
Author POV
Mami duduk disisi ranjang, memandang kosong kearah jendela kamar, jantungnya serasa nyeri, telapak tangan nya selalu ia tekankan kedadanya, matanya pun berkaca kaca, yang dalam hitungan detik meluncur ke pipi yang tetap glowing.
Papi hanya memandangi wanita yang menemaninya dengan setia selama seperempat abad lebih, tanpa banyak mengeluh, walau menghadapi kedua anak lelakinya yang saat kecil sering berantem.
Biasanya Mami selalu bilang ke Raditya,
" Ditya, kamu ngalah donk, kakakmu lihat, ia selalu sakit sakitan, kamu yang lebih kuat menuruti ya, " Raditya selalu saja mengiyakan, karena ia tahu Raihan tidak hanya punya kelemahan fisik tetapi juga akan menjadi down, biasanya ia tidak mau sekolah, makanya Raihan yang lebih tua tiga tahun dari Raditya, selesai sekolahnya bersamaan dengan Raditya.
Bahkan saat di hianati oleh Dania, ia sama sekali tak menghiraukan Aliandra, dan masih untung tetap melaksanakan tugas sebagai abdi negara, itu karena Raditya juga Mami, Papi selalu berada dibelakangnya untuk memberi semangat.
" Mas, kamu tampan, mapan juga, banyak Dania Dania yang lebih baik di luaran, " semangat yang selalu di berikan oleh Raditya.
Mami sempat tidur sebentar di sofa kamar Liandra, ia juga merasa cocok dengan Ayana, sehingga bila Ayana keluar dari rumahnya, ia belum bisa menerimanya, Mami juga ingat pada Aliandra, tentu bocah kecil itu akan merasa kehilangan Ayana.
" Mi, kita sulit cari jalan keluar dari masalah ini, semua merasa tersakiti, " tiba tiba Papi yang dari tadi diam, buka suara.
" Pi, kita jalani sesuai rencana, bukankah nanti siang Raditya menikah dengan Kiara," kata Mami.
" Iya itu harus tetap dilaksanakan, mau ditaruh dimana muka kita kalau menggagalkannya, walau Kiara pernah menggagalkan secara sepihak disaat Raditya terpuruk," ucap Papi panjang lebar.
" Mami jadi berpikir, keributan pada keluarga kita awal mula dari Kiara, " ucap Mami.
" Bisa jadi begitu, tetapi malah jadi bumerang bagi Kiara, aku menyadari kalau Raditya akhirnya berpaling pada Ayana, kita saja terasa keberatan kalau sampai Ayana keluar dari sini, " kata Papi.
Kedua suami istri sampai pagi tidak tidur.
Sementara Raihan setelah masuk kamar, menuju ke cermin, darah dari hidung akibat ditonjok kepalan tangan Raditya masih menetes dari hidung, lalu ia mengambil handuk kecil untuk menahannya.
Sebenarnya hatinya terbakar oleh kemarahan pada adiknya, yang tanpa konfirmasi lebih dulu langsung menonjok.
" Aku tahu Ayana resmi sebagai istri Raditya, tetapi awalnya dijadikan istri sementara," guman Raihan, yang tak bisa cari jalan keluar juga dari kemelut di keluarganya.
Ia lalu menuju ke ranjang dan merebahkan tubuh ke kasur, penat otak serta badannya, dengan sisa sisa tenaga ia mencoba untuk memejamkan mata, yang nyaris belum tidur semalaman.
Ia juga berusaha mengosongkan otak biar bisa tertidur, walau tak segampang ngomongnya.
Sudah di coba memejam, serta mengosongkan otak dari bayangan Ayana, sulit juga cewek culun nan cantik yang membuat ia bisa tertawa saat di kelas.
Ia mengguling gulingkan tubuh di ranjang besarnya, tidak bisa juga mata ini memejam, walau lelah dan perih matanya, akhirnya ia bangkit, keluar menuju balkon.
__ADS_1
Udara dini hari di balkon cukup dingin, tidak menyulutkan Raihan untuk masuk kembali ke kamar.
Ia menatap langit yang penuh bintang, bahkan bulan terlihat penuh di langit, dengan diufuk timur terdapat bintang yang lebih besar dari bintang yang berkelap kerlip.
Raihan menatap tajam panorama alam di ufuk timur itu, yang sebentar lagi akan terganti oleh munculnya mentari pagi, dan tak terasa mata semakin lelah, akhirnya iapun tertidur di kursi panjang yang ada di balkon, udara dingin tak ia hiraukan.
Sampai pukul 8.00 pagi tak ada yang bangun, terkecuali Aliandra dan Raihan yang buru buru ke kampus tanpa sarapan pagi, sedang Liandra bermain main sendiri di karpet di bawah ranjangnya, sambil menunggu Ayana bangun.
Liandra tak berani membangunkan Ayana juga, karena ia tahu saat membuka mata Ayana sedang bersujud diatas sajadah.
Ayana mengerjap ngerjap matanya yang masih terasa kaku oleh sisa sisa tangisan, lalu menatap tirai jendela kamar yang telah di buka oleh Liandra.
" Liandra, " hati Ayana gusar karena tidak melihat Aliandra, dengan kasar ia bangkit dari kasur lalu gegas ia melangkah kaki ke pintu kamar kearah teras yang terbuka.
" Liandra, aaahhh tante mau copot nich jantungnya, " ucapnya sambil menekan dada, Liandra tersenyum riang dengan tangan memegang bunga yang dipetik di taman depan teras.
" Mandi yuk, " ajaknya, ia menurut.
" Tante enggak sekolah? " tanyanya.
" Masuk siang, " jawab Ayana.
Di teras sempat mata Ayana menatap pintu kamar Raditya, hati terasa pilu, membayangkan mereka sedang memadu kasih, atau malahan ia sedang ke salon karena pukul 9.00 mau nikah siri sesuai permintaan dari Kiara, dan matanya berkaca lagi, batinnya protes tetapi bisa apa? cuman bisanya tangis batin saja.
" Cantik gadis kecil ini, kenapa kedua orang tuanya abai padanya? " muncul di benak Ayana tanda tanya.
" Liandra, tante mau mandi, kamu mainan di kamar dulu ya, keluar nunggu tante, kecuali diajak Oma, " pesan Ay, ia mengangguk.
Ayana mandi tak terlalu lama, cukup 10 menit selesai, apalagi hijab slup sehingga tinggal memasukkan saja.
Ia keluar kamar mandi dengan badan segar, walau hati masih tetap terluka, apalagi Raditya yang hanya dibatasi kamar mandi sedang sekamar dengan Kiara, hatinya tercabik cabik.
" Lho di ruang sebelah ramai, " Ayana yang masih pakai baju rumahan membuka pintu kamar dengan melongokan kepala.
" Ada beberapa orang menata snack? " dalam hati ia bertanya dan akhirnya menemukan jawaban.
" Hmmm, mas Raditya sama Kiara nikah nya mau disini, kayaknya sengaja dipindah, biar aku tambah sakit, " memang ia perih di dalam dada.
" Mending aku buru buru berangkat kuliah, atau sekalian tidur di kamar kost, " Ayana siap siap bawa tas ransel besar untuk memasukkan buku dengan beberapa lembar baju. Ia sengaja tak sarapan pagi, karena malas ke ruang makan, apalagi perut terasa kenyang.
" Ceklek"
__ADS_1
" Ahh, Dania Maminya Aliandra, " Ayana terjengit tubuhnya, tanpa mengetuk pintu Dania masuk, matanya menatap tajam penuh selidik.
" Hahaha, jangan mimpi lo, pantasnya lo jadi pelayan, kok mimpi jadi menantu Sultan, ngaca donk lo asal usulnya enggak jelas lagi, lo anak terbuang, " kata kata yang selama beberapa kali Dania datang dan ia masih menahannya bisa dimuntahkan disaat yang tepat, Ayana terpana, serta tak mau melayani omongannya, sebenarnya ingin menyumpal mulutnya biar tidak kayak ember bocor.
" Pengin jadi pengganti Maminya anakku, oh No, aku pertama yang akan menghancurkan hidupmu, " Dania mendekat mau mencengkeram wajah Ayana, cuman Ayana telah sigap, sehingga bisa menepis tangan Dania.
" Aduuuh, manusia barbar, " jeritannya terdengar oleh Mami, yang tahu kalau Dania masuk ke kamar Aliandra.
" Ada apa Dania? " ucap Mami, lalu buru buru menutup pintu kamar, sedang Liandra lari memeluk Ayana.
" Dia Mi, mau menamparku, karena kecewa Raditya mau nikah, " pintar Dania mengubah ucapannya.
Ayana tidak perlu menyanggahnya, Dania juga geram lihat putrinya lebih memilih Ayana.
" Mi, aku mau berangkat ke kampus, " ucapnya. Mata Mami melihat tas ransel besar, hatinya tersendat, sedih rasanya kalau Ayana tidak sampai pulang ke rumah ini.
" Mi, hati hati lho, wanita ini baru 5 bulan di kenal, tuh tas ransel nya perlu di geledah, bisa bisa mencuri barang berharga, " ucap Dania, bibirnya dengan dicibirkan.
Mami membelalak matanya, sangat kaget dengan kata kata yang keluar dari mulut Dania, sampai Mami menekan dada.
" Bukankah kamu yang mencuri perhiasanku, " batin Mami, untung saat itu bisa diambil kembali dari tasnya yang kelupaan tertinggal di kamar Raihan. Mami tahu karena di dalam almari sengaja di pasang CCTV yang tidak terlihat oleh orang lain.
Dania memang sangat berani masuk kamar mertua, demikian Kiara, bisa dengan enaknya, masuk keluar kamar mertua.
Sementara Dania pura pura tidak mengingat kegagalannya mengambil perhiasan milik Mami.
Dan sampai sekarang Mami tutup mulut, bahkan suami tidak tahu kalau Dania pernah melakukan tindakan tidak terpuji.
Dania keluar kamar dengan tidak menghiraukan putrinya.
" Ay, maafin Mami ya, kamu disini selalu terluka, " ucap Mami, tangan lembutnya mengelus punggung kepala Ayana.
" Mi, aku juga minta maaf, karena aku yang membuat keluarga disini ribut, ' ucap Ayana, matanya berkaca kaca.
" Kok bawa tas besar, kamu mau kemana? " tanya Mami dengan wajah nekuk.
" Mi, aku mau ke kost dulu, maaf Mi, kalau ada barang yang ke bawa, tas ku bisa di geledah," ucap Ayana menunduk.
" Jangan masukin ke hati omongan Dania Ay, kunci mobilnya tadi malam sudah di kasihkan sama Papi Ay, " ucap Mami.
" Iya Mi, cuman tidak aku bawa dulu Mi, abis kostnya enggak ada garasinya, " jawab Ayana.
__ADS_1
" Di dompet kunci mobil ada kartu akses apartemen yang baru jadi didekat kampusmu," jelas Mami, yang membeli apartemen agar di tempati oleh Ayana, karena Mami dengar di kost Ayana selalu di bully oleh Clara, maka bulan kemaren Mami atas dukungan Papi ambil apartemen.