Bukan Aku Yang Jadi Istrimu

Bukan Aku Yang Jadi Istrimu
Episode 31 Kiara meninggalkan Raditya


__ADS_3

Raditya POV


" Mas, kita telah jadi pasangan suami istri, walau belum tercatat di negara," kata Kiara, ia tak mempedulikan diriku yang lagi kerepotan melepas celana panjang, dan kata kata ini selalu saja meluncur di mulutnya setiap kali ia melihat aku sedang kerepotan melepas ataupun memakai pakaian, tanpa mempedulikan kesulitan ku.


" Dan sehabis ini kamu segera mengurus perceraian dengan wanita yang dijadikan perawatan mu, " ucapnya lagi. Mendengar kata kata Kiara, dada ini serasa sesak.


" Mas, kok diam, aku tahu kamu telah jatuh cinta pada wanita culun, " tandas Kiara dengan nada kebencian.


" Kiara, yang kubutuhkan sekarang seorang wanita seperti Ayyana, lihatlah kakiku yang masih butuh bantuan darinya, " gejolak di dada ini tak bisa kupendam.


" Lho, bukankah kamu sudah bisa sendiri, dasar laki laki mau menang sendiri, " jawab Kiara kesal, lalu tas yang ia cangklong di tangan dilempar begitu saja ke kasur dekat aku duduk melepas pakaian, tubuh ini sempat menggeser agar tidak kena tas.


" Salahkah aku klo berubah pikiran untuk menggantikan wanita yang 8 tahun kuperjuangkan dengan wanita yang baru mengenal 5 bulan? " otak ini terus saja memunculkan kata kata itu, dan raga ini ingin secepatnya menyusul Ayyana.


Kiara terlihat sangat kesal, wajahnya memerah penuh kemarahan, bahkan kedua alisnya sampai nekuk, tetapi aku mulai berusaha mengabaikan sikapnya yang masih saja harus diperhatikan, dan aku tentulah tidak bisa melakukannya, karena aku sendiri tak bisa mengurus diri sendiri.


Kiarapun keluar kamar dengan membawa kemarahannya, dan kesempatan untukku membuka ponsel berchat dengan Ayyana.


" Hmmm, Ayy hanya membaca, tak berani ia kirim balasan chat ku," gumanku dengan rasa kecewa, cuman aku tentulah tahu tentang keadaan dirinya, ia sangat tidak memiliki keberanian kalau membalas pesan.


Aku lalu merebahkan tubuh diatas kasur, serta dihati berharap Kiara tidak masuk ke kamar.


Ceklek


" Ditya, Kiara pergi lagi tidak sama kamu? " Mami masuk ke kamar membuat aku kaget lalu memasukkan ponsel ke saku celana kolor.


" Iya Mi, dari pagi sampai se siang ini baru pulang, apalagi tadi saat nemani aku banyak berjalan, kakinya merasa tidak nyaman, makanya aku enggak mau ngikut kembali, " kataku bohong.


" Kiara perginya dengan menahan marah, " kata Mami.


" Iya Mi, abis aku tidak selincah kayak dulu lagi, sehingga tidak mampu menuruti keinginannya, " ucapku asal.


" Menurut Mami, ia kecewa padamu, abis ia tahu hatimu telah ada Ayy, ingat Ditya pada perusahaan kita," tandas Mami, wajahnya terlihat sedih.


" Mi, apabila Mas Raihan ingin menggantikan Ayy dariku, tetap yang terancam Ayy, " kataku. Mami diam, karena tahu pada sikap mantan istri mas Raihan saat ini menginginkan bersatu kembali.


" Mami ingin melindungi Ayyana, kan, kalau dia celaka maka kitalah yang merasa bersalah, karena ia dilibatkan pada kemelut di rumah ini," kataku.


" Kita berpikir yang baik saja, semoga Kiara juga berpikir jernih, toh, rencana ini semua juga atas desakannya, Mami punya bukti rekaman suara Kiara, " kata Mami.


" Mi, paling Kiara menemui si Dio, " kataku, dan Mami tahu tentang kedekatan Kiara sama Dio. Dan Mami sejak dulu selalu berpikir tentang Kiara yang selalu mengulur waktu kalau diajak menikah tentu karena alasan Dio, cuman Kiara bilang ingin meneruskan studi, tetapi dibalik itu tentu ada alasan lain yaitu Dio.


Aku menatap mata Mami yang terlihat kosong.


" Hmmm, Ditya berpikirlah yang baik, " jawabnya sedikit tergagap.

__ADS_1


Bagiku saat tak ada Kiara sebenarnya bisa dimanfaatkan untuk berkomunikasi dengan Ayyana, tetapi Mami tak juga keluar dari kamar.


" Mi, aku ngantuk," kata ku, dengan mata meredup, dan Mami keluar lalu aku memiringkan tubuh ke kiri dengan memejamkan mata.


*


Kiara POV


Sebenarnya aku telah menyayangi Raditya, tetapi kalau melihat kondisinya aku mulai berpikir untuk kembali ke Dio, tetapi hal ini sulit aku lakukan, karena kami sama sama tidak direstui oleh orang tua.


" Kiara, sampai kapanpun Papi tak merestui kamu bersama Dio, " tandas Papiku.


" Pi, tapi Raditya kondisinya kayak gitu, aku tidak bisa punya suami cacat," jawab ku.


" Kamu tidak tahu tentang keluarga Dio, orang tua nya bisa menguasai perusahaan karena melakukan tindakan tidak baik, yaitu menyingkirkan pewaris yang syah, " tandas Papi.


" Bener Ra, sampai sekarang adik serta anaknya entah dimana, ada yang bilang mereka dibunuh oleh ayahnya Dio, hanya karena ingin menguasai perusahaannya, " tandas Mami.


" Tetapi, Papinya Dio juga tidak suka dengan ku Pi, " jawabku.


" Iya, karena dia tak suka dengan sikap ku yang dianggap ikut campur urusan keluarga nya, " jawab Papi.


Selalu saja kalau Papi cerita tentang Papinya Dio, alasannya hanya karena campur tangan urusan keluarga, dan aku selalu menatap wajah Papi kayak menyimpan duka di matanya, dan sampai detik ini aku belum berani untuk mendesak tentang rahasia antara Papi dengan Papinya Dio, karena aku berpikir ada sesuatu yang ditutupinya.


" Kiara, apapun keadaan Raditya, Papi lebih memilih dia jadi menantuku dari pada Dio," tegas Papi, matanya sedikit ada kabut, beliau seperti sangat berduka.


" Kalau kamu tetap memilih Dio, maka kamu tak punya hak jadi pewaris perusahaan Papi, " ucap Papi tak bisa dibantah.


Aku seketika tertegun, sedang otak kerasa tidak mampu berpikir untuk mencari jalan keluar masalah yang kuhadapi.


" Ingat Kiara, bisa terjadi pewaris perusahaan orang tua Dio kembali ke pewaris asli, dan mereka akan menjadi jembel, " ucap Papi sorot matanya menatap kedepan sangat tajam.


" Katanya mereka telah lenyap Pi, " ucapku merinding juga membayangkan kekejaman yang dilakukan oleh Papinya Dio untuk merebut perusahaan dari saudaranya.


Dan terlintas di otak ku kalau kecelakaan yang dialami Raditya sampai cacat juga dari kesengajaan Dio, karena malam itu saat berada di RM Nusantara aku bertemu sama Dio.


Merinding membayangkannya.


Papi menatap lekat wajahku membuat menjadi gelagapan.


" Aku tahu yang kamu pikirkan Kiara, tentang kecelakaan Raditya? dan itu sama seperti yang dipikirkan Papi, mobil yang sengaja menyalakan lampu jauh sehingga Raditya tak mampu melihat depan ialah mobil Dio," tegas Papi.


" Aaahhh, Papi kok tahu itu? " tanyaku dengan dada berdegup kencang.


" Tak perlu kamu tanyakan dari mana Papi tahu, itulah kenyataan mereka, kamu mau hidup bersama dengan keluarga yang tega menghancurkan lawan? " tanya Papi tegas, seketika kepalaku menggeleng, lalu Papi berlalu dariku.

__ADS_1


Waktu terus berlalu, aku berusaha mencari rahasia Papi yang ditutup rapat tentang Papinya Dio, dan hari ini aku yang sangat kesal dengan perubahan sikap Raditya padaku, keluar rumah Raditya dengan menjalankan mobil cukup kencang, tentulah aku tak punya tujuan, sampai mulai lelah baik tenaga maupun pikiran, lalu aku mencari areal parkir, setelah menemukan, aku memparkir mobil.


Jemari tangan menyentuh remote untuk buka pintu, kaki kanan kujejakan ke paving setelah pintu mobil kubuka, cuman hati ini enggan untuk keluar mobil, aku termangu dengan pikiran kosong.


" Non Kiara, " aku terjengit saat menoleh ada lelaki sebaya dengan Papi mengenaliku.


" Ooohhh, eeee bapak siapa? " aku belum menjawab sapaannya, karena saking kagetnya aku bertanya tentang dirinya.


" Kamu tak penting tahu tentang ku Non," ucapnya.


" Tetapi bapak tahu tentang diriku, " tandasku dengan perasaan takut juga.


" Ya, siapa yang tak mengenal Non Kiara pewaris Pradipa grup, " seloroh nya dengan tertawa renyah, dan gigi gigi yang berwarna kecoklatan terlihat jelas.


" Aahh bapak, jangan terlalu berlebihan," kataku, lalu aku diajak duduk di tempat yang rindang di sebuah taman yang agak jauh dari tempat parkir mobil, dan di taman banyak anak anak beserta keluarga bermain serta orang orang dewasa menikmati jajanan dari para penjual yang berderet deret di pinggir pinggir taman, sambil menikmati kepadatan jalan.


" Bapak mau bakso, " tiba tiba aku tergerak untuk ikut menikmati jajanan disini, dan ini tentulah bagiku baru kali ini akan menikmatinya.


" Non Kiara mau nich makan di tempat ini? " tanya si bapak penuh keheranan.


" Kayaknya enak baksonya, membuat aku pengin icip Pak, " jawabku sekenanya.


" Iya, tentu Non, baru pertama kali datang kesini, dan inilah tempat tongkrongan rakyat, sepertiku, " ucapnya, aku tertawa lirih.


" Hmmmm, aku kerasa disini bersama si bapak bisa melupakan masalah yang menekan dadaku karena aku bisa tertawa, " batinku.


" Non, maaf nich kalau sedang suntuk datang saja kesini, cuman jangan sendirian lho, sebaiknya sama teman, insya Allah masalah yang menghimpit bisa tidak kebayang, " seloroh nya panjang dengan tertawa khasnya.


Aku baru mengenal si bapak tetapi kerasa kayak sudah kenal lama, karena aku serta si bapak yang belum kutahu namanya sudah tak ada kesungkanan.


" Oh ya Non, aku itu teman Papi kamu lho, saat di SMA, lalu pernah juga kerja di perusahaan Pradipa, cuman enggak lama, kamu baru berusia 2 tahun aku keluar," tanpa aku minta bapak ini bercerita.


" Bapak kenapa keluar, atau oleh Papiku di keluarkan? " tanyaku.


" Emmm, aku keluar sendiri kok Non, pengin usaha sendiri. saja, biar bebas, " jawabnya tanpa beban.


" Oh ya bapak namanya siapa? " tanyaku.


" Emmm, namaku Faisal, "jawabnya.


" Terus sekarang usaha nya masih sama kayak saat baru keluar dari perusahaan Papi? "tanya Kiara.


" Sekarang aku cuman jalan jalan, anak anak sudah tidak membolehkan kerja, jadi kebutuhan dipenuhi oleh mereka, " cerita Pak Faisal.


Aku hanya mampu memandangi wajah yang mulia keriput.

__ADS_1


" Non, gimana dengan Dio? " tanyanya, aku sempat terjengit tubuhnya, serta kelu lidahnya untuk berbicara mengenai Dio.


__ADS_2