Bos Cantik Pujaan Hati

Bos Cantik Pujaan Hati
BAHAGIA DIBALIK MUSIBAH


__ADS_3

🌷


🌷


🌷


🌷


🌷


2 bulan sudah Mamih Echa di rawat di Rumah Sakit dan belum ada tanda-tanda akan sadar,Papih Adam tidak pernah Absen menunggu Mamih Echa di Rumah Sakit.


Begitu juga dengan Kinan dan Kenzo mereka bergantian menjaga Mamih Echa,walaupun Kinan tidak pernah menginap di Rumah Sakit karena Kinan punya Zidan suami yang harus dia urus meskipun Zidan tidak pernah melarangnya tapi Kinan juga tidak boleh egois.


Sementara Zidan sekarang sudah tidak menjadi Dosen lagi,Zidan sudah kembali ke Rumah Sakit mengemban tugas sebagai Dirut Rumah Sakit.


Seperti pagi ini,Kinan sudah sibuk membuat sarapan buat suaminya,Kenzo,dan Omanya tidak lupa juga Kinan menyiapkan sarapan yang sudah Kinan tata rapih disebuah wadah untuk Kinan bawa ke Rumah Sakit.


"Sayang,sudah sana kamu siap-siap biar Oma yang bereskan sisanya," seru Oma Nadia.


"Ya sudah,Kinan siap-siap dulu ya Oma."


Kinan pun kembali kekamarnya untuk bersiap-siap,sesampainya dikamar Kinan tidak menemukan suaminya.


"Tumben sudah bangun," gumam Kinan.


Sembari menunggu suaminya keluar dari kamar mandi,Kinan pun membereskan tempat tidur.Kinan sangat terkejut kala mendengar Zidan sedang muntah-muntah didalam kamar mandi.


"Sayang,buka pintunya kamu kenapa?" tanya Kinan dengan menggedor-gedor pintu kamar mandi.


Ceklek...


Disaat pintu kamar mandi dibuka,Kinan melihat wajah Zidan sangat pucat.


"Ya Alloh Sayang,kamu kenapa?kok wajah kamu pucat banget,kamu sakit?" tanya Kinan dengan memegang wajah Zidan.


"Aku juga ga tahu Sayang,pas bangun tidur tadi tiba-tiba saja perut aku mual," jawab Zidan.


"Memangnya kamu makan apa sampai mual kaya gitu?"


"Aku ga makan apa-apa Sayang,seperti biasa saja ga makan yang aneh-aneh kok."


"Ya sudah sekarang kamu istirahat saja ya dirumah jangan dulu ke Rumah Sakit," seru Kinan.


"Ga bisa,nanti yang antar jemput kamu siapa?" sahut Zidan.


"Kan aku bisa bawa mobil sendiri Sayang."


"Ga boleh,pokoknya harus aku yang antar jemput kamu," keukeuh Zidan.


"Ya sudah terserah Kakak saja."


Setelah siap-siap,semuanya pun menikmati sarapan bersama-sama tapi ada yang aneh kali ini dengan Zidan,dia hanya menatap makanan yang tersaji dimeja makan dengan tatapan tidak suka.


"Kok kamu ga makan Nak?" tanya Oma Nadia.


"Tumben Bang,biasanya juga paling lahap kalau makan," sambung Kenzo.


"Ga tahu kenapa kok ngelihat makanan ini semua aku jadi mual," dengan menutup mulutnya Zidan berlari kekamar mandi.


Zidan kembali muntah,sampai-sampai perutnya sakit karena hanya memuntahkan cairan.Kinan menyusul Zidan dan memijat tengkuk leher Zidan.


"Kamu kenapa sih Kak?dari tadi muntah terus,nanti di Rumah Sakit kita periksa dulu ya," seru Kinan.


Zidan hanya mampu menganggukan kepalanya lemah.


"Sekarang aku buatkan teh manis hangat ya,kamu duduk dulu."


Kinan pun dengan cekatan segera membuatkan teh manis hangat buat suaminya itu.


Setelah selesai dan Zidan pun sedikit agak baikan,mereka semuapun berangkat kerja hanya Oma yang diam dirumah.


"Nanti kalau habis di periksa Kakak istirahat saja ya,jangan dulu menerima pasien," seru Kinan.


"Menerima pasien apa?aku sudah sudah tidak memeriksa pasien," sahut Zidan.


"Lho kenapa?bukannya Kakak kembali ke Rumah Sakit karena sudah kembali lagi menjadi Dokter," seru Kinan dengan mengerutkan keningnya.


"Maaf ternyata aku belum cerita ya sama kamu,semenjak aku pulang dari Jerman aku sudah tidak menjadi Dokter lagi aku sudah diangkat menjadi Direktur utama Rumah Sakit," jelas Zidan.


"Benarkah?kok kamu nyembunyikan suanya dari aku sih?" tanya Kinan.


"Gapapa,aku cuma pengen buat kejutan aja buat kamu."


"Pantesan saja selama aku berada di Rumah Sakit menjaga Mamih,Kakak ga pernah ada yang nyari," sahut Kinan.


Sesampainya di Rumah Sakit,Kinan dan Zidan langsung ke ruangannya Mamih Echa disana Papih Adam dengan setia selalu berada disamping istri tercintanya itu.


"Assalamualaikum Papih," seru Kinan.


"Waalaikumsalam Sayang."


"Bagaimana keadaan Mamih,Pih?" tanya Kinan.


"Masih sama Sayang belum ada perubahan."


"Ya sudah,sekarang Papih sarapan dulu ya biar Kinan yang jagain Mamih."


Papih Adam pun menganggukan kepalanya,Papih Adam pindah duduk di sofa sementara Kinan duduk disamping Mamih Echa yang belum sadarkan diri.


"Mamih,ini Kinan cepet sembuh Mamih Kinan kangen banget sama Mamih,rumah sepi kalau ga ada Mamih,ga ada yang selalu ngomelin Kinan dan Kenzo," ucap Kinan.


Tidak terasa air mata Kinan pun menetes,Kinan menggenggam tangan Mamih Echa dan menciumnya berulang-ulang.

__ADS_1


Sementara itu Papih Adam yang mendengar ucapan Kinan ikut menitikan air matanya,dia sungguh tidak sanggup kalau harus kehilangan istri yang sangat dia cintai.


"Zidan kemana Sayang?" tanya Papih Adam mengalihkan kesedihan Kinan.


"Dia sedang berada diruangannya Pih,dia sedang ga enak badan dari tadi pagi dia muntah-muntah terus," jawab Kinan.


"Lho kenapa bisa sampai seperti itu?" tanya Papih Adam kembali.


"Tidak tahu Pih,makannya Kinan ingin membawa Kak Zidan diperiksa kebetulan Dokternya belum datang," sahut Kinan.


"Semoga suami kamu baik-baik saja."


"Amin Pih."


Papih Adam pun selesai sarapan,Kinan demgan sigap membereskan bekas makan Papih Adam dan membuatkan kopi untuknya.


"Pih,ini kopinya Kinan sudah buatkan sekarang Kinan keruangan Kak Zidan dulu ya,mungkin habis itu Kinan langsung berangkat ke Kantor," jelas Kinan.


"Iya Sayang,kamu hati-hati ya," Papih Adam mengusap kepala Kinan dan mencium kening anaknya itu.


"Ya sudah Kinan pergi dulu,Assalamualaikum," Kinan berpamitan dan mencium tangan Papih Adam.


"Waalaikumsalam."


Kinan pun meninggalkan ruangan Mamih Echa dan menuju ruangan suaminya,dilihatnya Zidan sedang merebahkan tubuhnya diatas sofa dengan satu tangan menutupi wajahnya.


"Sayang,ayo bangun kita periksa yuk soalnya Dokternya sudah datang," seru Kinan dengan mengusap pipi Zidan.


"Sayang hati ini kamu jangan kerja ya,aku pengen sama kamu terus hari ini," rengek Zidan.


"Lho kok suami aku jadi manja kaya gini,ga biasanya."


"Pokoknya aku pengen kamu disini jangan kemana-mana," rengek Zidan dengan terus menggenggam tangan Kinan.


"Ya sudah,ayo kita periksa dulu soalnya aku khawatir dengan Kakak."


Kinan dan Zidan pun menuju ruangan Dr.Andi yang tidak lain adalah teman Zidan yang waktu itu memeriksa keadaan Kinan.


"Permisi Dok."


"Oh hallo Kinan,ayo silahkan masuk mari silahkan duduk.Ada apa nih tumben?" tanya Dr.Andi.


"Begini Dok,dari tadi pagi suami aku muntah-muntah terus malahan ga mau makan katanya makanannya bau dan membuat perutnya mual," jelas Kinan.


"Memangnya kamu habis makan apa sih Dan,sampai mual-mual kaya gitu?" tanya Dr.Andi.


"Aku ga makan apa-apa,cepetan periksa aku," sentak Zidan yang langsung membaringkan dirinya di kasur pemeriksaan.


"Ckckck...mana ada pasien yang nyuruh-nyuruh Dokter seperti itu," ucap Dr.Andi dengan kesalnya.


Dr.Andi pun beranjak dari duduknya dan segera memeriksa keadaan Zidan.


"Bagaimana?" tanya Zidan.


"Aneh,kamu gapapa kok sehat-sehat saja."


Pletaaaaakkk...


Dr.Andi menjitak kepala Zidan..


"Sembarangan kalau ngomong,jadi kamu meragukan pemeriksaan aku nih?" seru Dr.Andi dengan kesalnya.


"Terus kalau aku sehat-sehat saja,muntah-muntah itu akibat apa dong?" tanya Zidan.


"Kayanya aku hatus periksa istri kamu deh," seru Dr.Andi.


"Wah kalau begini caranya kamu cari mati ya Andi," Zidan melototkan matanya kearah Dr.Andi.


"Sabar dulu jangan emosi,susah banget kalau punya suaminya posesif kaya kamu,aku punya feeling kalau Kinan sedang---"


"Sedang apa?jangan cari alasan deh kamu," sentak Zidan.


"Pokoknya aku harus periksa dulu Kinan untuk memastikannya,ayo Kinan kamu bisa tidur sebentar disini."


"Enggak bisa," Zidan menghalangi Kinan.


"Yaelah Dan,posesif amat jadi suami aku hanya ingin membuktikan saja feeling aku benar apa enggak," seru Dr.Zidan.


"Sudahlah Sayang,cuma diperiksa doang ribet amat sih.Ayo Dr.Andi periksa saja," seru Kinan dan langsung merebahkan dirinya dikasur pasien.


"Tapi Sayang----"


"Diam kamu,berisik banget," sentak Dr.Zidan.


Zidan pun seketika menutup mulutnya karena merasa terkejut dengan sentakan Dr.Andi.


"Maaf Kinan apa kamu bisa menaikan baju kamu sedikit,aku mau periksa perut kamu," seru Dr.Andi.


"Woi..woi..woi..apa-apaan ini pake harus periksa perut segala,ga bisa enak aja mau ngelihatin perut istri aku," teriak Zidan dengan memegangi baju yang menutup perut Kinan.


"Allohuakbar Zidan,kamu ini ya bikin aku emosi aja ya sudah bawa istri kamu periksa kepada Dr.Elina sekarang juga," seru Dr.Andi dengan emosinya.


"Ngapain aku bawa Kinan periksa ke Dr.Elina?Dr.Elina kan Dokter kan--dungan," ucapan Zidan terhenti.


Zidan dan Kinan saling pandang,mencoba mencerna ucapan Dr.Andi,kemudian Zidan menatap kearah Dr.Andi.


"Apa lihat-lihat?" sewot Dr.Andi.


"Maksud kamu apa Andi?" tanya Zidan.


"Feeling aku mengatakan kalau Kinan sedang hamil tapi aku belum bisa memastikannya karena kamu melarang aku untuk memeriksa Kinan,jadi untuk membuktikan kebenaran feeling aku,kamu bawa Kinan periksa ke Dr.Elina," sahut Dr.Andi.


"Ayo Sayang,kita periksa keruangannya Dr.Elina," Zidan menarik tangan Kinan dan membawanya keluar dari ruangan Dr.Andi.

__ADS_1


Dr.Andi hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya.


Sesampainya didepan ruangan Dr.Elina ternyata Dr.Elina sedang menerima pasien dengan tidak sabarannya,Zidan langsung masuk tanpa mengetuk pintu dulu.


"Dr.Elina.." seru Zidan.


"Dr.Zidan,ada apa Dok?" tanya Dr.Elina kaget.


"Pasien anda bisa menunggu dulu diluar sebentar," seru Zidan.


"Oh,maaf Bu bisakah diperiksanya nanti dulu Bu soalnya atasan saya sedang ada urusan penting,nanti saya panggil lagi," seru Dr.Elina.


"Baik Bu.Dokter."


"Mari silahkan duduk Dr.Zidan dan Bu Kinan,ngomong-ngomong ada apa ya Dok?saya jadi kaget."


"Tolong periksa istri saya,apakah benar istri saya sedang hamil?" seru Zidan.


"Oh..silahkan Bu naik keatas kasur pasien saya periksa sebentar."


Kinan pun menurut,Dr.Elina mulai memeriksa Kinan.


"Kapan terakhir Ibu menstrulasi?" tanya Dr.Elina.


"Kayanya bulan kemarin deh dok," jawab Kinan.


Dr.Elina pun kembali memeriksa Kinan dengan serius.


"Sudah Bu,silahkan Ibu Kinan bisa duduk kembali," serunya.


"Bagaimana Dokter?" tanya Zidan penasaran.


"Selamat Dok,Ibu Kinan memang saat ini sedang mengandung dan usia kandungannya menginjak usia lima minggu," seru Dr.Elina.


Kinan dan Zidan sangat terkejut,apalagi Kinan dia menutup mulutnya dan terlihat menitikan air matanya.


"Aku hamil Sayang," ucap Kinan.


"Iya,kamu sedang hamil terima kasih Sayang," Zidan langsung memeluk istrinya itu,sementara Dr.Elina tersenyum dan ikut merasakan haru.


"Oh iya Dok,kenapa saya tidak merasakan mual seperti kebanyakan orang hamil malah suami saya yang merasa mual dan muntah-muntah," tanya Kinan.


"Itu tandanya yang ngidamnya bukan Ibu Kinan tapi Dr.Zidan,ada memang yang seperti itu tapi hanya beberapa persen saja dan Ibu Kinan harus bersyukur karena Ibu Kinan bisa makan-makanan yang bergizi tanpa merasakan mual," jelas Dr.Elina.


"Iya,tapi kasihan suami saya Dok," keluh Kinan.


"Tidak apa-apa Sayang,biarkan aku yang menderita yang penting kamu dan anak kita sehat," seru Zidan.


"Nanti saya beri vitamin buat Ibu Kinan,dan obat anti mual buat Dr.Zidan,Dokter tenang saja biasanya ini terjadi saat trimester pertama saja setelah itu akan kembali normal seperti biasa," seru Dr.Elina.


"Tidak apa-apa Dokter,yang penting istri dan anakku sehat,kalau begitu kita permisi dulu maaf sudah mengganggu praktek Dr.Elina," sahut Zudan.


"Sama sekali tidak Dokter,sekali lagi selamat dan semoga kandungan Ibu Kinan sehat."


"Terima kasih Dokter," sahut Kinan.


Kinan dan Zidan pun keluar dari ruangan Dr.Elina,sesampainya diluar ruangan tanpa diduga-duga Zidan langsung mengangkat tubuh Kinan dan membawanya berputar-putar.


Zidan tidak memperdulikan semua orang yang melihat kearahnya,saking bahagianya Zidan sampai meneteskan air mata.


"Hai kok nangis Sayang?" tanya Kinan dengan menghapus air mata Zidan.


"Aku bahagia banget Sayang,terima kasih sudah mengandung anak aku," ucap Zidan.


Kinan tersenyum dan memeluk Zidan...


Zidan membawa Kinan keruangannya,dan mendudukan Kinan disofa dielusnya perut Kinan yang masih rata.


Zidan merebahkan tubuhnya dan menyimpan kepalanya dipangkuan Kinan,Zidan memiringkan tubuhnya dan mencium berulang-ulang perut Kinan.


Kinan kembali tersenyum dan mengelus kepala Zidan.


"Terima kasih sudah menjadi suami dan calon Daddy yang sangat hebat buat kita," ucap Kinan.


"Aku sangat bahagia Sayang,Baby tumbuh menjadi anak yang sehat ya Sayang biarkan Daddy mu ini yang menderita yang penting anak Daddy dan Mommynya sehat," seru Zidan dengan masih menciumi perut Kinan.


"Iya Daddy," jawab Kinan dengan menirukan suara anak kecil.


Kinan dan Zidan sangat bersyukur,dibalik musibah yang menimpa keluarga Kinan terselip kebahagiaan yang sangat luar biasa.


🌷


🌷


🌷


🌷


🌷


Tetap setia menunggu kelanjutannya yaπŸ€—πŸ€—


Jangan lupa selalu tinggalkan jejak like,komen,dan vote sebanyak-banyaknyaπŸ™πŸ™πŸ˜˜πŸ˜˜


Mampir juga ke Novel terbaru Author yang berjudul "ABC (AMARAH,BENCI,CINTA)" ditunggu kehadirannyaπŸ™πŸ™πŸ€—πŸ€—


Jangan lupa


like


vote n


komen

__ADS_1


TERIMA KASIH


LOVE YOUπŸ’˜πŸ’˜πŸ’˜


__ADS_2