Bukan Aku Yang Jadi Istrimu

Bukan Aku Yang Jadi Istrimu
Episode 24 Terjadi baku hantam


__ADS_3

Ayana POV


Tengah malam sangat senyap, terdengar suara cicak bersautan yang sedang merayap di dinding kamar Aliandra.


Aku yang duduk disisi ranjang sebelah kiri sambil bersender disandaran bed sesekali menekan dada, karena terasa ada yang mengganjal, sehingga untuk bernafas saja sangat berat.


" Tidur Ay," Pak Raihan bangkit dari kasur, lalu keluar kamar.


" Bug bug, " aku terkejut demikian pula Mami, langsung kami menghambur ke pintu kamar, Mami langsung menutup pintunya, aku berpikir juga agar Aliandra tidak bangun dan tahu kakak adik sedang saling berantem.


" Mas, cukup, semuanya bisa di komunikasikan, " kataku, sambil melerai kakak adik yang saling memukul wajah, dari hidung Pak Raihan juga mas Raditya sama sama keluar darah.


Mami menjerit lirih sambil berpegang dada.


" Itu semua gara gara kamu, wanita gila, yang berkhayal jadi istri Sultan, ngaca donk kamu tuh siapa? tak selevel dengan kami.... " Kiara yang menyusul di ruang tengah berusaha menyeret tanganku yang sedang memegangi tubuh mas Raditya karena mau di dorong oleh Pak Raihan.


Kuping ku tebalkan, karena nomer satu keselamatan mas Raditya yang kakinya juga hampir kena tendangan kaki Pak Raihan, cuman buru buru aku menubruk kaki mas Raditya, sehingga Pak Raihan tak jadi melayangkan kakinya.


" Mas, kok jadi begini sih, " aku berdiri dan memeluk pinggang mas Raditya seperti yang biasa ku lakukan, disaat membantu meletakkan bokong ke kursi roda atau mau berdiri.


" Abis aku enggak rela kamu bersama nya, " ucapnya, pucuk kepala ku di kecupi lembut dan Kiara melihat nya semakin meradang sedang Pak Raihan kudengar menarik nafas keras keras lalu ia menendang hiasan keramik yang ada di pojok ruang.


" Krompyang,"aku langsung melepas pegangan ke pinggang mas Raditya, dan melihat pecahan keramik berserakan.


Mami memegang dada sehingga aku lari mendekatinya, rasa takut menghantuiku, kalau Mami sakit jantungnya.


" Mi, maafkan aku, membuat keluarga menjadi kacau, " aku memeluk erat tubuh wanita setengah abad ini, dengan deraian air mata, sedang aku sudah tak mempedulikan hinaan dari Kiara.


Kuelus elus punggung nya.


" Mami, aku nurut saja kata Mami," kataku dengan memeluk erat tubuhnya.

__ADS_1


Tapi sanggupkah aku menjalaninya? aku tidak tahu kata kata yang barusan keluar dari mulut, benar benar keluar dari hati atau hanya sekedar menenangkan hati Mami, bahkan mungkin karena terbawa oleh perasaan Mami saja.


Hanya saja aku tak menyesali diri dengan perkataan semacam kesanggupanku untuk menuruti kata kata Mami, karena membuat Mami tidak lagi berduka terlalu berlebih, walau aku tahu matanya berkali kali ngelirik pecahan guci keramik yang tentunya harganya untuk ukuran kantongku tidak akan terjangkau, apalagi beli ke negeri langit.


Papi juga terbangun, beliau tertegun dengan keributan keluarganya, karena semua bermula dari kedatanganku.


Beliau kulihat mengerutkan kedua alisnya, sehingga wajahnya menjadi merengut, aku menjadi sangat gusar dengan sikap Papi.


" Benar kata Kiara, aku seharusnya tidak bermimpi masuk kedalam keluarga sultan, " gumanku.


Detak jam dinding telah menunjukkan waktu dini hari, hanya saja belum ada yang beranjak dari ruang keluarga kecuali Pak Raihan yang telah naik ke lantai 2 menuju kamarnya yang berada diatas kamar mas Raditya.


Kiara masih menunjukkan kegeraman nya padaku.


Aku mengajak Mami tidur dan hanya mengantarkan sampai di depan pintu kamar, lalu beliau masuk bersama Papi ke kamar, dan aku menuju kamar Liandra tanpa memperhatikan Raditya serta Kiara yang masih duduk di kursi.


" Ay, " aku diam saja, hanya duka lara yang menyiksa di hati ini, apalagi Kiara memamerkan kemesraan.


Pagi menjelang.


Setiap kali perih ini menjalar di hati, mulut tiada henti membaca bacaan bacaan yang aku hafal dan tidak terhitung bacaan surah agar hati ini selalu dekat dengan Nya ku lafalkan, sampai akhirnya mataku mampu terpejam, walau matahari telah menampakkan diri.


****


Raditya POV


Rasa sakit di hati dengan kata kata kakakku kalau aku ingin menguasai Adiwangsa grup tidak terelakkan.


Kalau ingin menguasai sekalian dengan Pradipa grup juga, untuk itu tak perlu aku lebih memilih Ayana sebagai pendamping hidup.


Kali justru aku yang dijadikan mesin produksi penghasil uang, kakakku tinggal menerima separuh hasilnya, apalagi kalau Pradipa telah bergabung, ia akan mendapat tambahan kembali.

__ADS_1


Sementara aku telah membuka cabang di sebelah barat dan timur kota ini, padahal itu dari uangku sendiri, kakakku juga minta bagian sama, dan aku tidak memprotesnya, karena aku tahu tentu kedua orang tua akan memihak pada Mas Raihan.


Malam ini setelah keributan berhasil dinetralisir oleh Papi, aku masuk kamar yang diikuti oleh Kiara, walau kami belum menjadi pasangan resmi tetapi bagi Kiara yang biasa hidup di luar negeri tak pernah ambil pusing.


Tetapi jangan dikira setelah berada di kamar otak ini tenang.


Hati ini sangatlah terluka membuat dadaku bergemuruh keras setelah dengan terang terangan Mas Raihan menghendaki Ayana menjadi pengganti Dania yang kutahu dia sangat mencintai, bahkan minggu kemarin saat Dania datang menjemput Aliandra, Mas Raihan masih saja mencuri pandang padanya.


Tuduhan Mas Raihan padaku, dapat saja terbalik, aku malah berpikir, bisa jadi Ayana dijadikan pelampiasan balas dendamnya pada Dania.


Aku tak rela itu, bila Ayana jadi korban Mas Raihan, karena yang pernah kulihat Mas Raihan beberapa kali di dekati mahasiswinya, lalu mau jalan bareng tetapi berakhir dengan keributan, karena Dania melabrak nya, akhirnya mereka mundur.


*


Di kamar otak tak bisa diam, Kiara melampiaskan kemarahannya padaku, dengan ancaman yang biasa diutarakan, sebenarnya aku tidak takut kalau Pradipa grup tak lagi membantu atau saham saham nya mau di cabut, apalagi selama aku menikahi Ayana produk dari pabrik Adiwangsa semakin besar peminatnya, sehingga dalam jangka 5 bulan berhasil mengeruk keuntungan berlipat lipat.


Dan tidak menyayangkan kalau setiap bulan memasukkan ke buku rekening Ayana sepertiga hasilku, dan yang ku tahu Ayana tidak pernah menggunakannya, sepertinya bahkan tidak pernah dilihat untuk dicetak, karena ia setiap bulan juga telah di kasih uang tunai baik oleh ku dan Mami dengan alasan untuk beli bensin dan lainnya.


" Mas, aku sudah di kasih banyak oleh Mami, ini juga sangat besar lho Mas, " aku jadi ingat setiap bulan kalau di kasih uang selalu menjawab begitu, atau berkata,


" Uangnya masih banyak yang bulan kemaren, " biasanya ia sambil menunjukkan segepok uang.


" Nich Mas, uang ini bisa untuk beli tanah di belakang rumah paman ku, " ucapnya dengan bibir mengerucut, aku jadi gemes kalau lihat wajah cantik dengan bibir yang dimanyunkan, walau selama ini aku hanya mampu mengecup puncak kepala bertutup hijab, abis ia belum bisa kusentuh disamping aku juga masih belum punya keberanian untuk mengakui hatiku padanya.


Sampai detik ini aku masih diam, hanya untuk sekedar mengakui cinta padanya, lidah terasa kelu, bodohnya aku ini yang hanya bisa mengharapkan keajaiban tanpa aku mau memperjuangkan dengan tindakan maupun pernyataan.


" Mas, otakmu sudah terbalik, tidak mengira akan kayak gini Mas jadinya, selama ini aku berusaha setia padamu, malah kamu menghianati ku, " tiba tiba suara melengking terasa menyakitkan di gendangan telinga ini dari wanita cinta pertama ku yang tidak pernah mempedulikan kondisi ku, Kiara selama aku tak mampu berjalan tidak pernah membantuku seperti Ayana, bahkan saat aku menginap di rumah sakit ia hanya menengok saat aku tak sadarkan diri, selanjutnya ia tidak pernah datang, itulah aku memutuskan untuk meminta pada Mami agar dicarikan cewek untuk merawatku dengan syarat aku nikahi yang di dukung oleh Kiara, lalu Kiara menggagalkan akad nikahnya dengan ku.


" Mas, kamu sudah enggak mau menyentuh diriku? " Kiara tak akan diam, walau emosi memuncak ia melakukan serangan serangan yang membuat pertahanan lelakiku runtuh, sehingga akupun ambrug yang membuat Kiara lalu tertidur pulas.


Dan ia sama sekali tak tahu aku keluar kamar, berniat masuk ke kamar Liandra yang setiap malam ku lakukan hanya sekedar duduk disisi ranjang Ayana lalu mengelus pucuk kepala, tentu Ayana akan membuka mata dan tersenyum tetapi ia akan menutup mulut dengan telapak tangannya, lalu bangkit menuju kamar mandi.

__ADS_1


Dan malam ini saat aku sudah berada di depan pintu, di kagetkan oleh keluarnya Mas Raihan, tanpa kata terucap dari mulutku, tangan ini meninju mukanya.


Akhirnya kami saling meninju, bahkan kakakku sadar atau tidak, ia mau menendang kakiku, lagi lagi Ayana yang mempedulikan keselamatanku, padahal ada Kiara, ia bisanya memojokkan ku saja.


__ADS_2