapan Mawar.
Jantung Mawar makin tak beraturan seakan mau loncat dari tempatnya,apalagi Daffin masih setia memegang tangan Mawar dan terus menatap Mawar.
"Mawar,aku tidak pernah merasakan hal ini sebelumnya hanya saat dekat kamu saja aku merasakannya,aku bukan orang yang romantis dan aku juga tidak tahu caranya menembak seorang wanita tapi saat ini aku mau mengatakan sama kamu,maukah kamu menikah denganku?" ucap Daffin.
Mawar sangat terkejut dengan ucapan Daffin,apalagi bukan hanya sekedar jadi pacar tapi Daffin langsung mengajak Mawar menikah.
"Maaf Mas Daffin,tapi aku hanyalah wanita biasa yang tidak punya apa-apa,bahkan Ibu aku saja hanya mempunyai warung nasi sederhana,aku tidak pantas mendampingi Mas Daffin nanti Mas Daffin dan keluarga Mas Daffin malu," jawab Mawar.
"Kalau aku malu,ngapain aku mengajak kamu menikah?aku tidak butuh harta,aku tidak butuh kedudukan karena aku sudah memiliki semuanya,yang aku butuh saat ini adalah wanita hebat yang mau mendampingi aku dan selalu ada disaat aku sedang susah maupun senang,aku butuh sandaran untuk melepas semua rasa lelah dan beban hidupku," jelas Daffin.
Mawar tampak berpikir dan menundukan kepalanya,matanya sudah mulai panas karena air mata yang ingin keluar.
Daffin mengangkat dagu Mawar supaya wanita cantik nan sederhana itu bisa menatapnya.
__ADS_1
"Bagaimana,maukah kamu menikah denganku dan menjalani hari-harimu bersamaku?" tanya Daffin.
Akhirnya lolos juga air mata Mawar yang dari tadi sudah dia tahan,dengan tersenyum Mawar menganggukan kepalanya.
Daffin pun tersenyum dan membawa Mawar dalam pelukannya.
"Terima kasih Mawar,terima kasih," Daffin mencium pucuk kepala Mawar berulang-ulang.
Mawar melepaskan pelukan Daffin...
"Mas makan dulu ya,aku sudah masakin makanan kesukaan Mas nanti keburu dingin," seru Mawar.
Daffin pun mulai memakan makanan yang dibawa oleh Mawar dengan sesekali bercanda Daffin terlihat sangat bahagia.
Setelah selesai makan,Mawar membereskan bekas makan mereka dan bersiap untuk pulang.
"Aku anterin kamu pulang."
"Tidak usah,aku bisa naik angkot lagipula Mas kan lagi sibuk," sahut Mawar.
"Tidak,aku sekalian mau ke Kantor Kinan ada yang perlu aku omongin sama Kinan," seru Daffin.
"Oh ya sudah kalau begitu."
Disaat Mawar berdiri hendak keluar,Daffin segera menggenggam tangan Mawar dan berjalan keluar dengan bergandengan tangan.
Mawar kaget selama berjalan Mawar hanya melihat tangannya yang sedang di genggam oleh Daffin.Semua Karyawan melongo melihat Bosnya menggandeng wanita yang selama ini mengantarkan makanan ke Bosnya itu.
Sesampainya di depan rumah Mawar...
"Mas hati-hati ya,dan sampaikan salam aku untuk Kinan," seru Mawar.
"Iya,aku pergi dulu ya!!"
Daffin pun meninggalkan Mawar dan melajukan mobilnya ke Perusahaan Kinan.Sesampainya di Perusahaan Kinan,Daffin berjalan dengan coolnya menuju ruangan Kinan.
Semua mata Karyawan Kinan menatap takjub dan terpesona akan makhluk ciptaan Sang Illahi yang sempurna itu.
"Wah siapa tuh?apa dia kekasihnya Bu Kinan?"
"Kayanya sih iya."
"Beruntung banget ya,Bu Kinan dikelilingi pria-pria tampan,ada Pak Devano,Pak Fabian,dan sekarang pria tampan nan gagah itu ya ampun aku iri banget sama Bu Kinan."
Begitulah celetukan-celetukan para Karyawan Kinan.
Sesampainya di depan ruangan Kinan...
"Dev,apa Kinan ada di dalam?" tanya Daffin.
"Bang Daffin..ada Bang didalam."
"Ya sudah,Abang ke dalam dulu ya!!"
Daffin pun memasuki ruangan Kinan,dilihatnya Kinan sedang sibuk mengotak-ngatik Laptopnya.
"Sesibuk itukah kamu Kinan,sampai-sampai sudah jarang lagi menemui Daddy dan Abangmu ini?" seru Daffin.
Kinan menoleh ke arah suara...
"Abang," Kinan bangkit dari duduknya dan berlari memeluk Abangnya itu.
"Jangan terlalu sibuk,tenaga kamu jangan terlalu di forsir emangnya kamu ini robot apa?" seru Daffin.
"Ayo duduk Bang."
"Aunty selalu bilang sama Abang,kalau sekarang kamu kaya bukan Kinan yang dulu,kamu sekarang lebih dingin dan tidak memperdulikan hal yang ada disekitar kamu,kerja selalu lembur tidak pernah memperdulikan kesehatan kamu sendiri,sebenarnya apa yang sudah terjadi?" tanya Daffin.
"Ga ada apa-apa Bang."
"Kamu tidak bisa bohong sama Abang,Abang tahu kalau saat ini kamu sedang menyembunyikan sesuatu dari Abang."
Kinan menundukkan wajahnya,Daffin benar Kinan tidak pernah bisa bohong darinya tidak terasa air mata Kinan menetes,Daffin yang melihat Kinan menangis langsung memeluknya dan mengusap kepalanya dengan sayang.
"Abang tidak suka,Prinses kecil Abang bersikap seperti itu kalau ada masalah coba bilang sama Abang jangan menyiksa diri kamu sendiri."
Tangisan Kinan makin menjadi-jadi...
"Menangislah kalau itu bisa membuatmu merasa tenang,tapi setelah kamu merasa baik kamu harus cerita sama Abang apa yang terjadi?Abang tidak bisa membiarkan kamu seperti ini terus."
Kinan hanya bisa menangis dipelukkan Daffin sementara Daffin mengusap-ngusap punggung Kinan dengan penuh kasih sayang.
π·
π·
π·
π·
π·
Hai..hai para Readers setiaku,maaf baru update nihπππ€π€
Ayo dong mana dukungannya like dan vote sebanyak-banyaknya biar Author lebih semangat lagi untuk menulis kelanjutannyaππππ
Jangan lupa
like
vote n
komen
TERIMA KASIH
__ADS_1
LOVE YOUπππ