
Ayana POV
Melalui putaran waktu baik siang maupun malam, dan entah berapa ribu atau bahkan juta jam, aku melakukan pekerjaan ini, dengan hanya keikhlasan yang ada di hati rasa lelah tak terasakan.
Siang ini saat jam kuliah berakhir, selalu saja menyempatkan waktu untuk singgah ke kamar kost, karena tugas rutin memasak untuk makan siang Tuan Raditya, ia sangat menikmati olahan tanganku.
Dengan menenteng tas plastik berisi belanjaan bahan masakan untuk makan siang, kaki ini melangkah memasuki gerbang kost, selalu saja hati diliputi ketidak nyamanan, karena setiap hari tak puas puasnya Clara yang bisa mengajak dua teman cewek di kamar bawah untuk membullyku, sementara ini teman teman nya masih nyinyiran dengan omongan, tidak seperti Clara sudah mau melakukan tindakan kdrt walau masih dalam batas batas yang bisa aku tolelir, contohnya meludahi baju atau wajah selama aku sedang lengah, tetapi aku pernah kecolongan juga di hantam pakai kayu lengan tangan nya sampai membiru, sejauh ini aku hanya cerita sama tiga temanku.
Seperti Rosa, ia yang sangat getol menjodohkan ku dengan kakaknya, akan selalu menemani ke kost.
" Ay, Clara itu selalu saja menyakitimu, cuman kesimpulan ku, ia itu iri lihat kamu, apalagi sekarang kamu tambah mempesona, dia dan dua temannya semakin tambah tidak suka," ucap Rosa, di iyakan oleh Lisa serta Andina.
Dan ketiga temanku siang ini tak bisa menemaniku memasak di kost, cuman ketiganya berpesan, agar aku saat masuk dan keluar kost harus waspada.
" Benar lho Ay, Clara cs bisa menganiaya kamu, karena rasa iri saja, hati hati Ay, kami enggak tega kalau kamu sendirian pulang kost, " ucap Andina, sebenarnya Rosa telah melaporkan pada satpam serta yang punya kost tentang tindakan Clara cs, bahkan Rosa sempat bisa merekam sehingga dijadikan bukti tindakan Clara cs, hanya saja sampai sekarang yang punya kost serta satpam masih abai.
" Mba Ay, sendirian, biasanya sama tiga temannya? " tanya Pak Seto satpam jaga hari ini.
" Iya Pak, mereka ada kepentingan, " jawabku.
" Mba, Clara barusan pulang, tapi tenang, tindak lanjut perbuatan Clara, sekarang di pasang CCTV, terus bisa di monitor disini, jadi kalau nanti Clara dan teman lain membully kamu langsung bertindak, " ucap Pak Seto, ia terlihat kasihan padaku.
" Waaah, tuh wanita yang menukar harga diri biar berpenampilan kayak aku sudah datang, " ejek Vera teman Clara, aku menulikan telinga.
Dia sepertinya tidak suka dengan sikapku yang abai, dengan celingukan Vera mendekatiku lalu hijab di tarik sampai lepas.
" Mba Vera, anda kurang kerjaan ya, sehingga cari cari masalah, " seloroh ku dengan menarik hijab yang ia pegang, karena ia memegang keceng hijabnya mengakibatkan hijab ku sobek, sedang aku semakin kebingungan, apalagi anak anak kost di kamar bawah banyak mahasiswa cowok.
Pak Seto mungkin lihat di monitor sehingga lari menuju kami, aku segera lari menaiki tangga demi tangga untuk menuju ke kamar, dan mendengar suara Pak Seto.
" Mba Vera, kalau ada masalah dengan Ayana bisa diselesaikan dengan cara baik baik, jangan bikin suasana kost jadi tak kondusif."
__ADS_1
" Pak Seto, kami hanya ingin penyelesaian dengan cara yang kami lakukan, jadi anda jangan ikut campur dengan urusan kami," jawab Silvi, di iyakan Vera.
" Pak Seto, kamu bisa kehilangan pekerjaan kalau melindungi wanita murahan itu, " ucap Vera.
Vera dan Silvi sengaja ngomong keras keras biar aku mendengar, karena masih di tangga, dan Clara menghadangku di tangga, tangannya mendorong tubuhku sekuatnya, tetapi aku memegang kencang railing tangga dan tenagaku lebih kuat darinya sehingga tubuhku tak bergerak sama sekali.
Cuman aku tahu banyak anak anak kost yang tahu, tetapi tidak ada yang membantuku, akhirnya berusaha untuk membalikkan badan dengan tetap berpegangan pada railing tangga, dan Clara terus mendorongku dari belakang.
" Pak Seto, kamu tahu, wanita ini menjual diri agar setara denganku, harusnya wanita murahan ini diusir dari kost, "nada ucapan Clara penuh emosi sambil mendorong ku untuk keluar dari kost ini, juga Vera serta Silvi.
Sedang anak anak kost yang lain kulihat buru buru menutup pintu kamar, tentu aku sangat malu apalagi baju di tarik tarik sehingga ada yang sobek, hijab pun sudah tak layak di pakai, karena ada yang robek.
Dengan hati menggondok aku yang tanpa hijab lari ke mobil, lalu mengambil hijab di ransel, karena aku selalu bawa untuk cadangan.
" Pak Seto, tolong rekaman di CCTV kirim ke ponsel ku, " chat ku.
Dan aku sangat bersyukur pihak kost melindungi ku, karena tidak lama Pak Seto kirim video tindakan Clara cs.
Aku menghubungi Raditya kalau siang ini tidak bisa masak, dan aku sangat lega hatinya karena dia tak lagi suka marah.
Mobil ku arahkan ke kantor Raditya, sampai di ruang parkir, terlihat para pegawai ramai di taman juga ada yang berjalan mungkin mau ke kantin.
Suara tertawa serta obrolan para pegawai yang sedang istirahat siang sambil makan siang di taman, semakin riuh di siang yang panas.
Aku berjalan gontai melewati beberapa pegawai yang berjalan dengan buru buru, sementara Raditya dengan kruk telah berjalan keluar mendekatiku.
" Kok, hijabnya ganti, Ay, kenapa lagi?" tanya Raditya lembut, mata yang selalu tajam menatapnya, akhir akhir ini menjadi sendu, ia sangat suka menatap manik manik mataku, menjadikan hatiku tak menentu, walau aku tetap mengusir suara hati agar tetap bertahan karena bukan aku yang menjadi istrinya kelak, aku hanyalah istri sementara yang mendapat tugas untuk merawatnya sampai ia mampu berjalan.
Dan berdasarkan hasil periksa ke dokter, tulang yang patah sudah tumbuh kayak semula, cuman tidak boleh untuk menapak full dahulu, menunggu benar benar kuat, serta diperkirakan dua tahun pen platina diambil, berarti dia kakinya dibongkar lagi.
" Ay, kok hanya bengong sih, ditanya hijab nya kok ganti, enggak jawab, adakah sesuatu yang tidak baik pada kamu, Ay? " tanyanya kembali.
__ADS_1
" Enggak Mas, aku baik baik saja kok, " jawabku, tidak memiliki keberanian untuk berterus terus dengan yang dialami.
Aku membuka pintu mobil depan, lalu Raditya meletakkan bokongnya di kursi dan aku memasukkan kruk di kursi belakang.
Siang hari ini matahari tak tertutup awan, langit berwarna biru cerah, aku melajukan mobil keluar dari pintu gerbang, menembus jalanan yang tak pernah berhenti dilalui kendaraan, menuju sebuah restoran cepat saji yang tak pernah sepi dari pengunjung, lalu mencari tempat di pojok.
Disela sela makan mata Raditya menatap tajam lengan baju ku.
" Kamu nyadar enggak, baju sobek dipakai? " celetuk nya, aku gelagapan, sejak tadi sebenarnya telah berusaha menutupi ternyata tetap terlihat juga.
" Kok diam saja, " desaknya.
" Mas, aku pengin pindah kost saja, " jawaban yang tak nyambung ku keluarkan dari mulut.
" Mesti ada sesuatu di kost, ada temen kost yang tak suka sama kamu?" matanya menelisik wajah ku yang kepanasan oleh pertanyaannya.
" Hmmm, kamu tak pernah berterus terang pada ku, Ay, cuman kamu jangan kaget, aku telah tahu semua tentang kamu, jadi walau kau tutup dengan rapat, tetap kebongkar," ucap nya panjang lebar, dada ku semakin tak nyaman, sempat melihat mata yang disipitkan dengan bibir dicebikkan.
Aku sering sekali saat bersama melihat Raditya berembun matanya, juga hampir selalu mencium ubun ubun saat aku membantu berdiri dengan melingkarkan tangan ke pinggang, dan yang membuat aku kaget, mungkin dari tadi hanya memandangi nasi dipiring sehingga ia menyuapi ku.
" Aaaa.... malah hanya ngelamun saja, sudah makan," reflek mulut menganga, serta tangan kirinya ia gelayutkan di pundak ku, sementara dada setiap saat selalu bergemuruh, sampai akhir akhir ini aku jadi suka nelangsa, biasanya tangis ku curahkan saat mandi.
Sebenarnya telah sekuat tenaga aku membentengi diri untuk tidak menautkan hati pada lelaki sebelah, cuman Raditya sekarang tak pernah membentak bentak lagi, ia selalu lembut malahan kalau aku sedang mijitin kakinya mesti matanya tak kedip memandangiku.
Ditatap oleh orang se tampan Raditya, keringat dingin terasa banget di sekujur tubuhku, jantung kayak mau lepas juga.
Dan sadar sih, kalau lelaki yang sedang mengelus pundak ini pasangan halalku, cuman aku harus tahu diri karena bukan aku sebenarnya yang menjadi istrinya, aku hanya sekedar untuk merawat dia selama kedua kakinya tak bisa untuk berjalan.
" Mampir ke butik habis ini, Ay," ucapnya.
" Mas, nanti kerjaan mu terbengkalai, baju ku sudah banyak, sampai bingung makainya, " jawab ku setelah tahu mau beli baju untukku.
__ADS_1
Kami selesai makan lalu menuju ke butik, karena aku tidak bisa menolak keinginan nya.
" Mas Raditya, mau milih baju buat istri? ini model baru ku disain, tetap tunik kesukaan mba Ayana, mesti tambah cantik," aku disuruh mencoba dan aku mendengar Mba Ira cerita kalau model tunik yang kali ini ia disain terinspirasi dari kegemaranku, yang hampir semua baju yang ku punya bermodel tunik.