
Ayyana POV
Mobil mobil di basement tertata rapih, dan tempat parkir yang luas, menjadikan mobil tamu bisa tertampung, seperti mobil Pak Raihan, yang tentunya sudah punya kartu kunjung, sehingga tak kesulitan apabila datang ke apartemen. Sebab seperti Paman tadi pagi, karena tidak punya kartu kunjung maka harus menunggu aku pulang.
Hati yang tak nyaman sejak di kantor Raditya, semakin bertambah setelah tahu Pak Raihan ada di belakang mobil yang ku stir.
Bingung, resah hati menghadapi dua saudara yang selalu tak mau menjauhiku.
Seperti Pak Raihan, beliau selalu punya kesempatan mendekatiku saat di kampus, setiap hari ada ada saja cara untuk mendekatiku, walau tak memberi kuliah di kelasku, dan yang kutahu beliau selalu memberi kuliah disebelah ruangku bila tak masuk kelasku, sehingga setiap hari bisa mendekatiku, biasanya mengajak jalan bareng atau sekedar ngomong ngomong kosong.
Seperti kemarin siang, kelas ku keluar, lalu tahu tahu beliau sudah berada di sebelah ku.
" Ayy, sudah enggak ada kuliah nanti? " tanyanya, aku sempat terjengit karena berjalan mepet padaku.
" Oh Pak Raihan, iya Pak ini terus pulang, " jawabku agak gugup, kegugupan ku bukan berarti ada hati padanya tetapi karena Rosa serta teman lainnya menyingkir, seolah memberi kesempatan pada Pak Raihan untuk bersama ku.
" Ayy, aku siang ini tak bawa nasi, tolong anterin nasi, " beliau memang tak pernah mengajakku makan di luar saat tak membawa nasi, bukan karena tak mau keluarkan uang, cuman beliau tahu kalau aku diajak makan diluar tentu menolak atau aku akan mengajak Rosa serta teman lainnya, yang pernah kulakukan saat beliau mengajak makan di luar.
Aku yang lagi ber flashback, sambil tangan tak melepas stir juga hati bingung menghadapi dua saudara, agak rileks setelah tangan kekar lelaki sebelah meremas jemariku.
" Mas... " ucapku tak meneruskannya, mata ini melirik wajah pria di samping, sedemikian gugup sebab mata dengan manik manik hitam tak kedip memandangiku.
Dan aku bersyukur setelah turun dari mobil lalu berjalan menuju lift, dua bersaudara itu menunjukkan kedewasaannya, sampai di lift tambah jantung ini detaknya tak beraturan, dengan keberadaan Dania di dalamnya.
" Kebetulankah atau dia telah tahu kedatangan kami berempat? " tanyaku di hati, mungkinkah ini keberuntungan buatku? karena paling tidak akan mengurangi perseteruan kakak beradik.
Raditya sesekali kulihat juga tak begitu suntuk setelah ada Dania, yang kudengar ia punya apartemen disini, cuman aku belum tahu dilantai serta nomernya.
Dan karena Pak Raihan belum makan siang, aku yang telah menyiapkannya, menyilahkan untuk menuju meja makan bersama dengan Dania.
Yang membuat hati dongkol, Dania bicara tak mengenakan.
" Kok bisa ia bicara klo makanan ada racunnya, " batinku kesal.
" Uuuummm, dasar wanita selalu sirik, harusnya berterima kasihlah, paling tidak bisa makan bersama dengan lelaki yang sedang dikejar kembali," gumanku lagi, sempat mata ini melirik kesal pada bundanya Liandra.
" Hai wanita tak jelas asal usulnya, masak sih lauknya cuman dua macem saja, bukankah kamu di kasih uang untuk nyediain makan kita disini, " celoteh panjang dengan nada lirih ditelinga ku.
" Dasar, wanita songong, apa lu enggak lihat lauk yang lain, bagi aku itu udah cukup banyak," kesal juga dengan bicaranya yang selalu menganggapku rendah dimatanya.
Kami saling cemooh dengan nada lirih, berharap kedua lelaki bahkan Liandra tak dengar, tentu dipihakku tak merasa enak hati pada ketiga manusia itu, apalagi Pak Raihan sama Raditya bisa juga menutupi hati dari rasa kesalnya, mereka terlihat biasa, walau aku tahu saat baru bertemu di basement keduanya merajuk, bahkan wajah mereka terlihat jelas mengeras, seperti Raditya, ia menggenggam kencang telapak tangannya, menurutku untuk menahan kesal.
Aku menjauh dari Pak Raihan serta Dania yang sedang menikmati makan siang, lalu bergabung dengan Raditya yang lagi bercengkrama dengan Liandra di sofa.
" Mas, mau minum jus?" tanyaku setelah bokoong ini didudukkan ke sofa di sebelah Liandra.
" Boleh, " matanya menatapku lembut dengan bibir menyungging senyuman, dan Liandra juga memintanya.
__ADS_1
Aku menuju ke dapur mendekat kulkas untuk ambil jus alpokat dengan hanya dikasih gula dikit.
Dan tak lupa menawari Dania juga Pak Raihan, kemudian aku sibuk menuangkan jus dari tupperware ke 5 gelas kecil, dan meletakkan ke meja makan depan Dania maupun Pak Raihan, yang tetap membisu menikmati makan siang.
Sementara Liandra ikut bantu membawakan gelas yang ia serahkan pada Raditya.
" Oom, nich tadi pagi Liandra ikut buat jusnya, " ucapnya dengan tersenyum, terlihat dekik kedua pipinya yang halus.
" Enak enak, jago juga nich kamu, kayak tante Ayyana, " sanjung Raditya tersenyum.
" Iya donk, abis pingin kayak tante Ayyana, " jawabnya tertawa riang.
Kedua orang mantan suami istri telah menyudahi makan siang, lalu Pak Raihan hanya duduk sebentar terus keluar.
" Aku mau merevisi materi untuk ngasih kuliah siang ini, " alasan beliau cepat pamit, cuman aku melihat matanya memerah juga wajahnya mengencang seperti nahan kesal.
Dengan langkah tergesa Pak Raihan menuju pintu, tanpa mempedulikan panggilan Dania, beliau hanya mencium pipi chubby putrinya.
" Ayah berangkat dulu, jangan bikin repot tante Ayy, nanti ke kampus ikut tante Ayyana, " pesannya lembut. Putri kecilnya menyambut sangat riang dengan mencium punggung tangan Ayahnya.
Sementara Dania hanya mempedulikan Pak Raihan, tak sedikitpun tergerak untuk mendekat putrinya.
Lalu aku mendekati Liandra setelah kedua orang itu berlalu dari apartemen yang kutempati.
" Tante, aku ngantuk pengin tidur, " dan ku gendong tubuh gempal gadis kecil itu, untuk dibawa ke kamar, lalu direbahkan ke kasur.
Kutepuk bookoong gadis kecil di depanku, iapun memejamkan mata.
" Ayy, sudah tidur, kan, Liandra? " lirih ucapnya takut Liandra terbangun.
Ia meminta ditemani duduk di sofa.
Tertatih tatih ia kembali menuju ke sofa, dengan aku berada dekat di belakangnya.
" Ayy, aku tak suka klo kamu tak menolak mas Raihan datang kesini, " tandasnya dengan wajah dingin.
Aku menunduk dengan mulut terkunci.
" Kamu dengar enggak sih ngomongku, " tandasnya lagi.
" Iiiiya Mas, abis aku tak enak hati menolak," jawabku terbata, sementara aku tak punya keberanian menatap matanya.
" Ok, klo dia mau minta kesini, harus ada aku atau Dania, " tandasnya lagi.
Aku mengiyakan, lalu berpikir tentang keberadaan Dania disini ada sisi positifnya buatku, paling tidak Pak Raihan selalu di dampingi Dania, walau mulut Dania sangat pedes.
Seolah ada jalan untuk mengatasi Pak Raihan, tetapi aku tidak terus terlena dengan Raditya, masih banyak rintangan yang harus dihadapi.
__ADS_1
" Uuuhhh, jangan berharap lebih dengan Raditya kamu Ayy, kamu hanya diperlukan sebagai perawat, kalau itu dijadikan istri, kan, hanya sementara, " guman di hati, dan serasa perih teriris iris kalbuku.
" Ayy, setelah Mas Raihan pergi, kamu jadi diam, " tegor Raditya.
Aku terjengit dari lamunan.
" Eeee, anu Mas... " aku tak berani meneruskan ucapan, yang sebenarnya mau bilang terus terang cuman aku sadar posisiku.
" Anu apa Ayy? " desaknya.
Aku menunduk tak berani menatap bola matanya, takut menjadi semakin tersiksa oleh rasa cinta, karena dalam hati aku sedikit demi sedikit mulai belajar harus menjauh.
Aku memang merasa tidak mampu menghadapi rintangan tajam kalau harus tak melepaskan Raditya sesuai perjanjian awal.
" Enggak Mas, abaikan saja ucapan ku, " pintaku, dan ternyata ia tidak mau mendesak.
" Ok Ayy, aku juga ingin menikmati kebersamaan ini, tanpa ada masalah, " ucap Raditya, tangannya menarik tubuhku lalu meletakkan di dadanya.
" Ayy, dengerin donk detak jantung ku, " pinta nya lagi. Aku yang tak menolak rengkuhan Raditya, dengan menyenderkan kepala di dadanya, lalu berusaha mendengarkan irama detak jantungnya.
Detak jam dinding terus bergerak, aku terbuai dengan elusan jemari tangan Raditya, dan rasa berbunga bunga menjalar di hati, serta perasaan berdosa pun tidak mendera di kalbu, karena aku merasa sebagai istri yang syah, sehingga selalu menikmati kebersamaan berdua, cuman sejauh ini dia belum menuntut jauh agar aku melaksanakan kewajiban sebagai istri.
" Mas, sudah cukup lama bersama disini, mau ke kantor, kan? " ucapku lembut.
" Aku masih ingin menikmati kebersamaan dengan mu Ayy, " ucapnya, membuat anganku melambung tinggi.
" Tapi bentar lagi aku mau berangkat ke kampus, " tandasku pelan.
Aku sempat melirik ke jendela kaca di belakang ruang makan, langit mendung merata di siang ini.
" Mas, kayak mau hujan, " kataku lagi, dan terasa enggan tubuh ini lepas dari rengkuhannya.
" Ayy, ingin aku seperti ini terus, gimana klo kamu enggak brangkat ke kampus hari ini, " pintanya, berbunga hati ini mendengar ucapannya.
" Tapi, Mas, kan, harus menyelesaikan pekerjaan kantor, kali hari ini ada yang nyari juga, " kataku pelan.
" Ada Adnan, ia bisa merampungkan pekerjaan, " jawabnya, jemarinya ******* ***** telapak tangan ku lembut, hati ini semakin terlena pada buaiannya.
Tetapi selalu terlitas di otak rasa perih menyayat pabila ingat tentang pernikahan yang hanya sementara, membuat diri ini tak punya hak untuk bisa memilikinya.
Tapi tak jadi masalah, aku tetap akan ikhlas abis cinta ini sudah terlanjur merasuk hati, bahkan aku akan ikhlas kalau dia meminta haknya, walau aku harus menghadapi tantangan berat.
" Aku bisa saja diusir dari apartemen ini, sampai Raditya akan dikawal ketat agar tak bisa menemuiku, " batinku miris sebenarnya, hanya saja aku harus membuang semua bayangan menakutkan itu.
" Ahhh, harus ku tepis bayangan itu, serta aku percaya pabila menghadapi masalah nantinya tentu Allah akan memberi jalan kemudahan, " batinku.
Hati ini berbinar oleh elusan jemari Raditya di ujung kepala yang masih tertutup hijab.
__ADS_1
" Ayy, hijab mu dilepas dulu, kan, sudah tak ada orang dewasa yang lain, " pintanya, ia mengecup ubun ubunku.
Aku menuruti permintaannya, dengan hati ikhlas.