Bukan Aku Yang Jadi Istrimu

Bukan Aku Yang Jadi Istrimu
Episode 58 Ayyana di jemput


__ADS_3

Author POV


Siang terasa sangat pendek, sebab langit berubah hitam, dan hanya lampu lampu jalanan di kota sebagai penerang.


Ayyana hanya melihat panorama di kota lewat jendela di apartemen, yang sengaja tirai belum ditutupkannya, kebiasaan Ayyana apabila di Jakarta.


' Ayy, ditutup donk tirai nya, terlihat lho dari luar, " pinta Hanifah.


" Mba, aku pengin nikmati malam lewat kamar, gimana klo lampu dalam dimatiin," pinta Ayyana, yang masih asik matanya memandang alam dibalik jendela kaca.


Ia memang seperti menikmati hamparan warna putih berkilau oleh cahaya lampu, tetapi khayalnya pada lelaki yang telah merasuk di hati.


" Mas, kaukah yang ada di hamparan salju di jalan belakang apartemen, " dada Ayyana berdegub kencang karena matanya seolah melihat Raditya nun jauh di jalan yang sedang berdiri memandangnya. Ia berkali kali berkedip matanya, untuk membuktikan bahwa yang dilihatnya hanya halusinasi.


" Ayy, udah malem lho, tirai jangan lupa ditutup, jangan samakan apartemen mu yang tinggi bisa leluasa buka tirai, abis enggak terlihat oleh orang yang ada dibawah, " ucap Hanifah lirih sebab sudah ngantuk berat.


Merasa tidak enak hati Ayyana menutup tirai, ia masih ragu untuk membuka chat pribadi dari Raditya, oleh karenanya masih didiamkan, walau hati berkecamuk ingin segera membaca isinya.


Ia hanya belum siap diketahui orang apalagi keluarga kalau Raditya adalah suami dadakannya.


Kaki di langkahkan menuju kasur untuk gabung dengan kedua saudaranya yang telah mendekur lirih dengan saling bersautan.


Gelisah hati tak bisa dihilangkan oleh Ayyana, rasa ingin membuka ponsel kiriman Raditya terus saja menggebu, maka ia bangkit dari rebahan dengan hati hati, tak ingin membuat kedua kakaknya terganggu dari istirahat.


Tangan ambil ponsel yang selalu di letakan di saku bajunya selama di UK, tak ingin rahasia di ponsel terlihat oleh saudaranya.


Ia duduk di sofa lalu mengusap layar licin dari ponsel yang harganya fantastik, bukan dari kantongnya mengeluarkan uang untuk beli ponsel, tetapi Radityalah yang membelikannya, dan ponsel yang lama dikasihkan ke Paman.


Mata ia arahkan pada chat Raditya dengan penuh debaran jantung.


" Ayy, kita besok ketemuan, ok, " pesan from Raditya.


Tergerak hatinya untuk menuruti kemauannya, lalu ia menyentuh huruf demi huruf di keypad ponsel, dan dihati ingin menanyakan tentang keberadaan Raditya, tetapi diurungkan, karena ia tahu orang dengan banyak uang kapanpun pergi bisa saja, tanpa harus ribet, kan, telah punya dokumen lengkap, apalagi rencana Ayyana menyusul kakaknya sudah direncanakan jauh hari, tentu Raditya ikut menyesuaikan rencana Ayyana, tanpa harus ngomong ke Ayyana.


" Iya Mas, cuman aku tak berani keluar sendiri, " balas Ayyana yang percaya Raditya telah ada di kota yang sama, tentu di apartemen mewah, tak mungkin kaya milik Hanifah yang sederhana.


" Hmmm, ternyata dia belum tidur, di pojok atas tertulis mengetik," batin Ayyana berdebar, dan ingin rasanya waktu cepat berganti pagi.


" Ok, akan aku jemput besok sekitar jam 10, kamu dah bangun ya, " pesan from Raditya.


" Ya sudah donk Mas, ngapain bangun kesiangan, " pesan from Ayyana.


Ayyana memang belum tahu disini jam segitu masih gelap, abis biasanya berkabut belum lagi dingin menusuk tulang.


Ayyana yang telah rebahan di sofa, tidak mampu memejamkan mata, otaknya terus berpikir tentang janjian sama Raditya, dan ia mengabaikan rencana kakaknya yang menyuruh ikut ke tempat kerjanya, hanya khawatir kalau Ayyana di culik oleh orang yang selalu menguntit saat ketemuan dengan Calla.

__ADS_1


Dan baru bisa terpejam mata beberapa menit telah di bangunkan oleh Marwah.


" Ayy, sebentar lagi aku berangkat kerja, udah donk bangun, nanti aku terlambat kerjaannya, " tangan Marwah menggerak gerakan tubuh Ayyana.


" Ahhh, mba aku ngantuk, barusan bisa tidur, " seloroh Ayyana dengan mata tetap terpejam.


" Kamu tuh enggak takut klo di apartemen sendirian? " tandas Marwah dengan hati was was.


Karena waktunya harus berangkat kerja, sehingga kedua kakaknya keluar kamar dengan mengunci dari luar, tetapi memberi tahu letak kunci duplikat pintu, tentulah tak tega apabila Ayyana dikamar dalam keadaan terkunci dari luar, tanpa ada kunci cadangan lain, memang apartemennya sederhana, tidak kayak yang ditempati Ayyana di Jakarta, juga kecil cukup ada ruang tidur, dapur sama kamar mandi, selain itu tidak terlalu tinggi.


Ayyana bangun satu jam kemudian setelah keberangkatan kakaknya ke tempat kerja, itu juga karena dengar suara panggilan dari ponselnya.


" Hmmm, Raditya men vidcall, enggak apalah bangun tidur menerima panggilannya, kan, kepala tertutup rapat, " batin Ayyana sambil mengusap kedua matanya. Iapun menyentuh tanda panggil warna hijau, dan waooo, terlihat wajah cakep Raditya di ruang mewah.


" Assalamu'alaikum, " sapa Ayyana tersenyum.


" Waalaikum salam, gimana siap ku jemput pagi ini? " tanyanya disana.


" Emangnya, Mas ada di London? " Ayyana malahan balik nanya.


" Emangnya kamu hatinya enggak ngerasa sejak kemaren, aku ngikutin kamu di Belanda, " ucap Raditya disana.


" Ufff ternyata kamu Mas, yang mbayarin makan juga ya, awas nanti klo ketemu, " Ayyana kesal ingin nabok pada Raditya.


" Dasar, suka ngerjain, bikin kedua kakakku ketakutan Mas, dikiranya orang jahat, " ucap Ayyana dengan sedikit manja.


" Ok, langsung aku jemput kamu, " ucap Raditya disana lalu menyudahi vidcallnya, sementara Ayyana belum bersih tubuh, cuman karena dingin, seperti kedua kakaknya tadi berangkat kerja juga tidak mandi, hanya mengelap tubuh, iapun ikut kayak kakaknya, walau tadi ia masih tertidur tetapi sayup sayup dengar kegiatan kedua kakaknya.


Belum selesai berdandan bel pintu berbunyi, buru buru ia mengintip dari lobang pintu, jantungnya berdesir keras saat matanya lihat yang ada di depan pintu Raditya.


" Bentar, Mas, " Ayyana belum membukakan pintu, mau menyelesaikan dandanannya yang tetap natural, juga hanya pakai baju musim dingin.


Dengan dada yang terus berdetak tak beraturan Ayyana membuka pintu.


Klek


" Ayy, " Raditya tidak bisa membendung kerinduannya, dengan tubuh telah masuk ke kamar merengkuh tubuh Ayyana lalu memciumi ubun ubunnya lembut dengan memeluk tubuh Ayyana kencang, seolah tidak ingin melepasnya.


Ayyana tidak seperti di Jakarta yang berusaha menghindar, kali ini ia pasrah pada perlakuan Raditya, ia sedang sangat membutuhkan tambatan hati dari luka atas perlakuan Calla, selain itu lelaki yang memeluk erat tubuhnya juga telah merasuk ke seluruh jiwa raganya, bahkan dalam hati ia mau merelakan dirinya pada Raditya.


" Mas, lepas dulu, susah nafas, " ucapnya, tangan Ayyana ikut juga dilingkarkan ke tubuh Raditya.


" Hmm," mata Raditya menatap lekat wajah cantik Ayyana, lalu,


" Cup," bibir Raditya menempel ke bibir Ayyana, dan lagi lagi Ayyana pasrah.

__ADS_1


" Mas, cuman kakakku enggak ngebolehin klo aku keluar, mereka nanti ketakutan abis di kira aku di culik, " ucap Ayyana setelah keduanya keluar dari apartemen.


" Ok, klo sudah di apartemen, kita kasih kabar ke kakakmu Ayy," jawabnya tangan Raditya tak mau melepas tubuh Ayyana, sampai menuju mobil dengan dua pengawal.


Ayyana membatin, kedua pengawal itu kemaren yang dilihatnya di Belanda.


" Kemaren terlihat sangat serem wajahnya, kok, sekarang ramah. "


Hanya butuh waktu 10 menit sampai ke apartemen yang mewah. Tetap saja tangan Raditya melingkar di tubuh Ayyana, demikian Ayy sangatlah menikmati suasana romantis, apalagi ia bawa masuk apartemennya, lewat tangga biasa karena hanya berlantai dua, dan langsung masuk ke apartemen Raditya.


Ia ingin tanya tentang kepemilikan apartemen, cuman tak etis, maka kata kata yang hampir keluar ditarik kembali.


" Mas, klo ruangannya kayak gini aku jadi pengin masak, " celetuk Ayyana.


" Boleh cuman nanti donk, sekarang kita nikmatin dulu yang selama ini tertunda, " ucap Raditya, penuh kelembutan, menjadikan Ayyana terlena dengan belaian Raditya.


Tangan Ayyana di genggam erat lalu dibawa ke kasur, kemudian berduanya duduk disisi kasur, Raditya tidak ingin kehilangan kesempatan yang ia tunggu lama untuk bisa memiliki Ayyana seutuhnya.


Dari balik jendela kaca lebar kabut terlihat menutup alam sekitar, membuat jarak pandang hanya beberapa meter saja, dan lagi embunpun menyelimuti kaca jendela, membuat pandangan mata menjadi semakin samar.


Sementara sepasang manusia yang telah sah sebagai suami istri di dalam apartemen telah jauh melayang seolah berada di hamparan salju yang mempesona.


Keduanya menikmati kebersamaan yang tertunda, sehingga merasakan indahnya taman sorgawi.


Ayyana merasakan telah menjalankan kewajibannya, lalu dengan tubuh terbuka ia bangkit, dan air mata meleleh tak bisa terbendung di kedua pipinya yang halus.


Jemari tangan Raditya mengelus punggung putih halus Ayyana lembut, dengan mata menahan katuk, karena habis bertempur dengan penuh semangat.


" Udah tidur dulu, biar klo bangun fresh lagi, lalu bisa diulang, " ucap lembut Raditya, lagi lagi Ayyana menuruti.


Dan Ayyana pun masuk kedalam satu selimut Raditya, keduanya pun terlelap, apalagi Ayyana semalam tidurnya sangat kurang.


Keduanya pun sampai lupa tidak memberi kabar pada kedua kakaknya, tetapi sejauh ini saudaranya karena pekerjaan tidak bisa ditinggal, hanya sekedar untuk chat pada Ayyana, tak bisa menyempatkannya.


Siang ini Raditya dan Ayyana masih tetap berada di dalam apartemen, mereka berdua menikmati kebersamaan dan entah berapa kali mereka mengulang, sementara Ayyana sudah merasakan beda.


" Ayy, gimana, kamu sangat menikmati banget kan, sampai kututup mulutmu biar keluhannya tidak keras," canda Raditya.


" Ihh, kamu aja Mas yang mengedan keras, makanya tanganku mencubit cubit punggungmu, " bales Ayyana sambil kedip kedip mata.


" Ayy, aku sampai kelaparan nich, tuh di kulkas banyak bahan untuk di masak, cuman buatin aku minuman teh hangat dulu, " ucap Raditya, lalu dengan hati hati Ayyana turun dari kasur.


" Mas, kalau aku hamil gimana? " tiba tiba Ayyana menjadi gelisah.


" Klo hamil kan, ada suaminya, dah aku bikinkan minuman dulu, " ucap lembut Raditya, dan ia berharap kata kata Ayyana terwujud.

__ADS_1


__ADS_2