Bukan Aku Yang Jadi Istrimu

Bukan Aku Yang Jadi Istrimu
Episode 50 Share foto dari Bu Kristi


__ADS_3

Raihan POV


Hati lega setelah keluarnya Silvi dari ruang ku, lalu tangan ini mengambil ponsel dan mengusap layar kaca yang licin.


Lalu mencari aplikasi hijau, untuk mendesak mba Nina agar kirim video rekaman Ayyana.


Di kiri atas profil mba Nina, gerak gerak bertuliskan mengetik.


" Ia lagi menjawab, semoga kirim video, " sambil nunggu harap harap cemas.


" Maaf Pak, aku enggak ada video, " pesan dari mba Nina, membuat rasa kecewa mendalam di relung dada.


Aku berpikir tentang pengawal itu merahasiakan karena tidak mau disalahkan, dampaknya diganti orang lain atau memang Ayyana yang menghendakinya. Lalu aku pengin segera menuju klas Clara, akan kuawasi kelompoknya itu, kebetulan bertujuh, kemana pun pergi selalu bareng, aku sebagai wali dosennya sehingga akan memudahkan untuk melakukan pendekatan.


" Pak, masih kurang 18 menit lagi kok, " ucap Roni saat aku menggendong tas ransel, lalu menuju pintu.


" Iya biarin enggak terlalu lama telatnya di ruang, " jawab ku, tangan kanan memegang handel pintu.


" Atau Bapak pengin segera ketemu Clara cs, kelompok yang seneng bikin masalah di prodi kita, " ucapnya.


Yang jadi ucapan Roni tidaklah salah, sebab bukan rahasia lagi


tentang tindakan Clara cs, yang sejak ada Ayyana di kampus ini, dikirimkan oleh pihak kost video tindakannya pada Ayyana.


Sejauh ini memang pihak Ayyana menginginkan berdamai, dan meminta agar mereka tidak mengulangi lagi.


Aku ingat betul tentang ucapan Ayyana yang tidak menginginkan mereka tidak bermasa depan akibat di ajukan ke jalur hukum.


" Sudah Pak Raihan, akunya tidak memasalahkan kok, mereka itu sebenarnya anak anak baik yang menginginkan aku berubah penampilannya, abis di kampus ternama masih ada anak kuliahan yang kampungan, " ucap Ayyana panjang lebar kala itu.


Dan dari kata kata itu, pihak kampus tidak ambil tindakan, tetapi aku sebagai wali dosen berusaha untuk tetap memperhatikan tikah laku kelompoknya Clara.


" Pak Raihan, masih kurang 12 menit lagi, udah enggak nahan ingin ngelihat ku, " hampir aku ingin memuntahkan isi perut mendengar celotehan yang tak etis Silvi kemudian ditimpali oleh Clara,


sedang yang lain hanya tertawa ber ha ha ha ha.


Seketika wajah ini memanas, kali berubah merah kayak udang goreng.


" Uuups jangan ngumbar mulut bocor Silvi, enggak etis, hargai donk aku disini sebagai dosen, " melotot mataku penuh kejengkelan. Ingin rasanya mereka itu secepatnya hengkang dari kampus ini, selain itu karena mereka adalah anak anak dengan status yang penting berangkat kuliah juga tidak punya sopan santun, terutama Clara, Silvi.


Soal nilai mata kuliah, dua anak itu sebenarnya bisa terancam drop out, karena setiap semester hanya beberapa mata kuliah yang bernilai KKM, yang lain dibawah KKM.


" Kok, enggak ada Mira sama Hana, " aku mengalihkan kejengkelan yang meledak ledak di dada, setelah aku melihat kedua anak itu tidak ikut kumpul.


" Mira lagi di Mushola Pak, kali dia sedang nyadar dengan dosanya, " celetuk Clara dengan wajah mengeras.

__ADS_1


" Harusnya kalian ngikutin kayak Mira, mohon ampun pada Tuhan setiap kali mau bertindak merugikan diri sendiri apalagi orang lain, " seloroh ku, menyelidik setiap perubahan muka terutama pada Clara serta Silvi.


" Bapak sukanya nuduh terus pada kami, sumpah Pak, aku dah tobat kok, klo aku masih nglakuin pembullyan pada Ayyana, aku rela kedua mata ini buta, " ucap Clara kesal.


Aku berlalu tak mau meladeni mereka, lalu berharap benar mereka telah sadar, tetapi jangan bangga dulu Clara cs, aku tetap akan mengawasi kalian.


Terdengar celotehan mereka dibelakang ku, celotehan yang tidak bermutu sebagai para mahasiswa.


" Mereka masih kayak anak anak SMA saja, tidak seperti para mahasiswa lain yang lebih mencerminkan kedewasaan," gerutu ku sambil jalan pelan, biar sampai ruang 10, tepat jam mata kuliah ku, juga hati ini setelah berada di ruang klas Ayyana ingin segera menjumpainya.


Lagi lagi Bu Kristi menemuiku di depan pintu.


" Pak, belum jam 10.00 kan, " ucap Bu Kristi, ia pengin bicara tentang Ayyana.


" Tadi Ayyana sempat ku dekati, Pak Raihan, dari sorot matanya ia memendam kesedihan, cuman ia tetap tutup mulut, tetapi aku percaya ada yang melakukan pembullyan kembali, dan hati ini lebih condong pada pemain lama," mata Bu Kristi melihat anak anak yang ada dibelakangku, tak lain dan tak bukan si Clara cs. Bu Kristi punya mata batin yang tajam, sering pemikiran tepat.


" Maaf, bukan berarti aku suudzon, tunggu saja kebenarannya Pak Raihan, " ucapnya kembali.


Beliau bersuamikan seorang aparat keamanan.


" Pak, aku kirim berita serta foto mobil kemaren sore di lampu merah, " ucapnya lagi, lalu mengusap layar ponsel.


Drrrt


Dan kesempatan untuk mengawasi gerak gerik Clara cs saat bertemu dengan Ayyana nanti.


" Ayy, tolong bantu ibu," terdengar panggilan Bu Kristi, Ayyana terlihat telah menggendong ransel mendekat ke kursi kebesaran para pengajar.


Mata Bu Kristi mengedip padaku, seolah ia memberi tanda dengan pemanggilan Ayyana, reflek aku mendekat mereka.


" Ayyana biar keluar bareng dengan ku Pak Raihan," matanya melirik ke Clara cs, dan terlihat sekali mereka tidak suka dengan Ayyana, sorot matanya menghujam penuh kebencian pada Ayyana.


" Pak Raihan bisa perhatikan mereka, sependapatkah dengan ku? " tanya Bu Kristi, lalu menggandeng jemari kecil Ayyana.


Ruang kelas telah penuh dengan para mahasiswa semester 5, rata rata telah siap mengikuti kuliahku, hanya Clara serta Silvi yang masih tetap ngobrol.


" Clara sama Silvi, kok belum puas ngobrolnya, silahkan di taman klo ingin nerusin ngobrol, " ucapku datar saja.


" Bapak, mengusir ku dari kelas? " ucap Clara bergetar, matanya merah, menunjukkan ia kesal atau bahkan marah padaku.


" Kamu kan, yang bicara kata itu, bisa mengerti enggak ucapanku? " tanyaku berusaha menekan untuk tidak tersulut emosi.


" Iya Pak kami mengerti, agar tidak ngobrol yang tak penting karena kuliah akan dimulai, " ucap Sarah pelan sambil mengusap pundak Clara.


Aku sendiri sekarang telah berubah, terutama setelah dekat dengan Ayyana, maksudnya didalam klas sudah mengurangi kadar kencengnya, dengan kata lain sudah banyak menekan emosi.

__ADS_1


Selanjutnya memulai memberi kuliah. Oleh karenanya belum sempat membuka ponsel, terutama kiriman dari Bu Kristi.


Kadang di depan mata ini muncul bayangan Clara cs sedang mengejek Ayyana, atau malah bayangan kemaren sore Ayyana diseret Clara cs, dan sampai mata ini berkedip kedip agar bayangan itu hilang didepan ku, juga membuat ucapan dari mulut tak sinkron dengan tangan yang pegang baterai kecil berlampu merah.


Tak pedulikan senyum senyum di bibir para mahasiswa, aku hanya ambil sisi positifnya, ternyata mereka serius mengikuti perkuliahan ku.


Waktu terus bergulir, jam mata kuliah ku selesai, setelah memberi tanda tangan pada buku kehadiran para mahasiswa, gegas aku keluar kelas, seperti para mahasiswa mereka gegas juga terutama karena waktu telah menunjukkan Dhuhur, sehingga berbondong bondong pada menuju Mushola kampus, yang bisa menampung seribuan jemaah.


Dan tak lupa aku baca chat Bu Kristi, dan sempat menggeleng gelengkan kepala melihat foto Clara cs berada di mobil Ayyana yang duduk di kursi belakang, juga penyetir mobil si Silvi berhasil di bidik juga.


Hampir 70% praduga ku mengarah ke tindak aniaya yang dilakukan Clara cs pada Ayyana, sampai tangan ini ku kepal kepal oleh rasa geram ku pada Clara cs.


" Yang membuat terheran, Clara sama Silvi selalu berbohong, sampai bersumpah mata buta dan mulut membusuk, mereka enggak takut pada ucapannya itu. Yaah, aku hanya berdoa agar mereka disadarkan hatinya, " batinku, terus saja sambil kaki ini dijejakan ke ruang kantor ku.


*


Ayyana POV


Hari pertama aku berpenampilan wajah berbeda, tentunya rasa tidak percaya dirinya sangat menguasai raga.


Bu Kristi tidak kedip menatapku, bahkan mendekat untuk melihat bulu mataku yang baginya terlalu aneh.


Dada ini detakannya mengencang, karena Bu Kristi berbisik kalau peristiwa kemaren sore suaminya, ikut bertugas di lampu merah untuk mengatasi kemacetan, oleh kecurigaan atas sekelompok mahasiswa yang membawa seorang mahasiswi. Dan kecurigaan itu mengarah ke aniaya, maka demi keselamatan orang yang bertugas melindungi meminta bantuan aparat.


" Uupps, sepertinya Bu Kristi mencurigai perubahan penampilan ku, apalagi beliau tak kedip melihat bulu mataku," batinku, lalu kulihat Bu Kristi manggut manggut.


Jam usai materi Bu Kristi, aku semakin tak nyaman oleh panggilan Bu Kristi sedang Pak Raihan dengan langkah cepat mendekati kami.


" Ayy, demi keselamatan, tolong ceritakan kejadian yang membuat kamu mengubah penampilan, " desak Bu Kristi, tetapi gegas beliau mengajak ku keluar, karena ruang mau di pakai oleh Pak Raihan.


Dan sepanjang kami berjalan maka Bu Kristi terus mendesak, tetapi aku tetap beralasan.


" Klo gatal disekitar kulit mata, tentu ada bekas, paling tidak kulit memerah, " desaknya lagi.


" Eee aaanuuu, aku pakai salep Bu, ndah biar kulit bisa tersalep semua makanya aku gundulin ini alis sama bulu mata, " bohongku.


Dan Bu Kristi tidak hilang akal, lalu menunjukkan foto kebersamaan ku dengan Clara cs, aku semakin gugup tetapi tetap mulut ini terkunci.


" Sudahlah Bu, aku mau kuliah lagi, tuh Pak Yanuar dah berada di ruang, terimakasih ibu peduli padaku, " ucap ku, gegas aku menuju ruang 8, yang masih satu deret dengan ruang 10.


Rosa beserta teman lain mendekatiku.


" Ayy, kami sependapat dengan perkiraan Bu Kristi, klo kamu kemaren akan di bawa ke suatu tempat oleh Clara cs," ucap Rosa terus menelisik kelopak tempat bulu mataku.


" Maaf kemaren kami pikir, untuk memberi kesempatan pada Pak Raihan, " ucap Andina, tangan nya mengelus elus punggung ku, dan pada menunduk.

__ADS_1


__ADS_2