Bukan Aku Yang Jadi Istrimu

Bukan Aku Yang Jadi Istrimu
Episode 68 Calla terluka setelah tahu orang tua kandungnya


__ADS_3

Author POV


Udara pagi ditepian pohon pohon kelapa sawit serta areal persawahan sangat segar. Calla jalan jalan dengan kedua orang tuanya lalu mencoba makan jajanan berupa bubur ayam, ikut mengantri yang akan di makan di rumah pakai styrofoam, juga beli lontong daun dengan bakwan.


" Lontong sama bakwan di makan pakai cabai, " ucap anak Pak Setyo yang masih duduk di klas 4 SD.


Bagi Calla di negaranya pernah icip makanan nusantara, apalagi dia gabung di grup orang Indonesia yang seumuran disana, dan kadang saling mengundang makan, biasanya orang tuanya masakin makanan khas nusantara.


" Calla, kamu jangan sampai jalan jalan disini sendiri, " ucap Mama, yang sempat baca viral di media ada tindakan tak baik pada cewek asing yang jalan sendiri.


" Aku kan, bukan bule Ma, sama dengan penduduk sini cuman lebih bersih dan bedanya lidahnya tidak fasih berbahasa Indonesia, " ucap Calla, ia hanya kasihan saja pada kedua orang tuanya yang sudah tua mengikutinya, walaupun sebenarnya beliau sangat suka keliling kampung.


Vera anak Pak Setyo pagi pagi benar sebelum berangkat sekolah selalu menemani Calla serta Mama Papanya, ia betah hidup di kampung ini, karena berasal dari kampung sebelah yang dibatasi sawah serta kebun kelapa sawit juga hutan, sebagai jalan alternatif untuk menuju ibu kota propinsi akan lebih dekat, cuman melewati areal tanpa rumah penduduk, paling di siang hari ramai mobil truk pengangkut sawit juga di kebun sawit banyak pekerja pemetik sawit.


Pak Setyo menjadi supir sejak Raditya mengelola pabrik, cuman keluarganya ditinggal di kampung, makanya saat Pak Setyo ditawari untuk pulang kampung agar menjaga rumah di kampung Bu Yeyen tidak menolak.


Habis jalan jalan di kampung bubur ayam langsung di makan, sambil ngobrol sama Pak Setyo.


" Rumah ini belum selesai pembangunannya, Pak Setyo? abis masih ada material, " tanya Pak Brian.


" Iya, abis baru satu bulan di bikin, yang penting dalamnya sudah bisa di pakai," jawab Pak Setyo.


" Hanya rata rata rumah dari kayu, abis dekat dengan tanaman kayu, " seloroh Bu Cornelia, seperti yang ditempati Pak Setyo semua full kayu, makanya satu minggu selesai bikinnya, beda kalau yang terbuat dari herbel agak lama.


Bu Cornelia di kampung ini memasak sendiri, dengan masakan negaranya dari bahan bahan yang dibawa dari Jakarta, sehingga baik Bu Setyo maupun Bu Yeyen tidak sibuk melayani, kayak saat Ayyana dan Raditya datang.


" Bu Yeyen serta suaminya kok, sikapnya aneh," ucap Pak Setyo.


" Jangan jangan ada dua Calla, yang di adopsi Bu Brian, kali Calla anak asli Bu Yeyen, sedang Calla yang adik Ayyana mungkin di tinggal di panti, " jawab istrinya lirih, karena tak ingin di dengar oleh tamunya.


" Harusnya Calla yang ini secepatnya mau test dna dengan Ayyana, biar cepat tuntas, " bisik istrinya lagi.


" Benar katamu, juga kan, kasihan Ayyana menderita puluhan tahun, dia percaya ingin secepatnya adiknya ketemu, " ucap Pak Setyo.


Calla selalu memasang kuping untuk mendengar perbincangan Pak Setyo dengan istrinya, di hatinya muncul perasaan iba kembali pada Ayyana.


" Mah, Ayyana penuh dengan duka hidupnya ya, dan sekarang mulai ada kebahagiaan karena diperistri oleh orang kaya, " kata Calla dengan bahasa yang tidak dimengerti oleh Pak serta Bu Setyo.

__ADS_1


Selama 3 hari Calla beserta kedua orang tuanya berada di kampung Bu Yeyen, ia sangat kecewa dengan sikapnya yang hanya menyibukan diri di kebun, sehingga ia sehari hanya ketemu sekali saja, kalau malam hari, itupun mereka beralasan ngantuk, capek sehingga paling hanya sekitar seperempat jam.


" Ma, aku kok berpikir aneh pada Bu Yeyen dengan keluarganya, kerasa bersalah kali ya Ma, sehingga kayak berusaha menghindar dari kita, " ucap Calla yang jauh jauh ingin mengakui kalau mereka keluarganya.


" Kali malu, abis dulu ke kami minta tebusan uang banyak banget, sampai aku hampir menyerah tidak jadi ngadopsi kamu, cuman lihat tubuh kurusmu akhirnya kuterima permintaannya, " ucap Bu Cornelia.


Memang saat itu Bu Brian sampai mengambil seluruh tabungan, demi Calla.


" Kali juga merasa berdosa, abis kamu sepertinya tidak di kasih asupan gizi, sehingga tubuh kurus dengan hanya terlihat matanya yang lebar, " ucap Pak Brian. Hati Calla mulai tersentil, karena selama ini orang tuanya tak mau cerita tentang uang yang diminta oleh Bu Yeyen.


" Pantesan, saat aku hanya berhubungan lewat chat, Bu Yeyen selalu minta dikirim uang, " batinnya, malahan Calla mengurangi jatah bulan untuk disisihkan buat Bu Yeyen.


" Mereka kayak enggak suka dengan dibuatnya rumah permanen oleh Raditya disini," ucap Bu Brian.


Sepi kampung ini tidak ada suara deru mobil berseliweran, hanya suara bocah bocah kecil yang bermain di pelataran yang rata rata punya halaman luas, dengan ditanami berbagai tanaman pangan, sehabis pulang sekolah, hanya tidak ada orang dewasa, karena mereka rata rata sibuk di kebun atau sawah di balik lokasi rumah.


Calla beserta orang tua angkatnya telah naik ke mobil untuk ke bandara diantar Pak Setyo beserta istri serta anak anak.


" Pak Setyo, habis nganter kita, tidak langsung pulang kampung? " tanya Calla, dia membayangkan kalau langsung pulang kemalaman harus melewati tempat sepi.


" Pak Raditya pengusaha muda sukses, juga punya villa di Bali, ini kami mau langsung ke Bali, " sanjung Pak Brian.


Berangkat dari kampung sebelum Dhuhur, biar tidak tertinggal pesawat, dan Calla selama di kampung mendengar sendiri pengakuan Bu Yeyen kalau ia adik kandung Ayyana.


" Apakah ibu melakukan pengakuan ini ada yang menekan?" tanya Calla dengan tangis yang tidak kebendung, ia terluka hatinya sudah tidak punya orang tua kandung.


" Tidak ada yang menekan, murni ini dari hati yang selama ini kami pendam dengan rasa bersalah, " ucap Bu Yeyen menunduk, kedua tangan gemetar, ia tidak berani menatap Pak serta Bu Brian, sebab ia dulu menekan pada mereka tentang uang untuk menukar Calla. Sementara mereka sudah mengurus dokumen Calla sebagai anak adopsinya, dan tinggal dibawa saja, tetapi dengan alasan tidak tega pada ponakannya ia membawa pergi Calla. Akhirnya dengan tebusan uang lagi Bu Yeyen menyerahkannya. Sementara Pak maupun Bu Brian tidak mau mengurus ke jalur hukum, karena esoknya mau pulang ke negaranya, juga sudah jatuh hati pada Calla.


Dan sepanjang perjalanan ke Bandara Calla dengan raut wajah sedih, tidak banyak bicara, ia lebih suka memejamkan mata untuk menutupi rasa kecewa bisa memeluk kedua orang tua, ternyata orang tuanya telah wafat.


Dan menurut cerita Bu Yeyen sengaja ada yang menabrak sepeda motornya.


Hanya karena orang miskin tidak ada yang menyelidiki sebab keduanya wafat, akhirnya dianggap kecelakaan murni dengan tabrak lari.


Bu Brian tahu hati Calla yang terluka maka ia meletakkan kepala anaknya dipakuan sambil mengelus pucuk kepala.


" Mama dah bilang berkali kali, yang terluka dalam bertahun tahun Ayyana, " bisik Bu Brian sambil membungkuk mengecup ubun ubun Calla.

__ADS_1


Memang ciri fisik tubuh Calla maupun Ayyana seperti ada keturunan bule, menurut cerita Bu Yeyen, ayah Calla kayak Indo, dan Bu Yeyen sedikit cerita tentang Ayah Calla, katanya terusir dari keluarga, bahkan saat menikahi bundanya tidak ada keluarga yang mengiringi, hanya beberapa teman pabrik. Sampai sekarang Bu Yeyen tidak tahu menahu asal asul ayah Calla.


Sampai juga ke Bandara, tidak lama setelah ceck in masuk ke ruang tunggu, dan tidak menunggu lama pesawat terbang langsung ke Bali.


Di Bandara Ngurah Rai, telah ditunggu jemputan untuk menuju villa milik Raditya.


Calla serta orang tuanya sangat suka pada villanya, setelah ketiganya sampai, dan tanpa punya rasa lelah ketiga orang itu jalan jalan dilingkungan Villa yang menghadap laut, walau matahari telah tenggelam.


" Pah, jalan di bawah villa ramai tuh banyak turis asing berjalan jalan di pantai, gimana klo kita turun? " tanya Calla seperti melupakan luka hati oleh rasa kecewa karena telah tahu kalau orang tua kandungnya bukan Bu Yeyen.


" Makan dulu, tuh udah disiapin, " ajak Ayyana yang masih belum berani bertanya pada Calla setelah ketemu sama Bi Yeyen.


Dan Calla terkaget sampai menggerakkan tubuhnya ke belakang, saat turun berpapasan sama Isaac bersama kedua orang tuanya.


Calla seketika perutnya menjadi kenyang, abis mereka juga menginap di villa milik Raditya bermaksud sama turun ke pantai.


" Kok enggak bersama istrinya si Hana, Isaac juga sudah tidak pakai tongkat, sepertinya ia matanya sudah bisa melihat, nyatanya tak kedip ia memandangku, aku jadi bergidik, " batin Calla kesal, apalagi ia berusaha mendekatinya dan kedua orang tuanya berjalan beriringan dengan Bu serta Pak Brian.


" Hana sudah di kembalikan, abis dia tidak kerasan dan sering meminta pulang ke kampung halaman, " cerita Mamanya Isaac setelah Bu Brian menanyainya.


Sementara Ayyana dapat berita dari chat Rosa tentang Hana yang akan kembali ke kampus.


" Cuman aku dengar Clara dan Silvi menodongnya, " pesan dari Rosa.


" Maksudnya menodong gimana? " tanya Ayyana lewat chat.


" Ya meminta uang, karena Hana setelah berada di Belanda tidak pernah kirim uang, " tulis Rosa.


" Sa, ini Isaac sudah sembuh dari butanya, dia bersama Papa Mama bersama kami, " pesan dari Ayyana.


" Dulu mereka kayak kecewa pada Hana ya, terlihat jelas dari sikapnya, " chat from Rosa.


" Aku berpikir sama dengan kamu, Hana sepertinya diperlakukan tidak baik sama Isaac, " chat Ayyana.


" Iya, kali kecewa maunya kan, kamu sesuai foto yang disodorkan oleh Clara, eee tahunya Hana si buluk, ya tentu mereka kecewa berat, apalagi telah nukar uang besar," tulis Rosa di chatnya.


Malam semakin larut Ayyana yang asyik chat dengan Rosa, tak menyadari dekapan Raditya di sebelah kanannya.

__ADS_1


__ADS_2