
Author POV
Ayana meletakkan Liandra di kursi panjang yang ada di kamar Raditya, sambil menunggu Ditya yang masih berada di kamar mandi demikian Mami, Papi juga Raihan.
" Kok lama mas Ditya di kamar mandinya!" hatinya mulai gelisah, ia ingin mengetuk pintu kamar mandi, tetapi tahu diri, sebab ia selalu di wanti wanti oleh Mami.
" Ay, perhatianmu jangan berlebihan pada Raditya, nanti bisa menjadi bumerang bagimu, apalagi sekarang sudah mulai latihan berjalan," ucap Mami penuh penekanan, setiap kali ada kesempatan berdua dengan Mami.
" Ay, Liandra di bawa ke kamar sebelah," ucap Raihan lalu menggendong putri semata wayangnya yang sudah mulai turun panasnya.
" Papa, sama tante Ay," rengeknya, ia minta di gendong Ayana.
" Kasihan tante, jarinya sedang sakit tuh," ucap Raihan, mata Liandra lihat jari yang diikat pakai kain kassa, tangan kecilnya menjulur karena ingin mengelus jari Ayana.
Sementara hati Ayana semakin gelisah, karena Raditya tidak juga keluar, walau telinga mendengar suara gemericik shower, mata Ayana berkali kali menatap pintu kamar mandi, hatinya selalu menunggu pintu dibuka.
" Mas Ditya, belum selesai juga di kamar mandi," gumannya dengan wajah terlihat sangat gelisah, tetapi Raihan mendengarnya.
" Kan, ada Mami sama Papi, Ay, kamu jangan terlalu berlebihan perhatiannya, akan bermasalah nantinya buat kamu," kilah Raihan, ia berusaha mengajak Ayana keluar kamar untuk mengikutinya menuju kamar sebelah, hatinya berharap kalau Ayana bisa sebagai Mamanya Liandra, apalagi putrinya sudah sangat lengket sama Ay.
" Bentar Pak Raihan, perasaanku tidak nyaman, karena enggak kayak biasanya," rasa tanggung jawab pada Tuannya, membuat Ayana melangkahkan kaki menuju pintu kamar mandi, lalu mengetuk pintu tiga kali dengan memanggilnya.
" Mas, sudah selesai mandinya," ucap Ayana dengan perasaan gelisah yang sulit dipendam.
" Kok, enggak mau jawab," gumannya, ia memberanikan diri membuka pintu kamar mandi yang tidak terkunci dari dalam dan Ayana tak hirau pada kedua mertua yang melarangnya, demikian Raihan yang menggendong Liandra hanya bengong melihat Ay nelonyor masuk ke kamar mandi.
" Mas...." mata Ay membelalak melihat keadaan Raditya yang sedang duduk diam dengan shower menyiram seluruh tubuhnya, masih menggunakan celana kolor.
" Mau ngantor enggak sih, kamu ya kayak Liandra," seloroh Ay, hatinya tertawa lihat seorang CEO yang dimata pegawai berwibawa juga dihormati di hadapan Ay berubah kayak baby tapi big.
Ayana mengambilkan handuk lalu menyerahkannya, cuman Ditya tidak menggerakkan tangan, ia hanya memandangi wajah Ay dengan wajah sendu.
" Mas, sudah ditunggu Pak Warto," seloroh Ay, Ditya tetap diam sehingga Ay maju untuk mengeringkan tubuhnya pakai handuk.
" Yang bagian bawah sendiri lho Mas," kilah Ay, ia jadi banyak omong, karena Tuannya hanya diam, dengan kedua tangan berpegangan pada pinggang Ayana, dengan tak hentinya memandangi wajah cantik alami, lalu sesekali menghembuskan nafas, dan seperti biasa Ayana sibuk dengan pekerjaannya, cuman lebih hati hati karena jarinya lagi tak sehat.
" Mas, aku keluar dulu," ucap Ayana, ia tinggal melepas celana kolor yang basah kuyub.
Sementara Raditya sesek dadanya, berharap Ay mau melepaskan kain bawah ternyata zonk, apalagi orangtuanya melihat di pintu kamar mandi.
" Ay, sepatu!" panggil Raditya dengan suara keras, hanya karena dongkol hatinya.
__ADS_1
Ayana lari menuju kamar mandi lalu memakaikan sepatu yang untuk membantu berjalan.
" Kruk nya Mas," ucap Ayana, berdiri mau ambil kruk, tangannya ditarik.
" Mau pegangan kamu," jawab Ditya, Ayana menuruti.
Dan dengan berpegangan pundak Ayana, mulailah Raditya mengikuti langkah Ay yang membawa kruk.
Ayana membawanya ke sisi kasur, lalu ia sibuk menyiapkan ganti juga memasukan celana panjang pada kedua kaki Tuannya juga memasukkan ke dua telapak kaki sepatu kerjanya, selanjutnya Raditya melakukan sendiri.
" Ay, aku mau berangkat ke kampus, Liandra sendirian di kamar," ucap Raihan lembut, Ayana yang sedang memasukkan telapak kaki Raditya ke sepatu kerja dengan kepala menunduk menengok ke arah suara, lalu mengiyakan.
" Aku bikinkan jus buah dulu," pinta Raditya.
" Ay, tuh ngrengek Liandra, ia minta kamu yang nemani, bikin jus nyuruh bibi saja," kata Mami.
" Ya sudah enggak jadi saja," ucap Raditya, dongkol di dada sehingga terasa mengap mengap, Ayana sempat meliriknya, dan ia tetap akan membuat jus dengan menggendong Liandra.
" Mas akan aku buatin ya," ucap Ayana, mata Raditya berkedip.
Sementara Ayana dengan langkah panjang menuju ke kamar Liandra yang sedang menjerit jerit dengan memangil Ayana.
" Liandra nanti minum jus nya ya, biar sembuh sakitnya," pinta Ayana.
Raditya telah duduk di kursi meja makan, matanya melihat aktivitas yang dilakukan Ayana dengan menggendong Liandra.
" Ditya, orang tua Kiara punya rencana kamu sama Kiara menikah siri dulu," ucap Mami yang mengikuti Raditya ke ruang makan, Ayana yang sedang memberikan gelas jus ke Raditya hatinya lara mendengarnya, walau ia bisa menutupi kesedihan hatinya, tetapi tangan yang gemetaran tidak bisa berhenti juga.
Sedang Raditya hanya diam, sempat ia memperhatikan Ayana yang buru buru masuk dapur dengan Liandra tetap berada digendongannya.
" Ayana hatinya sangat terluka, Ay, aku mencintaimu," guman Raditya, ia menatap wajah muram Ayana, walau diantara keduanya belum pernah berucap kata cinta, tetapi sikap kesehariannya menunjukkan saling terpaut hatinya.
" Ditya, Kiara malam ini sampai di Bandara, nanti kamu sekalian jemput," suruh Mami.
Raditya sebenarnya sudah di hubungi oleh Kiara, cuman ia hanya menjawab, " Iya, iya."
" Ditya, kok masih diam saja," tandas Papi.
" Iya Pih," Raditya pasrah, bagaimanapun Kiara pernah membuat ia gila juga, sebab 8 tahun ia saling menautkan hati, walau hanya sebulan sekali ketemu karena Kiara lebih banyak berada di luar negeri.
" Pi, kondisiku sudah berbeda tidak seperti sebelum 6 bulan yang lalu, aku tak selincah dulu lagi, Papi tahu sendiri Kiara wanita mandiri," kata Raditya.
__ADS_1
" Kenapa nyali kamu menciut, kakimu akan sembuh normal kembali dan kamu akan mampu mengimbangi Kiara?"ucap Papi dengan nada tegas.
" Mami tahu, kamu berusaha mempertahankan Ay, lihat Liandra saja lengket sama Ay, kamu tega sama kakakmu, jangan hancurkan impian Mas Raihan, Mami merasa berdosa pada kakakmu, kalau Mami tahu Ay ada di hati Mas Raihan, tidak menjodohkan ke kamu," kata kata Mami tegas serta panjang tak bisa dijeda.
Raditya seolah terkunci mulutnya, ia bangkit berjalan menuju kamar dan siap siap berangkat kembali ke kantor.
" Ditya, besok kamu ke kantor yang nganter Warto," tandas Mami.
" Lalu Ay, berangkat kuliahnya gimana?" Raditya tidak bisa menahan yang ada di benaknya.
" Bareng Mas Raihan," seperti geledek disiang hari, Raditya terkaget, walau tahu kalau jawaban Mami itu, cuman yang terpikir di otak Raditya, " Mami tega menyakiti hatinya."
Ayana di kamar Aliandra mendekap erat gadis kecil itu, tujuannya biar putri Pak Raihan tidak tahu Ayana berobos air matanya.
Ia memang tak begitu jelas mendengar kata kata Mami atau Papi, tetapi yang terdengar jelas saat berada di dapur kalau Raditya mau menikah siri dengan Kiara.
" Mas, sebenarnya aku berusaha untuk tidak punya rasa ke kamu, aku sudah sekuat tenaga untuk membuang namamu di hatiku, cuman kok selalu muncul saja kamu di hati," guman Ayana, air mata tak bisa di bendung dan agar tak jatuh ke ubun ubun Liandra, ia selalu menyapu dengan hijab yang dipakai.
" Boboan ya," pinta Ayana, karena Liandra mulai mengantuk.
Ayana membaringkan tubuh Liandra di kasur lalu menepuk nepuk bokongnya lembut.
Tanaman bunga di balik kamar melambai lambai tertiup angin sore, burung pipit sudah mulai berdatangan dengan bertengger di dahan pohon sawo.
Hati Ayana yang saat awal datang di rumah besar selalu menganggap menertawakan nasib dirinya, kini Ayana merasa kalau dedaunan itu memihak padanya.
" Bobo Aliandra, Ay," suara Mami mengagetkannya.
" Iiyyaa Mi," jawab Ay terbata bata.
" Ay, Mami telah menyayangimu, jadi tak akan Mami membiarkan kamu keluar dari rumah ini," tiba tiba Mami membuka suara lembut, dengan tangan mengelus punggung kepala Ay.
" Ay, Mami mau bilang sebagai penyambung lidah. Papanya Liandra sejak pertama ketemu kamu telah terpaut padamu, dia setiap kali habis memberi kuliah di kelasmu, pasti yang di ceritakan kamu, cuman saat itu Mami butuh gadis untuk merawat Raditya, sehingga terbersit ide, kamulah yang di nikahkan dengan Raditya dengan tujuan untuk merawatnya, dan Mami tidak mempedulikan hati Papanya Liandra.
Ay, Mami sering melihat Raihan menangis di kamar, terutama kalau habis melihat kamu merengkuh Raditya," kata kata Mami panjang lebar, dengan menangis.
Sementara Ay, telah cinta pada Raditya, maka iapun menangis lirih.
" Kamu sayang sama Liandra kan, Ay," ucap Mami, tentu Ay mengangguk.
Ayana pada Aliandra membayangkan adiknya Calla yang dipisahkan saat berumur sama dengan Aliandra.
__ADS_1