Bukan Aku Yang Jadi Istrimu

Bukan Aku Yang Jadi Istrimu
Episode 67 Berkunjung ke kampung Bu Yeyen


__ADS_3

Author POV


Jendela kamar apartemen yang besar menghadap ke barat, di saat mentari telah condong ke barat memantul menembus kamar, sehingga kamar dipenuhi cahaya alami, Calla sejak datang masih berada di kamar, untuk meluruskan tubuh di kasur big size yang sangat empuk, sampai bisa tertidur. Ia yang baru pertama menginjakkan kaki di negara tropis kagum dengan panorama alam yang beda dengan di negaranya, ia belum lihat sisi lain dari kota yang didatangi, tahunya di jalan yang dilewati sebersih di kotanya, apalagi di sekitar apartemen banyak tetumbuhan menghijau selain itu bunga flamboyan sedang bermekaran, sehingga Calla berdecak kagum disepanjang jalan masuk apartemen disemarakan oleh bunga itu.


" Ayy, aku pengin turun mau foto foto diantara tumbuhan flamboyan, " ucap Calla sehabis makan siang bersama orang tuanya.


" Boleh, sekarang aja, abis lagi mendung seperti mau hujan, " ucap Ayyana yang duduk disebelah Raditya.


" Cuman kamu hati hati donk, jangan terlalu berlebihan geraknya, patuhi nasehat dokter," ucap lirih Raditya ditelinga Ayyana, dengan tangan mengelus perut rata Ayyana.


" Iya Mas, aku akan selalu menjaga buah hati kita, " bisiknya manja.


Diluar mendung mulai menutupi kota, seakan langit sebentar lagi mau menjatuhkan rintik airnya ke bumi.


Berlima bergegas turun, sebelum kedahuluan oleh hujan hanya ingin berfoto diantara flamboyan yang lagi bermekaran bunganya.


Tak hanya rombongan Raditya yang mendatangi taman pinggiran jalan yang berjajar tanaman flamboyan, tetapi penghuni apartemen banyak yang telah turun hanya sekedar duduk duduk di kursi kursi taman sambil menikmati jajanan yang dibeli di kios kios yang berjejer di sekitar taman.


Ayyana masih saja membatasi kebersamaan dengan Raditya selama di Jakarta, karena ia belum percaya 100% diterima baik oleh keluarga Bahtiar, ia tahu diri kalau pernikahannya hanyalah untuk sekedar sebagai perawat, sehingga cuma sementara.


" Ayy, mulai nanti malam aku tak akan pulang, kita harus selalu bersama, " ucap lirih Raditya sambil duduk di kursi taman dengan memandang indahnya bunga yang sebagian telah jatuh menutup paving jalanan.


" Mas, aku masih khawatir dengan hubungan kita karena aku belum bisa diterima di keluarga mu, " jawabnya lirih, sebisa mungkin Calla serta orang tuanya tidak mendengar masalah yang dihadapi oleh keluarga kecilnya, dan Ayyana percaya mereka tak mendengar pembicaraannya karena sedang asyik berfoto foto diantara bunga, dengan suasana teduh yang sangat mendukung mereka betah berlama lama di luaran.


" Klo orang tuaku dengar kamu sedang hamil, insyaallah mereka menyambutmu dengan baik, " jawab Raditya mengelus pipi lembut Ayyana.


" Aku enggak enak hati Mas, gegara aku hubungan kekeluargaan dengan keluarga Kiara renggang, " ucap Ayyana menunduk.


" Sapa bilang, Maminya Kiara tetap baik dengan keluarga ku, kemaren saja ngumpul di rumah, malahan Oom Faizal mau kerja lagi di pabrik Oom Zayn, dan aku dengar Oom Zayn mulai mau bersahabat kembali sama Oom Laksana, " cerita Raditya, mulai ada titik terang putusnya persahabatan sejak puluhan tahun bisa nyambung kembali, itu karena Zayn sadar bahwa dendam tidak boleh dibawa mati, dari perubahan sikap Zayn inilah maka Faisal mau bekerja kembali di perusahaan yang kelak akan dikelola oleh Kiara.


" Semoga dengan berjalannya waktu perjuangan Dio untuk memiliki Kiara berhasil ya Mas, kasihan Dio cinta mati sama Kiara tetapi terhalang oleh restu orangtua, " ucap Ayyana yang pernah dengar dari cerita Raditya saat di Eropa.


" Aku berharap begitu Ayy, " Raditya hampir saja keceplosan tentang nama ayah Ayyana sama dengan adik Oom Laksana, cuman masih ditahan takut kalau Ayyana tambah berduka, karena Ayyana hidupnya penuh dengan masalah yang bagi orang lain belum tentu kuat.


Tetapi Raditya tidak mau tinggal diam maka ia telah menyewa direktif untuk menyelidiki adik Laksana yang bernama Dylan. Seperti usaha agar bu Yeyen cerita yang sebenarnya tentang Calla, ia sukses membuat Bi Yeyen bicara terus terang, hanya saja Raditya masih diam dulu pada Ayyana apalagi pada Calla.

__ADS_1


Bukan berarti kecil hati, tetapi situasi kedua anak itu masih belum bisa percaya atau masih diliputi keraguan.


Langit tambah gelap oleh awan tebal merata, semua orang ditaman satu satu mulai meninggalkannya.


" Ayo masuk ke apartemen, bentar lagi hujan deras, ini dah mulai turun, " ucap Ayyana mengajak Calla serta kedua orang tuanya.


" Jangan lari Ayy, jaga donk baby kita, " cegah Raditya saat Ayyana berlari kecil, tangan Ayyana di genggam kencang.


" Kan, bisa lewat depan ruko donk, " ucap Raditya kembali tangannya menggelayut ke pundak Ayyana, tentulah dia menurut apalagi dari teras teras ruko langsung masuk ke basement.


Sampai di basement air dari langit jatuh begitu deras, udara dingin menusuk tulang, tetapi bagi Calla serta Nyonya Cornelia beserta suami biasa.


" Calla disini belum merasakan udara panas menyengat, kayak musim panas klo di negara kita, " ujar Mamanya.


" Biar krasan disini, sehingga klo dah pulang selalu pengin datang ke Jakarta atau ke wilayah Indonesia lain, " ucap Raditya.


" Oh ya kapan kita ke kampung Bu Yeyen, aku sudah mimpi ketemu keluargaku, " desak Calla.


" Kami sudah nengok bi Yeyen, dari bandara harus pakai taxi menuju kampungnya sekitar 7 jam, jalan sudah bagus sih, " ucap Raditya, beberapa hari yang lalu Ayyana sama Raditya diam diam mendatangi bi Yeyen, dan bi Yeyen sekeluarga sangat kaget serta ketakutan, sampai memohon agar tindakannya memisahkan Calla tidak dibawa ke jalur hukum.


Itulah maka Raditya meminta pada bi Yeyen agar jangan menceritakan tentang Calla dengannya, Raditya khawatir psikis Ayyana akan terganggu, apalagi ia takut kalau sedang mengandung babynya.


" Calla, gimana nanti malem siap test dna, di seberang jalan ada rumah sakit bagus serta lengkap alatnya, " ucap Raditya pelan saat duduk di sofa ruang keluarga sambil menikmati cemilan kering khas Indonesia.


Mata Calla mengerjap ngerjap, ia belum siap mental kalau hasilnya tidak sesuai angan angannya.


" Sudah terima saja tawarannya, daripada kamu selalu diliputi keraguan, padahal jelas dari foto foto saja sudah bisa diterka, apalagi pengakuan Bu Yeyen, " ucap Nyonya Cornelia, didukung oleh suaminya Brian.


Ayyana rasanya terkunci mulutnya untuk berbicara yang berhubungan dengan Calla yang menginginkan orang tua kandungnya masih hidup, yaitu Bu Yeyen sekeluarga.


" Hari ini aku belum siap, nantilah klo aku dah menemui Bu Yeyen sekeluarga di kampung, gimana klo besok kita temui Ma? " tanya Calla, kedua orang tuanya menuruti kemauan Calla.


" Cuman kami tak ikut, kan, nanti ada orang kepercayaanku yang jemput, biar disana enggak repot transportasinya, kalian bisa tidur di rumah sebelah Bu Yeyen, " ucap Raditya yang sengaja buat rumah panggung dari semen, dengan fasilitas lengkap, sehingga kalau datang ke kampung Bu Yeyen tak perlu balik ke kota menginap di hotel, dan rumah itu di rawat oleh orang kepercayaan Raditya yang sudah berkeluarga, yang nantinya akan menjemput Calla beserta orang tuanya.


" Besok perlu bawa makanan karena disana sulit nyari makanan kebiasaan kalian, " ucap Ayyana, oleh karena makanan dari Belanda akan dibawanya.

__ADS_1


" Bahan mentah untuk buat roti bisa bawa, kan, disana ada alat untuk membuatnya, " ucap Ayyana kembali.


" Nanti bisa diajak ke mall Ayy," ucap Raditya matanya melirik pada perut Ayyana, tujuannya agar selama jalan jalan tetap menjaga kandungannya.


" Menurut aku, kalian istirahat lagi, tadi istirahatnya kan, cuma bentar saja, " ucap Raditya, lalu mereka menuju kamar masing masing, sedang Ayyana juga masuk kamar diikuti oleh Raditya.


" Mas, kamu mau ke kantor lagi kan," ucap Ayyana membalikkan tubuh menghadap Raditya, kesempatan bagi Raditya untuk mengecup bibir tipisnya.


" Mas, kamu enggak bosen bosennya sih, " seloroh Ayyana basa basi, padahal iapun sama dengan Raditya.


" Cuman sekarang beda donk, enggak sembarangan, kan, ada dedeknya, " ucap Raditya sambil merem melik.


*


Hari terus berlalu, Calla masih berada di kampung Bu Yeyen, bertiga sangat menikmati suasana kampung tanpa ada bangunan gedung gedung.


Sesuai pesan dari Raditya Calla beserta orang tuanya tidur di rumah panggung permanen milik Raditya disebelah kiri rumah bi Yeyen.


Rumah rumah tidak berjauhan, jadi seperti kampung di Jawa, mengelompok yang hanya terdiri dari satu kelurahan, sehingga tetap ramai.


" Calla, kamu sudah percaya cerita Bu Yeyen, sama kan, dengan ucapan Raditya, gimana? masihkah kamu ragu tentang orang tua kandungmu? "tanya Nyonya Cornelia.


" Kamu aja tidak ada mirip miripnya sama Fahri, hanya ada sedikitlah sama Bu Yeyen," ucap Pak Brian.


" Pa, Ma, cuman aku masih berharap dasar dari test dna, abis aku akan terluka klo kenyataan aku bersaudara dengan Ayyana, " ucap Calla, setelah ketemu keluarga Bu Yeyen bersemangat untuk test dna.


" Mama tahu kamu terluka setelah datang ke Indonesia ternyata tidak bisa mencium kedua orang tuamu, tetapi kamu tentu bisa membayangkan kesedihan Ayyana, selain telah mengerti kehilangan orang tua, juga kesedihan kehilangan kamu, " ujar Nyonya Cornelia.


Bu Yeyen beserta suami sama Fahri diam, mereka tidak mengerti yang dibicarakan karena menggunakan bahasa negara mereka.


Dan berkali kali Bu Yeyen mengucapkan penyesalannya memisahkan Calla dengan Ayyana, hanya karena miskin, padahal ialah yang harusnya bertanggung jawab mengasuhnya karena dialah keluarga satu satunya dari bundanya Calla ya bundanya Ayyana juga.


" Bu Yeyen tak perlu menyesali, semua karena jalan hidup, dan semua ada hikmahnya," Pak Setyo yang dipasrahi rumah milik Raditya di kampung Bu Yeyen ikut bicara.


" Bener ucapan Pak Setyo, abis klo ikut kami tidak mungkin Calla akan lebih bahagia, kayak Ayyana ikut bi Kasmanto, atau lihat Fahri yang tidak bisa meneruskan sekolah, klo Ayyana hanya keberuntungan sekolah gratis, " ucap suami Bu Yeyen menunduk, karena dulu ialah yang mendesak istrinya untuk menyerahkan Calla pada Nyonya Cornelia.

__ADS_1


__ADS_2