
Ayana POV
Mata ku tak berkedip melihat dua kaki Raditya yang diikat pakai kain elastis untuk patah tulang, mau bertanya tak enak hati, juga takut tanya ku membuat Raditya mengingat peristiwa yang membuat ia harus menggunakan kursi roda.
" Aahh, aku berusaha tidak menanyakannya," gumanku.
Aku mengalihkan pandangan ke setiap sudut kamar mandi yang lebar, ada bathtub nya juga seperti di villa nya Nyonya Widya.
" Kalau aku mau mandi di bangku ini, kamu membantuku meletakkan disini," ucapnya, ia menunjuk pada bangku tanam yang berlapis batu granit tidak halus katanya biar tidak licin, bentuknya kayak meja dapur milik Nyonya Widya cuman warna nya beda.
" Ay, kenapa kamu malah bengong, aku memperistri kamu agar kamu merawat ku, sampai aku sembuh," ucapnya dingin, aku sempat merajuk dengan nada bicaranya yang tegas dan tak bisa dibantah.
" Jaadi aku merawat bayi dewasa," jawabku enteng.
" Apa katamu? " nadanya tegas dan keras.
" Eee anu tuan, bayi dewasa? " ku ulangi lagi ngomongku, mungkin ia tidak maksud dengan istilah ku.
" Iya, makanya biar kita halal, karena kamu selalu menyentuh kulitku," ucapnya dingin.
" Hmmm, benar benar persis kayak Pak Raihan," gerutuku.
" Ay, kamu menyamain aku sama Mas Raihan, akan aku sampaikan biar tidak krasan akhirnya kamu keluar kuliahnya lalu pulang kampung, dinikahkan sama Mang Barna," ancam Raditya, bibir nya mencebik.
" Tuan tolong jangan sampaikan, aku ingin tetap kuliah," aku yang dari tadi tak mau melihat Raditya, kini dengan ketakutan, aku melihat sepintas tubuhnya yang hanya pakai kaos sama celana kolor, lalu memejamkan mata.
" Ay, dekatkan aku ke kloset," tangan ku mendorong stang kursi roda menuju kloset, aku tak merasa kesulitan karena sering membantu Celin, cuman dia tubuhnya kecil, kalau lelaki ini tubuhnya saja gede, atletis lagi, dan lebih berat, seperti tadi saat aku mengangkatnya, sempat ngos ngosan.
Setelah meletakkan kursi roda dekat kloset aku buru buru keluar dari kamar mandi, tentunya aku tak mau melihat aktivitasnya.
Sebenernya merasa kesulitan dengan masih berpakaian kebaya, juga ingin membersihkan wajah bekas kosmetik, yang kulihat di meja rias ada tas kosmetik yang masih baru, tadi Bu Ningrum sempat menunjukkannya.
" Ay...." aku cepat cepat membuka pintu kamar mandi lalu mendorongnya ke kamar untuk di dekat kan ke ranjang, dan dia telah pakai piyama.
" Tuan bisa sendiri ke kasurnya," ia merangkak ke kasur dengan tumpuan kasur, aku hanya membantu mengangkat bokongnya setelah rebahan dan meluruskan kaki.
" Tuan, aku mau ganti baju dulu ya," aku mengambil paper bag besar lalu dibawa ke kamar mandi.
" Emmm, lengkap dari mulai dalam sampai luar, malah ada baju untuk kuliah, dengan bawahan celana panjang ketat seperti yang dibeliin oleh Rosa juga mba Hanifah," gumanku.
__ADS_1
Aku pakai celana tidur panjang dengan atasan lengan pendek, tidak nyaman sebenarnya, karena kedua lenganku terlihat.
Aku tahu diri, bahwa pernikahanku bertujuan untuk merawat Raditya sampai ia bisa berjalan, setelah itu mungkin aku berpisah dan di usir dari rumah besar ini, tak mengapa yang penting aku masih tetap kuliah, apalagi aku tidak ada rasa dihati. Ini pradugaku sesuai dengan kata kata nya tadi di kamar mandi.
" Bagiku tak masalah, yang penting misiku merawat bayi dewasa," aku malas berpikir yang membuat sengsara hati, karena aku juga sudah pusing dengan Pak Raihan, kalau masalah ini kumasukan ke hati tambah lara jiwa dan perasaan ku.
" Eemmm, anggap saja aku jadi perawat, tentunya aku dapat upah bulanan sama makan gratis, belum lagi setiap hari bawa mobil, kali mobil nya kayak punya Rosa, " gumanku, ku ulang ulang kata kata merawat bayi gede.
" Ay!" aku cepat cepat keluar dari kamar mandi dengan baju yang masih bau mall.
" Iiyaa Tuan, " aku menenteng paper bag, dan baju kebaya kotor.
" Nasimu belum di makan, kalau sudah di bawa ke dapur, kamar jadi bau makanan, " katanya dengan nada memerintah.
" Tuan aku makan di teras kamar ya, " dia mengangguk.
Aku duduk di kursi, di depan teras kamar Raditya berupa taman dengan lampu taman menyala kayak obor, sehingga cahaya nya tidak seterang lampu LED.
Mata ku tengadahkan ke langit, cahaya bulan sabit keemasan meringis seperti menertawakan hidup ku malam ini.
Drrtt
" Kamu namanya Ayana, yang malam ini menikah dengan kekasih ku Raditya.
Hai, kamu jangan menganggap Raditya suamimu, dia hanya membutuhkan kamu untuk merawat, sampai ia bisa berjalan lagi, maka Raditya akan menceraikanmu lalu menikahiku, jangan mimpi kamu si gadis culun, "pesan nya.
Lalu ponselku bergetar kembali.
" Aku kuliah di luar negeri, kalau kuliah ku di Jakarta tentu akulah yang malam tadi menikah dengan Raditya," pesannya.
Aku tak berani membalasnya, dan setelah membaca chat yang aku pikir bernama Kiara sesuai dengan kata kata seorang ibu tadi, akhirnya membenarkan kata kata Raditya, aku hanya dijadikan perawat.
Tetapi aku tak memasalahkannya, berusaha ikhlas menjalaninya, insyaAllah Tuhan akan memberikan ganti yang lebih baik.
Ponsel masih bergetar lagi.
" Kamu, dinikahi Raditya, atas permintaanku, hai gadis culun," pesannya.
Setengah jam aku berada di teras sambil menghabiskan makan malam, lalu masuk kembali ke kamar dengan mengunci pintu dari dalam sambil melirik Raditya yang telah mendekur lirih, terus membuka pintu kamar yang menuju ke ruang tengah sambil membawa piring kotor ke dapur, agak celingukkan ke dapurnya, karena belum tahu tempatnya, apalagi semua sudah pada tidur.
__ADS_1
Dari dapur mataku melihat ke lantai atas yang lampunya masih menyala di ruangan dekat tangga yang bisa di lihat dari bawah.
Aku melonjak kaget saat mata bersibobok dengan mata elang Pak Raihan.
Cepat cepat menjejakkan kaki menuju kamar Raditya.
" Kamar Pak Raihan diatas kamar Raditya," gumanku, tangan nya mengunci pintu lalu aku menuju ke sofa, tubuh yang mulai berkeringat dingin direbahkan dengan menyelimutinya sampai setinggi leher.
Selimut ambil dari almari atas perintah dari Raditya.
Mataku sudah tak bisa membuka, sampailah terbawa ke dunia mimpi.
Semangat pagi.
Terdengar sayup sayup suara Adzan dari Mushola, mata berkedip kedip lalu menggerakkan tubuh, seperti yang selalu kulakukan agar tubuh lemas, lalu bangkit dari sofa kayu sepanjang dua meteran yang diatas nya di kasih busa, sehingga saat bangun tubuh tetap terasa enak.
Aku melirik baby gede yang di kasur empuk, dia sudah bangun sedang bersender di sandaran bed dengan laptop di pangkuan, laptopnya ada di meja kecil disisi bed sehingga tidak perlu minta bantuan untuk mengambilkan.
" Aku jadi inget pada tugas kuliah hari ini, mata kuliah Pengantar Bisnis dan Bahasa Inggris, yang sudah ku kirimkan ke email Pak Johan sama Bu Melda, semoga nanti tak bernasib kayak tugasnya Pak Raihan kemaren.
" Tuan, sudah ke kamar mandi? " tanya ku dengan menutup mulut karena belum sikat gigi.
" Kamu lucu Ay, sudah ngerasa ngantar belum? " kutonyor sendiri jidat ku, sambil menyunggingkan senyum tipis di bibir.
" Bentar ya Tuan, aku ke kamar mandi dulu," aku menuju kamar mandi lalu setelah selesai aku mulai bekerja merawat baby doll, dengan membantu mendekatkan kursi roda dengan telah terkunci, setelah kedua kaki bagian lutut kebawah yang patah ia lurus kan, dan kedua tangannya untuk dijadikan tumpuan menggerakkan bokongnya menuju kursi roda yang ku pepetkan ke kasur, baru aku membantu dengan melingkarkan kedua tangan ke pinggang nya, lewat depan tubuhnya, untuk mengundurkan posisi tubuhnya biar bisa dekat sandaran kursi, aku menghirup wangi tubuhnya. Lalu menjalankankan kursi roda ke kamar mandi, dengan mendekatkannya ke kloset, lalu aku keluar.
" Ay.... " aku buru buru masuk kembali ke kamar mandi mendorong kursi roda ke wastafel dengan menyiapkan sikat gigi dengan pastanya, aku keluar lagi.
" Ay.... " aku masuk kembali lalu mendekatkan tubuh ke kran yang telah di beri selang untuk memudahkan ia berwudlu.
" Sudah tahu pekerjaan awal merawat ku, " ucapnya tegas dan tanpa menyunggingkan senyuman di bibir.
" Tuan aku ikut Shubuhan, " ucapku, ia yang sudah menggunakan baju koko dengan ku tutup kakinya dengan sarung yang aku ambilkan di almari sesuai petunjuk.
Sedang aku menggelar sajadah di belakangnya.
" Ambil minuman bening yang hangat," aku mengambil gelas yang ada di dekat dispenser di kamar ini lalu menekan tombol merah separuh dan pindah ke tombol hijau, dan menyerahkan ke Tuan Raditya.
Pukul 6.00 mendorong kursi roda lagi ke kamar mandi, merapatkan ke bangku tanam lalu dia merangkak dengan bantuan kedua tangan, sedang aku disuruh melingkarkan kedua tangannya ke pinggang.
__ADS_1
" Berat tubuhku? kamu kayak ngos ngosan, " datar saja suaranya, aku hanya menyunggingkan senyum di bibir, lalu membantu melepas celana kolornya dengan mata merem sedang dia sibuk melepas kaos, lalu mengangkat kedua kakinya diletakkan ke kursi plastik, aku keluar saat ia mau mandi.