
Raditya POV
Udara malam di ibukota tetap hangat, matahari saja telah menghilang di ujung barat seperti ditelan bumi, tinggal terganti oleh cahaya bulan sabit yang remang remang karena terselimuti tipis oleh awan, selain itu tebaran jutaan bintang tak kalah menariknya di langit, hanya saja tak secerah bila langit membiru.
Memang diakhir akhir ini langit selalu tertutup awan, sehingga malam langit kehitaman sedang siang berwarna kelabu.
Aku menatap setiap sudut kamarku yang ada di lantai dua bersebelahan dengan kamar mas Raihan sedang Aliandra putri mas Raihan ada di sebelahnya.
" Malam ini aku janjian sama Kiara, untuk makan malam di luar, " Aku dengan Kiara telah menjalin hubungan selama 8 tahun, dan aku sudah mendesaknya bulan depan meresmikan hubungan biar tidak berlama lama pacaran.
" Mas, aku nyelesein kuliah dulu, " sanggah nya, aku sebenarnya sangat kecewa dengan penolakannya setiap kali aku mengajak menghalalkan hubungan, ia selalu beralasan kuliah diselesaikan dulu, paling tidak nunggu sekitar tiga tahun lagi karena ia meneruskan sampai S3 di Pert.
Aku keluar rumah dengan mobil yang paling keren dengan pakaian yang bisa mengubahku menjadi lelaki tertampan dan Kiara tentu tak akan kecewa melihat tampilanku, bahkan semakin lengket, sehingga ia tak lagi menolak pabila kudesak bulan depan menikah, di saat bulan di langit berbentuk sabit seperti malam ini.
Dengan langkah meyakinkan aku masuk mobil, lalu menyetir dengan kecepatan standar di tengah kota dengan jalanan yang padat merayap di malam akhir pekan ini, karena hampir semua orang di rumah ingin keluar, hanya untuk sekedar jalan jalan atau mencari hiburan di mall yang setiap malem minggu selalu mendatangkan penyanyi terkenal dari ibukota.
Satu jam di perjalanan karena terjebak kemacetan di jalan baru sampai ke rumah Kiara, dengan halaman luas serta rumah besar lebih besar dari rumah orang tuaku, memarkirkan mobil di halaman depan.
Dia anak satu satunya dari keluarga Pradipa, pendiri Pradipa Grup, dengan bisnis yang sudah sampai ke Amerika.
Aku disambut oleh Kiara yang malam ini terlihat sangat cantik, dengan dress berbentuk leher depan V, sedikit terlihat lekuk diantara model baju berleher V, serta lengan terbuka karena lengan bajunya ketat hanya sampai ketiak dan setinggi lutut, halus kulit serta wajah orientalnya yang menjadi ciri khas orang timur semakin mempesona, aku terpana memandang kecantikannya dengan mata yang tak bisa berkedip.
Aku minta ijin sama kedua orang tuanya, lalu menggandeng telapak tangan lembutnya. Tanganku mengambil remote di saku lalu membuka pintu.
" Kamu rindu masakan nusantara, kan, Kiara? " tanyaku diantara keheningan di dalam mobil, hanya nafas kami yang sedikit tidak teratur.
Aku belum tentu satu bulan sekali bertemu dengan Kiara, apalagi ia kuliah saat S1di Kalifornia sedang S2 di London dan S3 di Pert, dan nyaris kerinduan ku pada cewek yang kukagumi dan sulit terganti ini tak bisa terbendung.
" Kiara, Papa sama Mama sudah berembug tentang pernikahan kita," ucapku lembut, mobil kujalankan pelan, mata tetap mengarah ke depan.
" Mas, enggak kamu pikir dulu, aku saja baru beberapa bulan di Pert, kamu enggak nyesel setelah nikah ku tinggal paling tidak 3 tahunan, " ucapnya pelan.
" Kamu bisa setengah bulan sekali donk pulang, di Amerika dan Eropa saja kamu bisa sebulan sekali pulang, atau aku selalu mengunjungi mu, ok," jawabku panjang.
" Terserah kamu Mas, cuman jangan mengeluh nantinya lho, " ucapnya tegas.
__ADS_1
Sampai juga di restoran yang kami tuju, sesuai permintaan Kiara yang kangen makanan nusantara terutama Jawa. Bokongku naik beberapa cm dari kursi yang diduduki, saat tiba tiba lelaki pesaing ku ikut duduk satu meja, dan dengan sengaja Dio nama panggilannya duduk disebelah Kiara.
Dan cowok itu cinta pertama Kiara, yang sampai sekarang masih juga mengejar ngejarnya, cuman terhalang oleh restu orang tua, sehingga Kiara tak boleh nyambung dengannya.
Aku tak mau tahu alasan kedua orang tua Kiara tidak setuju Kiara bersama Dio, padahal ia lebih dari ku baik dilihat dari segi ekonomi maupun ketampanannya.
" Kia, kenapa kamu enggak ngabarin aku klo pulang?"tanyanya, matanya memelototiku dengan penuh kebencian.
" Dio, kemarin aku disuruh mendadak pulang," ucap Kiara, ia sesekali nglirik padaku ngerasa tak enak hati.
" Iya aku tahu, kamu kan, di desak terus untuk menikah dengannya," lirih ngomongnya, tetapi aku yang pasang kuping tentu mendengar kata katanya.
Kiara menunduk sambil mengorek orek nasi di piring dan Dio bangkit dengan menghantam meja, aku kesulut emosi, lalu berdiri untuk mengejarnya tetapi tangan halus Kiara menggenggam tanganku.
" Mas, sudah jangan kesulut emosinya, dia akan bangga lho kalau kamu terpengaruh olehnya, ia kan, sedang nunggu perlawanan mu," aku duduk dengan dada bergemuruh menahan emosi yang meledak ledak, dan makanan yang tersaji di meja tidak lagi menarik bagiku.
" Emmm, benarkah ucapan Kiara? bisa jadi Kiara mengulur pernikahan denganku karena Dio, dan aku bisa nebak kalau Kiara masih mencintainya," gumanku.
Malam sudah sangat larut, kami menyudahi luapan kerinduan di restoran yang di sambung di rumahnya, lalu aku mohon diri.
Entah perasaan apa yang berkecamuk di dada, aku rasanya ingin melajukan mobil dengan kecepatan tinggi, kebetulan jalan tak sepadat saat berangkat, sampai mobil sulit dikendalikan, tetapi aku masih memiliki kesadaran, saat berpapasan dengan mobil yang menyalakan lampu jauh.
Dari pada aku menghantam mobil depannya yang berkecepatan tinggi juga, ku belokkan kekiri.
Braaaaakkkk
Dan aku sudah tidak ingat lagi, tahu tahu kedua kakiku tak bisa untuk berjalan.
Aku harus berada di kursi roda, yang dinyatakan kedua tulang kakinya patah.
Dengan kondisi yang tidak bisa berjalan, aku sangat tergantung pada bantuan orang lain, sementara Kiara tak mungkin mau merawatku.
" Mas, kalau pernikahan kita bulan depan tetap dilangsungkan, tentu aku merasa berdosa karena aku tidak bisa merawatmu," pesan Kiara, yang telah berada di Melbourne.
" Kia, aku butuh di rawat perempuan kalau masih muda akan ku nikahi sampai aku sembuh dan bisa berjalan lagi, biar lebih tenang di hati karena yang merawatku nanti banyak bersentuhan dengan tubuh ku. Kia aku kasihan sama Mami setiap hari harus merawatku," pesan ku.
__ADS_1
Kiara hanya membaca, dan tidak membalas pesan ku, sampai dua hari tidak juga membalas, aku berpikir ia sangat marah dengan ideku, sampai aku tidak memiliki keberanian kirim pesan maupun telfon, hanya sekedar untuk minta maaf.
" Mami, maafin Raditya, selalu merepotkanmu," aku menangis dipelukan Mami.
" Mami, ikhlas yang penting kamu cepat bisa jalan kembali, Le, kamu jangan kecewa ya, Kiara menggagalkan pernikahanmu," aku tersentak, terasa sakit di dalam dada.
" Mi, aku harus tetap menikah," dan aku menceritakan niatnya, sesuai pesan yang kukirim pada Kiara.
Saat itu juga Mami seperti berpikir.
" Ok, pernikahan sesuai permintaan mu tetap di laksanakan, aku punya calon, insya Allah cewek ini ikhlas merawatmu, dan kamu tidak perlu khawatir, cewek ini mahasiswinya Mas kamu Le, yang selalu bikin kesal Mas Raihan, tapi kamu jangan cerita ke Raihan ya, nanti ia tentu akan menolak," cerita Mami.
" Apa dia mau Mi, menikah sementara?" ucapku.
" Ya nanti dicari cara, dia anak kampung, kuliah katanya cari bea siswa, " ucap Mami, akupun pasrah yang penting ada yang merawat.
Hari terus berganti, dan sudah genap satu bulan berada di kursi roda.
Sesuai rencana tanggal yang ditentukan pernikahan tetap di langsungkan.
Tadi malam aku sempat melirik pada calon istri yang telah dirias di ruang tengah, saat kursi roda berderit mendekati cewek yang tertunduk, sempat terjengit tubuhku.
" Ia sangat cantik, seperti ada keturunan gadis dari negara yang terkenal dengan para wanita cantik, ia yang belum kutahu namanya lebih cantik dari Kiara, tetapi aku masih tetap mencintai Kiara, walau sampai sekarang ia tak mau membalas pesan atau mengangkat telpon ku, tetapi kedua orang tuanya tetap baik padaku, " gumanku sepanjang aku di dorong menuju ke ruang tamu.
Dan benar kata Mama, Ayana nama yang sangat indah, dia semalam merawatku dengan penuh keikhlasan, tetapi aku masih tetap mencintai Kiara.
Dan pagi ini aku mulai kembali dirawat oleh Ay, kini hatiku terasa adem, karena Ay nama panggilannya, dengan sangat cekatan merawatku, katanya ia di kampung terbiasa merawat seorang anak yang kondisinya kayak aku.
" Tuan, aku mau mandi dulu ya, jangan ke kursi roda kalau enggak ada aku, " tandasnya dengan nada memerintah.
" Enak saja kamu ngomongnya, kamu itu yang harus ku perintah, bukan aku, tahu, " bentak ku, dia ngerajuk sampai mundur selangkah.
" Iya Tuan, tapi tadi kan, yang aku omongin demi kebaikan mu, " dia melangkah cepat ke kamar mandi, seperti tak mau mendengar bentakkanku lagi, karena pintu kamar mandi langsung ditutup rapat.
Ceklek ceklek, suara kunci pintu kamar mandi dua kali, aku menyunging senyuman.
__ADS_1