
Author POV
Ayyana di apartemen berkali kali di hubungi Calla yang mendesak untuk di kasih alamat Bi Yeyen.
" Ayyana, kalau kamu tidak kasih alamat Bu Yeyen, tak perlulah kita bersahabat, dan jangan berharap bisa menemuiku saat kamu ke negeri Belanda, apalagi berniat untuk test dna, " ancam nya di telfon, Ayyana yang tak mau kehilangan Alena atau Calla sempat di otaknya terlintas akan dikirim alamat Bi Yeyen.
Sebenarnya Ayyana sudah kirim surat satu pekan lalu, pada alamat yang diberikan oleh aparat desa tempat domisili bi Yeyen, cuman sampai hari ini belum ada balasan dari bi Yeyen, ia setiap hari menunggu balasannya.
" Calla, tunggu dulu balasan surat dari Bi Yeyen, insyaallah klo sudah ada balasan aku beri alamat, " akhirnya yang keluar dari mulut kata kata itu.
" Jangan jangan kamu akan membohongiku, kali mau minta imbalan, ok akan aku kirim sebesar yang kamu minta, setelah memberi alamat, " suara Calla disana, dengan nada kenceng, dan selalu menarik nafas dalam.
" Aku tidak meminta imbalan Calla, hanya khawatir saja padamu, kalau telah dapat alamat bi Yeyen, kamu dijadikan ladang pengadaan dana," ucapnya yang sering juga dikemukakan.
" Memang tujuan ku ingin kirim setiap bulan, karena aku takut beliau kekurangan, dan fillingku ibuku hidupnya serba kurang, maka aku sebagai anak ingin membalas, " suara kesalnya kentara ditelinga Ayyana, sampai Ayyana ingin menyerah untuk memberikan alamat bi Yeyen.
Dan ia terus mendesak sampai mau memblokir nomer Ayyana, karena ketakutan tidak bisa nyambung dengan Calla yang dianggap adiknya walau belum 100%, Ayyana kirim alamat bi Yeyen.
Ayyana di kamar mewah hanya bisa memandang langit yang tertutup awan putih, sambil bersandar di senderan tempat tidur, ingin waktu cepat berlalu agar secepatnya ketemu dengan Calla.
Kebetulan ia sudah cerita kemaren pada Raditya, yang tidak keberatan kalau Ayyana menemui untuk datang ke negaranya.
Sementara Kiara telah diberitahu oleh Dania kalau Raditya tetap berhubungan dengan Ayyana, membuat dada terasa panas sampai ia tidak fokus pada kuliah.
" Uuupps klo gini kuliahku bisa bisa terhenti di tengah jalan, dan aku tak akan rela bila Ditya yang sudah sembuh kakinya masih tetap berhubungan dengan si wanita culun, aku harus mencegahnya, " guman Kiara terus mondar mandir di kamarnya dengan hati kesal.
" Terpaksa aku harus ke Jakarta, lalu berembuk dengan Papi, untuk mencari solusi tentang Raditya," guman nya kembali.
" Dasar wanita tak tahu diri, sudah diberi fasilitas mewah, agar menjauh, eee malah memanfaatkan kesempatan disaat aku tidak bersama Raditya, ternyata wanita yang sok lugu, punya niat jahat, si culun ingin menguasai materi yang dimiliki oleh Raditya, " batin Kiara dengan mengedan karena meluapkan kekesalan hati.
" Hmmm, ok sekarang kamu lagi menang bisa mendapat perhatian Raditya, tetapi tunggu permainananmu itu, " masih saja Kiara mengukir segala kata kata di hatinya.
Dan karena Kiara sudah semakin tidak bisa menahan rasa geram, iapun menghubungi Papi di Jakarta.
__ADS_1
" Pih, tolong cari solusi untuk masalah yang kuhadapi ini, " chat Kiara, ternyata yang selama ini dia tidak bisa menangis, kini matanya mulai berkaca kaca, lalu ia merebahkan tubuh di kasur terus menengkurapkan tubuhnya dan melelehlah air mata di batal.
Kadang terlintas di otak tentang Dio, yang terus menunggu, cuman restu orang tua masih sulit di dapat baik orang tuanya maupun orang tua Dio.
Sebenarnya Dio dalam sehari bisa menghubungi baik lewat chat maupun telfon paling sedikit 5 kali.
" Atau aku harus membuat Papi luluh hatinya pada Dio, demikian Papinya Dio?" terlintas diotak niatan untuk melobi pada Papi, tetapi ia belum mau cerita sama Dio, Kiara belum mau memberi harapan padanya.
Drrrt
" Ada chat dari Papi, " batin Kiara, tubuh ia balikkan lalu tangan meraih ponsel di nakas dekat tempat tidur.
" Ki, kamu harus percaya pada Raditya, tak mungkin ia mau melepaskanmu, bisa kucabut beberapa pasar yang ada di pulau lain, dengan cara produknya tak bisa diangkut pakai kapal barang kita donk, Ki, tenang kamu, Raditya tidak bisa main dibelakang kita, " hibur Papinya, senyum kemenangan merekah di bibir tipisnya.
" Ok Papi," hatinya tergoyah kembali tentang Raditya, karena ia sebenarnya cinta juga pada Raditya, tetapi hatinya bimbang dengan Dio yang ada hati juga, cuman lebih besar ke Raditya.
" Uuuhhh, cuman aku tak suka klo Raditya dengan kecacatannya banyak merepotkan ku," gerutunya.
Sementara Papinya Kiara agak terpengaruh pada chat Kiara, sehingga ia menyuruh seseorang untuk menyelidiki kebenaran berita dari Dania yang disampaikan oleh Kiara.
Sangat gampang apalagi Dania juga memberi tahu lokasi apartemen Ayyana, cuman Dania belum tahu kalau Ayyana memiliki pengawal.
" Mi, kita baiknya menghubungi orang tua Raditya, " ucap Zayn ayah Kiara.
" Jangan dulu Mas, kita jaga hubungan baik dengannya, " jawab istrinya yang lebih bijak.
" Tapi De, aku merasa dihianati, abis banyak bantuan yang kita berikan, ternyata ia akan nusuk dari belakang, "ucap geram Zayn.
" Kali kalau itu terjadi bukan rejeki kita Mas, " jawabnya hati hati.
" Kamu sukanya enggak ndukung sama aku De," kesal Zayn dengan sikap santai istrinya.
" Kamu itu tinggal menikmati enaknya lho, jadi enggak ngrasain perihnya perjuangan untuk meraih sukses kayak sekarang, " dengan wajah memerah meninggalkan istrinya yang lagi bengong, ia seperti menyesal menanggapi cerita suami.
__ADS_1
"Mas, maafin aku, tak bermaksud aku melemahkan ucapan mu, atau bahkan tidak mendukung mu, cuman aku tidak ingin gara gara Kiara berdampak pada bisnis, " ucap istrinya lirih.
" Aku ngerti kamu dengan Danang masih ada hubungan keluarga, sehingga membelanya, " ucap tegas Zayn.
" Itulah Mas, agar kita persaudaraan dengan keluarga Raditya tetap terjalin, tolonglah cari jalan keluar terbaik yang jangan merugikan kedua belah pihak, " ucap panjang istri Zayn, bagaimanapun juga ia dengan Danang ayah Raditya masih keluarga satu eyang buyut.
Ia sangat sedih membayangkan kalau kumpul keluarga besar kakek buyut Bahtiar, hanya dirinya saja yang tidak hadir, tidak hanya dia yang sedih, tentu seluruh keluarga besar Bahtiar juga merasakan sama, karena selama ini keharmonisannya tak diragukan lagi.
Seperti saat Raditya akhirnya dinikahkan dengan Ayyana sebagai ganti Kiara, ia menjadi tidak nyaman pada keluarganya, karena harus menuruti ide suaminya yang lebih menuruti kemauan putrinya dari pada usulannya, agar pernikahan diundur sampai Raditya sembuh, hanya karena suaminya itu tidak suka juga apabila setelah Kiara jadi istri Raditya lalu disuruh merawat, kayak pembantu.
" Mas, jangan selalu nurutin kata kata Kiara, toh yang dilakukan Raditya karena ia butuh wanita pendamping yang bisa merawat disaat perlu bantuan dan dukungan, Mas pernah lihat sendiri diawal awal Raditya terkena musibah, semangat hidupnya hampir saja hilang, kalau tidak didampingi terus oleh mba Nining serta suami juga kerabat lainnya, sedang Kiara malahan menjauh dan tahu tahu ia sering bertemu dengan anak dari viral mu, kan, " cerita panjang istrinya hati hati, bermaksud melembutkan hati suaminya.
Zayn diam, ia meresapi kilas balik semua yang dikatakan istrinya ada benarnya, cuman wajahnya terlihat masih menekuk, dan matanya menatap taman dibalik jendela kaca.
" Benar juga ucapan istriku, sementara aku sampai sekarang hati masih terluka berat dengan ayahnya Dio, hanya karena cinta adik perempuan padanya ditolak olehnya, dan tragisnya adikku cari jalan pintas, dengan mengakhiri hidup. Aaah ingat Rinata aku sedih dan sakit pada ayahnya Dio yang kayak sulit terobati, " batinnya.
" Mas, apa nantinya akan terjadi hubungan kita dengan keluarga Raditya merenggang kayak hubungan kamu dengan sahabat karibmu dulu, yaitu Laksana ayah Dio, " ucap istrinya kembali tetap hati hati, karena suaminya mudah kesulut emosi.
" Stop jangan banyak bicara, otakku masih alergi dengar nama itu," lalu Zayn keluar menuju taman, dan minta tak mau diganggu atau bahkan tidak mau didekati istrinya, ia hanya ingin menyendiri.
Hampir satu jam Zayn menyendiri di taman, istrinya sejauh ini tak berani mendekati, sehingga ia mencoba berkomunikasi dengan Kiara di Pert.
" Mamiii, " teriaknya disana setelah tahu ada telfon dari ibunya.
" Mami sudah diceritain sama Papi, kan, tentang Raditya, sungguh Mi, aku disini tidak bisa konsentrasi karena sakit banget di dalam sana, dengar penghianatan Raditya, dia orang tidak nyadar Mi, kalau perusahaan yang ia kelola bisa gulung tikar, juga enggak ingat jasa dari Papi memajukan perusahaan, ngapain dulu Papi mau maunya bantu bisnisnya kalau akhirnya aku disakitin begini Mi, " cerocos Kiara disana, ia bisa menumpahkan kekesalannya dengan tangis.
" Papi kan, akan cari tahu kebenaran berita tentang Raditya, tetapi bukankah kontrak perawatan yang dilakukan oleh Ayyana itu belum selesai, masih kurang 2 bulan lagi, maka menurut Mami tak salah kalau mereka masih saling ketemu, bagi Ayyana menurut Mami merasa masih dibayar sedang bagi Raditya sendiri masih belum melepas alat bantu jalan, berpikir yang positif saja, Ki, biar kamu tidak menderita, " nasehat Mami panjang lebar.
" Mi, ok lah aku akan belajar untuk membuang pikiran tidak baik tentang Raditya bersama si Culun yang tiba tiba hidupnya bergelimang harta, tetapi klo ternyata antara Raditya sama wanita kampung saling jatuh cinta, benarnya aku ingin kembali pada Dio, cuman tolong Mi, dirahasiakan dari Papi," cerita panjang Kiara dibalik benda pipihnya.
Maminya didepan benda pipih hanya mengiyakan dan berpesan untuk belajar sabar serta ikhlas, juga buang jauh jauh hati yang tidak baik, karena Allah akan memberi ganti yang lebih baik.
Kiara agak dingin hatinya setelah mendengar nasehat Maminya, lalu keduanya mengakhiri sambungan telfon.
__ADS_1