
Author POV
Angin malam menghembus ke ruang tamu yang pintunya terbuka, rumah keluarga Adiwangsa yang biasanya tenang, paling hanya terdengar suara obrolan satpam, tetapi malam ini di dalam ada kegaduhan.
" Mas, benar feelingku, kamu telah terpesona dengan wanita itu," Kiara menarik hem Raditya, ia yang belum kuat berdiri sampai terhuyung huyung, Ayana melihat lelaki yang selama 5 bulan ini di rawat berusaha melindungi.
" Hai, kamu tak punya hati nurani, mas Raditya masih belum pulih kakinya," Ayana tidak takut pada Kiara, bahkan ia sambil berkacak pinggang.
" Gadis culun dan miskin, kamu berpenapilan seperti sekarang, dari siapa hahh!" tangan Kiara diangkat dan melayang ke wajah Ay, dengan tangkas Ayana menangkap tangannya, jari jari berkuku panjang Kiara, siap juga akan mencakar wajah Ayana.
" Ay, lepaskan tangan Kiara," seru Mami, sedih dengan keributan ini, Ayana melepas tangan kecil Kiara yang halus karena perawatan.
" Wanita barbar," tangan Kiara menarik hijab Ayana sampai lepas, dia tidak pernah memperlihatkan mahkotanya kecuali pada Raditya, dan hatinya sangat geram, karena Kiara beraninya menyerang dari belakang.
Sementara Raihan hatinya serasa tercabik cabik mendengar ucapan Raditya, kekesalan hati yang selama Ayana merawat Raditya ia pendam bisa Raihan luapkan.
" Ditya, tidak nyadar kamu, berdiri saja belum mampu, jalan juga masih terseok seok, ingin menguasai dua wanita, ngaca Ditya, atau kamu ngerasa menguasai Adiwangsa grup!" lantang suara Raihan, tangannya mencengkeram wajah Raditya keras.
Ayana lihat sikap beringas Raihan bagai singa lapar, menjadi tidak simpatik.
" Pak Raihan, stop perlakuan pada Mas Raditya," Ayana tidak tega melihat cengkeraman tangan Raihan pada Raditya.
" Hai, wanita yang tak jelas asal usulnya, kamu yang jadi sumber keributan, maka kamu harus enyah dari sini!" Kiara merasa lebih punya hak di keluarga Adiwangsa, bahkan tubuh Ayana di dorong keluar, padahal harusnya Ayana karena ia jadi istri syah Raditya.
Semua hanya diam dengan perlakuan Kiara, hanya Raditya yang mencegah tindakan Kiara.
" Kiara, aku sebagai suaminya tidak mengijinkan Ayana keluar dari rumah ini," ucap Raditya tegas, mata Kiara membelalak mendengar ucapan Raditya yang jelas jelas sudah berpihak pada Ayana.
" Mas, kamu lebih penting pada wanita yang baru dikenal 5 bulan dari pada aku, yang sejak kecil bersamamu," ucap Kiara kesal.
Sementara Mami menjadi merasa bersalah dengan langkah yang diambil untuk menikahkan Ayana dengan Raditya tanpa bertanya lebih dulu pada Raihan.
" Kiara, kamu juga ikut andil membolehkan Raditya menikah dengan wanita lain, walau alasanmu untuk dijadikan perawat bagi Raditya," batin Mami.
Papi yang dari tadi hanya bungkam, karena Kiara selalu melampiaskan kekesalannya yang ditumpahkan pada Ayana juga Raditya, akhirnya Papi Adiwangsa berusaha menjadi penengah pertikaian, yang fokusnya pada Ayana, dan dengan kewibawaannya semua diam, serta menurut padanya.
" Papi mau tanya sama Ayana dulu, Ay, saat kamu dinikahi oleh Raditya sudah tahu tujuannya?" tanya Papi, matanya menatap tajam pada wanita yang jadi menantu dadakan.
" Iya tahu Pi, hanya merawat sampai mas Raditya bisa berjalan," jawab Ayana menunduk, hatinya perih karena yang diucapkan tidak sejalan dengan yang ada di hati.
__ADS_1
Raditya tercenung dengan kata kata Ayana dan merasakan ada benda yang menekan berat di dadanya, sampai akhirnya ia menghela nafas dengan menghembuskannya lewat mulut.
Malam sangat hening di rumah besar ini, bahkan Aliandra tak terbangun oleh keributan yang terjadi barusan.
Papi menarik nafas dalam, lalu membuka suara kembali.
" Ay, sesuai jawabanmu lalu apa langkah kamu selanjutnya?" tanya Papi lirih, ia sedikitnya menghargai perasaan Ayana, perempuan yang di jadikan korban tindakan tak berperasaan dari keluarganya.
" Eeee, mundur Pi dari rumah ini, dan ucapan terimakasih pada Mami serta Papi, perempuan sepertiku di hargai, karena untuk merawat mas Raditya aku dinikahkan," kata Ayana dengan dada menggondok.
Raditya hanya mampu memandang Ayana dengan menahan rasa sakit di dada, bahkan matapun berkabut.
" Di rasa Mas Raditya, sudah bisa mandiri, aku lebih baik besok sekalian pamit," lanjut Ayana.
" Sebaiknya memang kamu keluar dari rumah ini segera, lalu mas Raditya segera ke pengadilan," ucap Kiara tegas.
Semua diam hanya Papi yang menyuruh istirahat.
Ayana masuk ke kamar Aliandra, lalu merebahkan diri di sebelahnya, demikian yang lain.
****
Mataku tak mampu terpejam, sehingga mengarah kesetiap sudut kamar, lalu ke langit langit kamar, tak juga bisa melepas duka lara hati dari hinaan Kiara.
" Aku manusia yang tak jelas asal usulnya," ini menyakitkan rasanya, walau kenyataan sampai sekarang aku sendiri tidak tahu baik keluarga dari bapak maupun ibuku, bahkan bibi serta paman tidak tahu juga, karena selama bibi jadi tetangga tidak pernah salah satu anggota keluarga yang mendatangi.
Tapi aku percaya orang tuaku punya keluarga.
Tiba tiba otakku kepikiran pada mas Raditya di kamar sebelah.
" Aaahhh, tentu ia tidur sama Kiara, yang biasa dilakukan bila dia datang," bayangan Kiara yang sengaja memamerkan bersama mas Raditya di depanku terus muncul di benakku, seketika aku terluka, sakit, dan perasaanku menjadi hampa, pikiranku kosong lalu dada terasa sesak seperti kekurangan oksigen paru paru ini.
Keputusasaan mendera di benakku, semangat hidupku hilang, aku tidak sanggup membayangkan kebersamaan mas Raditya yang telah mengisi hatiku malam ini sedang berada di atas kasur melakukan kebersamaan.
Ingin rasanya aku masuk ke kamarnya, menarik tubuh Kiara turun dari atas tubuh mas Raditya.
Dan mengingat ini, sakit, perih hati ini.
" Aaahhh, aku tidak sanggup menerima kenyataan ini, hiks hiks hiks," aku tidak bisa menahan deraian air mata lalu aku bangkit membuka pintu kamar yang menuju teras di balik dinding, duduk di lantai pinggir dengan menyandarkan tubuh di dinding, kaki ku tekuk lalu menelungkupkan kepala ke lutut, tangis isak lirih yang hanya mampu kuluapkan, untuk melonggarkan sesak di dada.
__ADS_1
" Uuuuuffff, mengapa ada rasa cinta di hati yang sangat menyakitkan, hiks hiks hiks," batinku terus saja perih, ingin aku lari dan lari menjauh dari beban di dada.
" Ay...." tangan mengelus punggung kepala yang tetap kututup hijab, dengan linangan air mata aku menengadahkan kepala, nanar mata ini melihat lelaki diatasku yang berusaha mengangkat tubuh ini.
" Ay, aku tahu perasaanmu, sakit menerimanya, seperti sakitku selama 5 bulan melihatmu bersama Raditya," ucap sendu lelaki itu, aku telah berdiri dan bersender di dinding, dengan mata nanar oleh tumpukan air mata, tetapi aku bisa tahu lelaki yang berdiri di depanku adalah Pak Raihan.
Dia berusaha meraih tubuhku yang oleng, seperti tulang tulang ini lolos dari seluruh tubuh.
Aku berjalan tertatih tatih dan kubiarkan tangan Pak Raihan menuntunku, lalu masuk kamar dan merebahkan tubuh di sofa, karena aku sadar tak ingin Liandra bangun dan tahu tangisanku, dan tak lama Mami masuk ke kamarku, mengelus elus kepala yang tertutup hijab.
" Ay, maafin Mami ya, membuat kamu terluka, tetapi Mami selama kamu bersama Raditya, rasa berdosa dan terluka terus tiada henti, melihat Papanya Liandra terpuruk sepertimu sekarang, bukankah Mami sudah katakan berkali kali padamu, agar jangan menautkan hatimu ke Raditya, karena aku tak ingin melihat kamu dan kedua anakku terluka, kamu tetap menjadi menantuku Ay," ucap Mami lirih serta lembut.
" Sudah tidur, kamu besok telat kuliah, kalau kamu belum ingin berangkat ke kampus sama Mas Raihan, pakai saja mobil yang lain, kamu tak akan kami biarkan keluar dari sini," ucapnya lagi, tetapi aku semakin terisak lirih.
Aku ingin menghindar dari mas Raditya sama wanitanya, aku tak mau melihat dengan mata kepala sendiri kemesraan yang selalu di pamerkan padaku.
Aku ingin menjauh dari semua kepedihan hati yang bermula di rumah ini.
" Tante Ay.... Papa," suara cempreng Liandra meluluhkan kedukaan hati, pelan pelan tubuh ini bangkit dari sofa dekat bednya lalu duduk dengan mengusap mata dan berjalan pelan ke kamar mandi untuk cuci muka, sambil sedikit menengok Liandra yang sedang dipeluk oleh Papanya di kasur.
Kulihat di cermin, sisa sisa tangis masih kentara, bengkak di mata berusaha dibasuh berkali kali, cuman tetap masih belum hilang, sementara Aliandra terus saja memanggil, aku buru buru keluar.
" Tante Ay...." rengeknya.
" Iya sayang," aku berlari kecil mendekat ke Lian yang sedang dipeluk Papanya, sedang mertuaku rebahan di sofa.
" Lama sih tante," rengeknya lagi.
" Sudah sama Papa kok," ucapku.
" Tapi kan ingin ada Mamanya," rengeknya.
" Uuuss uuusss, selalu saja Lian ingin ada Mamanya," bantinku, padahal satu minggu lalu Mamanya datang, ngajak ke mall.
Dania Mamanya Liandra melihat aku dengan sorot mata tajam, seperti menelisik setiap jengkal tubuhku, apalagi saat pulang dari mall, Lian lari memelukku, Dania seperti kesal padaku.
" Mi, wanita itu pengasuh Liandra, kan?" menyakitkan mendengar ucapannya.
Mami menatapku sendu.
__ADS_1
" Menurutmu gadis secantik itu pengasuh, dia layak jadi pengganti Mamanya Liandra," ucap Mami, bibirnya dicebikkan, sementara Dania melengos.