Bukan Aku Yang Jadi Istrimu

Bukan Aku Yang Jadi Istrimu
Episode 17 Berpikir tetap bersama Ayana


__ADS_3

Raditya POV


Aku melihat tiga burung pipit yang bertengger di dahan pohon sawo di teras depan kamarku, yang satu loncat sana loncat sini diantara dahan yang dihinggapi dua burung pipit yang sedang menyatukan paruhnya.


" Akukah dia, yang membiarkan wanita cantik alami sebagai istri syahku seperti burung pipit yang sibuk kayak mau bikin rumah karena paruhnya bawa dedaunan? " mataku masih tak kedip melihat burung pipit yang lagi loncat sana sini dengan paruh bawa daun kering, dan aku anggap burung itu berjenis betina.


Buru buru aku membalikkan kursi roda lalu tangan menggerakkannya untuk menyusul Ayana ke dapur, dan tak menghiraukan Kiara yang masih lelap dengan selimut tebal di atas kasur.


Aku merajuk saat membuka pintu melihat Ayana sedang berada di dekat Mas Raihan.


" Uuufff, dia menyerahkan gelas teh, dan jarinya sempat bersentuhan juga," hampir saja aku tidak mampu mengendalikan diri untuk membanting pintu, dan terbersit dihati aku kali ini tidak mau mengalah pada kakakku.


" Mas, maaf Pak Raihan sepertinya, kecapean semalam karena tidurnya sedikit, aku yang tadi nawarin bikin teh kok, " aku tahu jawaban Ay bohong, bukan Ay yang nawarin tetapi mas Raihan yang nyuruh buatin teh.


" Kamu lebih penting suami atau dia, " rasa kesal ku tumpahkan pada Ay, entah ada apa dihatiku sehingga aku tidak suka melihat Ayana dan kakakku di ruang tengah hanya berdua, apalagi ingat mereka tadi malam nyanyi berdua dengan nyanyian seolah mereka meresapi lirik lagunya, aku menjadi sangat kesal.


" Jawaaab! " aku membentak lirih, sedang mataku menjadi nanar.


" Tuan, iyaa aku salah, " jawabnya, sedang aku tak tahu yang diinginkan oleh ku sendiri, hanya kesal dan kesal yang menggelora di relung dada.


" Aku pijitin jari jari kakinya Tuan, biar kamu rileks, " Ay mengangkat kedua kakiku, lalu di letakkan di kursi plastik, dengan lembut ia memijit jari jari kaki, tak kedip mata ini melihat wajah cantiknya dengan mata yang masih berkabut.


" Makanya semangat Tuan agar cepat sembuh, " dan sentuhan jarinya membuat rasa kesalku melemah.


" Bentar lagi jemuran ya Tuan, " ajaknya, aku mengiyakan, cuman ditenggorokan menggondok.


Aku mulai ada rasa ketergantungan pada gadis cantik yang lagi mijit mijit lembut di depanku.


Warna putih cerah menyebar dipelataran belakang rumah orang tua, kursi di dorong tangan Ay untuk jemuran.


" Ay, temani aku disini, dan elus elus telapak kakiku, " Ay anak penurut apalagi untuk membantu orang yang seperti ku, dengan langkah cepat ia mengambil dua kursi plastik lalu kedua kaki diletakkan kembali ke kursi, sedang ia duduk di depan kakiku, dengan tangan mengelus elus sesuai yang diminta olehku.


Aku tahu ada Mas Raihan di teras belakang ruang tengah yang posisinya menyatu dengan teras depan kamarku, ia sempat melirikku, lalu iapun masuk ke dalam dengan mulut dikembungkan.


" Emmm ia tidak suka lihat perhatian Ay padaku, aku percaya ada sesuatu di hati Mas Raihan, " batinku, aku akhirnya tertawa dalam hati.

__ADS_1


" Mas, aku selalu menuruti kamu, " gumanku lagi.


Sinar matahari pagi terasa hangat menyusup sampai pada tulang tulangku, demikian pula kehangatan pada kaki bekas jahitan yang sudah mengering yang memanjang di kedua kakiku, apalagi elusan jemari putih halus Ayana, tak hanya dirasakan pada telapak kaki saja tetapi rasa hangat merambat ke hati.


Terbersit ide Mami untuk menikah sementara dengan Ayana kugagalan.


" Ay, tolongin Aliandra tuh, nyariin kamu terus sambil ngerengek, biar Mami yang gantiin nungguin Raditya, " Mami mendekat ke tempat kami berdua, dan aku kaget dengan ucapan Mami.


" Jangan jangan ini permintaan mas Raihan, dengan alasan Aliandra, " ingin aku menghalangi kepergian Ayana untuk mendekati Aliandra, tetapi mata Mami melebar tanda aku harus menurut padanya.


" Nanti Kiara biar bantu kamu juga, bukan kah dia sudah tahu cara merawatmu? sejak kemaren ia telah lihat cara Ayana memperlakukanmu," kata Mami, aku tidak bisa membantah, cuman di dada ada rasa nyeri.


Sampai pukul 7.30 aku masih menunggu Ayana yang mendorong ke kamar, tetapi ia tidak keluar juga.


" Yooo, Mami yang dorong kursimu, " aku kecewa, cuman hanya bisa diam.


" Enggak Mi, biarin aku sudah bisa kok ke kamar sendiri, " kekecewaan hati berusaha kututupi di depan Mami, karena aku tidak mau mendengar alasan Mami agar aku selalu mengalah pada kakaknya.


" Maaas," Ayana berlari karena tahu aku sedang memutar roda untuk naik ke teras, dengan tidak mau di dorong oleh Mami.


" Kia, kamu bisa bantu Raditya, kan, sudah tahu caranya, seperti yang dilakukan Ayana, " ucap Mami, matanya mengedip pada Kiara yang lagi merias diri.


" Ahhh, Mami...." Kiara tak meneruskan kata kata, tetapi aku tahu ia tidak sanggup merawat ku seperti Ayana, yang baru kukenal dua hari ini, hatiku merasakan ia merawatku sangat ikhlas.


" Mas, terus mandi ya, " pinta Ayana, kursinya langsung di dorong ke kamar mandi, Mami memperhatikan kesibukan Ayana melayaniku sendirian tidak satupun ada yang membantu.


Kiara apalagi hanya sibuk berdandan, dan disaat saat seperti ini kondisiku, hanya ingin mendapat perlakuan kayak Ayana padaku.


" Kuliah jam berapa Ay? " tanya ku di kamar mandi.


" Jam 10.00, Tuan, " jawabnya, bokongku diangkat untuk melepas celana colornya, aku melingkarkan kedua tangan ke lehernya yang biasa kulakukan.


Seperempat jam selesai di kamar mandi, Ayana selalu memejamkan mata kalau harus menuju ke bagian simpananku.


" Ay, tolong kakinya, " ia mengangkatnya, aku membetulkan U nya yang terjepit.

__ADS_1


Aku tersenyum melihat ia menunduk, dan tidak mau melihatnya.


Lalu aku di bawa ke kamar, dengan terampil Ayana mendandani, walau hanya mampu berada di kursi roda, tetapi telah terlihat rapih.


Di meja makan untuk sarapan bersama, hati kesal lihat mas Raihan memperhatikanku, cuman aku tahu, ia sebenarnya berusaha mencuri pandang pada Ayana, apalagi Aliandra ikut nimbrung minta perhatian Ayana.


Selanjutnya aku berangkat ke kantor menyesuaikan jadwal kuliah Ayana.


" Ay, nanti beli untuk makan siang di warung dekat kampusmu, jangan lupa lho, " aku mengingatkannya, dan ia pulang dari kampus katanya langsung mau mampir, walau nunggu waktu sekitar satu jam tak apalah, abis masakan warung mahasiswa seenak itu, membuat aku nagih beneran, aku pengin makan siang di warung itu, cuman Ayana beralasan, kaki belum sembuh.


Di kantor yang bisa kulakukan hanya di depan laptop, kecuali aku menghubungi Adnan untuk mengajak keliling pabrik. Cuman pagi ini aku ingin menghapiskan waktu di kantor dulu, sambil menunggu Ayana datang.


Sekitar tiga jam Ayana datang membawa piring nasi sama ayam goreng geprek, yang ditutup pakai plastik perekat.


" Enak, nasinya pulen juga ayam gepreknya gurih, Ay, aku ketagihan nich," celetukku.


" Ayam kampung juga Mas, " jawabnya, aku melirik wajahnya.


" Ay, ngantrinya banyak sampai.... " tak diteruskan kata kataku, karena ia telah memotongnya.


" Aku, malas Mas, kalau bedakan lagi, apalagi tadi sekalian menjalankan kewajiban, kamu sudah, kan, Mas? " aku mengangguk dan dikasih nasi lagi.


Matahari terus timbul tenggelam tiada henti, kadang diselingi hujan, petir, juga awan gelap, sehingga langit tak nampak biru, atau benda benda langit yang malamnya bisa menerangi bumi tidak bisa terlihat, tak terasa kaki ini selalu bertopang pada injakkan kaki kursi roda berjalan enam bulan, setiap hari atas saran dokter dengan di bantu sepatu kaki yang terbuat dari logam, juga pakai kruk, karena kedua kaki belum boleh 100℅ sebagai tumpuan tubuh, selalu Ayana lah yang dengan sabar dan telaten merawat.


" Tuan, sekitar empat bulan, kakinya harus sudah tanpa bantuan sepatu, " ucapnya.


Aku hanya diam, dan muncul rasa perih yang amat sangat di dada, karena aku mulai takut ditinggal Ayana.


" Raditya, kamu kali ini harus mengalah lagi pada kakakmu, " dadaku semakin bergemuruh, karena aku tahu tentang arah pembicaraan Mami malam ini, yang di kamar tidak ada Ayana karena ia sedang menemani Aliandra tidur di kamarnya.


" Mi, aakuu, belum bisa menjawab sekarang, tulang saja belum boleh untuk bertumpu secara full," kataku, terasa tidak rela selama hampir lima bulan dirawat Ayana harus kulepas, apalagi disaat saat jenuh oleh kerjaan dari pabrik yang tidak ada rampung nya hanya bersama Ayana untuk menemani bernyanyi dengan aku yang petik guitar atau orgen.


Walau seringkali Mas Raihan ikut masuk ke ruang musik, dan lagi lagi aku harus melihat kekompakan mereka bernyanyi dengan saling memandang.


Perih hati ini menyaksikan nya, sementara aku yang setiap hari selalu bersentuhan, tidak punya keberanian untuk mengakui ketertarikan ku pada Ay.

__ADS_1


" Maksudmu kamu ingin mempertahankan Ayana? kamu harus sama Kiara, bukan kah kamu telah mencintai Kiara lama?" ucap Mami, wajahnya menunjukkan ketidaksetujuan kalau aku tetap mempertahankan Ayana.


__ADS_2