
Kiara POV
Aku menuju ke jendela, mata mengarahkan ke taman di balik kamar, ada Paman Tardi yang sedang sibuk menyiram tanaman.
" Hmmm, dia kayak tidak punya masalah dalam hidupnya," batinku. Mata ini tetap mengarah pada gerak gerik Paman yang hari harinya selalu menyibukkan diri untuk kerja dan kerja. Beda denganku yang lebih banyak duduk sambil membaca apabila di rumah sedang jenuh dan biasanya keluar tanpa tujuan.
Paman suka bersiul di taman, kemudian istirahat dan biasanya di dekati sama istrinya dengan dibikinkan kopi maupun teh dengan cemilan.
" Uuhhh, kebahagiaan tidak harus diukur dengan materi, nyatanya Paman serta Bibi tetap menikmati hasil yang tidak seberapa dari bulanan yang di beri oleh Papi, benar sih, kebahagiaan diukur dari seberapa kita menyikapinya, dengan kata lain disikapi oleh rasa syukur, " batinku.
Aku membalikkan tubuh, karena sudah menunjukan waktu janjian sama Pak Faisal, lalu gegas kaki ini keluar kamar.
Tak lupa aku pamitan sama Mami yang sedang duduk di gazebo bersama Bibi. Mami kesehariannya pabila di rumah sepi selalu ngobrol sama Bibi maupun ART yang lain, beda dengan ku jarang berkomunikasi dengan mereka, sehingga kerasa asing seperti dengan Pak Faisal terutama saat mengawali bicara, makanya tadi siang yang banyak bicara tentulah Pak Faisal, aku hanya jadi pendengar walau yang dikatakannya tidak juga aku bisa nyambung.
" Nanti malam datang bersama Raditya, Mami mau masak, " tandas Mami, sedikit berjengit tubuh ini sehingga lamunanpun buyar dan sambil berlalu aku mengiyakannya.
Dengan langkah kurang bersemangat kaki ini menuju garasi mobil, sambil membuka pintu dari jarak tertentu.
Setelah tubuh ini masuk mobil tak lupa sabuk pengaman, kujalankan mobil melewati jalan yang setiap hari tak pernah sepi.
Butuh waktu agak lama jarak tempuhnya oleh padatnya kendaraan di jalanan, dan sampai ditempat parkir, Pak Faisal mendekati mobilku, sehingga kami menuju taman berdua, lalu mencari tempat duduk yang masih kosong.
Sore ini cuaca di Ibukota sangat bersahabat, membuat banyak pengunjung terutama keluarga dengan membawa anak anak mereka yang penuh kecerian.
" Gimana Non, sudah siap mendengar cerita ku? " tanya Pak Faisal setelah kami duduk di kursi taman.
Aku berusaha menata hati dengan memposisikan tubuh agar duduk lebih nyaman lalu aku mengangguk dengan telinga sama otak untuk lebih fokus pada ucapan Pak Faisal, dan beliaupun akhirnya mulai membuka mulutnya.
" Aku, Papi kamu serta Papinya Dio berteman sejak SMA dan kami setiap hari selalu ngumpul di rumah kakekmu, kebersamaan ini terus kami lakukan sampai lulus sekolah, cuman aku diantara bertiga yang tidak meneruskan ke bangku kuliah karena terbentur biaya.
Lalu setelah Papimu lulus kuliah membuka usaha sedang Papinya Dio sama aku bekerja di perusahaan Papi kamu.
Selama bertahun tahun mereka berdua tetap akur, bahkan Pradipa grup semakin bertambah maju sementara adik laki laki Laksana nama Papinya Dio juga telah merintis usaha, " Pak Faisal berhenti cerita, beliau melihat wajahku, mungkin tahu kalau aku bosan mendengar ceritanya.
__ADS_1
" Gimana Non, mau diteruskan cerita ku? " tanyanya kemudian.
" Iya boleh Pak, tetapi aku hanya ingin tahu sebab mereka bermusuhan bahkan sampai aku serta Dio dilarang berteman, " ucapku.
" Ok lah, aku tahu kamu tak tertarik dengan cerita ku tadi, tetapi itu penting diceritakan, kalau langsung cerita pada titik permasalahan bisa saja salah arti," ucap nya, aku membenarkannya.
" Ya sudah Pak, teruskan ceritanya, waktuku juga tidak terlalu lama disini, " pintaku sedikit gelisah, tentu hati ini kepikiran pada Raditya, yang bisa memanfaatkan kepergianku untuk menghubungi Ayyana atau bahkan menemuinya, kekhawatiran tetaplah ada di benakku.
" Ok, aku teruskan ceritanya. Zayn nama Papi kamu bukan anak tunggal, ia punya adik perempuan, cantik seperti mu, namanya Rinata, " beliau menghentikan ceritanya, karena kupotong.
" Lho Pak, tapi Papi serta keluarga ku bilang kalau Papi anak tunggal, " potong ku.
" Mereka berusaha mengubur kesedihan, sehingga tidak mau cerita tentang Tante kamu, " ucapnya, wajahnya berubah sendu.
Aku mulai penasaran, maka dengan membetulkan posisi duduk di kursi taman, siap mendengarkan kembali ceritanya.
" Zayn sangat menyayangi Rinata, dan segala sesuatu selalu dipenuhi, demikian oleh orang tuanya, dan suatu hari Rinata bilang ke Zayn kalau ia mencintai Laksana, maka Zayn dimintai tolong agar Laksana mau menerima cintanya, saat itu Zayn sangat bingung, karena yang ia tahu Laksana tidak begitu tertarik pada Rinata, ia sudah punya wanita yang disayangi yaitu Maminya Dio, " cerita nya, lalu beliau akhirnya berhasil flashback tentang kata kata Papi dengan Pak Laksana, yang menurut cerita Pak Faisal supaya menemani bertemu sama Pak Laksana.
" Na, aku tahu kenapa kamu memutuskan keluar dari Pradipa grup, " ucap Zayn.
" Tidak hanya alasan itu, kan, tetapi jelas kamu ingin menghindar dari Rinata, adik ku, " tandas Zayn, kedua alis menekuk serta terlihat wajah yang sangat kecewa.
" Zayn, kamu mengertilah hati ku, haruskah tidak punya hati untuk meninggalkan Ajeng yang sudah setia sejak SMA menemaniku, " ujar Laksana.
" Itulah perbincangan kedua sahabat, aku tidak menambah serta mengurangi nya lho Non, Dan Laksana tetap pada pendirian nya untuk meninggalkan Pradipa grup, sedang Zayn hatinya sangat kesal dengan keputusan Laksana, sehingga sejak itu keduanya menjadi renggang hubungan persahabatan yang telah terjalin lama.
Sementara Rinata hari harinya menjadi murung setelah tahu kalau Laksana tidak lagi bergabung dengan Zayn, bahkan ia telah mendengar kalau Laksana telah menikah dengan Ajeng lalu berusaha untuk mencari cara agar Laksana menikahinya, dan Laksana tetap tidak bisa dengan Rinata. Dalam keadaan putus asa Rinata akhirnya mengakhiri hidup, " aku terkejut dengan penuturan Pak Faisal apalagi matanya berembun, ia merasakan duka dengan keputusasaan Tante Rinata yang baru aku tahu kalau Papi punya adik cewek.
" Pak, apakah saat itu enggak ada yang bisa menasehati, atau ada pendampingan, karena dari cerita Pak Faisal, semua telah tahu kalau tante cinta mati pada Oom Laksana, " kataku sedih juga.
" Nenekmu selalu melindungi bahkan kemanapun Rinata selalu ditemani, tetapi karena itu sudah jalannya, sehingga ada kesempatan untuk mengakhiri hidup, " ucapnya.
" Papi mungkin selalu ingat pada tante Rinata," kataku menunduk.
__ADS_1
" Iya betul katamu, bahkan Papimu sampai bilang tak boleh keturunannya sampai menikah dengan keturunan Laksana, " kata Pak Faisal, matanya menerawang ke langit yang sudah mulai berubah menghitam, mentaripun mulai tenggelam di ujung barat.
Mendengar kata kata Pak Faisal barusan aku terkesima, kebimbanganku harusnya telah bisa disingkirkan, dan hati ini harusnya lebih fokus pada Raditya, cuman bisakah aku menghindar dari obsesi Dio.
" Apakah Dio kayak Tante Rinata? yang selalu terobsesi untuk mendapatkan yang diinginkan, " gumanku di hati.
" Oh ya Non, mungkin kamu tahunya kalau Laksana menyingkirkan adiknya, bahkan yang ku tahu adiknya yang telah merintis bisnis sampai sukses, sekarang telah tiada, karena kecelakaan bersama istrinya," cerita Pak Faisal kembali.
" Itu yang selalu Papi bilang, kalau Oom Laksana dengan saudara saja tega hanya ingin jadi penguasa di bisnis yang didirikan oleh adiknya, apalagi dengan kita, bisa jadi bernasib sama kayak adiknya," cerita ku sesuai kata kata Papi yang selalu diulang ulang.
Pak Faisal tak mau berkomentar, beliau hanya tersenyum tipis.
" Oom Laksana sendiri juga tak sudi bermenantukan aku, jadi klo Papi beralasan menguasai bisnis, kurang masuk akal juga, kali benar yang diceritakan oleh Pak Faisal, " batinku.
" Non, sudah hampir Magrib, aku hanya mampu sebatas memberi informasi saja, insyaallah tidak menambah kata kata yang tidak nyata, " ucap Pak Faisal, lalu kamipun bangkit untuk pulang.
Pak Faisal tidak mau diantar pulang, karena akan dijemput oleh anaknya. Aku juga tidak bisa memaksanya, sehingga aku meneruskan perjalanan pulang menuju ke rumah Raditya.
Sepanjang perjalanan aku menyetir berusaha percaya dengan cerita Pak Faisal, sehingga akupun dengan sekuat hati akan menjauh dengan Dio. Tetapi aku dengan Raditya menghadapi persoalan yang kubuat sendiri, yaitu tanpa berpikir agar Raditya menikah dengan wanita yang bisa merawatnya, karena aku tahu Raditya tak mau dirawat oleh wanita selain Maminya, kalau mau dirawat oleh wanita lain harus istrinya, sementara aku tidak mau kalau merawat dia.
Dan kini dengan Raditya sepertinya ia tidak mau melepas Ayyana, Raditya, aku tahu telah menyingkirkan ku di hatinya, diganti oleh wanita culun yang sok perhatian padanya.
Mengingat ini rasa sakit dihati tak terelakkan, ingin rasanya kucari dia untuk disingkirkan dan aku juga tidak menginginkan pabila si culun itu jadi istri Raihan, jelas aku lebih mendukung agar bersatu kembali dengan Mamanya Liandra, apalagi Raihan dulu sangat mencintainya.
Otak ini terus saja tak bisa berhenti berfikir dengan masalah yang lagi kuhadapi, membuat kurang fokus dalam menyetir, tetapi aku tak ingin konyol kayak Raditya sehingga menyetir dengan kecepatan standar saja.
Jalanan yang tak pernah sepi dari kendaraan, hanya saja tidak sampai terjadi kemacetan, artinya jalannya tetap lancar lancar saja.
Membutuhkan waktu setengah jam menuju rumah besar mertua.
" Mi, kok kamar Mas Raditya gelap," kataku.
" Iya, belum mau dinyalakan, Raditya masih malas malasan di kasur, " kata Mami mertua.
__ADS_1
Dan dengan langkah cepat menuju ke kamar, pintu kubuka lalu menyalakan lampu.
" Mas, ditunggu Mami, supaya makan disana, Mami telah masak, cepetan Mas, " desakku, kesal juga lihatnya abis masih saja tiduran.