
Author POV
Rasa sayang Raditya yang telah tumbuh, tak menyiakan kesempatan kebersamaan dengan Ayyana, ia juga menikmati belaian lelaki salah satu CEO perusahaan yang sedang berkembang di Jakarta.
Raditya tidak mau berpikir tentang aral melintang yang akan dihadapi kalau sampai kebersamaan ini di ketahui kedua orang tuanya.
Bahkan ia sudah tidak takut kedatangannya saat ini bersama dengan Raihan.
" Mas, akan ku hadapi kamu klo sampai memberitahu pada Papi juga Mami, " batin Raditya, iapun tidak takut pada Kiara maupun orang tuanya.
Ia tentunya berharap tidak terjadi keretakan hubungan dengan keluarga Kiara, sehubungan lebih memilih Ayyana yang belum lama mengenalnya, hanya karena lebih di manusiakan bila di banding sikap Kiara padanya.
" Mas, sudah cukup lama disini, aku juga mau kuliah sekalian mengantar Liandra ke Ayahnya, " ucap Ayyana, suaranya terasa tercekat di tenggorokan, juga belum berani menatap mata tajam lelaki yang masih saja merengkuh tubuhnya, Raditya yang masih kangen apalagi ini ketemuan keduanya di apartemen, dan Ayyana sendiri tak menolak walau hatinya selalu diliputi kekhawatiran, apalagi Pak Raihan telah melihat dengan mata kepala sendiri tentang kebersamaan mereka berdua.
" Aku masih ingin bersamamu disini Ayy. Bukankah tadi aku sudah ngomong sebaiknya untuk hari ini kamu tak berangkat kuliah, tentang Liandra bisa menginap disini dulu, " ucapnya panjang.
" Mas... " mata setajam elang memandang wajah ayu alami yang telah melepaskan dari dekapannya, Ayyana sampai gelagapan sehingga tidak mampu meneruskan kata kata.
" Aku tak ingin kamu bantah, " tandasnya tegas.
" Bukan membantah Mas, cuman mengingatkan pesan Pak Adnan tadi saat kita mau kesini, " ucap panjang dengan penuh kehati hatian dari mulut Ayyana.
Raditya mengangkat tangan lalu memegang pelipisnya, ia baru ingat pesan Pak Adnan kalau jam 14.00 mau kedatangan tamu, rekan bisnis yang sengaja datang dari Jepang.
" Mas, sudah ingat, kan, pesan Pak Adnan?" tanya Ayyana mengulum senyum lalu Raditya menyambut dengan senyuman juga, dan berusaha mendekatkan wajah untuk mengecup bibir merah pink milik Ayyana, hanya Ayyana belum siap menerimanya, karena ia dengan reflek memundurkan kepala dengan sedikit memanyunkan bibir, maka tangan Raditya memencet hidung mancung Ayyana lirih, yang empunya hidung belum sempat menghindar.
" Mas, nafasku... " tak bisa meneruskan kata, karena Ayyana kesulitan bernafas, Raditya melepas tangannya lalu menarik pundak untuk menyenderkan kepala Ayy ke dadanya, ia berkali kali mengecup ubun ubun Ayyana.
Ceklek
Keduanya terkaget dan saling melepas pelukan, setelah mendengar handel pintu kamar berbunyi. Liandra bangun dari tidur, berjalan mendekat ke sofa sambil punggung tangan di usap usapkan ke mata.
" Sayang, sudah bangun, ayo cuci muka biar tak usap usap mata, " ucap Ayyana, gegas bangkit setelah dengar handel pintu berbunyi, dengan dada yang masih berdesir.
Sementara Raditya bangkit juga dari sofa, dengan kruk mendekat juga ke Liandra.
" Oom, ke kampus Ayah, " pinta Liandra.
" Mas, aku sekalian kuliah, nganter kamu dulu, " pinta Ayyana setelah Liandra tidak bisa di rayu untuk tidur di apartemen bersama Ayy, ia tetap maunya bersama Ayah.
" Abis, disini ada Bunda Dania, Liandra takut klo dibentak bentak, " keluh Liandra, kedua tangannya ditutupkan ke wajah.
" Mas, kamu jangan egois donk, ia kayak ketakutan, mungkin sering di bentak bentak, " ucap Ayyana, berharap Raditya menuruti permintaannya.
__ADS_1
" Oklah, tapi ingat kamu, kan, istriku jadi jangan coba coba tebar pesona sama lelaki lain, " tandas Raditya, dengan bibir mencebik serta mata melirik ke Liandra.
Ayyana tahu tentang lelaki lain khususnya ditujukan pada Ayahnya Liandra. Ayyana memanyunkan bibir, lalu mengajak Liandra merapihkan baju serta menyisir rambut.
Dan Ayyana kemudian membantu Raditya, baik ke kamar mandi sampai memakaikan jas.
Rosa tidak menghubungi, ia tidak mau mengganggu kebersamaan Ayyana, yang menurut Rosa sedang bersama Pak Raihan selain Liandra.
" Cuman aku jadi mengkhawatirkan pada Ayyana, apabila bersama Pak Raihan, sebab beberapa hari ini aku selalu ketemu mantan istrinya, apalagi di kampus Silvi yang didukung Clara terus memusuhinya, " batin Rosa berjalan menuju basement.
Rosa bersama teman yang lain, selalu prihatin dengan perundungan pada Ayyana, dan di basement ia celingukan untuk mencari mobil Ayyana serta mobil Pak Raihan.
" Mobil Ayyana masih ada, tapi punya Pak Raihan sudah enggak ada, atau Ayyana sekalian bersama Pak Raihan? " pertanyaan itu muncul di otak.
Rosa berniat tanya ke satpam.
" Aahhh, enggak perlulah abis seperti pingin tahu saja, " gumannya lalu menjalankan mobil dengan kecepatan standar, apalagi keluar dari pintu gerbang apartemen, jalan padat, baik oleh kendaraan maupun pejalan kaki.
Sampai di kampus, belum terlihat mobil Ayyana, Rosa melangkah menuju ruang, sedang Andina serta yang lain sudah berada di teras ruang sambil menunggu Rosa untuk masuk ke kelas.
" Sa, enggak sama Ayy? " tanya Andina menekuk alis.
" Enggak enak hati donk ganggu kebersamaan sama Pak Raihan, " seloroh Rosa enteng.
" Tenang saja dianya yang kita omongin blum ada di dalam, " ucap Lisa datar.
Rosa dingin hatinya, abis ia tak akan kena tonjok.
Sementara Pak Raihan sampai di kampus hatinya sangat kesal, apalagi di apartemen ada Dania.
Karena kekesalannya setelah keluar pintu apartemen tadi langsung ngomong sama Dania.
" Aku tak suka dengan caramu kayak gini, kamu selalu megangguku kalau berusaha cari ibu untuk Liandra, " ia sangat lah kesal, dengan wanita tak tahu diri ini.
" Tapi Mas, aku nyesel banget telah ninggalin kamu, dan tak rela klo anakku punya ibu sambung, dan Mas buka donk matanya si Ayyana orang kampung yang ingin memanfaatkan materi keluarga mu, lihat tahu tahu sudah menjerat Mami, kan, untuk di belikan Apartemen lengkap sama isinya, malahan minta mobil mewah lagi, kalian tuh kena peletnya, nyadar donk Mas, " celoteh Dania panjang lebar dengan muka kenceng.
" Kamu suka menuduh orang, maaf aku males melayani kamu, " dengan langkah cepat turun dari lift menuju basement, untung saat Dania nyerocos di lift hanya berdua, ia yang mepet ke tubuh Raihan secepatnya menepisnya.
Kekesalannya terus berlanjut sampai sore ini di kampus, ditambah oleh sikap Ayyana yang lebih mementingkan Raditya, juga bayangan bayangan kemesraannya di apartemen.
" Huuuh, sudah dua hari Raditya selalu menemui Ayyana, juga tak ada pengawasan dari Mami, mereka bisa saja melakukan kebersamaan, kan, tak dilarang sebab mereka sudah syah sebagai suami istri, " membayangkannya Raihan semakin nyesek dadanya.
Ia mondar mandir di ruangnya, sampai asistennya yang lagi ngetik di laptop sesekali ngelirik, cuman tak berani bicara.
__ADS_1
" Kok sudah jam segini Liandra belum dianter, apa Ayyana tak berangkat? " otaknya terus saja berisi kata kata yang sama, ia lalu ambil ponsel di saku tas ransel yang diletakkan di kursi, berniat akan menghubungi Ayyana, hanya ingin meminta agar Liandra di antar ke kantornya.
" Ahh, males malah jadi bikin hati kesel," batinnya, akhirnya ia hanya membuka buka aplikasi hijau saja dengan membaca share di grup.
Thok thok, Raihan buru buru mendekat ke pintu lalu tangan memegang handel.
" Ayah... " Liandra menghambur pada Ayahnya yang telah membuka pintu.
" Putri Ayah, " tangan Raihan mengangkat tubuh kecil Liandra langsung diciumi pipi chubbynya.
" Pak, aku mau ke klas dulu," ucap Ayyana setengah berlari, karena jam masuk kuliah tinggal 5 menit lagi.
" Uuhhh, tadi abis nganter Raditya ke kantor, kok, enggak langsung aja ke kampus, " batinnya kesal.
Ayyana pulang kembali ke apartemen, karena kuliah jam 15.00, sementara masih sekitar satu jam lagi, dari pada di kampus nunggu terlalu lama mending untuk istirahat di apartemen, dan Liandra ternyata tidak rewel untuk nyusul Ayahnya.
Tetapi keluar dari lift untuk menuju apartemen telah di hadang Dania.
" Hai, kamu yang sudah memelet keluarga Raditya, jangan mempengaruhi putriku agar menjauh dari ibunya," cerocos Dania, tangannya menarik baju Ayyana.
" Bunda bunda, kok, kasar sama Tante Ayyana," sergah putri kecilnya sambil menangis dengan tangan menepuk nepuk kakinya.
" Kamu anak kecil, enggak nyadar klo telah dipengaruhi supaya jadi nurut pada wanita yang tak ada hubungannya denganmu, " berondong Dania, tentunya si kecil hanya bisa menangis sambil tangan nya memeluk kaki Ayyana.
" Mba, tolong lepasin aku, ini Liandra sudah ditunggu sama Ayahnya di kampus, " ucap Ayyana kesal dan ia berusaha untuk melepas cengkeraman Dania.
" Hai, aku yang berhak untuk mengantar, karena ia putriku, " ucap kasar Dania, tangan nya berusaha mencakar wajah Ayyana, tetapi ia telah waspada, apalagi istri Pak Hendra telah menangkap tangan Dania.
" Bu, jangan dibiasakan melakukan kekerasan, bisa lho ibu berurusan dengan hukum, ibu mau tidur di hotel prodeo, " berondong istri Hendra yang ditunjuk oleh Raditya untuk mengawal Ayyana. Cuman Ayyana tadi meminta agar jangan terlalu dekat saat mengawal, karena belum terbiasa, inginnya kaya biasa berjauhan biar orang orang tak bertanya tanya. Dan intinya ia ingin seperti yang lainnya, atau kayak dulu sebelum bersama Raditya.
Flashback Ayyana buyar, setelah masuk ruang klas dengan terengah engah.
" Ayy, dosennya blum dateng, tenang saja, tata dulu nafasmu yang ngos ngosan, " ucap Rosa, matanya menelisik wajah Ayyana yang terlihat tidak nyaman.
" Ayy, kamu kayak gelisah banget sih, jangan jangan ketemu bu Dania, " bisik Andina yang sudah dengar tentang mantan istri Pak Raihan.
" Din, mulutmu di filter donk, jaman sekarang tembok pun ada sinyal nya, " seloroh Lisa mencubit paahaa Andina lirih.
" Hahaha, Lisa, emang bukan rahasia lagi, kan, tentang mantan Pak Raihan itu, siapapun yang dekat dengan Ayahnya Liandra akan jadi sasarannya, " terang Andina.
" Iihhh, kamu enggak ngomong gitu aku dah tahu, " ucap Lisa.
" Lha iya kan... " Andina tak meneruskan ucapannya setelah dosen masuk ke kelas.
__ADS_1