
Author POV
Pagi dengan langit yang masih belum cerah, cahaya mentari yang selalu menerangi, pagi ini tak memunculkan bentuknya, hanya semburat cahayanya yang memantul di awan yang berwarna kelabu, sementara udara dingin, oleh pengaruh sisa sisa hujan yang hampir separoh hari mengguyur kota Jakarta, menyusup ke dalam kamar yang jarang AC dinyalakan, memang Ayyana tidak terbiasa menggunakan AC terkecuali dimobil.
Dia berjalan ke sisi kasur sambil tangan menggenggam erat ponselnya, dihati muncul kekhawatiran tentang Calla yang mendesak terus agar diberi nomer ponsel Bi Yeyen, bahkan pagi ini waktu Jakarta Calla merajuk dengan pesan yang selalu ia ingatkan tentang Bi Yeyen.
" Semoga ini Calla adikku beneran, aku sendiri belum bisa bilang100% kalau ia adikku, memang secepatnya harus test DNA, " gumannya setelah meletakkan bookoong disisi kasur.
Sebenarnya Ayyana khawatir kalau aparat desa telah kirim nomer ponsel bi Yeyen lalu ia berikan pada Calla, karena dialah ia terpisah dari Calla dan Ayyana percaya bi Yeyen tega menukar Calla dengan pundi pundi uang. Sehingga Ayyana berpikir kalau sampai Calla berhubungan dengan bi Yeyen tentu akan dimanfaatkan.
Drrrt
" Hai kamu, jangan ngaku ngaku kakakku, jangan jangan kamulah yang akan memanfaatkan ku untuk memintai uang, " pesan dari Calla.
Aku membaca dengan menarik nafas dalam.
" Calla, jangan nuduh kakak gitu, apakah mba Hanifah sama mba Marfah sekarang meminta uang pada kamu? " pesan dari Ayyana.
" Memang belum, bisa jadi nantinya minta imbalan, " pesan from Calla.
" Ya udahlah terserah penilaian mu pada kami, cuman tolong liburan bulan depan aku mau nemuin kamu, dan minta dukungan nya untuk test DNA, ok," pesan balasan Ayyana yang tak ingin memperpanjang debat, karena ia ingin tetap berhubungan baik, apalagi ia percaya walau belum 100% kalau Alena itu Calla adiknya yang puluhan tahun terpisah.
" Sebenarnya bila aku mendatangi kampung Bi Yeyen, akan diantar oleh Bu Lurah, cuman belum ada waktu sehubungan kuliah yang sangat padat, apalagi kondisi cuaca membuat aku berpikir dua kali, maklumlah aku belum pernah naik pesawat, " batin Ayyana lagi, dengan tersenyum meringis.
Ia yang sudah mandi, juga sudah menyiapkan sarapan pagi buat Raditya, dan telah diserahkan pada Bu Nina untuk dikirim ke kantor Raditya.
Drrrt
" Ayy, ngapain kok kamu enggak kirim sendiri ke kantor," pesan dari Raditya, ia sangat kesal dengan cara Ayyana.
" Kamu ingin menghindar dariku, tak mungkin bisa Ayy, ingat kemanapun kamu pergi akan selalu terpantau, " pesannya lagi dengan nada kesal.
Sejauh ini Ayyana belum bisa membalas, ia masih sulit mengukir kata kata, sehingga baru kasih tanda biru.
" Mas, mengertilah tentang hubungan kita," akhirnya Ayyana membalas dengan meminta pengertiannya, dan kata kata itu selalu ia kemukakan padanya.
" Aku dah bosan dengan kata kata yang sama darimu, kamupun tak mengerti aku, " tandasnya dalam pesan balasan.
" Oh sama nich dengan tanggapan Calla, emang sih karena aku juga yang selalu ngomong diulang ulang, ya tentulah menjadi bosen dengan kata kataku, " batin Ayyana, yang telah bangkit menuju cermin, ia ingin melihat dandanannya yang kerasa berlebih, karena ini pertama melukis alis serta pasang bulu mata, yang dibelikan Bu Nina tadi pagi.
Dengan langkah yang tak PD Ayyana keluar dari apartemen, ia banyak menunduk tak ingin ada orang lain melihatnya, Bu Nina saja saat Ayyana membuka pintu sempat mengintip dari lobang pintu.
" Tambah cantik wanita yang selalu jadi bahan bully Clara, ia klo lihat tambah ngiri, dan Pak Raditya tentu tambah cinta, " batin Bu Nina, lalu tak mau kecolongan suami istri itu cepat cepat keluar menyusul Ayyana, dan bisa satu lift yang sudah ada Rosa bersama Dania.
__ADS_1
Dania setiap kali Ayyana berangkat kuliah selalu keluar bareng, dan hati Ayyana saat masuk lemari besi yang dilihat pertama kali Dania, hati sedikit miris tetapi setelah bersama Rosa juga Bu Nina, hatinya lebih nyaman.
Ayyana bukan karena takut cuman saja ia harus waspada, siapa tahu Dania membawa cairan berbahaya dan nekad di siramkan ke wajah Ayyana.
Kali karena sering di bully, ia selalu berpikir negatif pada orang orang yang membencinya.
" Ayy..." mata Rosa tak kedip menatap perubahan penampilan Ayyana yang dianggap lain dari biasanya. Tetapi Rosa tak meneruskan ucapannya karena mulutnya ditutup oleh tangan Ayyana. Sedang Dania tambah tidak senang dengan penampilan Ayyana yang menjadikan dia cantik.
" Iiihhh, kali mau tebar pesona, ada jamnya Pak Raihan, kan, sekarang, " serang Dania melengos. Rosa mencubit pinggang Ayyana, dengan menunduk, iapun malas melihat wajah kesal Dania.
Sementara hati Ayyana tak nyaman, apalagi ia tak ingin apabila Rosa maupun teman yang lain di kampus nanti pada memperhatikan bulu mata serta alisnya yang plontos, walau sudah ditutup.
" Ayy, ikut mobil aku aja ya atau... " Rosa tak meneruskan kata katanya, matanya melirik wajah Dania, ia seperti ingin membuat Dania kesal.
" Aku berangkat sendiri saja Sa," lirih Ayyana ngomongnya hampir tak terdengar oleh Rosa.
Orang orang yang di lift setelah berada di basement menuju ke kendaraan masing masing, Ayyana ditinggal Rosa dan kesempatan bagi Dania untuk mendekat ke mobilnya apalagi pengawalnya sedang menuju mobil yang agak jauh dari mobil Ayyana.
Tiba tiba telapak tangan Dania yang memegang tissue melap alis serta mengambil paksa bulu mata kanan, Ayyana tidak bisa menghindar, sebab gerakan Dania lebih cepat.
" Hahaha, bisa bisanya bulu mata dipotong, dasar culun, benar benar bodoh kamu, " serang Dania, Ayyana yang bulu mata palsunya di lepas paksa kesakitan, ia sempat mengaduh lirih. Dan hampir tangan Ayyana menamparnya.
" Uuufff, mau nampar aku, ayo klo berani, " sergah Dania melengking, dan inilah yang membuat Ayyana mengurungkan niatnya.
" Dasar manusia tak ada adap, makanya Pak Raihan sama Liandra tak mau bersama kembali," batinnya kembali.
" Hai, ingin Pak Raihan sama Liandra kembali padamu, robah donk kelakuanmu, " serang Ayyana dengan membuka jendela kaca, karena Dania tak mau menyingkir dari mobilnya.
Ayyana tak ingin bermasalah dengan kenekatan Dania yang menghadangi di depan mobil, terpaksa menelpon Satpam basement.
Satpam mengajak Dania untuk menyingkir, akhirnya Ayyana bisa melajukan mobil keluar ke jalan.
Ayyana sengaja tak menghubungi pengawal karena ia tidak ingin orang tahu ada pengawalan.
Sampai di kampus Rosa menunggu di parkiran.
" Ayy, Bu Dania ngapain ke kamu? " tanya Rosa dengan wajah ingin tahu.
" Cuman nanya Liandra, " bohong terpaksa ke Rosa, ia juga tidak ingin masalah ini terdengar oleh teman yang lain.
Bagaimanapun Ayyana belum siap kalau sampai Dania keceplosan tentang status dirinya.
" Ayy, coba aku benerin alisnya, ada yang enggak simetris, " tangan Andina mengulur ke wajah Ayyana, yang sempat membatin, kalau Ayyana mengubah total wajahnya yaitu Alis serta bulu mata palsu.
__ADS_1
" Ayy, sebenarnya alis sama bulu mata kamu sudah bagus kok dari sananya, ngapain di kerok, " ucap Bella.
Ayyana masih diam, karena kadang teman teman ngomong tidak ingin jawaban.
Ayyana sempat berkabut matanya ingat di tempat yang lagi diinjak, kemaren sore di todong pakai pisau runcing dengan memaksa ikut bersama mereka.
" Ayo cepetan, tuh durennya sudah jalan, " ajak Rosa, ia bermaksud agar Ayyana bertemu di teras ruang, lalu yang lain akan beri kesempatan pada Ayyana sama Pak Raihan, apalagi pagi ini berpenampilan beda.
Sampai di teras Ayyana bisa bertemu dengan Raihan, ia menunduk karena tidak ingin dilihat perubahan wajahnya.
Sedang teman yang lain melambatkan jalan, untuk memberi kesempatan pada kedua orang itu saling ngobrol.
Pak Raihan sempat menatap lekat wajah Ayyana, ia terkejut dengan perubahan bermake up.
" Uuuff, aneh banget nich Ayyana, mesti ada sesuatu yang membuat pakai pensil alis serta bulu mata palsu, " batin Raihan, ia mengkhawatirkan pada Dania.
" Jangan jangan Dania. yang bikin Ayyana alis serta bulu matanya plontos, " batinnya lagi.
Raihan semakin tak tega melihat Ayyana, apalagi ia sudah pernah dapat cerita sejak SMP sudah sering di bully teman.
Bahkan saat SMA hampir saja oleh kakak kelasnya si para cewek yang merasa cantik, hampir dijadikan umpan, untung Satpam sekolah mencurigai, mereka di kuntit oleh Satpam, sementara Ayyana sendiri nekad melawan para cewek yang hanya mengandalkan kecantikan tetapi lemah tenaganya.
Ingat pada cerita perlakuan teman saat SMA, Pak Raihan sangatlah iba.
" Ayy, kamu jujur sama Pak Raihan," desaknya.
" Maksudnya apa Pak?" tanya Ayyana gelisah.
" Aku tahu ada yang kamu tutup tutupi, " jelasnya.
" Sudahlah Pak, nanti Pak Raihan jadi enggak ngasih kuliah, " Ayyana buru buru melangkah cepat terus masuk ke kelas.
Di kelas Pak Raihan kurang fokus memberi materi kuliah, hatinya resah pada keselamatan Ayyana, walau dalam hati percaya Ayyana bisa jaga diri, apalagi ia telah tahu ada pengawal, cuman bisa saja kecolongan mereka para bodyguardnya.
Otak Pak Raihan terus berputar, pikiran masih berkutat pada Dania.
Telah selesai Pak Raihan di kelas Ayyana, ia langsung keluar lalu menelpon pada Hendra untuk menanyakan yang terjadi pada Ayyana.
" Pak Raihan, kemaren malem katanya kulit di area mata Ayyana gatal, maka ia cabutin, ini istriku yang sudah menanyakannya, " jawab Hendra via telfon.
" Aku enggak percaya, mesti ada yang kalian tutupi dari kami, si Raditya tahu enggak itu? " desak Raihan lirih.
" Sepertinya belum, karena belum ketemu," suara Hendra di dekat mobil Ayyana.
__ADS_1
Dengan mengacak rambut kepala Raihan mengakhiri telfon dengan Hendra.