
Author POV
Anak anak kecil bermain dengan riang di kampung yang sangat jauh dari kampung lain, karena dibatasi oleh areal persawahan, kebun kelapa sawit juga hutan.
Bi Yeyen dengan suami serta anak laki laki hidup dari hasil sawit yang ditanam disekitar pekarangan, juga sejengkal sawah. Dia yang telah dapat kabar dari Calla bahkan terus dikirim uang setelah membalas surat Calla dengan membunuhi rekening, membuat hati bersuka ria.
" Pak, perlukah kita beli ponsel? " tanya Bi Yeyen dengan wajah ceria.
" Tidak perlulah, mending komunikasi pakai surat saja, nanti klo lewat ponsel kita tidak bisa kerja di kebun, hanya telfonan saja sama Calla, " ucap suaminya, yang dari awal punya ide untuk menyerahkan Calla pada orang asing, karena dapat imbalan yang lumayan banyak, apalagi Calla dari kecil sudah terlihat cantik kayak Ayyana. Oleh karenanya orang tua angkat Calla sangat suka, saat Calla baby diberikan padanya oleh bi Yeyen.
Bi Yeyen ingin bilang terus terang pada Calla kalau ia bukan ibu kandungnya, tetapi suaminya melarangnya.
" Kamu akan membuat Calla sakit hati, karena kitalah dia terpisah dari Ayyana, " ucap suami bi Yeyen, sorot matanya menerawang jauh ke masa lalu, dan hati kecilnya diliputi ketakutan apabila Calla maupun Ayyana menuntut secara hukum.
" Pak, baca donk surat Calla, dia malahan berterima kasih pada kita, dengan ia di adopsi hidupnya lebih layak," ucap bi Yeyen.
" Berarti kita kelak bisa beralasan, mengapa Calla diadopsi, tidak dirawat oleh kita, " ucap suami Bi Yeyen, hatinya tidak menciut lagi.
" Makanya mending kita sekarang terus terang saja, mungkin dengan keterus terangan kita, malahan Calla maupun Ayyana akan ingat kita, " ucap bi Yeyen sambil pegang surat dari Ayyana yang belum sempat dibales juga.
" Bu, sesuai permintaan Calla, kiriman uang ada yang disuruh untuk beli ponsel, " ucap Fahri anak lelakinya yang setiap hari bantu bapaknya kerja di kebun maupun sawah.
Orang tuanya setuju, maka Fahri disuruh ke konter satu satunya di kampung.
*
Calla sangat gembira ada chat dari orang yang mengaku Bu Yeyen, karena hati mulai diliputi kegusaran tiba tiba hampir bersamaan kabar tentang keberangkatan Ayyana ke UK.
" Calla, aku takut disalahkan oleh mu dengan menyerahkan pada nyonya Cornelia, dan sudah kukatakan berkali kali demi kesejahteraan mu, karena bila bersama kami, belum tentu bisa menyekolahkan kayak adikmu Fahri, ia harus kerja keras bantu bapaknya di kampung jauh dari keramaian, " chat dari Bu Yeyen.
Ia masih belum berani berkata sejujurnya, merasa belum siap karena oleh ketakutannya apabila Calla maupun Ayyana menuntut lewat jalur hukum dengan tuduhan penjualan anak dibawah umur.
" Iya Bu, berarti Fahri tidak sekolah? " tanya Calla, ia tak mau pakai chat tetapi video call, walau bi Yeyen awalnya sangat ragu serta takut mengangkatnya, bahkan hampir satu menit lebih ponsel tak mau diangkat baik oleh Bi Yeyen, Fahri maupun bapaknya Fahri.
Dengan jantung berdebar debar akhirnya bu Yeyen mengangkat telfon yang dibantu oleh Fahri, saat menyentuh gambar telfon warna hijau.
__ADS_1
Sementara Calla saat lihat bi Yeyen gembira tidak terkira sampai tubuhnya melonjak lonjak oleh luapan kebahagiaan.Tetapi setelah mendengar kalau Fahri hanya punya ijazah SD, Calla wajahnya berubah mendung.
" Itulah Calla, dengan kemiskinan kami maka yang saat itu nyonya Cornelia melihat kecantikan mu tertarik untuk mengadopsinya, dan saat itu kami sempat pikir pikir, tetapi demi kesejahteraan mu kami dengan berat hati menyerahkannya, dan kami percaya kalau orang tua angkat mu sangat baik, " cerita bi Yeyen, matanya berkaca kaca melihat Calla tumbuh menjadi gadis cantik juga modis.
" Oh ya Bu, jangan sungkan kalau butuh dana asal sesuai kemampuanku, karena kami disini orang tua angkatku bukan orang kaya, " ucap Calla di depan benda pipih.
Ternyata Bi Yeyen sekeluarga tidak mau memanfaatkannya, karena mereka tidak ingin berurusan dengan masalah hukum.
" Calla, kami sekeluarga lihat kamu sehat sudah sangat senang kok, jadi tidak wajib kirim uang pada kami, kan, kami disini tidak kurang untuk makan, " ucap Bi Yeyen, suaminya mengangguk aguk tanda setuju dengan jawaban istrinya.
Dengan jawaban dari bi Yeyen maka Calla menjadi sangat iba, ia ingin tetap kirim uang setiap sebulan sekali.
Calla sebenarnya pengin tanya tentang Ayyana yang mengaku ngaku kakak kandungnya pada bi Yeyen, tetapi lidah masih terasa kelu, apalagi Calla sedang berbahagia bisa menemukan bi Yeyen yang oleh Calla dianggap ibu kandung, maka ia tidak mau hubungan yang baru saja terjalin menjadi beban pikiran bu Yeyen sekeluarga.
" Aku tidak perlu cerita tentang Ayyana yang telah memberitahuku kalau bu Yeyen bukanlah ibunya, karena aku lebih percaya pada bu Yeyen, " batin Calla, berusaha membuang jauh jauh tentang cerita Ayyana.
" Cuman yang jadi pemikiran ku, kenapa kok Ayyana mempengaruhku, klo mengincar materi dariku jelas kecil kemungkinannya abis Ayyana mobilnya bikinan Eropa, yang di Indonesia harganya sangat mahal, belum lagi hidup di apartemen sangat mewah, bahkan perabotan kulihat sangat mewah juga, " batin Calla.
" Aku tak habis pikir dengan Ayyana, ada motif apa ia ngaku aku sebagai adiknya? " pertanyaan dihati Calla masih sulit terjawab.
Sementara Ayyana ke Bandara ikut mobil Rosa yang akan ke UK bersama kedua orang tua, dan ini pengalaman pertama baginya naik pesawat, apalagi langsung klas bisnis yang sangat nyaman bagi dirinya, sehingga selama diperjalanan yang memakan waktu hampir separoh hari tetap nyaman.
Ia sudah bisa menata hati untuk tidak gelisah selama diperjalanan di angkasa, yang duduk bersebelahan dengan Rosa, dia langsung tertidur nyenyak, kalau Ayyana belum bisa tidur, padahal kursi bisa distel, dia sedang menikmati angan angannya akan bertemu kedua kakaknya serta yang mendebarkan hati tentu bisa ketemu dengan adiknya Calla.
" Ayy, aku percaya banget klo Calla adikmu, dia mirip. dengan kamu dan tak ada mirip miripnya dengan Bi Yeyen, " chat Hanifah kemaren waktu berada di Jakarta.
" Iya mba, aku juga percaya itu adikku, cuman belum 100%, terkecuali klo sudah test dna, " balasnya kemaren juga.
Lalu ia angan menuju ke Calla yang sempat nomer ponselnya di blokir, dan Ayyana sampai gonta ganti nomer hanya untuk bisa berkomunikasi dengan Calla.
" Calla kamu kok tidak percaya sama aku, insyaallah tidak ingin menjahatimu, murni dari hati sedang cari adikku yang bernama Calla karena sejak bayi terpisah dariku. Calla, hati ini tidak punya maksud cari keuntungan," batinnya dengan tidur meringkuk di kursi pesawat yang cukup besar dan super nyaman.
Walau raga lagi di angkasa tetapi kerasa sedang berada di sebuah taman yang penuh bunga la tulip bersama adiknya Calla juga kakak kakak angkatnya demikian orang tua angkat Calla, cuman sekarang sedang musim dingin, kira kira bunga bunga itu sebagai ciri khas negeri kincir angin bermekarankah?
Oleh karenanya Ayyana tidak merasakan jenuh selama belasan jam dalam perjalanan udara, tahu tahu pramugari memberi pengumuman bahwa tujuan penerbangan telah sampai, dan memberitahukan kalau pesawat akan landing, lalu pramugari memberi pengarahan pada para penumpang.
__ADS_1
Hati Ayyana bermekaran, apalagi ini kunjungan pertama di London di musim dingin lagi, yang tak pernah ia lihat selama hidup, sehingga ia membayangkan saat turun dari pesawat mata ini disajikan oleh pemandangan hamparan salju, bayangannya alam yang akan dilihatnya semua putih.
Masih belum begitu malam saat sampai di Bandara yang telah dijemput oleh Hanifah serta Marwah, kedua saudara angkatnya tak mampu mengedipkan mata, karena adik yang hampir satu tahun lebih tidak pernah ketemu langsung, berubah 180°.
" Ayy, luar biasa kamu, semakin tambah cantik, " kedua kakak adik memeluk erat tubuh Ayyana demikian sambil meluapkan tangis bahagia.
Lalu bertiga berpisah dengan keluarga Rosa untuk menuju apartemen.
" Mba, ngapain diundur nikahnya, masih ingin tidak terikat hidupnya?" tanya Ayyana setelah berada di apartemen, tentu ia sangat bersyukur bisa berkunjung ke UK karena materi yang diberikan oleh Raditya.
Sempat terlintas di otaknya tentang Raditya.
" Uuummm, andai pernikahanku dengan Raditya merupakan pernikahan yang bukan sementara tentu selalu bisa menikmati kebahagiaan berdua di negeri in, " batin Ayyana yang saat di perjalanan dari bandara, menuju apartemen matanya diarahkan keluar lewat jendela kaca, untuk menikmati pemandangan berupa hamparan salju, putih berkilau oleh pantulan lampu lampu jalan.
Hanifah serta Marwah membiarkan kekaguman Ayyana pada negeri yang baru diinjaknya.
Tentang pertanyaan Ayyana telah dijawab oleh Ayyana sendiri, maka Hanifah hanya mengiyakan.
Drrrtt drrrtt
" Uuuppps, Raditya menvical, " batin Ayyana dengan sangat gusar, ia berusaha menyingkir dari kedua kakaknya, yang sampai sekarang belum tahu tentang status dirinya menjadi istri dadakan dari seorang CEO, lalu dengan gerak cepat memasang headset, sebab masih belum ingin rahasianya kebongkar.
Kedua kakaknya memperhatikan ketidaknyamanan Ayyana.
" Ayy, kami tahu diri donk, silahkan saling kangen kangenan sama dia nya, " canda Hanifah lalu menjauh, demikian Marwah.
Keduanya mengira kalau Ayyana sudah punya kekasih.
" Kak, aku percaya Ayyana banyak yang menyukainya," bisik Marwah, matanya memandang kagum kecantikan alaminya.
" Ternyata mirip, banget sama Alena, dan aku percaya 100% klo mereka kakak adik," ucap Hanifah, matanya tak kedip memperhatikan Ayyana.
" Sebenarnya tanpa test dna sudah bisa kita tepak klo Calla baby yang terpisahkan dari Ayyana, " ucap Marwah. Hanifah mengangguk.
Suhu diluar yang begitu dingin, bahkan salju menutup semua permukaan menjadikan lingkungan apartemen sangat sepi, semua orang cenderung betah berada di dalam yang lebih hangat.
__ADS_1