
Alena POV
Burung burung riang dengan cuitannya meramaikan pagi ini yang penuh warna, dengan bunga bunga mulai bermekaran disetiap halaman rumah, semua orang keluar ada yang naik sepeda, jalan kaki ataupun naik perahu di kanal depan rumah orang tua angkat ku.
Negara yang kudiami terkenal dengan banyak kanal, dan aku tak tahu sampai diri ini terdampar di negeri dengan penduduk yang berbeda dengan ciri fisik tubuhku. Cuman orang tua angkatku punya foto foto serta video diriku sampai aku sedewasa ini. Dan aku tahu kalau asal negeri ku di timur jauh.
Cerita dari orang tua angkat ku yang baik, karena selama aku diadopsi dari sejak kecil tidak pernah aku dapat perlakuan yang tidak menyenangkan, orang tua angkat tetap memberi kasih sayang layaknya anak sendiri.
" Alena, aku perhatikan akhir akhir ini kamu sering diam," ucap Mama mendekati disaat aku hanya bisa memandang kesibukan orang di depan rumah lewat jendela di lantai atas.
" Ma, aku ingin cari orang tua ku, " ucap ku hati hati, abis Mama selalu bersedih kalau aku tanya tentang asal usulku. Aku menatap wajah duka Mama.
" Ma, Alena tetap tak akan ninggalin kalian berdua, Alena sangat menyayangi kalian," aku terkejut melihat perubahan wajah Mama.
" Mama, maafkan aku tak bermaksud menyakiti mu," rasa sesal yang dalam mendera hati, Mama serta Papa angkatku yang di negeri ini tak punya sanak saudara punya perasaan khawatir ditinggalkan olehku, karenanya mereka sampai aku sebesar ini masih belum diperbolehkan mencari keberadaan orang tua ku.
" Tunggu lah kalau kamu sudah kuliah, Mama juga sambil ngumpulkan uang untuk menuju ke negara asal orang tua kamu, " ini jawaban Mama yang di dukung oleh Papa angkat ku. Tetapi sejauh ini aku tak tinggal diam, dengan cara bergabung di media sosial global aku hanya bersahabat dengan orang orang dari negara asal orang tua, baik yang di negeri yang ku tempati maupun di negara lain, dan aku membatasi bersahabat dengan orang orang asal kota terakhir orang tuaku menetap.
Mama sejauh ini hanya memberitahukan tentang kotaku, maka aku membatasi bersahabat dengan teman teman dari kota asalku, yang Mama serta Papa tahunya kota yang banyak villa serta kebun teh.
Kata orang tua angkat ku, kota asalku ber udara sejuk, tak seperti kota yang menjadi ibukotanya, walau sebenarnya jarak tak terlalu jauh.
" Ma, kenapa kok kedua orang tuaku membiarkan aku dibawa jauh ke negeri ini? " tanyaku pelan, aku tak tega melihat duka di wajah Mama angkat ku yang baik dan menganggap ku sebagai anak sendiri.
" Aku melihat orang tuamu tak mampu menghidupi, dia bilang suaminya telah wafat, sementara ibu kamu tak punya pekerjaan, dan aku sama Papa mu telah terlanjur suka melihat kamu, sehingga ku minta untuk diadopsi, ternyata ibumu tak keberatan, karena dia percaya kalau hidupmu akan lebih terjamin pabila ikut kami, " ucap Mama panjang lebar.
Tentang sahabat sahabat ku di media sosial sejauh ini belum tahu tentang diriku yang merupakan anak adopsi, aku sendiri juga tak mau gegabah untuk menceritakan tentang keinginan mencari orang tua terutama ibu, karena bapak katanya sudah meninggal. Disamping itu untuk jaga diri saja karena aku masih duduk di sekolah menengah atas, juga usia ku baru menginjak angka 17 tahun, kata orang tua angkat ku, usia ini masih mudah kena pengaruh luar yang bisa membuat aku labil, walau sejauh ini aku masih nurut pada nasehat orang tua.
Dan tentang namaku yang sebenarnya, tertera pada surat keterangan penyerahan diriku ke orang tua angkat ku, yang oleh mereka diberi tahukan padaku, lalu olehku di foto dengan ponsel.
Namaku Calla Iesha Haniya dan orang tua angkat ku mengganti Alena ditambah nama depannya dengan nama negeri ini.
" Alena, Mama sama Papa ikut bersahabat sama kamu di media sosial, abis kami juga ingin bantu kamu mencari orang tua lewat media ini dulu, yang lebih ringan biayanya, sambil kita mengumpulkan dana untuk mendatangi rumah Bu Yeyen, aku ingat kampungnya, " ucap Mama jari putihnya mengelus lembut rambutku.
" Ma, berarti Mama tahu alamat Bu Yeyen?" tanyaku.
" Aku lupa tidak mencatat alamatnya, cuman masih ingat jalan yang dilalui," ucap Mama, wajahnya terlihat penuh sesal.
__ADS_1
" Kenapa Mama dulu enggak mencatat alamat Bu Yeyen? " tanyaku dengan rasa sesal.
" Abis aku tidak kepikiran, kamu mau mencari keberadaan Ibumu, " jawab nya.
Dan setelah Mama memberitahu nama ibuku, aku berusaha mencari cari di media tentang nama Yeyen. Tentulah banyak sekali nama Yeyen, dengan usia yang ditunjukan oleh Mama, lalu aku memperlihatkan foto profilnya, tak ada yang cocok dengan ingatan wajah Bu Yeyen yang di kenal Mama serta Papa.
Di akhir pekan, kuhabiskan di rumah untuk membantu Mama.
" Alena, lihat nich ada foto seperti foto masa kecilmu, " ucap Papa dengan mata terus menatap lekat pada foto di media yang di share oleh pemilik nama Marwah, ia berada di UK.
Aku ikut membuka aplikasinya lalu melihat lihat foto foto terutama tentang foto anak kecil, yang kata Papa sama Mama yang ikut melihat persis kayak aku saat kecil, tetapi kalimat yang tertera diatas foto aku tak tahu artinya, walau aku sedang belajar bahasa Indonesia.
" Coba Alena, kamu buka Google Translate, biar tahu tulisan diatasnya, " ucap Mama.
Kini aku sedikit tahu tentang kalimat itu.
" Jangan sedih adikku yang cantik, aku disini tetap mencari adikmu, " itulah terjemahan tulisan diatas foto gadis kecil.
" Alena, kamu minta bersahabat dengan Marwah, apalagi dia berasal dari kota yang sama dengan mu, " pinta Mama. Aku menganggukkan kepala sambil jari kecil ini kusentuhkan pada kalimat permintaan. Lalu foto gadis kecil yang mirip foto foto diriku, disimpan di galeri, dan dibikin kolase terus dishare juga pada aplikasi pertemanan.
" Gimana Alena, sudah ada konfirmasi dari Marwah? " tanya Mama angkatku.
" Ma, dari kalimat diatas foto itu, seperti nya ia sedang mencari saudaranya, " kataku.
" Semoga benar perkiraanmu, nanti kita kunjungi saja ke alamat di UK, " ucap Papa.
" Tak mencantumkan alamatnya, " kataku.
" Kata Mama aku anak satu satunya dari bu Yeyen, " kataku kembali.
" Iya, Mama sama Papa menangkapnya begitu dari bahasa isarat bu Yeyen, " ucap Mama.
" Hanya yang membuat Papa bingung, kamu tidak ada kemiripan dengan bu Yeyen," ucap Papa ragu ragu, juga kayak menyesal dengan perkataannya.
Waktupun terus berlalu, yang ditunggu olehku tentang konfirmasi pertemanan dari Marwah belum ada tanggapan, maka diwaktu senggang aku selalu buka buka fbnya, juga teman teman yang tergabung dengan Marwah.
" Alena, kamu lihat teman fbnya Marwah yang namanya Ayyana? " tanya Mama, kulihat matanya berkali kali menatap wajahku lalu melihat salah satu foto, dan aku tergerak melihat ponsel Mama.
__ADS_1
Sementara aku belum bisa menerka yang ada dalam benak Mama.
" Ma, apa hubungannya dengan Ayyana? " tanya ku.
" Ini Ayyana persis sama kamu, cuman dia lebih dewasa, kali ia saudara kamu, " ucap Mama.
Aku tergerak untuk membuka fb punya Ayyana, dan mencari foto fotonya, sayang ia tak banyak memajang foto foto sendiri, kebanyakan bersama teman teman perempuan, juga temannya hampir sebagian perempuan.
" Coba kamu meminta pertemanan dengan Ayyana, siapa tahu diterima, Mama melihat ia seperti membatasi pertemanan, " ucap Mama. Aku lalu menyentuh kalimat permintaan.
Dan aku menunggu terus menunggu konfirmasi dari Marwah maupun Ayyana, tak juga ada sentuhan jarinya untuk menerima ku sebagai teman.
Setiap kali ku buka aplikasi di ponsel, tetap saja belum menerimaku, atau Ayyana tak punya ponsel, kalau Marwah mungkin pekerjaan yang sulit untuk ditinggalkan, sehingga tidak sempat membuka aplikasi global.
Bahkan sudah hampir satu tahun ini, tak juga menerima ku sebagai teman.
" Ma, keduanya sangat membatasi pertemanan, atau kita menuju ke negara Marwah bekerja, " ucapku, hati ini terasa sangat merindukan keluarga dari Indonesia.
" Alamat nya saja tidak tahu, mau cari kemana? " jawab Mama sedih melihat ku.
Aku diam karena sulit cari kata kata jawaban.
" Coba, nama profilnya di ganti nama asli, " ucap Mama. Aku menuruti idenya, maka kuubah nama profilku menjadi Calla, dengan harapan diantara teman teman medsos ku ada yang bisa memberi informasi tentang diriku, terutama Ayyana yang kata Mama serta Papa mirip denganku.
Lalu aku kirim foto foto kecilku hanya khusus pada Ayyana, yang di dukung Mama sebab hati kecilku ia masih bersaudara denganku.
Aku menunggu terus dari hari, minggu sampai bulan, dengan sabar, tak ada tanggapan, bahkan Ayyana tak pernah membukanya.
Dan hari ini aku sangat lah berbahagia karena perjuangan ku untuk berteman dengan Marwah berhasil diterima, setelah aku tak putus asa mengeshare foto foto kecilku yang mirip betul dengan yang dishare Marwah, juga ide Mama nama profil menjadi Calla membuat hati Marwah tergerak menerima persahabatanku.
Kami melakukan komunikasi sudah dengan bahasa Indonesia karena selama satu tahun ini aku bersemangat belajar bahasa Indonesia lewat media atau berbicara sama tetangga orang Indonesia yang dapat suami orang Belanda.
" Ma, kenapa tidak sejak dulu profil ku Calla? " tanyaku. Mama hanya tertawa lirih.
" Adakah titik terang tentang Marwah? " tanya Mama.
" Ia masih hati hati menceritakannya, sepertinya kayak aku, abis tak ingin ada orang memanfaatkan kita, " ucapku.
__ADS_1
Dan hari hari terus berlalu, aku bisa setiap hari berkomunikasi lewat aplikasi global saja, hanya saling berkirim foto foto keseharian khusus untuk kami berdua, serta aku sendiri belum berani menyinggung tentang pencarian orang tua ku.