
Raihan POV
Aku menjadi Dosen Wali pada mahasiswa baru juga, mengampu anak 10.
Kemaren memberi arahan pada mahasiswa yang ku ampu, aku tertarik pada Email yang di kirim dengan nama Ayana Diandra Qamira, bagus namanya, aku mencoba untuk melihat profil di akunnya, tetapi profilnya hanya gambar bunga, sehingga aku panggil untuk maju ke depan.
Sempat terperangah melihat mahasiswi di jaman serba digital masih ada cewek kampungan, masuk di prodi yang rata rata ceweknya berpenampilan nyetil dengan baju menempel memperlihatkan lekuk tubuh.
Bahkan di prodi ini setiap tingkat ada selebritis yang sering muncul di TV baik cowok maupun ceweknya.
Ayana berjalan mendekatiku dengan langkah cepat.
Tek tek tek
Pakai sepatu kets dengan kaos kaki berwarna putih bersih cuman bukan baru, baju bawahan hanya setinggi di atas mata kaki beberapa cm, membuat kaos kakinya terlihat, lalu mataku tertarik untuk melihat baju dari atas ke bawah.
" Ha ha ha," aku tertawa dalam hati, pantang di depan mahasiswa aku tersenyum maupun tertawa, apalagi telah dapat julukan Dosen dingin, lempeng kalau bicara dan julukan lain yang membuat aku menjadi jutek, walau mereka juga memujiku sebagai dosen tertampan di prodi ini.
" Bapak panggil aku?" aku sempat terkejut dengan suara lembutnya.
Aku melirik wajahnya, cantik alami, tetapi dasar aku si duda dengan anak satu yang pernah di kecewakan istri cantik tak terpengaruh dengan wajah cantik walau culun sekalipun yang ada di hadapanku ini, aku tetap saja menganggap wanita sama dengan Mamanya Aliandra putri kecilku dengan wanita yang pernah kucintai jiwa raga tetapi berakhir dengan penghianatan yang luar biasa menyakitkan hati ku.
Istriku lari dengan laki laki yang lebih kaya dariku.
Sebenarnya aku sadar betul istri cantik ku dulu yang sekarang telah jadi mantan, kebutuhan hidupnya berlipat lipat dari gajiku, sehingga aku memenuhinya dari hasil perusahaan ayahku yang di kelola oleh adikku, tetapi dia merasa belum cukup, sehingga Mamanya Aliandra lebih memilih lelaki lain.
" Hahaha," aku menertawakan keculunannya.
Ia malahan ikut tertawa lalu menutupi mulutnya dengan jari jari lentik nan putih, cuman kuperhatikan jari jarinya menunjukkan jari anak yang biasa kerja keras selain tidak berkuku panjang juga tulang jarinya kentara.
" Bapak, mau ngerjain aku juga," suara lirih cuman aku memasang telinga sehingga dengar gerutuannya.
Dan tak kupikirkan mahasiswiku yang culun itu setelah aku keluar dari ruang 6.
Pagi ini mataku melihat 4 cewek berjalan dari parkiran mobil mewah, yang menarik kembali tentunya Ayana, aku mengingat nama ini.
Embun masih banyak yang nempel di dedaunan pohon pohon di sekitar ruang dosen menuju ruang perkuliahan, karena sinar matahari masih tertutup oleh pohon pohon besar sehingga sinarnya yang mantul di udara sampai ke tanah hanya berupa semburat semburat yang membentuk garis garis mengikuti celah celah pepohonan, indah sebenarnya lingkungan kampus di kota tersibuk di negara ini.
Dan udara sejukpun terhembus oleh hidungku dengan rasa segar masuk ke rongga tenggorokan.
" Hmmmm, bau dedaunan yang menyebarkan aroma lembut," gumanku.
__ADS_1
Kaki melangkah mantap menuju ke ruang 9, tanpa menghiraukan lalu lalang para mahasiswa dengan langkah panjang, karena telah merasa kesiangan.
Saat melihat rombongan 4 cewek yang sudah berada di jarak yang tidak terlalu jauh dari langkah kakiku, berusaha sedikit melambatkan kaki memberi kesempatan mereka untuk masuk ke ruang.
Aku tak suka lihat mahasiswa bila aku sudah di ruang masih ada yang baru masuk cari cari kursi, rasanya menjadi terganggu pembelajarannya.
Ayana di depan ku pakai baju bladus tidak seperti ketiga teman nya yang modis, postur tubuhnya tak terlihat sama sekali, tidak seperti tiga temannya.
" Ha ha ha," aku selalu ingin tertawa lihat si mahasiswi culun yang berjalan dengan langkah panjang di depan ku.
Akhirnya melewati para mahasiswa yang berdiri di teras depan kelas, dengan memberi senyuman yang ku balas dengan senyum tipis di bibir.
Bukan aku syok syokan karena jadi dosen, cuman males saja, apalagi para cewek yang berdandan kayak mau shooting film, rasanya mengingatkan pada mantan istriku.
Pep pep pep
Hanya langkah kakiku yang terdengar di ruang ini, karena semua telah duduk dengan mulut tertutup.
Mataku tertarik untuk melirik Ayana, mahasiswi cantik alami tanpa make up tebal, sepertinya hanya pakai bedak tipis, apalagi bibirnya tak ada tambahan lipstik, bibirnya merah alami.
" Apa ia gadis miskin, bisa saja kuliah disini karena cari bea siswa," gumanku, lalu melirik kembali cewek culun tetapi cantik.
Seketika aku ingin memanggilnya untuk maju ke depan, karena diantara teman yang lain, ia dengan cewek sebelahnya, yang sejak kemaren selalu bersama, berbisik bisik terus, dan ini yang membuat kupingku panas serta memerah, juga dada ngap ngap.
Aku panggil dia dengan membentak, yang lain saat aku sudah berada di ruang pada diam, sekarang tambah terpaku diam, juga pada menunduk.
Lain dengan Ayana, langkah kaki yang panjang membawanya mendekatiku dan dengan wajah culunnya yang kuakui cantik, dengan santai nya ngomong dan menjawab semua kata kataku yang garang juga dingin.
" Hah, selama aku jadi dosen tak ada satu mahasiswaku yang berani menjawab omongan ku, tapi ini, sudah culun, berani lagi, " kesal aku sama si culun di depan ku, ingin aku menggertak keras agar ia keluar dari ruang ini, biar tak mengikuti tatap muka ku.
Ia syok tahu mencolokkan kabel ke laptopku, sampai ia menjawab dengan santai tetapi lembut suaranya.
" Sudah ya Pak, aku mundur, nanti Bapak enggak ngasih kuliah ke kami hanya ngeledekku si cewek culun," aku sangatlah kesal, dadanya saja terasa sesak akibat ulah si culun di dekatku yang syok sibuk bantu, padahal tak perlu dibantu aku sudah bisa sendiri memasukkan kabel.
Ia serba tahu karena sempat membalikkan tubuh kembali, dengan pede nya pakai baju kedodoran, tetapi jadi mirip patung kayu yang dikasih baju.
" Ngapain kamu membalik lagi!!!" aku nggertak dengan suara keras, ia sempat merajuk bahkan tubuhnya mundur selangkah.
" Aanuu Pak, membuka layar," ia tak mempedulikan wajahku yang berubah memerah karena kesal lalu jemari putih yang lentik menarik benang layar.
Aku tergerak ingin tahu tentang Ayana si mahasiswi culun semester 1.
__ADS_1
****
Author POV
Angin pagi yang sejuk menyeruak lewat jendela yang membentang sepanjang satu ruang. Lahan di balik jendela yang ditumbuhi pepohonan menjadikan ruang terasa semakin sejuk, sinar mentari pagi pun malu malu ikut mengintip membuat ruang tersinari oleh cahayanya yang masih redup, dan ada yang membentuk bayang bayang sesuai benda yang ditembusnya.
Ruang semakin hening dengan semua mahasiswa yang hadir tepat waktu duduk sambil menunduk, saat Pak Raihan dosen Akuntansi Pengantar, membentak dengan nada keras ke Ayana.
" Sepertinya Ayana yang nanti akan jadi sasaran kekesalan Pak Raihan setiap kali ada kuliahnya, " batin Rosa, cewek modis dan kaya tetapi ia dalam bergaul tak pilih pilih, bahkan dengan Ayana yang bertelapak tangan kasar karena di kampung selalu membantu kerja bibi dan paman, Rosa pun mau bersahabat.
" Ayana, cukup deh jangan jawab terus pada Pak Raihan, kamu kok polos banget sih, " gerutu Andina, ia merasa Ayana teman pertama yang ditemuinya di kota yang jauh dari keluarga, sehingga di hati Andina pun ikut merasa miris dengan gertakan gertakan Pak Raihan yang terlihat penuh emosi, tetapi Ayana tetap meladeninya dengan nada lembut.
Andina melirik Rosa dan Lisa yang ada disebelahnya lagi nunduk, Rosa menakupkan kedua telapak tangannya.
Semua mulai gelisah, juga khawatir kalau Pak Raihan marah lalu tak mau memberi kuliah.
Deg deg deg
Langkah kaki Ayana dengan sepatu kets bekas menuju ke kursinya.
Wajahnya tetap adem, tidak menunjukkan gelisah atau ketakutan.
Tiba tiba diantara keheningan di ruang 9, Pak Raihan mengawali perkuliahan, para mahasiswa hatinya serasa plong.
Semua di suruh membuka laptop, dan materi selain di kirim ke Email, juga terdapat pada modul.
Dan Pak Raihan mengawali pembahasan dengan nada suara yang mudah di mengerti oleh mahasiswa nya.
" Akuntansi erat kaitannya dengan laporan keuangan yang berhubungan dengan angka, " kalimat ini yang meluncur pertama dari mulut dosen keren, lempeng dan dingin, setelah mulai pembelajaran, semua menyimak sambil matanya melihat ke layar lebar di depan nya.
Andina sesekali melihat sorot mata Pak Raihan yang selalu mencuri pandang pada Ayana, cuman Ayana lebih fokus pada layar di depannya juga pada penjelasan Pak Raihan.
" Ayana, kamu jelas pada materi yang saya sampaikan? " dengan tegas serta dingin Pak Raihan melontarkan pertanyaan pada Ayana, dia menaikan bokongnya dari kursi.
" Uuufff, iiiyyaa jelas Pak, " jawab Ayana agak grogi.
" Apa? " tanya Pak Raihan.
" Eeee tentang Akuntansi Pak, saya di kampung selalu mempraktikkan Akuntansi yang bapak jelaskan," teman teman pada tersenyum senyum tentu mereka tak berani tertawa, dengan jawaban Ayana.
Pak Raihan garuk garuk kepala yang sebenarnya tak gatal.
__ADS_1
" Dasar... kamu...." tak di teruskan karena jam perkuliahan berakhir.