Bukan Aku Yang Jadi Istrimu

Bukan Aku Yang Jadi Istrimu
Episode 47 Raditya tak pulang ke rumah


__ADS_3

Author POV


Langit semakin gelap, hujan masih tetap mengguyur ibukota, dengan sesekali kilat menyambar nyambar, dan lampu sempat mati beberapa menit.


Bu Nina karena lampu apartemen mati, hanya diterangi oleh lampu emergency disetiap lorong, maka cepat masuk untuk memberikan box nasi ke suaminya agar cepat kirim ke kantor Raditya.


Ia sudah tidak bisa lagi merayu Ayyana agar mau kirim video rekaman saat di mobil bersama Clara Cs.


" Makanya Pak Raditya mengalihkan cintanya pada Ayyana, karena beda banget sama Nona Kiara, " batin Nina, ia kasihan juga melihat Ayyana yang alis serta bulu mata sampai habis.


" Sepertinya selama di mobil Ayyana mata serta mulut di plester pakai lakban, lalu dilepas paksa, sehingga bulu mata sama alis lepas, aahh tentu sangat perih Ayyana, " batin Nina sedih.


" Kamu klo bisa berada di apartemen Ayyana, lho Dek, sepertinya banyak yang enggak suka padanya," ucap Hendra sambil menenteng tas plastik, melangkah keluar apartemen.


" Benar juga kata suamiku, Dania saja ada disini yaitu satu lorong sama Rosa, ia sewaktu waktu bisa bertindak brutal ke Ayyana, karena beranggapan Raihan berupaya untuk menjadikan Ayyana ibu sambung Liandra, " batin Nina lalu mendekat ke pintu yang biasa dilakukan untuk menjaga Ayyana, biasanya bergantian sama Hendra.


Sementara Raditya malam ini sangat gelisah, apalagi hujan belum reda, cuman sudah mulai mengecil, juga petir tak lagi menyambar nyambar kembali, ia menikmati makan malam sendiri di dalam ruang, dan belum selesai juga pekerjaan kantor.


" No, kamu boleh pulang ke rumah, aku mau tidur disini saja, " ucap Raditya, setelah selesai makan malam.


Di pabrik sepanjang hari selalu ramai, kalau siang melakukan produksi, sedang malamnya pekerja sip, melakukan pendistribusian barang, juga penjagaan lebih ketat, sehingga Raditya sebenarnya lebih nyaman kalau di pabrik. Dan di ruang kantor ada kamar untuk istirahat, serta lengkap ada almari berisi pakaian.


" Iya Pak Raditya," maka Darno pamit, sedang Ferdian telah diganti oleh pengawal lain.


Malampun terus merangkak, hujan mulai reda, hanya saja langit tetap hitam pekat, karena kerlap kerlip bintang tidak terlihat oleh tertutup awan di langit.


Raditya di malam yang sangat pekat, disaat otak sedikit penat dengan pekerjaan di depannya, ingin menelfon Ayyana, tetapi selalu diurungkan, ia tak ingin mengganggu waktu istirahat Ayyana.


Hanya ucapan selamat tidur lewat chat saja.


* Raihan POV


Awan gelap menutup langit sejauh aku memandang lewat jendela kaca ruang kantor, mata ini memandangi gadis kecil yang lincah putriku, dia duduk di sofa sambil mewarnai gambar yang diberikan oleh salah satu asisten ku, Roni asisten yang selalu membantu penelitian juga kalau aku sedang ada kegiatan bisa ngisi perkuliahan, dengan materi yang sudah kusiapkan. Dia kulihat mencari gambar anak sekolah seusia Liandra di internet yang belum diwarnai lalu diprint.


Liandra yang harusnya sudah sekolah paling tidak TK besar, tetapi belum tergerak untuk sekolah, sangat kegirangan menerimanya.


Liandra maunya memanggil guru ke rumah, dan seminggu 4 kali Bu Siska datang.


Pendekatan Bu Siska pada Liandra hampir sama dengan Ayyana, disamping itu ia berprofesi sebagai guru di sekolah swasta dekat rumah, pembawaannya sederhana seperti Ayyana, terutama kalau datang ke rumahku, cuman tak sepandai Ayyana memasaknya.


Kalau Ayyana segala jenis masakan rasanya miyumi banget di Lidah, malahan pandai juga buat berbagai cemilan baik yang basahan maupun keringan.


Ayyana bilang kalau setiap hari membantu bibi, yang buat snack basah untuk dititipkan ke pedagang kue, yang pakai gerobak baik di pasar maupun dipinggir jalan, belum lagi kalau ada pesanan dari kantor.


Tiba tiba aku sadar dari lamunan, melihat keluar lewat jendela lebar.


" De, hampir hujan, ayo pulang, " pintaku, aku yang sudah absen lewat ponsel segera bangkit mendekati putri kecilku, yang sejak bayi tak mendapatkan kasih sayang bundanya.

__ADS_1


Dengan hati yang terus memendam kecewa, oleh keinginan untuk melakukan pendekatan pada Ayyana, kenyataan masih sulit teraih, karena selain harus menghadapi Dania yang sudah hilang di hati, juga oleh Raditya yang awalnya Ayyana hanya dijadikan perawat, tetapi kelanjutannya adikku itu sudah punya ketergantungan padanya.


Aku bisalah mundur untuk tak memperebutkan Ayyana, apalagi mereka sudah terikat oleh pernikahan syah baik secara agama maupun negara.


Kalau aku pilih mengalah dari Raditya, hanya demi persaudaraan, selain tak baik bagi keluarga, aku secara materi bisa merugi. Raditya jelas bisa memangkas bagi hasil perusahaan, sedang aku tidak menginginkan itu. Dilema buatku, hanya hati kecil ini aku akan berusaha membuang nama Ayyana, agar terusir dari hati.


Dan ku takkan peduli masalah yang akan dihadapi oleh Raditya pabila ia tetap mempertahankan Ayyana.


" Ayah, katanya mau pulang, masih juga membuka buka tas, capek deh Liandra nunggu Ayah yang belum siap pulang, " seloroh Liandra panjang lebar.


" Ayah selalu gitu deh, udah ngajak ternyata masih belum siap," selorohnya lagi.


" Iya donk, klo ada yang tertinggal, kan, kita jadi kembali lagi, repot, kan, selain harus lewat jalan yang padat merayap, juga disini harus naik naik keatas," tak mau kalah aku ngomong dengan panjang lebar juga, dan aku percaya ia mengerti dengan ucapan ku.


" Iya Ayah yang baik hati, " mujinya, membuat aku terhibur oleh celotehannya.


Udara sore di lingkungan kampus yang banyak tetumbuhan terasa dingin menusuk kulit, aku bersama Liandra melangkah cepat menuju mobil, takut kedahuluan hujan.


" Li, ayo cepet, keburu hujan, " seruku, karena Liandra menunjuk nunjuk Ayyana yang sedang berjalan bareng bersama Rosa dan lainnya.


" Ok Ayah, " ucapnya.


Kami langsung masuk mobil dengan tergesa dan aku langsung melajukan mobil standar.


" Ayah, alangkah senangnya kalau tante Ayyana di rumah kita lagi, " ucapnya sambil menikmati jalan yang tak pernah sepi, lalu air dari langit serentak jatuh diiringi petir menggelegar.


" Ayaaahh... " jeritnya.


" Berdoa sayang, " aku mengkhawatirkannya, ingin mobil kutepikan, cuman sangat sulit sehubungan lalu lintas yang sangat padat merayap.


Dan putriku membaca doa yang diajarkan oleh Bu Siska, dengan suara dikeraskan.


*


Calla POV


Aku menatap langit kamar untuk menghilangkan kegalauan dihati. Rasa ingin ketemu Bu Yeyen yang kupercaya adalah ibu kandung sulit terbendung, sayang janji Ayyana yang mengaku kakak perempuan ku, mau kasih nomer ponsel Bu Yeyen belum juga terkirim, berkali kali tangan ini mengusap layar ponsel disaat ponsel berbunyi, tidak juga ada notifikasi dari Ayyana dengan berbagi nomer ponsel Bu Yeyen.


" Uuufff, aku sudah tak sabar untuk menemui ibu kandungku, " mata ini berkabut membayangkan pertemuan dengan ibu yang bermil mil jaraknya, dibatasi oleh samudera dan benua.


Karena ketidak sabaranku untuk bisa menemui Bu Yeyen, pagi ini aku menelfon Ayyana, dan memang aku serta Ayyana pabila berkomunikasi, pada waktu pagi waktu negara Belanda.


Tut tut tut


Sampai ponselku terhenti bunyi panggilan ku, tak jua diangkat, lalu kuulangi lagi masih tetap tak diangkat, akhirnya aku kirim pesan, dengan kalimat sama setiap kali chat yaitu menanyakan kabar tentang Bu Yeyen.


Dan kalau ternyata Ayyana belum dapat kabar tentang Bu Yeyen, jawabannya juga sama.

__ADS_1


" De, kedua orang tua kita telah wafat, Bu Yeyen adalah saudara jauh dari ibu, serta beliau yang membuat kita terpisah, " aku sudah bisa nebak, pasti dia jawabnya kayak gitu, aku pikir seperti copy paste saja dari kalimat kalimat yang dikirim padaku.


Drrrt


" Alena, sore nanti kita makan di luar, " pesan dari Andro, teman satu kelas, ia berkali kali mengutarakan cinta, cuman aku belum berpikir ke hal cinta, aku lebih fokus pada pencarian ibu.


" Dro, makan di rumah aku saja," bales ku.


" Alena, kapan kamu akan menyenangkan diri, selalu saja menyibukkan pada pencarian ibu, kapan kamu bisa kayak teman yang lain? " pesan dari Andro.


" Aku tidak bisa Dro, hati ini kayak berdosa, membayangkan ibu disana hidup kekurangan, " pesan dari ku.


" Ya sudah terserah kamu, oklah aku terima ajakanmu untuk makan malam dirumah kamu, " pesan dari Andro.


Aku bangkit, lalu mendekati Mama yang lagi sibuk di taman kecil bersama Papa, akupun cerita kalau Andro nanti malam mau datang.


" Nanti kalau kamu pulang sekolah, sekalian belanja untuk menyiapkan makan malam, " pinta Mama.


Karena sudah siang aku siap siap berangkat sekolah, naik sepeda, dan aku bisa mengalihkan pikiran ke kegiatan rutin yaitu sekolah.


* Ayyana POV


Penat selalu otak ini oleh masalah yang selalu saja tak kunjung usai, dan mata ini belum bisa memejam, sesekali mengarahkan pandangan ke jendela kaca yang sengaja belum ditutup tirai, karena disaat hati sedang galau, mata ini senang melihat langit.


Hitam pekat memang langit kota Jakarta, tak satupun bintang menongolkan diri, tetapi tetap mata ini tertarik memandangnya.


" Aku bisa berkomunikasi dengan Sang Pencipta, dengan begitu hati ini lambat laun akan menjauh dari lara yang membelenggu, " batinku.


" Memang aku harus cari jalan keluar dari siksa batin ini, bukan malah meruntuki nasib, " gumanku kembali.


Dan lama lama mata menjadi lelah, lalu tertidur.


Pagi menyapa


Rutinitas kegiatan setelah bangun pagi telah kujalani, lalu tangan ini mengambil ponsel kemudian menyentuh layar kaca.


" Emmm, Calla menelfon juga chat, " guman ku.


Aku membalas chatnya, walau disana sedang malam hari, tentu Calla lagi tidur.


" Hmmm ternyata dia belum tidur," batinku.


Di pojok kiri aplikasi hijau Calla sedang mengetik.


" Ayy, bosan baca pesanmu, hanya itu saja penjelasannya, kenapa sih kamu belum bisa menemukan ibuku? " pesan dari Calla.


Ia seperti kesal serta kecewa dengan ku yang belum bisa memberi nomer ponsel bibi Yeyen.

__ADS_1


__ADS_2