Bukan Aku Yang Jadi Istrimu

Bukan Aku Yang Jadi Istrimu
Episode 69 Kiara dapat kiriman foto


__ADS_3

Author POV


Desir angin malam di pantai yang dingin tak menyulutkan para turis untuk meninggalkannya, demikian Calla yang hati tidak nyaman dengan keberadaan Isaac disampingnya tak membuat ia meninggalkan pantai, ia membungkam mulut untuk tidak berkata sepatahpun, yang dilakukannya hanya memandang panorama langit di depannya di kegelapan malam, tetap terlihat bentuk cakrawala, ia berjalan ke bibir pantai, menenggelamkan kaki putihnya ke air laut yang sedang pasang. Sesekali menggembungkan pipinya yang halus, oleh rasa kesal pada lelaki beda umur 10 tahun yang selalu mengikuti langkahnya.


Keduanya tidak saling menyapa, Isaac sebenarnya pengin menyapanya tetapi ia tahu tidak mungkin Calla menyambutnya, sehingga iapun lebih memilih diam.


" Ayo masuk ke Villa, hari sudah larut malam, abis seharian ini kamu belum istirahat, " ajak Bu Brian, tangan di ulurkan ke lengan Calla lalu digandengnya, sambil mengajak Isaac masuk Villa juga.


" Sudah ditunggu makan malam sama tuan rumah, " ucap Mamanya Isaac, dengan menatap lembut Calla.


" Ini anak mirip dengan istri Raditya, kali adiknya yang terpisah jauh di negeri orang, " batin Mamanya Isaac.


" Tak menolak aku kalau Isaac menyunting nya," batinnya lagi.


Berenam jalan beriringan, Isaac tak peduli pada sikap tidak bersahabat Calla, ia percaya suatu hari bisa menundukkannya.


" Tunggu gadis snow, akan kubuat kau mencair, " batin Isaac dengan bibir tersenyum tipis.


Berjalan melewati taman yang tertata, dengan lampu taman yang temeram, Calla masih tetap membisu sampai menuju ruang makan.


" Uuuhhh terasa kenyang perut ini, kalau enggak sejak siang tidak terisi, rasanya malas untuk makan malam, " batin Calla, matanya menatap sayu ke Ayyana yang sedang dipaksa makan oleh Raditya, sampai ia mengalah menyuapi.


" Kamu nyadar enggak sih, sejak datang perut belum terisi, ingat di perutmu ada baby yang perlu dikasih asupan, " tandas Raditya lembut.


" Mas, cuman aku jadi mual, enggak enaklah sama tamu, " jawabnya sambil hidung ia tutup dengan punggung tangan.


" Orang ngidam enggak semua makanan bisa masuk, " timpal Mamanya Isaac, sambil bawa Kroketen makanan khas negaranya, dengan campuran daging serta wortel, seledri biar wangi.


Isaac masih saja tak putus asa untuk mendekati Calla, yang lebih banyak memanyunkan bibirnya, serta dada yang mendongkol, tetapi malah terlihat tambah imut dan cantik.


Dia hanya menikmati Kroketen sama meminum jus buah, untuk sekedar mengganjal perut yang kosong, padahal hidangan tersaji banyak di meja.


" Calla kita bawa makanan ke luar, mumpung tidak hujan," ajak Ayyana yang menahan rasa mual disampingnya Raditya.


" Tidak Ayy, habis makan mau tidur, capek bener tubuhku, " hatinya mulai berbaik baik pada Ayyana, ia telah berusaha untuk mengakui Ayyana sebagai kakak kandung, dan telah kirim pesan tadi, kalau dia siap test dna, untuk memperkuat kalau mereka saudara kandung.


*


Kiara POV


Hujan mengguyur kota Jakarta, daun daun bergoyang di terpa air dari langit, demikian udara terasa dingin menyusup kulit yang terasa sekali di tubuhku. Seharian aku hanya bisa berada di rumah ngobrol dengan Mami, sambil mengamati taman samping rumah dari balik jendela yang sengaja ditutup.


Masih saja rasa sakit membekas di relung dada, mengingat kegagalan hubunganku dengan Raditya.


" Ma, aku dengar Ayyana sedang hamil dan sekarang berada di Bali, " ujarku masih saja dada ini sesak.

__ADS_1


" Sudahlah kau jangan cerita tentang mereka, membuat sulit melupakannya, " nasehat Mama, terlihat olehku matanya sendu, dan percaya Mama ikut merasakan pahitnya luka hatiku.


" Oh ya bukankah hari ini Dio mau mengajakmu ke rumahnya," ucap Mami mengingatkanku.


Memang sedikit demi sedikit hubungan Papi sama Oom Laksana mulai membaik, dan aku berterima kasih pada Oom Faisal yang memperjuangkan semua ini.


Cuman aku masih belum nyaman apabila ketemu Oom Laksana juga istrinya.


Aku tidak suka mendengar cerita yang selalu diulang setiap kali bergabung dengan tante Mira, ya Mamanya Dio.


" Rinata tuh semasa hidupnya hanya terobsesi pada Papanya Dio, dia tak mau mengkaca diri bahwa dirinya bukan tipe pilihan Mas Laksana, aku ya heran dengan obsesinya lebih baik mengakhiri hidupnya, " ucapannya selalu berapi api, sampai sulit di jeda, aku pikir beliau masih memendam rasa tak suka dengan almarhum tanteku, sehingga setiap kali aku diajak Dio ke rumahnya tak bosan bosannya mengulang dan mengulang cerita sama yaitu tentang tante Rinata.


Ingat itu terasa sungkan untuk sekedar berkunjung ke rumahnya.


" Kok kamu kayak malas, nich tante Mira sudah chat padaku, katanya telah masak masak, " tiba tiba Mami memecahkan lamunanku dari ketidak sukaanku pada cerita Maminya Dio.


" Sudah, kamu buang tuh Raditya dihatimu, toh Dio lelaki setia, terbukti diuji ketidak akuran kami, ternyata ia tidak putus asa padamu, bahkan hubunganmu dengan Raditya tidak menyulutkan dia untuk mundur dari mu, " Mami mengingatkanku, membuat bibir ini semakin terkunci agar tidak membuka sikap tante Mira pada almarhum tante Rinata tentunya yang membuat aku tidak cocok padanya.


" Ki, Dio penginnya segera meresmikan hubungannya, ia tidak ingin berlama lama, " ucap Mami.


" Kok sama aku enggak cerita Mi, " ucapku.


" Dia belum berani mendesak kamu, alasannya karena hatimu masih saja ada Raditya, " ucap Mami.


" Dia mau, enggak ngumpul dulu Mi, abis aku tinggal 2 tahun studynya, berarti selalu berjauhan, " kataku, trauma menjalin hubungan belum bisa hilang di hati, walau sebenarnya Dio selama ini selalu bertemu dengan ku, bahkan frekfensinya lebih sering Dio ketimbang Raditya.


" Yang tahu kan, kamu lah, " seloroh Mami, pandangannya penuh selidik padaku, sepertinya beliau ada kekhawatiran dengan ketidak fokusanku, abis selalu saja aku belum bisa mengambil langkah dari problem yang kuhadapi.


Drrrt


" Chat dari Oom Faisal, " batinku, tertera tulisan foto di depan nama Oom Faisal.


Tertarik untuk membuka chatnya.


Jemari tangan menyentuh nama Oom Faisal pada ponsel, lalu terbukalah kiriman foto foto Oom Laksana dengan cowok yang mirip dengannya.


" Mih, ini foto foto mudanya Oom Laksana, kata Oom Faisal sama adiknya yang bernama Dylan, " kutunjukkan chat Oom Faisal, lalu Mami menatap lekat pada foto foto di ponselku.


" Ooohhh, " Mami terjengit sampai menaikan tubuh dari kursi yang diduduki.


" Kenapa Mih, " kaget juga aku lihat sikap Mami, apalagi kedua alis sampai nekuk.


" Aahhh kayak ada sesuatu yang tak beres, " batinku, lalu aku mencoba mendesaknya. Semula Mami sungkan untuk cerita, tetapi bukan Kiara namanya kalau tak bisa membuat Mami terpaksa harus buka mulut.


" Iiituuu benar adik Laksana yang bernama Dylan, cuman sampai sekarang tak ada yang tahu keberadaannya, ada yang bilang sudah wafat karena kecelakaan saat pulang kerja beserta istri, " cerita Mami dengan raut wajah gelisah, serta miris.

__ADS_1


" Mih jangan tutupin donk rahasia Oom Laksana, benarkah ia orang baik atau ambisius, " aku sedikit ingat pada keceplosan Oom Faisal dulu tentang karakter Oom Laksana.


" Papinya Dio yang tidak kusenangi, ialah selalu tega pada adiknya si Dylan, " ceplosnya, cuman ia akhirnya menutup mulutnya dengan punggung tangan, kayak menyesal, dan saat aku mendesak beliau tak mau menceritakannya, maka akupun tidak memaksanya, karena saat itu aku tak mau berurusan terlalu jauh.


Akhirnya kuceritakan pada Mami tentang sikap yang tidak disenangi oleh Oom Faisal pada Papinya Dio.


Mami wajahnya memucat, tangannya sempat kuperhatikan gemetaran.


" Kenapa Mami kok jadi ketakutan, ada apa tentang Oom Laksana?" tanyaku, rasa ingin tahu mulai tidak bisa terbendung di hati ini.


" Emmm, adik Laksana dipaksa melepaskan perusahaan yang sekarang dikuasai olehnya, lalu diusir dengan alasan adiknya yang bernama Dylan enggak nurut pada orang tuanya, yaitu di jodohkan sama Riris yang masih ponakan Mira, Maminya Dio, " cerita Mami agak sungkan.


" Hanya perjodohan di usir Mi? " tanya ku penasaran.


" Iya, abis Dylan lebih memilih Alimah anak orang miskin, sementara perusahaan yang Dylan kembangkan sejak lulus SMA itu milik orang tuanya, yang hampir bangkrut, " cerita Mami.


" Lha bukankah perusahaan telah maju, " ucapku.


" Ya itu karena kegigihan Dylan, " kata Mami.


" Oom Dylan almarhum sama Tante Alimah, punya anak? " tanya ku.


Mami menggelengkan kepala, maksudnya Mami tidak mengerti tentang itu.


Hujan diluar belum reda juga malah semakin menderas, sementara aku semakin gusar dengan diriku ini, dalam hati tertarik dengan kisah Oom Dylan, sehingga pengin bincang bincang sama Oom Faisal.


" Mi, aku kok tertarik untuk tahu tentang Oom Dylan, karena Papi pernah menggerutu tentang Oom Laksana yang tega mengenyahkan adiknya, tidakkah itu nanti berbahaya bagi kita, " aku menjadi berpikir kurang baik.


Mami wajahnya semakin memucat, dan bibir sempat bergerak cepat.


Aku semakin bersemangat untuk tahu tentang Papinya Dio. Sudah cukup lama ngobrol dengan Mami, aku menuju kamar untuk meluruskan tubuh di kasur, sambil menghubungi Oom Faisal, aku percaya beliau tahu semua tentang masa lalu Oom Laksana beserta keluarga.


Aku berchat ria dengan Oom Faisal dan cerita nya sama dengan Mami tentang Oom Laksana.


Oom Faisal kirim foto foto saat Oom Dylan wedding dengan Tante Alimah almarhum.


" Mereka punya dua anak cewek semua, kudengar di bawa dua duanya oleh kerabatnya yang bernama Yeyen ke kampung di luar pulau Jawa, untuk menjauh dari keluarga Laksana," chat dari Oom Faisal.


Dada ini berdegup kencang membayangkan tentang nasib Oom Dylan beserta istrinya.


" Aahhh jangan jangan kecelakaan tabrak lari itu trik dari Oom Laksana, " batinnya.


" Sesakit sakitnya aku pada Raditya karena lebih memilih Ayyana, tak setega itu untuk mengenyahkannya, paling aku cuman mengata ngatain dengan kata kata tidak baik, hanya karena luapan kekesalan, " batinku, sempat iba dengan nasib kedua anaknya yang menjadi yatim piatu.


" Yeyen itu secara materi tidak punya, makanya bertranmigrasi, lalu setelah berhasil kedua orang tuanya menyusul, " cerita Oom Faisal, dan berita ini juga dari mulut ke mulut, soal kebenarannya Oom Faisal tidak tahu.

__ADS_1


__ADS_2