
๐ท
๐ท
๐ท
๐ท
๐ท
Sesampainya dirumah Kinan langsung membersihkan dirinya.
Malam pun tiba,rumah terasa sangat sepi karena Mamih,Papih dan Kenzo belum pulang,hingga tiba-tiba Ponsel Kinan berbunyi dan tertera nama Kenzo disana.
"Hallo Ken,ada apa?" tanya Kinan.
"Kak,Oma Nadia baru saja meninggal."
"Inalillahi," Kinan menutup mulutnya dan meneteskan air matanya.
"Kenapa Sayang?" tanya Zidan yang langsung menghampiri istrinya itu.
"Oma meninggal Kak."
"Inalillahi."
Zidan memeluk istrinya sementara Kinan masih menerima telpon dari Kenzo.
"Oma tidak akan dibawa kesana Kak,karena Oma meminta dimakamkan disini dekat dengan makam Opa," seru Kenzo.
"Ya sudah,maaf Kakak ga bisa kesana," ucapnya lirih.
"Iya gapapa Kak,ya sudah ya aku tutup dulu."
Kenzo pun mengakhiri sambungan telponnya,Kinan menangis dipelukan Zidan bagaimana pun juga Kinan sempat tinggal lama bersama Oma dan Opanya di Belanda.
"Sudah jangan menangis lagi,Oma sudah tenang disana menyusul Opa," seru Zidan.
"Iya Kak."
***
Sementara itu di kediaman Ayah Dirga,Billy tampak termenung dibalkon kamarnya.
"Ya Alloh,kenapa engkau mengambil belahan jiwaku secepat ini?dan kenapa engkau tumbuhkan rasa cinta buat orang yang salah,ini sungguh tak adil buatku dan sangat menyiksaku," gumam Billy.
Tiba-tiba Milly menangis,Billy kaget dan segera menggendong Milly.Milly tampak terus menangis,mungkin Milly mengalami mimpi buruk.
"Cup..cup..cup..sudah jangan menangis lagi puteri Papah yang cantik," seru Billy sembari menepuk-nepuk punggung Milly.
Perlahan tangisan Milly pun berhenti,sejak lahir Milly memang tidur bersama Billy karena Billy tidak mau jauh-jauh dari Milly.
Hanya Milly saat ini pelipur lara bagi Billy,karena dengan melihat wajah Milly membuat Billy tenang,pasalnya wajah Milly sangat mirip banget dengan Milka.
Setelah Milly kembali terlelap,Billy menidurkan Milly di ranjang yang sama dengannya.
Billy memperhatikan wajah Milly dengan seksama,tiba-tiba Billy meneteskan air matanya betapa malangnya nasib puterinya yang harus kehilangan Mamahnya bahkan sebelum Milly mengetahui bagaimana wajah Mamahnya.
"Aku harus membuang jauh-jauh rasa cintaku sama Kinan,karena itu sudah tidak benar aku tidak mau sampai menghancurkan hidup Milly,Milly adalah segala-segalanya buat aku dan aku tidak mau membuat Milly sengsara hanya gara-gara cinta butaku,Zidan pasti bakalan menghancurkanku sampai berkeping-keping kalau tahu aku suka sama istrinya," batin Billy.
Billy pun mengusap kepala Milly dan mencium kening Milly,kemudian dia pun ikut membaringkan tubuhnya disamping tubuh mungil Milly.
***
1 minggu kemudian...
Mamih Echa,Papih Adam,dan Kenzo sudah pulang dari Belanda,mereka membawa kabar kalau seluruh kekayaan Oma dan Opanya jatuh ketangan Adam,ada sebagian yang menjadi haknya David selaku anak angkatnya Oma Nadia dan Opa Rudi.
Dan semua Perusahaan milik keluarga "G" CORPORATION jatuh ketangan Zein dan Kenzo yang selaku putera Mahkota dari keluarga Gunawan.
Perusahaan milik keluarga Gunawan sebagian besar berada di Belanda dan itu menjadi milik Zein sementara yang disini menjadi milik Kenzo dan Kinan.
Sungguh keluarga Sultan,harta yang berlimpah,keluarga yang harmonis,sungguh keluarga yang sangat sempurna.
Sementara satu Perusahaan yang ditujukan untuk David,David serahkan kepada anak satu-satunya yaitu Devano.
Di pagi yang cerah ini,Kinan sedang merengek kepada Zidan entah apa yang Kinan inginkan.
"Sayang,please boleh ya aku masuk kerja kasihan Dev harus mengurus pekerjaannya sendirian mana sebentar lagi dia mau nikah," rengek Kinan.
"Aku bilang ga boleh ya ga boleh,ngeyel banget sih kamu Sayang."
"Sayang,Perusahaan itu sudah menjadi tanggung jawab aku mana bisa aku lepas gitu aja," seru Kinan.
"Tunggu Zein berusia 4 tahun baru kamu boleh bekerja lagi," sahut Zidan dengan tegasnya.
"Astaga Sayang itu kelamaan,ya udahlah terserah kamu saja," kali ini Kinan terlihat marah.
"Sayang mau kemana?bantuin aku pakai dasi dulu," ucap Zidan.
"Pakai aja sendiri," sahut Kinan dengan meninggalkan Zidan dikamarnya.
Zidan tampak menghela nafasnya kasar,kali ini Kinan benar-benar marah kepada dirinya.
Kinan pun turun ke bawah untuk sarapan,Kinan sarapan sendirian.
"Lho,Zidan mana Sayang?" tanya Mamih Echa.
"Ga tahu," jawab Kinan dengan ketusnya.
Mamih Echa,Papih Adam,dan Kenzo hanya bisa saling pandang mereka tahu kalau Kinan dan Zidan pasti sedang berantem.
Kinan sarapan dengan cepat,setelah itu Kinan mengambil Baby Zein dari gendongan Bi Sum dan membawanya duduk diteras rumahnya.
Zidan pun baru selesai berpakaian,dia pun langsung turun kebawah.
"Kinan mana Mih?" tanya Zidan.
"Tuh ada di depan sama Zein,kalian kenapa berantem?" tanya Mamih Echa.
"Biasalah Mih,Kinan selalu merengek pengen kerja terus padahal kan Zein masih sangat kecil aku ga mau Zein kekurangan kasih sayang Mommynya karena pasti kan nanti waktunya akan berkurang untuk mengurus Zein," jawab Zidan dengan melahap roti selainya.
"Papih mengerti dengan kekhawatiran kamu Zidan,Perusahaan itu adalah bagian hidup dari Kinan mungkin karena dia sudah terbiasa mengurus Perusahaan makannya dia ingin bekerja,Papih yakin Kinan bisa membagi waktu antara pekerjaan dan ngurus anak," seru Papih Adam.
"Soal Zein kamu jangan khawatir,dia masih ada Mamih kadang-kadang juga Mamah kamu suka kesini bantuin jaga Zein,Zein tidak akan kekurangan kasih sayang karena orang-orang disekelilingnya sangat menyayanginya," sambung Mamih Echa.
Zidan menghela nafasnya dia tampak berpikir dengan ucapan Mamih dan Papih mertuanya itu.
__ADS_1
"Nanti Zidan pikirkan lagi,ya sudah Zidan berngkat dulu ya Mih,Pih," seru Zidan.
"Iya,hati-hati Nak."
Zidan pun melangkahkan kakinya,diteras Zidan melihat Kinan sedang duduk menggendong Zein dalam pangkuannya,Zidan berjongkok dihadapan Kinan.
Kinan memalingkan pandangannya karena dia masih marah kepada Zidan,Zidan menciumi wajah Zein yang tampak sedang memperhatikan Daddynya itu.
"Anak Daddy yang tampan,baik-baik ya dirumah sama Mommy jangan nakal Daddy berangkat kerja dulu,bilangin sama Mommy Daddy berangkat dulu jangan marah terus," ucap Zidan dengan melirik kearah Kinan yang masih saja tidak mau melihat kearah Zidan.
"Sayang aku berangkat dulu ya,jangan macam-macam sebelum aku ngizinin kamu," seru Zidan dan mencium kening Kinan.
Kinan masih tak bergeming,dia sangat marah kepada Zidan.Zidan tersenyum dengan melihat istrinya itu cemberut,kemudian Zidan pun memasuki mobilnya dan melajukan mobilnya menuju Rumah Sakit.
"Tuh kan Sayang,Daddy kamu memang nyebelin," seru Kinan.
Di Rumah Sakit,seperti biasa semuanya sedang sibuk melayani pasien-pasien,saat ini Misell sedang membantu Billy menangani pasien Billy.
Misell terlihat memperhatikan cara Billy menangani pasiennya sungguh sangat tampan Dokter yang berstatus duda itu.
Tapi sayang,Misell tetap masih mengharapkan Zidan yang jelas-jelas tidak mungkin dia dapatkan.
Karena sibuk Billy tidak sengaja menjatuhkan alat-alat medis yang ada diatas mejanya,dengan sigap Misell membantu Billy membersihkannya.
Tapi disaat Misell ingin mengambil barang yang berserakan itu,Billy pun tidak sengaja memegang tangan Misell sejenak kedua mata itu saling pandang hingga akhirnya Misell menyadarkan lamunan Billy.
"Oh maaf ga sengaja," seru Billy.
"Tidak apa-apa Dokter."
Billy pun kembali memeriksa pasiennya,akibat kejadian itu Billy dan Misell jadi merasa sama-sama canggung dan salah tingkah.
Disisi lain,Satria yang sedang sibuk menata Restorannya tampak serius kali ini Satria sedang membantu menyiapkan hidangan demi hidangan buat pelanggannya.
Karena Satria kurang hati-hati,Satria menyenggol wajan yang berisi minyak panas dan mengenai tangannya.
"Ahh..." Satria meringis kesakitan.
"Astaga Pak Satria,Bapak kenapa?" tanya anak buahnya panik.
"Aku tidak sengaja menyenggol wajan yang berisi minyak panas itu," jawab Satria.
"Bapak harus cepat ke Rumah Sakit,takutnya tangan Bapak melepuh."
"Ya sudah,kamu antar saya ke Rumah Sakit kamu bisa nyetir kan?" tanya Satria.
"Bisa Pak."
"Ya sudah,ayo buruan."
Anak buah Satria yang menjadi pelayan itu segera membawa Satria ke Rumah Sakit.Tidak lama kemudian Satria pun sampai di Rumah Sakit,Satria langsung menuju IGD dan kebetulan Dokter jaga di IGD saat ini adalah Lana.
"Suster tolongin Bos saya,tangannya kena minyak panas," teriak pelayan itu.
"Bapak duduk dulu disini,saya panggilan Dokter dulu."
Suster itu pun segera memanggil Lana untuk menangani Satria.
"Ini Dok,pasien yang tangannya terkena siraman minyak panas," seru Suster itu.
Begitu pun Satria yang sama terkejut melihat Lana dan ternyata dia seorang Dokter,Satria kembali menstabilkan dirinya.
"Kamu ngapain disini?" tanya Satria.
Lana tampak mengerutkan keningnya,dia bingung dengan pertanyaan konyol yang dilontarkan oleh Satria.
"Kamu buta ya?ga lihat apa aku pakai seragam Dokter?berarti aku seorang Dokter disini," sahut Lana ketus sembari membersihkan tangan Satria.
Satria tampak memperhatikan wajah Lana yang saat ini dengan telaten sedang memakaikan salep ditangannya.
"Kenapa aku baru sadar kalau wanita ini sangat cantik," batin Satria.
Satria melihat name tag yang ada di jas putihnya itu.
"Kelana...nama yang unik," batin Satria tanpa sadar Satria mengembangkan senyumannya.
Lana yang sudah selesai mengobati Satria,melirik Satria yang sedang tersenyum sembari melihat kearahnya.
"Kenapa kamu senyum-senyum gitu,kamu gila ya?" sentak Lana yang membuat Satria tersadar dari lamunannya.
"Apa kamu bilang?"
Lana tidak mendengar omongan Satria,kemudian Lana melangkah menuju mejanya dan menuliskan sesuatu di kertas itu.
"Nih,resep obat yang harus kamu tebus," ucap Lana dengan nada yang tidak bersahabat.
Lana pun pergi meninggalkan Satria dan kembali menangani pasien lainnya.
"Deni,tolong kamu tebus obat ini saya tunggu disini," seru Satria.
"Baik Pak."
Pelayan yang bernama Deni itu pun pergi untuk menebus obat,sementara Satria masih duduk disana.
Satria terus saja memperhatikan Lana yang sedang mengobati para pasiennya.Senyumannya pun kembali terbit diwajah kalemnya itu.
"Ternyata dia seorang Dokter,aduh jantung kenapa kau selalu berdetak kencang memalukan sekali," gumam Satria.
Lana yang saat itu sedang sibuk sekali sampau tidak memperhatikan jalan sehingga kaki Lana tidak sengaja tersandung oleh kaki meja.
Satria yang melihat Lana akan jatuh dengan sigap menangkap tubuh Lana sehingga Lana terjatuh kepelukan Satria,sejenak kedua mata mereka saling bertemu.
Mereka tidak sadar kalau jantung mereka sama-sama sedang berdetak tak karuan saat ini.
"Kalau jalan itu lihat-lihat,ceroboh sekali," seru Satria.
Lana melepaskan pelukan Satria dan menormalkan posisi tubuhnya.
"Iya,terima kasih."
Lana segera meninggalkan Satria,Lana tidak mau Satria melihat kalau wajahnya sekarang sudah memerah bak kepiting rebus karena menahan malu.
"Pak,ini obatnya sudah saya tebus."
"Ok,ayo kita kembali ke Restoran."
Satria pun meninggalkan Rumah Sakit itu,sementara Lana yang tahu kalau Satria sudah pergi tampak menghela nafasnya dan dia memegang dadanya.
__ADS_1
"Ya Alloh,kenapa jantungku seakan mau copot seperti ini?laki-laki itu tampan sekali," gumam Lana.
Tapi sedetik kemudian Lana sadar dan ingat dengan pertemuannya di Toko kue tempo hari.
"Astaga,bodoh kamu Lana dia itu sudah punya istri apalagi istrinya sedang hamil,Astagfirullah kamu pasti sudah gila Lana suka sama suami orang," gumam Lana dengan terus memukul-mukul kepalanya.
Dengan cepat Lana kembali menjalankan tugasnya di tidak mau sampai berlarut-larut memikirkan Satria yang dia anggap sudah mempunyai istri padahal kenyataannya Satria waktu itu membeli kue untuk Kinan.
Sementara itu didalam perjalanan,Satria terus saja membayangkan Lana wanita cantik yang tampak mempesona dengan balutan jas putihnya menambah keanggunan seorang Kelana.
Waktu pun berjalan dengan cepat,saatnya makan siang dan seperti biasa Misell,Lana dan kedua temannya makan siang di Kantin Rumah Sakit.
Ali dan Arman merasa ada yang aneh dengan kedua wanita cantik yang ada dihadapannya,pasalnya saat ini Misell dan Lana terlihat melamun apalagi Lana wanita itu biasanya ceria dan bawel tapi tiba-tiba dia menjadi pendiam.
"Woi,kalian pada kenapa sih?jadi melamun dan pendiam kaya gitu?" seru Ali.
"Apaan sih Li,ah ngagetin aja," ketus Lana.
Misell dan Lana tampak sibuk dengan pemikiran masing-masing,Misell yang terus memikirkan Zidan sementara Lana juga yang terus terbayang wajah Satria.
Ali dan Arman hanya bisa geleng-geleng kepala melihat tingkah aneh dari kedua temannya itu.
Waktu pulang pun tiba,Zidan segera melangkah dengan buru-buru hingga dia tidak melihat kalau ada Misell yang sedang berjalan didepannya.
Akhirnya Zidan menabrak Misell karena tidak seimbang akhirnya Misell oleng dan dengan sigap Zidan menarik pinggang Misell hingga Misell pun tidak jadi jatuh.
Misell sungguh tidak percaya kalau saat ini Zidan berada dekat dengannya malahan sangat dekat.
Dengan cepat Zidan melepaskan pegangannya.
"Maaf,saya sedang buru-buru," ucap Zidan datar dan langsung meninggalkan Misell.
Misell hanya bisa melongo,kakinya begitu lemas karena tidak menyangka kalau Zidan akan menolongnya.
Zidan dengan cepat memasuki mobilnya dan mengendarainya menuju rumah.Sesampainya dirumah,Zidan melihat kalau Mamih Echa dan Papih Adam sedang bermain bersama Zein.
"Assalamualaikum."
"Waalaikum salam."
"Loh,Mih,Pih Kinannya mana?" tanya Zidan.
"Ada dikamarnya," jawab Mamih Echa.
"Ya sudah,Zidan kekamar dulu ya!!"
Zidan pun segera berlari menuju kamarnya untuk menemui istri tercintanya,sesampainya didalam kamarnya Zidan melihat kalau istrinya itu sedang tertidur.
Zidan menghampiri Kinan dan berjongkok didepan istrinya yang sedang terlelap tidur,diperhatikannya wajah sang istri yang cantik itu.
Zidan menciumi seluruh wajah Kinan dengan gemasnya sehingga membuat Kinan bangun karena merasa terganggu.
"Suami pulang bukannya disambut malah tidur," seru Zidan.
"Apaan sih," jawab Kinan ketus.
Kinan membalikan tubuhnya membelakangi Zidan karena Kinan masih merasa marah kepada Zidan.
"Hai,dosa lho lama-lama marah sama Suami."
"Habis suaminya nyebelin."
"Yakin nih mau marah terus,padahal tadinya aku mau ngizinin kamu buat kerja lagi tapi ternyata kamunya masih marah,ya sudah aku tarik lagi ucapan aku," goda Zidan.
Zidan beranjak dan melepas dasi dan jasnya,sementara Kinan tampak membulatkan matanya mendengar perkataan suaminya itu.
Kinan langsung bangun dan memeluk suaminya dari belakang.
"Benarkah itu?kamu mengizinkan aku kerja lagi?" ucap Kinan dengan antusias.
"Iya tadinya,tapi kan kamunya lagi marah sama aku jadi aku----" ucapan Zidan terpotong karena tiba-tiba Kinan mencium bibir Zidan berulang-ulang.
"Enggak kok,sekarang aku ga marah," seru Kinan dengan senyumannya yang mengembang.
"Dasar.."
"Beneran kamu ngizinin aku kerja lagi?" tanya Kinan.
"Iya Sayang."
"Yeeee....I Love You Sayang."
Kinan jingkrak-jingkrak karena saking bahagianya dan langsung memeluk suaminya itu.
"Tapi dengan satu syarat,kamu jangan sampai melupakan kewajiban kamu sebagai istri sekaligus Mommynya Zein,pokoknya kamu jangan sampai lembur aku ga mau saat aku pulang kerja istriku ga ada dirumah," seru Zidan.
"Siap Pak Dokter."
Kinan begitu sangat bahagia akhirnya Zidan mengizinkan dia untuk bekerja lagi.
๐ท
๐ท
๐ท
๐ท
๐ท
Apakabar semuanya,masih setiakan menunggu kelanjutannya๐๐
Jangan lupa dukungannya,selalu tinggalkan jejak like,komen,dan vote sebanyak-banyaknya๐๐๐๐
Jangan lupa mampir juga di Novel terbaru Author yang berjudul "ABC (AMARAH,BENCI,CINTA)" ditunggu kehadirannya๐๐๐ค๐ค
Jangan lupa
like
vote n
komen
TERIMA KASIH
LOVE YOU๐๐๐
__ADS_1